Alasan Yang Terlalu Aneh

1126 Kata
“Ternyata kau masih belum kalah.” Jeremy mengurungkan niatnya untuk membantu Pigi. “Ampuni aku yang terlalu lambang tuan.” “Sebaiknya cepat selesaikan pertarunganmu karena aku harus segera membantu teman - temanku disana.” Dengan sekali lompatan Pigi sudah berada di hadapan Dokoon tersebut. “Sial! Kalau saja tidak ada yang membantumu pastilah aku sudah membunuhmu dari tadi.” “Ternyata kau masih belum kalah.” Jeremy mengurungkan niatnya untuk membantu Pigi. “Ampuni aku yang terlalu lambang tuan.” “Sebaiknya cepat selesaikan pertarungan mu karena aku harus segera membantu teman - temanku disana.” Dengan sekali lompatan Pigi sudah berada di hadapan Dokoon tersebut. “Sial! Kalau saja tidak ada yang membantumu pastilah aku sudah membunuhmu dari tadi.” “Membantu? Aku bisa memastikan kalau mereka tidak berbuat apa - apa sejak tadi.” “Dasar pembohong! Tapi bukan masalah besar karena sayapku bisa tumbuh lagi berapa kali pun terpotong.” “Bagaimana dengan bagian ini?” Pigi mengayunkan satu kipasnya dan langsung memotong lengan dari raksasa tersebut. “Jadi yang tadi itu adalah ulahmu. Hehehe, bukankah sudah kukatakan kalau memotong anggota tubuh kami adalah tindakan yang sia - sia.” “Kalau begitu aku tidak punya pilihan karena kami sudah kehabisan waktu.” “Sayatan abadi!” Pigi membentangkan kedua tangannya lalu memutar sampai membentuk lingkaran penuh. Satu persatu benda - benda yang tersisa di hadapannya pun terpotong. Potongan demi potongan membentuk pola memutar secara horizontal sehingga seperti angin topan. “Kau kira aku akan kalah dengan angin kecil seperti itu?” Dokoon itu pun membalas dengan kibasan sayap yang sangat kuat. Ketika kedua teknik itu bertabrakan menghasilkan bunyi yang sangat bising. Walau tidak dapat dilihat dengan mata tapi tidak dipungkiri apabila ada yang berani menerobosnya pasti akan hancur tak bersisa sama sekali. “Hahaha, kau lihat bukan kalau kekuatan dari sayapku jauh lebih kuat daripada senjata aneh itu.” “Zing…!” Sesuatu menerobos badai tersebut dan melesat kepada Dokoon. Tanpa dia sadari kini tubuhnya sudah terbelah menjadi dua bagian kiri dan kanan. Pandangan yang tadinya sama rata kini menjadi tinggi pada sisi sebelahnya. “Ap….” Belum sempat dia menyelesaikan kata - katanya tiba - tiba Dokoon tersebut langsung terjatuh ke arah yang berlawanan. “Seorang petarung seharusnya fokus kepada tekniknya dan pergerakan lawan saja. Semoga di kehidupan berikutnya kau menjadi orang yang lebih baik.” Pigi menyimpan kembali kedua senjatanya kemudian kembali kepada Jeremy. “Tuan, kami sudah menyelesaikan tugas. Maaf kalau telah membuat anda menunggu terlalu lama.” “Baiklah, setidaknya kalian bisa bertahan hidup karena perjalanan kita masih akan sangat panjang. Sekarang istirahatlah di dalam cincin ini.” Ketika makhluk itu pun langsung kembali ke dalam cincin sementara Jeremy pergi ke tempat Horma berada untuk segera membantunya. “Semoga aku tidak terlambat untuk menolong nona Horma saat ini.” “Duar...duar!” Terdengar suara ledakan dari kejauhan. “Aku mengenal pancaran kekuatan ini,” pikir Jeremy. “Astaga aku yang sudah terlambat atau mereka yang datang lebih cepat dari yang direncanakan?” Dari jauh tampak Marvin dan yang Nadine sudah ada disitu bertarung melawan Horsa. “Bukankah seharusnya dia sudah mati?” Jeremy terkejut melihat keberadaan dari Suki dan sedang bertarung melawan Soka. “Vin, apa yang sudah terjadi? Mengapa kalian bisa sampai lebih cepat dari yang direncanakan?” “Jangan