Tanggung Jawab Pemimpin

1026 Kata
“Siapa bilang kalian boleh memotong perkataanku di ruangan ini tanpa seijinku? Sadari posisi kalian sekarang!” “Apa maksud ada tuan Henri?” “Kalian telah memilih pihak yang salah dengan begitu aku harus bertanggung jawab dengan mengambil tindakan tegas atas semua ini. Kata permintaan terakhir kalian dan aku akan melakukannya lalu setelah itu adalah akhirnya.” “Siapa bilang kalian boleh memotong perkataanku di ruangan ini tanpa seijinku? Sadari posisi kalian sekarang!” “Apa maksud ada tuan Henri?” “Kalian telah memilih pihak yang salah dengan begitu aku harus bertanggung jawab dengan mengambil tindakan tegas atas semua ini. Kata permintaan terakhir kalian dan aku akan melakukannya lalu setelah itu adalah akhirnya.” “Benarkah kami boleh meminta apapun?” Horsa tersenyum. “Katakanlah dan aku akan mengabulkannya sebagai balasan atas pengabdian kalian selama ini terhadap benteng Galesia.” “Baiklah kalau begitu kami ingin mengetahui dimana kau menyembunyikan Elemen Kegelapan itu.” “Apa?” “Bukankah kami boleh meminta apapun seperti yang kau katakan?” “Jaga bicara kalian! Permintaan itu adalah hal mustahil dikabulkan,” sahut Horma. “Bagaimana tuan Henri yang adil. Apakah kau akan mengingkari perkataanmu?” “Jangan bicara sembarangan. Aku adalah orang yang tidak pernah mengingkari perkataanku.” “Kalau begitu katakan kepadaku dimana kau menyembunyikannya.” “Aku tidak tahu dari mana kalian mengetahui kalau di tempat ini tersembunyi Elemen Kegelapan. Informasi itu hanya diwariskan diantara para pemimpin benteng saja.” “Jangan banyak bicara Henri! Cukup katakan dimana benda itu?” Saat mereka sedang berbicara ternyata Horsa dan Soka sedang berkomunikasi dengan telepati. “Tuan, begitu dia memberitahukan dimana benda itu kita harus mengambilnya dengan semua kekuatan yang ada lalu menggunakannya untuk menghabisi mereka sekalipun. Aku sudah tidak peduli lagi dengan wanita ini. Dia sudah melewati batas yang sudah sudah kita berikan.” “Kalau kau bilang begitu maka aku akan setuju,” jawab Soka dalam pikirannya. “Jadi katakanlah dimana letak benda itu tuan Henri?” “Seharusnya kalian sudah melihatnya dari tadi tanpa aku beritahukan.” Henri tersenyum memandang Soka dan Horsa. “Tidak mungkin. Jangan bilang kau hanya ingin mempermainkan kami karena tidak mau memberitahukannya. Sudahlah jangan berharap orang ini akan berkata jujur kepada kita.” “Baiklah tuan Soka.” “Jangan salahkan aku hanya karena kalian tidak menyadarinya. Sebenarnya benda yang kalian sentuh dari tadi adalah Elemen Kegelapan tersebut.” Henri melihat kepada ke atas mejanya. “Tidak mungkin! Apakah benda yang kau maksud adalah gelas ini?” Soka terkejut dan menatap benda tersebut. “Jadi apakah kalian sudah puas setelah aku memberitahukannya?” Soka dan Horsa kemudian saling melihat lalu bersama - sama menggapai gelas itu dengan sekuat tenaga. Tapi sayangnya yang terjadi masih sama seperti sebelumnya. Gelas itu pun membalik semua kekuatan mereka sehingga usaha mereka pun menjadi sia - sia saja. “Cobalah ambil kalau kalian bisa. Bahkan aku tidak akan menghalangi kalian melakukannya. Itu pun kalian mampu melakukan itu.” Setelah itu mereka masih melakukan hal itu beberapa kali walau hasilnya sama saja. “Apa yang sebenarnya sudah kau lakukan terhadap benda ini?” “Aku tidak tahu apa yang membuat kalian berpikir dapat mengambil benda ini dengan cara biasa. Apakah kalian mengetahui mengapa aku tidak pernah memindahkannya sampai saat ini? Itu karena aku pun tidak memiliki kemampuan untuk melakukannya.” “Kalau anda pun tidak bisa melakukan itu, lalu siapa yang dapat mengangkatnya?” Tanya Horma. “Elemen Kegelapan adalah benda hanya dapat digunakan oleh orang yang terpilih saja. Apakah kau berpikir seorang Medallion ditakdirkan untuk menggunakan kekuatan kegelapan yang ada di dalam benda ini?” Henri menggenggam kedua tangannya dengan kepala tertunduk menunjukkan ketidakmampuannya. “Hahaha, aku seharusnya membiarkan kalian masuk saja sejak awal kalau mengetahui semuanya akan berakhir sia - sia begini. Seharusnya kalian bisa melihat wajah - wajah putus asa yang ada di hadapanku sekarang.” “Jangan omonganmu wanita sialan! Mengapa aku para Dokoon itu tidak mengatakan hal ini kepadaku?” “Drakk…!” Horsa memukul meja dengan wajah sangat kesal. “Sepertinya ada orang yang tertipu oleh mulut busuk para Dokoon. Tak kusangka seorang Medallion yang terkenal dengan kebijaksanaannya sepertimu ternyata dapat diperdaya oleh sekumpulan Dokoon.” “Oleh karena aku sudah memberikan apa yang kalian mau berarti sekarang waktunya kalian mendapatkan hukuman.” “Hukuman katamu? Jangan bercanda bocah d***u! Kalian hanya generasi terbelakang dengan kemampuan paling lemah diantara semua generasi. Aku bahkan sampai sekarang tidak pernah mengakui keberadaan kalian di dalam benteng Galesia yang agung ini.” “Dasar orang tua busuk! Aku akan menutup mulutmu dengan paksa karena telah berani menghina seorang pemimpin benteng Galesia.” Horma mengeluarkan bola air dan menyerang Soka. “Kau aku sudah bosan bermain - main dengan main airmu itu. Sekarang aku akan tunjukkan kepada kalian para bocah lemah betapa kerasnya generasiku.” Dengan kemampuannya Soka mengubah ukuran pot bunga yang ada di antara dirinya Horma untuk menahan serangan air tersebut. “Hehehe, kau kira serangan lemah seperti itu dapat menyentuhku. Di dalam zona yang bisa dijangkau oleh kekuatanku tidak ada seorangpun yang dapat berbuat seenaknya.” “Keluarlah dari tempat ini Horma! Biar aku yang menangani mereka berdua. Kalau kau ada di tempat ini akan berbahaya dan aku tidak bebas menggunakan semua kemampuanku.” “Tapi tuan Henri….” Horma membantah perintah tersebut. “Ini adalah perintah karena menghukum mereka adalah tanggung jawabku sebagai pemimpin benteng ini.” “Baiklah tuan. Tapi anda harus harus berhati - hati melawan mereka. Saat ini mereka bukan lagi Medallion yang bertarung dengan kehormatan tapi sekumpulan Dokoon yang dapat melakukan hal licik apapun untuk menang.” “Terima kasih atas peringatannya. Tapi sekarang kau harus cepat keluar.” “Horsa, apakah kau dapat mengurus adikmu sementara aku memberi pelajaran kepada orang ini?” “Tentu saja tuan Soka.” Horsa langsung pergi melewati Henri mengejar Horma yang sudah keluar terlebih dahulu. “Sekarang tinggal kita berdua Henri. Sebaiknya kau tidak mencari alasan karena saat ini kita akan bertarung satu lawan satu. Bukannya begitu cara bertarung seorang Medallion?” “Padahal aku tidak keberatan kalau harus menghadapi kalian berdua sekalian. Jujur saja aku pun merasa tidak akan ada perbedaan besar.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN