Burung Yang Tidak Mau Terbang

1010 Kata
“Hentikan! Aku sudah tidak kuat lagi.” Dokoon itu berteriak dengan darah yang terus keluar dari mulutnya. “Hentikan! Aku sudah tidak kuat lagi.” Dokoon itu berteriak dengan darah yang terus keluar dari mulutnya. “Sudah kubilang kalau aku akan menjadikanmu makan ikan - ikan di danau ini. Oleh karena itu aku akan memastikan dagingmu cukup empuk bagi mereka.” Inu terus menghujaninya dengan pukulan demi pukulan tanpa henti. Tak peduli bagian mana pun sekarang sudah hancur seperti daging cincang. Bahkan sampai tulang belulang yang keluar dari tubuhnya sampai menyatu dengan dagingnya karena begitu keras pukulan - pukulan itu. Bahkan setiap pukulannya seperti berpacu dengan kekuatan pemulihan dari Dokoon tersebut. Inu tampak sangat menikmati apa yang dilakukannya. Air liur keluar dari sela - sela giginya dengan mulut yang ternganga. Kini dia lebih mirip seperti monster haus darah daripada seorang petarung. Tak ada kehormatan lagi dari pertarungan yang sebenarnya sudah selesai sejak tadi. Dia sepertinya gagal menguasai dirinya akibat hasrat haus darah di dalam dirinya. Saat darah hitam itu sudah membasahi wajahnya, tiba - tiba dua tangan memegang pundaknya. “Hey anjing tua, apakah kau ingin membuang kehormatanmu karena kalah dengan dirimu sendiri?” Nekon berdiri di sebelah kanannya. “Hah...hah...hah.” Inu terengah - engah akibat serangan itu telah menguras banyak kekuatannya tanpa dia sadari. “Sepertinya kau terlalu menikmati pertarungan ini. Sebaiknya kau berikan kesempatan kepada tubuhmu untuk beristirahat sejenak pak tua.” Pigi langsung menopang tubuh Inu yang sangat kelelahan. “Sudah kuduga kalau bertarung setelah sekian lama tidak mudah. Terlebih teknik yang kumiliki menggunakan kekuatan yang besar dalam setiap gerakannya. Aku menyesal karena dulu tidak menekuni teknik yang lebih sederhana saja.” “Kalau kami tidak menahanmu pastilah kau akan menghancurkan tempat ini.” “Kau benar merpati, dan kebodohanku akan membongkar keberadaan kita. Maafkan atas kecerobohanku.” “Hahaha, ternyata kau lebih ramah dibanding si kucing.” “Siapa yang kau bicarakan merpati? Sekarang giliranmu melawan raksasa terakhir.” Nekon mengambil alih untuk membantu Inu mundur untuk memulihkan tenaga. Pigi berbalik dan melangkah ke tempat pertarungan menghadapi raksasa berikutnya untuk menuntaskan tugas mereka. “Kemarilah dan hadapi aku Dokoon!” Pigi berseru kepada lawannya. Dokoon itu melangkah keluar dari kegelapan menyambut musuh yang sudah siap bertarung. Saat dia berjalan melewati tumbukan daging dua raksasa sebelumnya langsung diinjak layaknya kotoran yang tidak berarti. “Kalau kau kira aku peduli dengan kedua orang bodoh ini maka itu adalah pemikiran yang salah. Semua ini demi tugas yang sudah diberikan dan kami harus melakukannya dengan cara apapun.” Raksasa yang terakhir tampil dengan wujud yang tidak hampir sama dengan yang sebelumnya. Yang membedakan hanya warna kulit yang merah gelap dengan garis - garis hitam pada sekujur tubuhnya. “Aku lihat kau berasal dari jenis yang memiliki kemampuan terbang. Di tempatku lahir pernah diceritakan pada zaman dahulu hidup jenis makhluk bersayap seperti burung yang terbang melintasi dunia selama satu kali dalam sepuluh tahun. Mereka berkata kalau kemampuan makhluk terbang makhluk itu lebih cepat daripada seekor rajawali. Tapi sayang sekali di tempat ini kau