Nadine Sang Ahli

1091 Kata
Seorang wanita yang terlahir dari keluarga yang suka mempelajari ilmu pengetahuan dari seluruh dunia, Nadine malah tidak memahami ilmu yang dimiliki oleh kebanyakan wanita di keluarganya. Bahkan secara sembunyi - sembunyi dia malah menyukai seni bela diri yang dianggap tabu bagi para wanita di desanya. Keluarganya terpaksa tinggal mengasingkan diri dari dunia karena sering diburu untuk dijadikan bahan eksperimen beberapa manusia jahat oleh karena otak mereka yang memiliki kecerdasan 10 kali lebih tinggi dibanding manusia normal. Tapi hal itu tidak menghentikan perjuangan Nadine untuk mempelajari dan memperdalam kemampuannya. Nadine mempelajari seni bela diri dari kitab - kitab tersembunyi di perpustakaan desanya. Keluarganya mengoleksi kitab itu hanya untuk mempelajari cara orang - orang mengalirkan tenaga dengan gerakan - gerakan. Sampai suatu hari tempat kelahirannya itu diserang oleh para Dokoon secara tiba - tiba pada tengah malam.  Dengan kemampuannya Nadine dapat bertahan hidup dan menyelamatkan beberapa orang pada saat itu. Namun dia terpaksa hanya bisa menyaksikan sebagian besar orang - orang terdekatnya dibunuh dan diculik oleh para Dokoon. Untungnya disaat - saat terakhir dia masih sempat diselamatkan oleh para Medallion sebelum kehabisan tenaga dengan sebilah pisau yang tinggal melekat di tangannya. Salah - satu penyesalan di dalam hatinya karena tidak bisa menyelamatkan semua anggota keluarganya. Dalam terowongan gelap itu dia melihat orang - orang yang ada di desanya memanggil dengan tubuh yang berlumuran darah. “Apa yang terjadi padamu?” Tanpa pikir panjang Nadine langsung menghampiri wanita tersebut dengan rasa iba. “Bunuh aku!” Tatapan mata wanita yang sedang terluka tapi menginginkan kematian membuat Nadine terkejut. “Apa maksudmu? Kau harus ditolong secepatnya. Aku akan membawamu kepada seseorang yang dapat mengobati luka - luka ini.” “Tidak, tidak akan sempat lagi. Ini bukan luka biasa dan tidak akan ada orang yang bisa menyembuhkannya. Satu - satunya jalan hanya dengan membunuhku secepatnya.”  “Luka ini? Siapa yang melakukan ini terhadapmu?”  “Mereka yang menyebut dirinya sebagai bayangan abadi. Mereka akan segera sampai kesini. Sebaiknya kau pergi kesana.” Wanita itu mendorong Nadine menuju pintu masuk. “Kalau mereka yang kau maksud adalah makhluk dengan jubah berwarna hitam, berarti kau tidak perlu takut lagi. Aku adalah prajurit yang terlatih dan dapat melenyapkan mereka dari dunia ini.” “Tidak...tidak, kau tidak boleh pergi kesana atau kau akan mengalami apa yang terjadi padaku bahkan lebih buruk lagi.” Tubuh wanita itu semakin melemah tapi masih berusaha menarik Nadine keluar dari lorong gelap tersebut. “Kau salah paham. Aku tidak akan mundur dari tempat ini apapun yang terjadi.”  Setelah mendengar perkataan Nadine maka wanita itu perlahan melepaskan genggamannya dari tangan seseorang yang sudah menolongnya. “Mengapa kau begitu ingin bertarung dengan musuh yang tidak kau tahu?” “Apa maksudmu?” Nadine menatap wanita itu dengan wajah bingung. “Padahal kau sudah melihat keadaan dan luka - luka yang ada pada tubuhku.” “Aku tahu kalau luka itu bukan luka biasa. Orang - orang di tempatku berasal pernah menerima luka yang sama. Oleh karena itu aku mengetahui siapa yang telah melukaimu.” “Hehehe….” Tiba - tiba wanita itu pun tersenyum dan menundukkan kepalanya. “Memangnya apa yang kau tahu dasar Medallion bodoh!” Wanita itu membentak Nadine dengan suara yang sangat keras dan mata yang bersinar penuh amarah. Melihat reaksi dari wanita itu membuat Nadine menyadari kalau yang ada di hadapannya bukanlah manusia biasa. “Katakan padaku sebenarnya siapa dirimu? Tidak! Tapi apa dirimu?” Tatapan wanita itu pun semakin dalam membuat Nadine meningkatkan pertahanannya. Sebagai seorang Warrior Nadine memiliki kepekaan akan bahaya dan ancaman lainnya. Seiring dengan tarikan nafasnya yang semakin memburu, tampak asap hitam keluar dari semua lubang yang ada di wajahnya.  “Kau bukan seorang Dokoon. Tidak ada Dokoon yang memiliki rasa haus darah yang sangat murni darimu. Lebih baru sadar tidak dapat merasakan hawa kehidupan seorang manusia darimu.” “Kau memiliki insting yang bagus sebagai Medallion muda. Tapi kau tidak akan bisa melewati tempat ini tanpa seijin kami.” “Lucu sekali aku harus mendapatkan izin dari kalian. Bukankah seharusnya kalian yang memintaku untuk secepatnya keluar dari tempat ini sebelum salah satu dari kalian mati dengan ditanganku.” “Mati? Apakah orang yang mengizinkan kamu masuk ke tempat ini tidak memberitahumu tentang keberadaan kami? Asal kau tahu kalau kematian tidak akan cukup untuk mengalahkan kami.” Nadine tidak mengerti akan apa yang dikatakan oleh makhluk tersebut. Tapi dia tidak punya pilihan selain menyelesaikan ujian ini.  “Kau akan tinggal bersama dengan kami di tempat ini selamanya. Kami akan membuat kau tetap hidup dengan cara menyegel waktu pada tubuhmu agar tidak menua. Dengan demikian kau akan menemani kami disini.” Tanpa berkata apa - apa Nadine mengambil anak panah dari tabungnya dan memasang pada busur yang sudah dipegangnya. “Kau kira dengan senjata lemah seperti itu dapat membunuh kami? Bahkan kalau kau membawa senjata yang lebih kuat lagi pun tidak akan cukup untuk mengalahkan kami.” “Tenang saja. Aku tidak bermaksud untuk mengalahkanmu. Tapi aku akan menemani kalian bermain seperti yang kalian ingini.” “Apa kau serius dengan ucapanmu?” “Tentu saja. Tapi kalian juga harus menemaniku bermain sesuka hati.” “Bermain? Apa maksudmu menemanimu bermain? Bukankah sedang memegang senjata?” “Ya kalian benar. Ini adalah senjata panah jiwa yang dapat menembus sampai ke dalam jiwa seorang manusia. Aku sedikit bermasalah apabila menggunakan kekuatan tersembunyi dari senjata ini terhadap manusia biasa karena kekuatannya yang besar bisa saja merusak jiwa seseorang begitu saja.” “Jadi apa yang kau mau lakukan dengan kami?” “Kebetulan aku ingin menguji apakah senjata itu berpengaruh terhadap makhluk selain manusia seperti kalian.” “Kau pasti bercanda.” “Oh tidak kok. Aku sangat serius ingin menggunakan senjata ini terhadap kalian.” “Ayo kita pergi dari sini. Dia bukan manusia normal. Mungkin orang yang memasukkannya ke dalam tempat ini sengaja karena ingin menghukum kita saja,” sebut salah - satu dari penghuni yang tinggal di tempat itu. Bayangan hitam yang tadi sangat pekat kini menghilang sedikit demi sedikit. “Hey mengapa kalian pergi begitu saja? Apakah kita tidak jadi melakukan permainan yang menyenangkan ini? Padahal aku baru saja menarik satu anak panah yang indah ini.” “Tidak! Kau sudah gila. Tidak ada manusia yang bersedia bermain dengan kami dan menggunakan senjata berbahaya seperti itu. Apakah kau tidak menyadari kalau kami adalah gabungan dari sifat jahat manusia yang menjelma menjadi bayangan kegelapan.” “Aku tidak peduli akan hal itu. Yang terpenting kalian harus mau menjadi kelinci percobaanku yang berharga.” “Tidak! Sebaiknya kau pergi saja dari tempat ini!” 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN