Di tempat lain yang tidak jauh dari situ Soka sedang berhadapan dengan Suki.
“Di tempat lain yang tidak jauh dari situ Soka sedang berhadapan dengan Suki.
“Aku tidak tahu bagaimana kau dapat hidup kembali. Tapi sepertinya kau memang orang yang dibekali dengan banyak keberuntungan.”
“Kali ini aku selamat bukan karena keberuntungan tapi karena karena pertolongan mereka. Anak - anak Di tempat lain yang tidak jauh dari situ Soka sedang berhadapan dengan Suki.
“Aku tidak tahu bagaimana kau dapat hidup kembali. Tapi sepertinya kau memang orang yang dibekali dengan banyak keberuntungan.”
“Kali ini aku selamat bukan karena keberuntungan tapi karena karena pertolongan mereka. Anak - anak zaman ini ternyata sangat berpotensi. Aku terselamatkan oleh tekad dan ketulusan mereka.Tapi keberuntunganku kali ini akan menjadi kesialan untukmu Soka.”
“Apakah kau masih mau menghadapiku dengan cara yang sama. Sebaiknya hentikan niatmu itu karena berapa kali pun mencoba hasilnya akan tetap sama saja.”
“Benar sekali. Tapi sayangnya sekarang tidak ada Dokoon yang dapat kau gunakan sebagai alat seperti sebelumnya.”
“Begitukah? Kali ini aku akan memperlihatkan kemampuan yang aku dapatkan dari kegelapan. Semoga kau secepatnya sadar akan seberapa jauh perbedaan kekuatan diantara kita.”
Dari setiap lubang yang ada di tubuh Soka keluar asap hidup yang memancarkan aura menakutkan. Asap itu pun langsung menyatu dengan udara yang ada disitu.
Kemudian muncullah satu persatu batu di sekitarnya yang mengambang di udara.
Batu - batu itu adalah debu - debu yang mengambang di tempat itu akibat pertarungan sebelumnya. Kemudian jumlah debu yang membesar pun semakin bertambah dan mendekat kepada musuh - musuh Soka.
“Cobalah kalian untuk lolos dari semua ini!”
Horsa langsung mendekat kepada Soka untuk terhindar dari semua batu itu.
“Pergi dari sini sekarang!” Suki berteriak kepada semua Medallion.
Semua Medallion yang ada disitu langsung pergi dengan cepat menghindari kejaran dari batu - batu yang semakin membesar.
Setelah pergi cukup jauh akhirnya sampai pada batas akhir dari teknik pembesaran tersebut.
“Ternyata orang tua itu masih menyembunyikan kekuatan yang mengerikan.”
“Kau salah Vin. Dia sengaja menggunakannya karena sedang bertarung di tempat terbatas. Tentu saja itu akan menguntungkannya,” sahut Nadine.
“Kalau begitu bagaimana kalau kita hancurkan saja semua batu ini?”
“Percuma saja. Lakukan saja kalau kau mau?” Kata Nadine.
“Drak...drak...drak!” Marvin menebas tumpukan batu itu dengan menggunakan senjata nya.
Namun setiap satu batu hancur maka akan muncul batu lain yang menutup celah tersebut.
“Sudah kuduga kalau setiap benda yang berada dalam jangkauan teknik ini akan terus membesar sampai semua celah tertutup.”
“Mengapa kau kau tidak mengatakannya dari awal Nadine?”
“Apa aku tidak salah dengar. Bukankah sudah kukatakan tadi kalau perbuatanmu yang ingin menghancurkannya akan percuma saja. Tapi kau saja yang terlalu keras kepala dan tetap melakukannya. Coba katakan kalau aku salah.”
“Nadine benar Vin. Lo aja yang sok keras tadi,” kata June.
“Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang? Jujur saja aku bukan orang yang suka menunggu tanpa rencana dan berharap keajaiban akan terjadi.”
“Vin, gak yang bilang kalau kita akan diam saja tanpa melakukan apa - apa. Tapi melakukan sesuatu tanpa berpikir panjang juga sesuatu yang sia - sia. Kita malah akan membuang kekuatan yang harusnya dapat dipakai pada saat yang tepat nanti.”