tidak akan bisa terbang untuk menjangkau aku dengan kemampuan itu. Sebaliknya aku akan menunjukkan kepadamu suatu kejutan.” “Bla...bla...bla, kalian generasi zaman sekarang lebih suka menunjukkan kekuatan dengan cara berbicara. Pantas saja pak tua itu sangat tidak sabaran dalam bertarung. Kau tidak perlu khawatir dengan kedua sayap ini. Aku berbeda dengan semua rasku. Sekalipun terlahir dengan kedua sayap yang sangat gagah, aku tidak suka untuk terbang.” “Apa? Lucu sekali. Bagaimana mungkin burung tidak bisa terbang?” “Ya begitulah kenyataan yang terjadi padaku.” “Kalau begitu bagaimana dengan ini?” Dokoon itu menguatkan otot pada punggungnya seperti sedang menekan sesuatu. Tiba benda seperti bulu keluar dari tulang punggungnya sampai ke pinggang. “Aku tidak pernah menggunakan kemampuan ini walau dengan ukuran normal. Tapi entah kenapa sekarang tergerak untuk menggunakannya.” Bulu - bulu yang semakin banyak kemudian membentuk sepasang sayang besar yang gagah. Begitu dia mengibaskan kedua sayap itu langsung menghasilkan angin yang dapat menerbangkan barang - barang yang ada di ruangan tersebut. Perlengkapan kebersihan yang sebelumnya masih tertata rapi di rak kini sudah berantakan di lantai. Sebagian keadaannya sudah hancur akibat terhempas ke dinding. Tak hanya barang - barang tersebut, tapi juga tumpukan daging yang melekat di lantai pun ikut terbawa oleh angin. Dengan satu kibasan lagi semua benda yang ada disitu tanpa terkecuali tersingkir jauh dari tempat pertarungan mereka. “Hey merpati! Kalau kau tidak cepat mengalahkannya maka mereka yang ada disana akan datang kesini dan melihat apa yang terjadi.” Nekon berteriak kepada Pigi. Pigi pun mengeluarkan dua senjata seperti kipas berukuran setengah tinggi badannya. Setiap tulang dari kipas itu berbahan dasar seperti logam, sementara bagian lain tertutup oleh benda seperti bulu burung berurusan besar. “Ini adalah senjata yang terbuat dari buluku sendiriku sebagai ganti karena aku tidak menggunakannya untuk terbang.” Sedikit saja Pigi menggoyangkan kipas itu langsung membuat beberapa benda yang ada disitu terpotong tanpa sebab. “Astaga, senjata ini memang terlalu berbahaya apabila digunakan sembarangan.” Pigi pun terkejut dengan kekuatan dari senjatanya. Dokoon itu tidak mau kalah dan menyerang Pigi dengan kibasan sayap yang lebih kuat dari sebelumnya. Angin itu pun langsung menghempaskan Pigi ke dinding dengan kuat. “Ternyata kau memang tidak ada apa - apanya apabila tidak menggunakan kemampuan terbang. Burung yang tidak bisa terbang tidak ada gunanya.” Raksasa itu menertawakan lawannya yang terbaring di lantai karena terkena serangan tersebut. Jeremy yang melihat Pigi belum juga bangkit berniat untuk membantunya. “Otora berubahlah!” Tongkat yang ada di tangan Jeremy berubah menjadi sebuah busur panah dengan ukiran kuno yang menghiasinya. “Tuan, mohon jangan ikut campur dalam pertarungan ini.” Inu yang sudah pulih kekuatannya menghadang Jeremy untuk membantu Pigi. “Aku sudah tidak punya waktu lagi,” sahut Jeremy. “Kalau anda melakukannya maka merpati itu pastilah langsung mengakhiri hidupnya karena kehilangan harga diri.” “Slass…!” Tiba - tiba kedua sayap raksasa itu pun langsung tanggal dari badannya. “Apa yang terjadi? Siapa yang menyerangku?” Tiba - tiba Pigi berdiri dengan posisi tangan yang menyilang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN