SJune memasuki tempat yang sangat gelap itu pada giliran yang kedua setelah Nadine. Setelah itu barulah diikuti oleh Marvin dibelakangnya. Alasan dia melakukannya pada giliran itu agar apabila terjadi apa - apa dia datang meminta tolong pada salah satu dari temannya. Namun saat di dalam anehnya dia tidak bertemu dengan yang lainnya. June berlari kesana - kemari menjadi jalan keluar tapi tidak ditemukannya petunjuk untuk keluar dari tempat mengerikan itu. Di tengah kegelisahannya tiba - tiba terlihat setitik cahaya dari kejauhan. June yang merasa lega kemudian mengikuti sumber cahaya tersebut.
Tidak hanya itu, semakin dekat June berjalan dia mulai mendengar suara - suara orang yang dikenalnya.
Begitu sampai kepada cahaya tersebut June pun langsung meneteskan air mata.
“June, apa yang lo lakukan disana? Ngapain lo menangis disaat jam istirahat begini?” Suara seseorang yang dikenalnya tiba - tiba mengejutkan June dari sebelah kanan.
“Lo kok disini Vin? Bukannya lo latihan?”
“Latihan apaan? Hari ini kan gak ada ekskull. Lo aneh deh hari ini. Kurang tidur kali lo semalam.”
June terdiam sesaat memastikan apakah benar yang ada di hadapannya adalah Marvin.
“Woi! Ngapain lo malah liatin gue kayak makanan kantin gitu? Emang ada yang aneh ya dari badan gue? Jangan - jangan ada noda di baju gue.”
Setelah beberapa saat akhirnya dia dapat memastikan kalau orang ada ada di depan memang ada Marvin.
“Ya sudah daripada gue meladeni keanehan lo mending kita masuk kelas. Bentar lagi bell masuk bakal bunyi.”
“Lo masuk duluan aja Vin. Gue mau cari Jeremy dulu.”
“Siapa lo bilang? Apa lo gak salah dengar nih? Jeremy itu siapa?”
“Hah! Jeremy ya Jeremy yang biasa ngumpul sama kita disini? Dia pasti lagi makan di kantin kan?”
“Ya ampun June masih siang lo sudah ngigau. Kita gak teman yang bernama Jeremy.”
“Jangan bercanda deh lo Vin. Padahal lo kan orang yang paling dekat sama dia dibanding gue.”
“Nah dia maksa dong. Ya serius lah mana ada teman gue yang namanya Jeremy. Daripada ngelantur mending gue ke kelas ah.”
Demikianlah Marvin pun meninggalkan June di tempat tersebut dengan rasa bingung.
“Apa selama ini aku cuma bermimpi ya?”
June berdiri dan memperhatikan tempat itu dengan seksama. Baik keadaan dan suasana disitu persis seperti sekolah yang dia kenal.
Dia juga bertanya kepada beberapa mengetahui keberadaan Jeremy dan mereka semua menjawab hampir sama seperti Marvin tadi.
Perlahan dia akhirnya menerima kalau Jeremy sebenarnya memang tidak pernah ada dan apa yang ada di dalam ingatannya hanyalah mimpi belaka.
Sampailah di hari kelulusan sekolah dimana June bergembira karena telah berhasil lulus dengan nilai terbaik. Dia duduk di tempat biasa bersama dengan Marvin memegang ijazahnya.
“Padahal gue udah belajar loh June. Kenapa malah lo yang dapat nilai terbaik.”
“Mau gimana lagi soalnya gue kan emang pintar dari lahir. Lo belajar sampai seribu tahun juga gak akan bisa menandingi kepintaran gue.”
“Bisa - bisanya lo ngomong gitu June. Tapi selamat ya akhirnya kita menyelesaikan pendidikan di sekolah ini dengan nilai yang bagus.”
Saat sedang berbicara dengan Marvin, mata June tertuju ke langit.
“Vin, langitnya kok gak pernah hujan ya?”
“Maksud lo apa June?”
“Iya beberapa tahun ini kok gak pernah hujan ya?”
“Itu cuma perasaan lo aja. Lagian kok bisa - bisa lo memperhatikan langit segala sih. Padahal masih banyak hal yang lebih penting lagi.”
June merasa ada yang janggal dari perkataan Marvin saat itu karena kota tempat mereka tinggal adalah daerah yang sering mengalami turun hujan.
“Sudah aku duga semua ini tidak benar. Aku tidak mungkin salah dengan semua ingatan itu.”
“Hehehe, akhirnya kau sadar juga.” Marvin yang ada di hadapannya berubah menjadi bayangan hitam.
“Siapa kau? Katakan dimana aku sekarang?” June melompat ke belakang menjaga jarak dengan sosok itu.
“Padahal kita sudah berteman setelah sekian lama. Mengapa kau bisa menyadari kalau semua ini palsu?”
“Mungkin kau bisa meniru apa yang aku mau dan harapkan. Tapi kau tidak berhasil meniru apa yang tidak aku inginkan. Akan kuberitahu sekarang kalau aku tidak menyukai hujan karena suara petir yang begitu kuat seringkali mengejutkanku. Aku tidak menyangka apa yang tidak kusukai yang melepaskanku dari perangkap ilusimu.”
“Aku tidak menyangka manusia biasa sepertimu dapat mengungkapkan ilusi ini dengan cara seperti itu.”
Tiba - tiba June dibawa kembali ke dalam lorong tapi sekarang sudah menjadi terang benderang. Di kiri kanannya terdapat batu permata yang memantulkan cahaya tanpa batas. Ilusi tadi dapat memanipulasi waktu sehingga orang yang terperangkap merasakan telah hidup bertahun - tahun. Namun sekarang June dapat melihat jalan keluar yang sebenarnya dengan jelas. Bahkan sosok hitam itu pun menghilang dari pandangannya bersama dengan berlalunya perangkap ilusi tersebut.
Menerima apa yang tidak disukai sebagai bagian dari kehidupan dapat meningkatkan kematangan jiwa seseorang. Bagi seorang Medallion hal itu sangat berpengaruh besar pada peningkatan kemampuannya.
Dengan melihat ke dalam dirinya June dapat membuka suatu lapisan di dalam jiwanya sehingga kekuatan yang selama ini tersimpan dapat terungkap sedikit demi sedikit seiring waktu. Setiap langkahnya June dapat merasakan peningkatan kekuatan di dalam dirinya. Kekuatan itu mengalir dengan sangat nyata dari ujung rambut sampai ujung kaki bersama dengan jubahnya terus bersinar.
Di ujung dari lorong itu June langsung disapa oleh Horma yang sedang berlatih dengan bola airnya.
“Ternyata kau orang pertama yang keluar dari tempat ujian ini. Sebagai seorang Priest kau memiliki kematangan melebihi mereka semua, bahkan seorang King sekalipun. Seiring waktu aku sangat yakin dalam waktu singkat kau dapat melampaui Jona pada masa jayanya.”
“Terima kasih atas bimbingan yang sudah anda berikan.” June menundukkan kepalanya memberi hormat.
“Sekarang kau dapat beristirahat disana sambil menstabilkan kekuatan yang baru saja kau dapat. Aku dapat merasakan peningkatan kekuatan yang drastis dari di dalammu.” Horma menunjuk kepada sebuah batu yang permukaannya datar dengan buah - buah sebagai makanan.
“Baiklah aku sepertinya memang membutuhkan waktu untuk menguasai kekuatan yang terasa meluap - luap dari tadi.”
June duduk dan memakan sedikit dari buah - buah tersebut lalu menutup matanya dengan pikiran yang terpusat untuk mengendalikan pernapasannya.
Beberapa saat kemudian dari ujung lorong itu Horma merasakan kekuatan gelap yang meledak - ledak. Sepertinya seseorang di dalam memicu peningkatan kegelapan di dalam sana.
“Aku tidak pernah melihat kegelapan yang tersegel di dalam sana dapat meningkat sampai titik ini. Sepertinya seseorang di dalam sana telah memicunya. Aku penasaran siapa orang yang akan keluar berikutnya.”