Kegelapan adalah kekuatan yang hidup dan bertumbuh di dalam diri manusia sejak awal mereka diciptakan oleh Sang Pencipta oleh karena kesalahan sepasang manusia yang melanggar janjinya oleh karena ketamakan akan kekuatan yang melampaui dirinya sendiri. Manusia biasa pada umumnya tidak terlalu memperdulikan keberadaan kegelapan tersebut. Kegelapan pada manusia biasa hanya mendapatkan makan dari perbuatan jahat sehari - hari dari yang kecil sampai yang besar. Semakin sering kekuatan itu mendapatkan makanan, maka kegelapan itu akan semakin cepat menguasai orang tersebut.
Tapi bagi para pengguna kekuatan khusus seperti Dokoon kegelapan mendapatkan makanan dari setiap jiwa yang mati menjadi tumbal dari perbuatan jahat di dunia. Mereka akan membaginya kepada setiap jiwa untuk meningkat kekuatannya hingga suatu titik berbahaya yang dinamakan sebagai sihir.
Walau Medallion adalah pengguna kekuatan cahaya bukan berarti mereka tidak memiliki kegelapan di dalam dirinya. Pada kenyataannya kegelapan itu hanya tertidur akibat kekuatan suci yang aktif terus menerus. Namun apabila yang mengalirkan kegelapan dari luar ke dalam tubuhnya maka kegelapan yang tertidur itu akan terpicu dan mewujudkan diri dalam bentuk yang lebih mengerikan. Bayangkan kekuatan liar tiba - tiba menguasai tubuh seorang manusia. Kekuatan itu akan menuntut asupan makan yang tidak terkira. Hal itulah yang terjadi pada Henri saat ini. Tidak ada yang tahu seberapa besar makanan yang dibutuhkannya.
Kemudian Henri perlahan bangkit setelah menahan godaan yang menekannya begitu rupa.
“Aku tidak mengira kalau seorang Medallion sepertimu pun tidak kuasa menahan godaan yang menjadi dasar dari kodrat seorang manusia. Lalu apa yang akan kau lakukan tuan pemimpin yang terhormat?”
“Hoft….” Mata Henri sebelah kanan kini berubah menjadi merah.
Sebagian dari dirinya sudah tertelan oleh kegelapan yang sudah tertidur di dalam dirinya. Tatapan memburu bagaikan binatang lapar yang ingin memangsa apapun.
Tiba - tiba tatapannya mengarah kepada satu arah. Dia berjalan mendekat secara perlahan dengan langkah kaki yang berat.
“Jangan - jangan kau akan terpancing oleh kekuatan kegelapan sejati yang ada di dalam Elemen Kegelapan. Tapi sayang sekali seorang Medallion tidak akan bisa menyentuh benda itu dengan sembarangan.
Tapi Henri tidak memperdulikan perkataan Soka yang terus mendekati benda terkutuk itu. Di hadapan Henri semua yang menghalangi langsung tersingkir dengan sendirinya hingga akhirnya dia berhadapan langsung dengan Elemen Kegelapan.
Soka yang menyaksikan peristiwa itu hanya bisa melihat tanpa bisa berbuat banyak karena dia menyadari kalau kekuatan Henri saat ini sudah berada jauh diatasnya karena kegelapan yang ada di dalam Henri lebih besar dari pada kegelapan yang mendiami jiwa Soka.
“Kegelapan seperti apa yang sebenarnya telah tertidur dalam dirimu Henri? Mengapa kau bisa menjadi makhluk yang begitu mengerikan. Sungguh jauh melebihi perkiraanku. Bagaimana mungkin Elemen Kegelapan yang menolak keberadaan kami malah memanggilmu untuk bersekutu dengannya?”
“Diam!” Henri berteriak dengan suara yang mengerikan tidak seperti seorang manusia atau Medallion lagi.
Bahkan tanpa Henri merendahkan dirinya untuk menggapainya, gelas itu pun langsung melayang menyambut kehadirannya.
“Begitu Henri memegang benda tersebut di tangannya, benda yang tadinya berbentuk gelas tiba - tiba mencair seperti es dan meresap ke dalam pori - pori kulitnya. Bersamaan dengan itu kekuatan kegelapan dari elemen itu menguatkan keberadaan kegelapan yang ada di dalam dirinya.
Jubah Henri yang tadinya berwarna - warni seperti pelangi pun berubah menjadi hitam pekat. Kegelapan menelan semua kekuatan suci yang ada di dalam dalam dirinya tanpa sisa.
“Aku mau lebih lagi banyak lagi.” Henri melihat kepada Soka yang berdiri jauh darinya.
“Apa yang mau kau lakukan?” Soka khawatir akan kegelapan yang tak terkendali di dalam Henri.
“Sebagai imbalan karena kau telah membangkitkanku, maka aku akan memberikan kepadamu kehormatan untuk menjadi bagian dari diriku.”
“Bagian darimu? Aku tidak mengerti maksud perkataanmu Henri.”
“Kau tidak usah banyak bicara orang tua. Cukup diam saja di tempatmu berdiri dan biarkan diriku menikmati kegelapanmu.”
Soka yang menyadari dirinya ada dalam bahaya langsung bersiap pada posisi bertahan dari serangan Henri.
“Apa…!” Soka terkejut karena tiba - tiba Henri sudah ada tepat di hadapannya.
“Kurang ajar!” Soka menyerang dengan kedua tangannya secara menyilang ke leher Henri.
Tapi sayang sekali gerakan itu langsung diantisipasi oleh Henri dengan berpindah kebagian belakangnya.
“Kau terlalu lamban orang tua. Pasti kau sudah terlalu lelah menjalan tugas keseharian yang menjenuhkan itu bukan?”
“Walau aku tidak mengakuinya, tapi aku lebih menyukai gaya bicaramu yang seperti ini.”
“Menyukai? Apa yang membuatmu berpikir kalau kau pantas untuk menyukaiku?”
Dengan menggunakan satu tangan Henri langsung mencengkeram leher Soka begitu kuat hingga meremas tenggorokannya. Dengan sekuat tenaga Soka berusaha ingin melepaskan diri dari cengkeraman Henri tersebut. Tapi usahanya kembali menjadi sia - sia karena rasa lapar Henri sudah sangat menguasainya. Tidak ada lagi rasa kasihan di dalam pikirannya.
Kekuatan kegelapan yang ada di dalam Soka pun perlahan mengalir dan terserap ke dalam tubuh Henri.
Setelah memangsa semua kegelapan yang ada di dalam tubuhnya, bahkan kini yang tersisa jiwanya Soka pun akan menjadi makanan. Tapi dengan sekuat tenaga Soka langsung menendang tubuh Henri dan membuatnya terlepas dari keganasan itu.
“Hampir saja aku menjadi tumbal darinya. Apa yang sebenarnya sudah aku lakukan?”
Saat ini pikiran Soka sudah tidak lagi dirasuki oleh kekuatan kegelapan seperti sebelumnya. Kini dia sudah bisa berpikir dengan jernih.
“Au…!” Soka berteriak sambil memegang lehernya.
“Apa yang sudah aku lakukan sampai membangkit makhluk ini?” Soka berdiri perlahan dan menatap Henri yang sedang menyeimbangkan kekuatan yang ada di dalam dirinya. Saat ini dia sedang memasuki mode hening.
Begitu Henri membuka mata, satu - satunya yang dilihat ada pintu yang sedang terkunci tersebut.
“Di luar masih ada satu yang dapat menjadi mansaku agar kekuatan ini menjadi sempurna. Ketika kekuatanku menjadi sempurna, jiwa dari orang yang memiliki tubuh ini tidak akan bisa sadar sampai kapanpun.”
Soka yang tahu kalau Henri saat ini hendak memakan Horsa yang sedang bertarung di luar. Dengan cepat Soka melompat ke depan pintu untuk menghalangi Henri keluar.
“Hey orang tua! Apakah kau lupa kalau tempat ini adalah ruanganku. Siapapun tidak akan mampu mengalahkanku disini. Seluruh ruangan ini adalah senjataku.”
Dengan mudahnya Henri menyingkirkan Soka dari hadapannya dengan satu kedipan mata saja.
“Kau tunggu saja disini karena kekuatanmu sudah habis bukan?”