salahin gue dong Jer. Masalahnya karena yang diperintahkan untuk melawan kami ternyata terlalu lemah.” “Oke deh Ya udah kalau gitu. Aku akan pergi untuk membantu nona Horma. Apakah kau melihat dia pergi kemana selama aku tidak ada?” “Kau salah kau mengkhawatirkannya Jer. Lebih baik kau bantu kami mengalahkan yang satu ini.” “Hey bocah, apa yang telah kau lakukan terhadap para Dokoon itu?” Tanya Horsa. Jeremy berpikir sejenak karena dia tidak mungkin berbohong telah mengalahkan para Dokoon raksasa itu. Tapi dia harus memberi jawaban yang masuk akal agar tidak ada yang khawatir. “Mereka memang lawan yang merepotkan tapi dengan sedikit usaha akhirnya aku dapat mengalahkan mereka.” “Tidak mungkin kau mengalah mereka seorang diri. Bahkan untuk seorang Medallion tingkat tinggi itu sangat sulit dilakukan.” “Mungkin kalian terlalu berharap besar pada makhluk - makhluk lemah sebesar apapun tetap saja lemah.” “Aku curiga kau menyembunyikan sesuatu dariku. Sekalipun kau seorang dari golongan King, tetap saja kau adalah seorang pemula.” “Terserah mau percaya atau tidak.” “Wah...wah...wah, orang yang ditunggu - tunggu akhirnya datang juga. Apakah kau sudah siap untuk bertarung melawanku? Karena aku sudah bosan bermain - main dengan bocah - bocah ini.” “Tentu saja.” Horma tiba - tiba muncul dari belakang dan maju menghadapi kakaknya seorang diri. “Serahkan orang ini padaku karena ini adalah tanggung jawab yang diemban sebagai anggota keluarga.” “Apakah anda yakin dapat melakukannya?” Tanya Nadine.” “Sepertinya kau mulai berbicara kurang sopan,” jawab Horma. “Bukan itu yang aku maksud guru. Tapi…” “Kau pikir aku tidak tega membunuh saudaraku sendiri? Jangan remehkan kesetiaanku kepada Medallion dan keadilan. Sekalipun dia adalah saudaraku, dalam tugas tidak ada kata teman ataupun saudara. Kita harus mengesampingkan emosi dan perasaan.” “Baiklah guru.” Nadine menundukkan kepalanya dan membiarkan Horma bertarung seorang diri. “Vin, Jer, sebaiknya kita mundur dan menunggu waktu yang tepat apabila dibutuhkan.” “Jeremy dan Marvin pun tidak dapat membantah perkataan dari Horma yang sudah bertekad melawan Horsa.” “Kita ikuti saja apa yang diinginkannya Vin.” “Ya udah kalau gitu kita sekarang ke tempat June saja,” ajak Marvin. “Jer, kemana lo dari tadi kok baru kelihatan?” Tanya June saat bertemu. “Oh tadi gue terpaksa memisahkan diri agar lebih mudah menghadapi para Dokoon. Tapi ternyata mereka malah berubah menjadi raksasa.” “Apa? Raksasa?” Nadine terkejut dengan pengakuan Jeremy. “Ya raksasa, sepertinya orang yang bernama Soka itu telah melakukan sesuatu terhadap tubuh Dokoon yang mengejarku.” “Ternyata benar kalau Soka itu memiliki kemampuan yang dapat memanipulasi ukuran dari benda. Tapi aku baru tahu kalau dia bisa melakukannya terhadap makhluk hidup. Lalu bagaimana cara kau mengalahkan seorang raksasa Jer?” “Seperti yang yang aku katakan kepada orang itu. Eh tapi bukan 1 raksasa melainkan 3 orang raksasa.” “Apa? Aku sangat susah meyakini seorang yang bukan dari golongan Warrior dapat mengalahkan musuh seperti itu.” “Kau sama saja seperti orang itu. Tapi memang tidak mudah berhadapan dengan musuh dengan ukuran sebesar itu.” “Aku menyesal karena tidak satu tim denganmu. Padahal aku pasti akan mendapat pengalaman menghadapi raksasa.” “Jangan pikir yang aneh - aneh,” sahut Marvin. “Memangnya keberadaan kita bukan merupakan keanehan ya?” “Hahaha, apa yang kau katakan benar juga sih Jer.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN