Memasuki Ruang Henri

1062 Kata
Saat menggunakan teknik pembesaran terhadap debu yang di depan ruangan Henri, Soka dapat bergerak saat menggunakan teknik pembesaran terhadap debu yang di depan ruangan Henri, Soka dapat bergerak dengan bebas bersama dengan Horsa yang ada di dekatnya. “Hey, ternyata kau bisa bertahan dalam kendali teknik ini.” Soka melihat kepada Horma yang menahan semua batu itu dengan menggunakan perisai air. Tapi dia tidak melakukan apa - apa terhadap wanita itu karena menghormati Horsa yang ada disitu. “Kau diam saja disitu dan menonton apa yang akan kami lakukan terhadap pemimpinmu itu setelah berhasil menghancurkan pintu ini.” “Dasar pengkhianat busuk! Aku tidak akan membiarkanmu berbuat sesukanya.” Dari sela - sela bebatuan itu keluar air yang bergerak dengan cepat menyerang Soka dan Horsa. “Sayang sekali teknikmu tidak akan berguna dalam jangkauan kekuatannya saat ini.” Air tersebut berubah menjadi embun yang sangat kecil sehingga membatalkan serangan Horma. “Apakah kau tidak ingin menggunakan teknik embun pamungkasmu sekarang. Oya aku baru ingat kalau kekuatanmu sekarang tidak cukup untuk menggunakan teknik itu. Kau yang sekarang tak lebih dari burung yang terperangkap di dalam kekuatanmu sendiri. Sungguh ironi bukan?” “Kita sudah kehabisan waktu tuan.” Perkataan Horsa menyadarkan dirinya akan pintu tersebut. “Baiklah. Sebaiknya kau jangan berdiri didepan pintu itu. Aku sudah lelah menggunakan cara aman untuk menghancurkannya. Saatnya aku menggunakan cara kasar.” Soka menyentuh pintu tersebut dan mengalirkan kekuatan kegelapan yang sangat besar. Perlahan ukuran pintu mengecil akibat terkena teknik ruang yang digunakan oleh Soka. “Sudah kuduga cara ini akan berhasil walau menggunakan kekuatan yang sangat besar.” Begitu pintu terbuka mereka sedikit berhati - hati karena mengetahui kalau Henri masih berada di dalam ruangan itu. “Bagaimana sekarang tuan?” “Ayo kita masuk tapi kau harus melindungiku Horsa. Aku butuh beberapa lama untuk memulihkan kekuatan seperti semula.” “Baiklah untuk itulah aku ada disini, “ sahut Horsa. Mereka pun melangkah dengan hati - hati memasuki ruangan itu sambil bersiap apabila ada serangan tiba - tiba. Namun mereka saat berada di dalam sontak terkejut. “Apa? Kemana orang itu Horsa?” Henri ternyata tidak berada di dalam ruangan sempit tersebut. “Tidak mungkin! Aku melihatnya dengan mataku sendiri kalau orang itu masuk ke dalam ruangan ini.” “Lalu kemana dia sekarang? Kau tahu? Aku sungguh tidak mau ada kejutan lagi.” Horsa terduduk pada suatu kursi dengan pikiran yang dirasuki kebingungan. Tapi dia sangat yakin kalau Henri memang tidak meninggalkan tempat itu. “Sudahlah Horsa! Jangan terlalu memikirkannya. Lagipula kedatangan kita ke tempat ini bukan untuk mencari dia. Sekarang bantu aku menemukan Elemen Kegelapan yang disembunyikan itu.” “Tapi….” “Tidak ada tapi lagi. Kita sudah kehabisan waktu. Suatu keajaiban Hur belum kembali sampai saat ini. Tanpa batu itu kita tidak akan bisa menandingi kekuatan seorang Medallion seperti itu.” Kedua orang itu pun mencari dengan teliti dimana tempat disembunyikannya Elemen Kegelapan oleh Henri. “Kurang ajar Henri memang sangat licik! Entah dimana dia menyembunyikan benda itu.” “Aku sangat mengenal orang itu tuan. Apa dilakukannya selalu bertentangan dengan akal sehat. Kita tidak akan bisa menemukannya kalau kita berpikir seperti orang pada umumnya.” “Apa maksud perkataanmu Horsa? Kalau kau mengetahui sesuatu cepatlah katakan karena aku sudah ingin menghancurkan tempat ini.” Horsa merenung mengingat - ingat apa sudah terlewatkan olehnya. Dia berjalan menuju tempat duduk tua yang biasa dipakai oleh Henri kalau dia minum kopi. “Mengapa kau malah duduk santai disaat seperti ini?” Horsa tidak berkata apa - apa dan perlahan mengamati sekitarnya dari sudut pandang tempat dia duduk sekarang. Dia pun merasa aneh karena di hadapannya terdapat dua gelas yang berisi kopi dan air putih. Gelas yang berisi kopi sudah habis diminum tapi air putih tersebut masih penuh. “Dasar orang orang aneh.” Horsa menjamah gelas tersebut tapi langsung melepasnya tangannya. “Apa yang terjadi Horsa?” Tanya Soka. “Perhatikan gelas ini tuan.” Air yang tadinya terlihat dingin tiba - tiba mengeluarkan asap pertanda kenaikan suhu yang drastis. “Bagaimana mungkin bisa terjadi?” Soka terkejut dengan melihat air tersebut. “Aku tidak terkejut kalau kalau kita berurusan dengan orang seperti Henri. Tampaknya kita harus memindah gelas ini dari tempatnya untuk mengetahui dimana letak tempat persembunyian Elemen Kegelapan tersebut.” “Kalau begitu mengapa kau tidak memindahkannya dari tadi Horsa?” “Bukan aku yang tidak mau melakukan itu tuan. Hanya aku tidak memiliki kemampuan yang cukup untuk memindah benda ini karena telah diberi segel sehingga siapa saja yang menyentuhnya pasti akan merasakan kelemahan dari dirinya sendiri.” “Kalau kau yang memiliki kekuatan air berarti tidak kua terhadap kekuatan panas yang tinggi.” “Begitulah maksudku tuan.” “Ya sudah. Biarkan aku yang melakukannya karena sampai saat ini belum ada yang mengetahui kelemahanku.” “Silahkan tuan.” Horsa berdiri dari kursi dan berganti dengan Soka. “Huh, aku penasaran dengan segel ini.” Soka pun perlahan menyentuh gelas tersebut. Begitu dia menggenggam nafasnya seperti tertahan saat berusaha mengangkat benda itu. “Bagaimana tuan? Mengapa anda belum memindahkannya?” “Entah mengapa tiba - tiba aku seperti kehilangan kekuatan. Bahkan aku tidak punya kekuatan untuk mengangkatnya.” Begitu Soka melepaskan tangannya dari gelas itu dia terkejut karena kekuatannya kembali seperti semula. Tapi ketika di menyentuhnya lagi kekuatannya pun sirna sama sekali. “Aku tidak pernah melihat kekuatan seperti ini seumur hidupku. Bagaimana mungkin ada orang yang mampu menciptakan segel ini.” “Hentikan perbuatan kalian!” Suara Horma yang masuk mengejutkan kedua orang itu. “Apa?! Bagaimana mungkin kau dapat lolos dari zona kekuatanku?” Soka berdiri dan melepaskan tangannya dari gelas tersebut. “Tidak usah banyak bicara pengkhianat. Sekarang kalian tidak bisa pergi kemana - mana lagi.” “Hahahaha, untuk apa kami harus lari kalau hanya melawanmu. Seharusnya kau melarikan diri begitu mendapatkan kesempatan dari tadi. Tapi ternyata kau begitu tidak menyayangi nyawamu hingga berani datang ke tempat ini.” “Siapa bilang kalian akan menghadapiku. Orang yang akan menghadapi kalian adalah….” “Jangan - jangan ….” Horsa terkejut dan menatap ke pintu. “Selamat datang di ruangan tuan - tuan. Maaf karena aku tidak sempat menyambut kalian. Tadi aku sedang pergi ke toilet. Ternyata kalian telah membuat keramaian di dalam bentengku.” “Bentengmu?” Sahut Soka. “Diam!” Henri berteriak dan masuk dalam mode tempur dengan jubah pelanginya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN