Pertarungan Anjing Gembala

1013 Kata
Bukannya takut tapi kedua raksasa itu membalas perkataan Inu dengan tatapan kebencian. Tatapan itu seperti tantangan akibat penghinaan yang telah diterima oleh temannya yang baru saja mati tersebut. “Sepertinya kalian memiliki tekad yang patut dipuji. Kalau begitu maka akulah yang akan menjadi lawan kalian berikutnya.” Inu melihat kedua temannya yang kemudian membalas dengan anggukan saja tanpa berkata apa - apa. Mereka pun perlahan berjalan mundur untuk mempersilahkan Inu bertarung dengan kedua raksasa tersebut. “Apakah kau perlu bantuan untuk berjalan kucing?” Tanya Pigi yang berjalan berdampingan dengan Nekon. “Kalau kau berani melakukannya maka aku tidak segan - segan memotong kedua sayapmu itu.” “Hahaha, padahal aku hanya bermaksud menawarkan bantuan kepada tuan Nekon yang terhormat ini.” “Hehehe, lucu sekali. Tapi tidak ada tuan diantara kita selain tuan Jeremy seorang.” “Kali ini aku setuju dengan perkataanmu. Tapi apa tidak apa - apa membiarkan dia bertarung melawan kedua raksasa itu?” “Apakah kau tidak pernah mendengar kemampuan dari ras anjing gembala yang terkenal pada masanya?” “Oh sepertinya kau lebih mengenal orang itu daripada aku. Seperti yang kau tahu kalau sebelum bertemu di lorong itu kita tidak saling mengenal dan berasal dari zaman yang berbeda.” “Baiklah kau akan melihat kemampuan dari salah satu ras tertua di dunia ini.” “Ras tertua? Kalau begitu dia seperti serigala liar yang kita temui di dalam lorong tadi?” “Kau benar merpati. Tapi sebenarnya anjing memiliki beberapa ras di dunia ini. Sepengetahuanku anjing yang sedang bertarung disana sudah berumur ribuan tahun.” Makhluk yang menjadi lawan Inu memiliki bentuk seperti manusia dengan ukuran yang lebih besar. Selain tubuhnya yang berwarna hitam tidak ada hal lain yang membedakannya. Sebagai petarung dia tidak terlihat membawa senjata sama sekali sama seperti raksasa yang sebelumnya. Inu bergerak ke kanan memperhatikan gerak gerik lawannya. “Aku harap kau tidak melakukan kesalahan yang sama sepertinya.” Inu menunjuk kepada tumbukan daging yang hancur akibat efek dari teknik pemulihan yang dipaksakan. “Lawan aku dengan semua yang kau miliki selagi ada kesempatan. Asal kau tahu aku tidak seperti kucing yang disana yang suka bermain - main dengan lawannya.” Dokoon itu tersenyum sambil bersiap dengan kuda - kuda memajukan kaki kanannya. “Aku akan membuatmu menyesal karena telah menantangku untuk mengeluarkan semuanya!” Seru Dokoon tersebut. Dari dalam tubuhnya keluar tulang belulang yang mengerikan. Dengan kedua tangannya dia mencabut tulang rusuknya sampai terlepas dari tempatnya. “Jangan salahkan aku karena kaulah yang menginginkannya bukan?” “Begini lebih baik,” sahut Inu sambil mengeluarkan dua buah tongkat pendek dari balik jubahnya. Keduanya saling berhadapan sambil memegang senjata masing - masing. Karena begitu serius sampai - sampai waktu terasa berhenti sejenak. Mereka begitu memperhatikan gerak gerik masing - masing untuk menentukan apa yang akan dilakukan setelahnya. Tiba - tiba Dokoon langsung menyerang Inu dengan gerakan menusuk menggunakan kedua tulang rusuk berukuran besar tersebut. Tapi serangan itu ditepis oleh Inu dengan cara memukulnya ke atasnya sehingga kedua tulang rusuk itu pun langsung terlepas dari tangan. “Ternyata senjata ini masih bisa diandalkan seperti biasanya. Entah sudah berapa lama aku tidak mendapatkan kesempatan bertarung seperti ini.” “Kurang aja! Senjata apa sebenarnya yang kau gunakan?” Seru Dokoon tersebut. “Maaf tapi aku tidak biasa ngobrol saat sedang bertarung begini. Bagaimana kalau aku menjawab pertanyaanmu beberapa saat sebelum kematianmu saja?” “Dasar anjing busuk! Jangan pikir kau sudah menang dengan hal itu saja.” Maka Dokoon itu pun menarik lagi dua tulang rusuk yang sudah pulih setelah di gunakan tadi. Kini mereka saling menyerang dan bertahan menggunakan senjatanya masing - masing. Bedanya setiap kali setiap kali menangkis serangan selalu membuat senjata dari Dokoon itu terlepas dari genggamannya. Tapi dia pun terus menarik tulang rusuk dan tulang lainnya untuk menggantikan yang sudah terbuang tersebut. “Kita bisa melakukan ini sampai matahari terbenam esok hari. Kecepatan pemulihanku jauh lebih cepat dibanding dengan orang itu. Berapa kali pun aku bisa menggunakan tulang - tulangku sebagai senjata.” “Jadi ini yang kau katakan sebagai teknik terkuat untuk menaklukkanku? Aku sungguh kecewa dengan ukuran yang kau gunakan untuk mengukur seberapa besar kekuatanmu.” “Apa?!” “Ya semua ini mulai terasa membosankan. Apakah kau masih memiliki sesuatu yang disembunyikan agar kematianmu tidak meninggalkan penyesalan.” “Memangnya apa yang bisa kau lakukan lebih dari ini anjing? Bahkan sekalipun kau melubangi tubuhku seperti yang dilakukan oleh temanmu tadi, itu tidak akan berhasil padaku.” “Benarkah? Aku ingin bertanya kepadamu. Apakah kau mengetahui makanan yang paling disukai oleh ikan - ikan bawah sini?” “Apa peduliku dengan hal itu!” “Makanan yang disukai oleh ikan dibawah sini biasanya daging yang telah dihancurkan sampai tidak menyisakan serat sama sekali. Oleh karena itu akan memberikan dagingmu untuk menjadi makanan mereka.” “Lucu sekali. Bahkan tidak bisa melukaiku lebih dari 5 detik dari tadi karena tubuhku terus pulih dengan cepat.” “Menarik. Kalau begitu aku akan menggunakan cara lain untuk itu.” Inu memegang bagian tengah dari kedua tongkat yang ada di tangannya. Kemudian dia menggabungkan bagian ujung dari benda tersebut. Kemudian setelah menempel keduanya langsung melekat begitu kuat sampai menjadi suatu kesatuan layaknya tongkat panjang. Dengan satu gerakan terakhir yaitu memutar berlawanan arah menjadikan kedua tongkat itu saat ini terkunci begitu kuat. “Aku kira kau mau melakukan apa. Ternyata kau hanya menyatukan kedua tongkat itu. Bagiku benda itu masih sama seperti tongkat biasa.” “Krak…!” Inu memukul lantai di tempat itu sampai menggetarkan lantai. Saking kuatnya getarannya sehingga menggoyahkan kuda - kuda dari Dokoon tersebut. “Apa yang terjadi? Bukan itu adalah kedua tongkat yang sama?” Sebelum lawannya sadar Inu langsung menyerang dengan pukulan horizontal ke arah pinggang dari Dokoon itu. Karena serangan itu begitu cepat membuatnya tidak bisa dihindari ke arah mana pun. Dokoon terlempar menyamping dengan darah yang keluar dari luka yang terkena pukulan. Namun sebelum berhenti Inu sudah berada di depan dan bersiap untuk memukulnya ke arah yang berlawanan. Begitu seterusnya Inu mempermainkan lawannya sampai setiap inci dari tubuh Dokoon merasakan pukulan dari tongkat tersebut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN