LUKAS DAN WATAK BATUNYA
Sudah hampir 2 minggu ini Nicolas merasa sangat bosan dirinya berada di rauangan kamar inapnya, tidak ada pekerjaan lain selain melamun dan kegiatan terapinya untuk menormalkan kembali BpR tekanan darah yang masuk pada jantung, entah kenapa dia selalu mengingat bocah cilik bernama Luiss itu yang wajahnya sangat mirip dengan nya setelah pertemuannya pada malam dimana Luiss dengan sanagat lancang masuk ke kamarnya dan pertemuan antara dirinya dan Luiss terjadi, ketika dirinya hendak menemui kembali Luiss setelah pagi harinya, Nic harus menelan rasa kecewa Karena Luiss telah pulang kembali ke kediamanya dan hanya akan datang ke hospital ketika waktunya Cek up saja, itulah yang dikatakan Dr.Manuella padanya dan pihak hospital juga sangat menutup rapat data pribadi para pasiennya sehingga Nic tidak dapat leluasa mengetahi dimana Luiss tinggal akan tetapi Nic merasa sangat beruntung karena masih sempat menayakan alamat dimana bocah itu bersekolah, niatnya Nic akan mengunjungi Luiss ke sekolahnya jika dia sudah di perbolehkan untuk pulang dari hospital.
Di rauangannya...
El sedang mengutak ngatik data pasien pada leptopnya untuk mengatur dan mengecek jadwal para pasiennya untuk melakukan cek up control setiap 2 minggu sekali tepat jika hari ini Luiss melakukan control setelah kepulangannya ke rumah selama 2 minggu, suara suster sabrina pun ahirnya menghentikan fokusnya pada layar leptopnya dan melirik amplop warna coklat di mejanya yang di taruh oleh suster sabrina. "Dok ini...,hasil tes leb nya sudah keluar". kemudian El hanya berdehem dan membiarkan suster sabrina keluar dari ruanganya, segera dengan penasran El langsung menyambar amplop tersebut dan buru-buru membukanya dimana dirinya akan meluruhkan rasa keponya terhadap dua orang yang membuatnya penasaran akan wajah kedua pasiennya yang bisa di katakan sangat mirip meskipun jarak usianya sanagat jauh, dan sebab itulah El tanpa sepengetahuan siapapun dengan lancang menguji tes DNA antara Luiss dan Nicolas. Dan setelah membaca hasil tes tersebut matanya membulat sempurna bahwa hasil kecocokan nya 99,9 % itu berarti mereka bukanlah orang asing yang kebetulan wajahnya mirip melainkan sepasang ayah dan anak tapi el tau betul cerita dari Anisa karena hampir 6 tahun terahir Anisa juga menjadi pasiennya untuk mengobati rasa takutnya akan kejadian yang menimpa diri anisa di masa lalu dan anisa pun juga menceritakan jika Lukas dan Luiss adalah anak dari hasil pemerkosaan. 'Jadi pria itu adalah kunci dari semua rasa sakit nisa !?'. Ucap El dalam hati dan kemudian menyimpan hasil tes tersebut dalam laci di rauangan kerjanya.
Selang beberapa jam Anisa yang membawa Lukas dan Luiss untuk cek up keadaan Luiss dan juga membawa satu pengasuhnya bernama Hana segera masuk keruangan Dr.Manuella. " Selamat siang dakter el .." . Sapa Lukas dan Luiss serempak pada Dr.Manuella.
"Hai sayang ...bagai mana di rumah dan sekolah apa Luiss menujuk kan gejala yang tidak wajar selama kepulannganya dari hospital ?" Anisa hanya menggelengkan kepalanya kuat dan itu berarti keadaan Luiss baik. Luiss yang harus menjalankan serangkaiaan tes kembali kemudian di giring oleh suster sabrina untuk melakuakan tes, sedangkan Anisa akan menunggui anaknya itu di ruangan Dr.Manuella untuk berkonsultasi sebagai pesikiaternya dan biasanya Lukas akan di ajak keluar oleh Hana dan duduk di bangku rauang tunggu.
Selagi mamanya berada di dalam berbicara dengan Dr.el Lukas pun merasa bosan dan ingin sekali berkeliling melihat lihat hospital ini untuk mengurangi rasa bosannya akan tetapi Lukas tau jika Hana penjaganya pasti tidak akan membiarkanya berjalan sendirian dan sebenaranya Lukas sangat tidak suka itu, menurutnya dia bukanlah anak kecil yang penakut dan dia bisa mengingat baik jalan untuk dia kembali ke tempat dimana rauangan Dr.el berada, dengam usaha yang cukup ekstra ahirnya Lukas dapat membujuk Hana supaya mengijinkan dia untuk tidak akan mengikutinya berkeliling melihat lihat hospital dan berjanji akan kembali padanya dan sampai tepat waktu. Hana hanya mengiyakan keinginan tuan kecilnya itu karena Hana cukup paham dengan watak batu Lukas jika dirinya sudah berkeinginan maka harus di turuti sesuai kemauan anak itu dan jika di tentang maka akan berujung adu mulut yang pasti Hana akan tetap kalah oleh mulut mungil Lukas.
Lukas terus berjalan dan sesekali melihat ruangan yang terdapat pembatas kaca pada tembok, meyusuri ruangan ruangan yang menurutnya menarik, sampai pada salah satu ruangan dimana hanya terdapat satu orang pria yang sedang dusuk di bangku kecil melihat arah jendela dan tatapannya menuju bawah gedung, Lukas yang tertarik akan peria tersebut juga ingin melihat apa yang pria itu lihat di bawah sana dari gedung ini, akan tetapi setelah Lukas menghampiri dekat jendela dirinya hanya melihat Mobil mobil yang lalu lalang di jalan raya tepat dibawah sana, menurut Lukas itu bukanlah hal yang menarik tapi Dirinya keheranan kenapa pria dewasa ini begitu tertarik dengan apa yang dilihatnya.
"Apa yang mearik paman ?, hanya mobil yang berjalan"
Seketika Nicolas langsung menoleh pada sumber suara yang membuyarkan lamunanya, ternyata bocah kecil yang ia rindukan sekarang tepat ada di depannya tapi sebelum ia menyapa bocah itu, tangan kecil bocah itu kembali menyentuh Mata,Hidung,telinga,pipi,bibir dan berahir pada rambut panjangnya yang dia ikat ke belakang.
"Paman kenapa wajah paman sangat mirip dengan ku dan Luiss ?"
Tanya Lukas yang mulai menyadari jika paman yang ada di depannya ini sanagat mirip dengan nya dan Luiss, "wow..., aku akan cerita pada mama jika ada pria dewasa yang wajah nya sanagat mirip dengan ku dan Luiss". Henig sesaat dan Nicolas tampak memperhatikan raut wajah bocah di depannya itu tampak mengagumi wajahnya kemudian memperhatikan gerak tangan mungil dari bocah itu yang mulai meyibak kancing baju pasiennya yang memang terbuka dan tidak mengancing dengan sempurna, mata Lukas berkedip kedip lucu dan Nicolas benar-benar menyukai momen ini, "Apa ini begitu sakit paman ?, aku sering melihat Luiss kesakitan gara-gara ini ...tapi mama bilang semua akan baik-baik saja, aku sering mengurangi sakit Luiss dengan cara seperti ini". Kemudian Lukas mengangat telapak tangan Nicolas dan mengengamnya kuat tapi , "Tangan mu sangat besar Paman, aku tidak bisa mengengam jari-jari mu seperti aku menggengam jari Luiss". Kemudian dengan reflek kesadarannya Nicolas segera berbalik mengengam erat jari mungil bocah itu dan entah ada rasa nyaman yang menyusup ke hatinya dan seperti enggan untuk berpisah dari bocah kecil itu.
"Kalau begitu aku yang akan menggemgam tangan mu seperti ini Luiss" namun Lukas tampak mengeryit dalam pasalnya nama adiknya lah yang barusan di ucapkan oleh pria dewasa di depannya.
"Jadi kau mengenal Luiss paman ?,aku bukan Luiss...aku Lukas... namaku Lukas paman". Hening dan tampak wajah Nicolas yang mencoba memperhatikan wajah bocah di depannya."Hahha..apa kau sulit membedakan kami paman..,aku akui jika wajah ku dan Luiss sangatlah mirip karena orang-orang sering menyebutnya ...emmm...emmm idetek". Nicolas kemudian terkekeh pongah atas ucapan Luiss. " Idetek apa itu ?, paman baru mengetahuinya yang kau maksud itu identik kan Luiss". Seketika Lukas merasa malu atas kesalahannya menyebut kata identik menjadi idetek dan bibirnya mengngerucut kala dirinya di pangil dengan nama adiknya Luiss, "Aku bukan LUISS , AKU LUKAS...LUKAS !!!". dan Nicolas kembali melihat Lukas dengan tatapannya yang ingin melihat perbedaan antara Lukas dan Luiss, kemudian Nicolas pun menemukan perbedaan wajah antara Lukas dan Luiss, jika malam itu dia melihat Luiss yang memiliki lesung pipit di kedua pipinya lain halnya dengan Lukas, Lukas tidak memiliki lesung pipit dan rahang dari bocah ini sanagt tegas seperti miliknya. "Iya..iya Lukas paman minta maaf karena salah menyebut nama mu, habisnya kalian sanagt mirip".
Setelah itu pun Hana yang tampak mencari keberadaan Lukas tertegun sejenak melihat ke akrapan tuan kecilnya dengan pria asing yang baru di kenalnya dan itu tak biasa. Sebab baik Lukas maupun Luiss sangat sulit untuk beradaptasi ataupun berbaur dengan orang asing sebelum ibunya mengenalkannya pada mereka. Sejenak Hana tampak memperhatikan pria yang berbicara dengan Lukas sebelum memangil Lukas untuk kembali.
"Lukas Luiss akan segera selesi dan mama mencari mu"
Teriak Hana pada Lukas dan Lukas pun menoleh pada pengasuhnya sekaligus penjaganya itu dan berpamitan pada Nicolas sebelum dia pergi.
"Suadah ya paman sepepertinya mama Ku sudah mencariku". Dan Lukas pun berlari menghampiri Hana yang sudah menunggunya dan Nicolas pun melihat ke arah kemana Lukas berlari dan sudah mendapati wanita anggun yang menunggui Lukas disana 'oh..itu ibunya' ucap Nicolas dalam hati sekaligus masih melemparkan senyum pada sosok Wanita yang di lihatnya yaitu Hana tanda sopannya, yang di pikir Nicolas wanita tersebut adalah ibu dari kedua bocah kembar tersebut Lukas dan Luiss.
Di rauang Dr.Manuella
Dr.el
"Apa yang akan kau lakukan jika bertemu dengan ayah kedua putra mu nis ..?"
Hening ....
"Apa kau memiliki rasa pada pria yang memperkosamu ?"
Hening....
"Apa kau akan memaafkannya nis ?"
Hening....
"Kau.... memendam dendam nis ?"
"Pada awalnya aku memang membencinya dan mungkin seumur hidupku aku tidak sudi untuk bertemu denganya lagi lebih tepatnya tidak mengharapkan bertemu dengannya..,tapi sekarang aku mulai sedikit demi sedikit berdamai dengan hatiku meski aku tau itu sangatlah berat.. dan berusaha terlihat baik-baik saja oleh kedua putra ku, kau tau sendiri el aku sangat berusaha untuk tidak memiliki dendam atas apa yang pria itu lakukan padaku namun hampir setip malam aku teringat wajah pria itu saat melihat wajah kedua putraku ...,tapi mereka tidak pantas aku benci dan melampiaskan dendam ku karena mereka tidak tau apapun soal ayah biologisnya, kelakuannya dan apa yang pria itu lakukan pada Ku sampai aku mengandung mereka, a..aku ..aku hanya takut el ..aku takut aku tidak bisa melindungi mereka"
Manuella pun segera memeluk tubuh Anisa yang memang saat ini butuh penguat untuk menumpahkan keluh kesahnya .
Kini Manuella yang sendiri dan tampak jenuh melangkahkan kainya pada atap atas gedung dan dalam perjalanan nya menuju ke sana ia sempat mengeluh atas apa yang ia rasakan saat ini, seperti berada di tengah-tengah kutup utara dan kutup selatan yang engan menyatu dan malah saling tolak menolak.
"Kapan aku bisa mendapatkan jekpot untuk bisa segera menintal benag merah yang sudah terlanjur kusut dan rumit untuk di pintal kembali ya Tuhan ..., hufffff ini sangat rumit".
Setibanya Manuella di atas gedung dirinya di kagetkan oleh sosok yang cukup di kenalnya, "Kak Alan !!!". Dan pria itu menoleh padanya, "Sedang apa kau disini ?, bukankah Anisa tadi sudah pulang !?". Tanya manuella penuh selidik Kemudian Alan pun menyambut el dengan menyodorkan satu batang rokok yang di ambilnya dari kemasan kotak itu.
"Kau mau ?"
"Boleh"
Manuella mengambil satu batang rokok tersebut dari tangan Alan dan segera mematikkan api dan menyesap rokonya dalam, Alan pun hanya bisa menatap nyalang Juga tertegun dan terkekeh geli melihat kelakuan dari dokter sepesialis bedah syaraf dan jantung dari keponakannya itu.
"Apa kau ada masalah ?,aku tadi hanya mengantarkan pengawal ku yang terluka karena bosan di dalam dan tidak terlalu suka dengan bau antiseptic yang menyengat makanya aku ke sini"
"Benarkah ?"
"Memang kau pikir apa ?"
"Aku pikir kau tadi mengantarkan Adikmu beserta keponakanmu lalu tertinggal"
"Tidak"
"Kau sangat baik sekali ya dengan mereka, sampai mau terjun langaung ke hospital, sampai kapan kau terus bergelut dengan bisnis ini, bisnis yang membahyakan nyawa mu"
"Jangan terlalu sok kuatir terhadap ku, mungkin aku akan berhenti jika kau mau menikah denganku"
"What ???, dasar sinting". Alan mengacak rambut el dengan sayang.
"Aku pikir kau kesini karena sedang rindu padaku"
Kemudian mereka saling tertawa lepas atas lelucon yang baru saja terucap.