“Aku sependapat dengan tuan dari golongan King ini. Setidaknya dia lebih waras dibanding seorang Warrior yang berpikiran dangkal.”
“Apa maksud perkataanmu Nadine?” Marvin menatap dengan emosi.
“Tenang teman - teman. Apakah kalian tahu kepada nona Horma saat Soka menggunakan teknik aneh ini?”
“Apaan sih lo Jer? Dari tadi yang lo tanya cuma nona Horma saja. Jangan - jangan kau mulai suka dengan wanita yang lebih tua ya?”
“Jaga ucapanmu Marvin. Aku masih bisa bersabar mendengar semua perkataan sia - sia yang keluar mulutmu. Tapi kalau kau berani menghina guruku dengan kata - kata tidak sopan seperti maka aku tidak akan menahan diri.”
“Vin, lo gak boleh mengatakan wanita dengan cara seperti itu.”June menegur temannya itu karena melihat Nadine yang sangat marah.
“Iya iya salahku. Jeremy sih dalam keadaan seperti malah ngomongin orang lain.”
“Gue ngomong gitu karena disana cuma ada dua jalur bukan? Selain itu sangat tidak mungkin dia berlari ke arah sebalik dengan menerjang teknik pembesaran itu.”
“Masuk akal apa yang dikatakan oleh Jeremy. Aku juga baru menyadari setelah Jeremy menanyakannya. Aku sangat mengerti guruku itu. Dia adalah seorang yang bertarung dengan penuh perhitungan. Dia tidak akan memaksakan diri kalau merasa tidak mampu melakukannya.”
“Aku rasa juga begitu. Berarti dengan kata lain dia saat ini pasti punya rencana.”
“Oya bagaimana kalian dapat bertemu dengan orang tua yang satu lagi. Bukankah seharusnya dia sudah…”
“Mati? Tadi juga aku berpikir gitu Jer. Tapi ternyata ketika kami tiba disana dia masih dalam keadaan bernafas walau hampir tidak memiliki waktu banyak seandai kami tiba lebih lama lagi.”
“Apa yang kalian lakukan untuk menyelamatkan nyawanya?” Tanya Jeremy.
“Kau pasti sulit mempercayainya, tapi ternyata June dapat diandalkan disaat seperti itu. Padahal bukannya dia yang paling tidak suka dengan kedatangan kita di tempat ini.”
“Eh masak sih. Berarti June benar - benar sudah menjadi seorang Priest yang hebat bukan? Aku pasti akan sangat membutuhkan bantuanmu June.”
“Lo enak banget ngomong gitu Jer. Padahal tadi gue sudah ragu akan berhasil menyelamatkan nyawa tuan Suki.”
“Oya kau benar nama orang itu adalah Suki,” sahut Jeremy.
“Mana tadi kami harus bertarung dengan Dokoon dan salah satu dari pengkhianat itu lagi. Untung aja mereka bisa dikalahkan.”
“Kalau Dokoon itu bukan masalah karena aku yang bertarung melawannya. Tapi Marvin lah yang mengalahkan Jona.”
“Wah jarang sekali kau mengakui kemampuanku Nadine.”
“Seorang kesatria harus berani kemampuan orang lain. Tak peduli dia kawan atau lawan. Dengan begitu kita bisa menghadapi kenyataan dan melampauinya.”
“Aneh sekali mendengar kata - kata yang begitu jantan dari seorang wanita.”
“Memang apa salahnya kalau aku adalah seorang wanita. Aku adalah Medallion dari golongan Warrior. Oya aku masih penasaran bagaimana caramu menghadapi orang sekuat Jona.”
“Oh bukankah sudah kubilang kalau dia tiba - tiba pergi begitu saja. Mungkin hanya takut menghadapi kenyataan dengan kalah dariku.”
“Aku ragu akan hal itu apalagi yang kita bicarakan adalah seorang yang pernah menjadi Medallion tingkat tinggi sepertinya.”
“Tapi memangnya kemana lagi dia pergi Vin? Tadi aku tidak melihat Jona di dekat Soka dan Horsa. Apakah dia melarikan diri dari tempat ini?”
“Bisa saja bukan Jer. Pokoknya aku mana aku tahu dia kemana.” Marvin kelabakan menjawab pertanyaan dari Nadine dan Jeremy.