KEMATIAN
Hidup dan mati tak seorang pun tau kecuali yang maha kuasa namun sebagai seorang hamba kita Hanya dapat berpasrah Diri Dan menghadapi setiap garis takdir yang menjadi kehendak- Nya, dan hanya orang-orang tertentu saja yang mengetahui hari dimana hal itu adalah menjadi hal terahir untuk hidupnya dan firasat itu yang menuntun seseorang untuk tetap mempasrahkan diri atas apa yang akan terjadi.
Dalam suasana hati tak tenagnya mahendra mencoba untuk bersikap professional dalam hal apaun sekalipun harus menghadapi musuhnya yang kini ada dihadapanya dengan penuh arogan dan kesombongan, Sikap Nicolas itu yang cukup membuat seorang Mahendra merasa muak dengan tingkah pria yang berulang kali meminta persetujuannya untuk menikahi putri semata wayangnya yaitu Anisa.
Tentu saja Mahendra tidak bodoh dan mana sudi dia melepas putrinya begitu saja pada Nicolas yang menjadi musuhnya dalam segala hal. Sedangkan Alan hanya memperhatikan dari kejauhan dan berada di tingkat atas gedung memperhatikan setip hal dan terus memantau pergerakan musuh jika terjadi penyerangan memdadak yang bisa membahayakan nyawa sang ayah. Tapi focus nya buyar tak kala ponselnya bordering dan memperlihatkan nomor yang sangat dia kenali yaitu nomor sang kekasih Marry, namun dia abaikan Karena dia hanya ingin menjaga keselamatan sang ayah, tapi ponselnya terus saja berdering dan pada ahirnya mau tidak mau Alan tetap mengangkatnya, namun setelah dia angkat betapa terkejutnya dia kala bukan suara kekasihnya yang dia dengar melainkan suara bariton pria yang menggelegar sekalugus mematahkan hatinya.
"KEKASIHMU MERRY DIA MATI DI TANGANKU, DAN NICHOLAS BOSS KU ITU AKAN MENGHABISI NYAWA AYAH ANGKATMU ITU"
seketika Alan langsung megrahkan pandangannya pada sang ayah, was-was jika Nicolas benar-benar akan membunuh sang ayah yang sekarang jarak antara ayahnya dan Nicolas sangatlah dekat.
***DISISI LAIN***
"Aku hanya memberimu sebuah tawaran tua bangka !!!, berikan anisa padaku maka akan aku anggap semuanya tidak terjadi apa-apa pada kita atau kau akan menyesal"
Ucap Nicolas penuh penekanan dan mengancam mahendra
"Jangan harap !!!,sampai mati pun aku tidak sudi membiarkan anak perempuanku bersanding dengan pria seperti dirimu, kau tidak pentas menjadi suaminya dan menjadi menantuku" jawab hendra yang begitu santai namun menyiratkan ketegasan yang cukup kuat untuk menolak permintaan seorang Nicolas.
"Jadi kau menolak ku TUA BANGKA !!!"
kemudian dengan segera Nicolas yang di tolak tak terima atas ucapan hendra tersulut emosinya, lalu mengacungkan pistol tepat pada kepala hendra, hendra hanya membalas dengan srigaian senyumnya seolah tak takut sama sekali pada seorang Nicolas dan menganggap Nicolas hanyalah sebuah lalat yang tidak tau diri. Namun sebelum Nicolas mematikan pelatupnya tiba-tiba suara patikan pistol dari arah lain justru mengenai kepala hendra saat ini, tentu Nicolas tamapak merasa bahwa ini adalah sebuah jebakan untuk menjebaknya "SIAL".
Alan sempat terlonjak atas apa yang ia lihat, Alan menggelengkan kepalanya seraya bergumam dalam hati 'ayah' matanya kini pun sudah memerah hendak menjatuhkan peluhnya pun ia tahan karena harus menghadapi baku tembak yang terjadi di temapt itu dan ingin dengan segera menghampiri tubuh sang ayah yang telah bersimbah darah pada area kepalanya, hatinya begitu tersayat dengan sangat tajam, kekasih yang dicintainya dibunuh dan melihat ayahnya mati tertembak di depan matanya sendiri oleh ulah orang yang sama yaitu Nicolas.
Alan yang dilindungi oleh pengawalnya menghampiri tubuh ayahnya dan segera memeluk ayahnya,mengecek kondisi ayahnya berharap jika ayahnya masih bisa tertolong.
"Al..l...an" hanya itu yang terdengar dari mulut hendara untuk yang terahir kalinya dalam nafasnya yang sudah tersengal hebat mememui sakaratul maut kematian. Alan tentu bisa melihat jika sang ayah hendak mengatakan sesuatu yang penting namun sebelum ayanya itu mengatakan Tuhan bekehendak lain hendra menjemput kematiannya terlebih dahulu sebelum mengatakan hal tersebut.
Pandangan Alan seolah nanar dan para pengawalnya yang sudah berhasil melumpuhkan para pengawal Nicolas telah berkumpul mengitari tubuh bos mereka yang sudah tak benyawa lagi dalam pelukan anak angatnya. Sedangkan Nicolas berhasil meloloskan diri dari area gudang tersebut.
Kini Alan merasa bahwa pembicraannya dengan sang ayah perihal wasiat untuk meneruskan bisnis ini terngiang kembali di otaknya, dan firasat yang sempat dia abaikan kini jutru jadi kenyataan.
"Aku pasti akan membalaskanya untukmu ayah...pasti !, dan nyawa harus di balas dengan nyawa !"
Gumam Alan pada ayah angkatnya itu yang tubuhnya sudah terbujur kaku dalam pelukannya.