Sementara itu di luar Horsa dan Horma sedang bertarung dengan sengit menggunakan kekuatan air masing - masing. Tapi mereka tidak bisa menggunakan teknik terkuatnya akibat telah kehabisan banyak tenaga di pertarungan sebelumnya.
“Mengapa kau tidak pergi saja dari tempat ini Horma? Kalau terpaksa aku benar - benar akan membunuhmu dengan tanganku sendiri.”
Tap Horma tidak mau menyerah dengan keadilannya. Dia terus menangkis setiap serangan Horsa berkali - kali dengan sekuat tenaga.
Sementara itu di luar Horsa dan Horma sedang bertarung dengan sengit menggunakan kekuatan air masing - masing. Tapi mereka tidak bisa menggunakan teknik terkuatnya akibat telah kehabisan banyak tenaga di pertarungan sebelumnya.
“Mengapa kau tidak pergi saja dari tempat ini Horma? Kalau terpaksa aku benar - benar akan membunuhmu dengan tanganku sendiri.”
Tapi Horma tidak mau menyerah dengan keadilannya. Dia terus menangkis setiap serangan Horsa berkali - kali dengan sehingga membuat kakaknya itu sangat kesal.
“Harusnya kau sadar kalau Soka tidak akan mampu melawan tuan Henri apabila berada di dalam ruangannya.”
“Aku tahu, tapi aku sengaja membiarkan dia mati disana. Tapi kalau mereka bertarung pastilah Henri pun akan mengalami luka - luka. Disaat itulah aku tetap akan menghabisinya. Siapa tahu Dokoon akan memberikanku hadiah atas kematian keduanya.”
“Ternyata kau benar - benar licik. Bagaimana mungkin kau tidak khawatir akan keselamatan dari temanmu sendiri?”
“Teman? Dia tidak pernah memandangku dengan sebagai teman. Oleh karena itu tidak ada salahnya kalau aku pun akan meninggalkan dia suatu hari nanti.
“Gubraak!” Dinding yang tertutup tiba - tiba terbuka dari dalam.
Kedua kakak beradik itu menatap pintu melihat siapa yang keluar dari ruangan tersebut.
Sewaktu Horma melihat Henri, wajahnya langsung gembira karena pikirnya kemenangan sudah ada dipihaknya.
“Kau lihat bukan? Tuan pasti akan langsung mengakhiri pertarungannya dengan cepat.”
Horsa tidak terkejut dengan hasil yang terjadi, tapi yang membuatnya terkejut adalah tidak adanya luka pada tubuh Henri. Tapi dia sudah terlanjur dengan rencananya. Kalau tidak menuntaskannya maka semua akan menjadi sia - sia saja. Kalau pun melarikan diri dia tidak memiliki tujuan karena gagal melakukan rencananya.
Henri yang baru saja keluar melihat keadaan kemudian langsung menatap lurus kepada Horsa yang memiliki kekuatan kegelapan di dalam dirinya.
“Oh ternyata kaulah orang yang memiliki kegelapan itu. Jadi bagaimana? Apakah aku boleh meminta kekuatan kegelapan itu untuk memenuhi rasa laparku?”
Horsa dan Horma yang mendengarnya bingung dengan perkataan tersebut. Keduanya mengenal Henri sebagai orang yang sangat ramah. Tapi mereka belum bisa memastikan apa yang telah terjadi pada Henri.
“Apa maksudmu?” Tanya Horsa yang menyadari kalau Henri sedang mengancamnya.
“Mengapa kau berkata dengan cara seperti itu kepada tuan Henri?” Sanggah Horma yang tidak terima pemimpinnya diperlakukan dengan tidak sopan.
Tapi Henri terus menatap Horsa dengan nafsu yang menggebu - gebu tanpa memperhatikan perkataan Horma.
“Hey jawab aku bodoh!” Horsa sudah tidak segan - segan lagi karena dia berpikir pasti akan mati kalau melawan.
“Aku hanya ingin menikmati kegelapan indah yang ada di dalam dirimu. Oh tenang saja kau tidak akan merasakan sakit karena jiwamu pun akan ku telan secara bersamaan.
Horma pun akhirnya merasa aneh dengan perkataan yang menyerupai Dokoon tersebut.
“Apa yang anda maksud tuan?” Horma penasaran dengan perubahan Henri yang sangat drastis setelah mengalahkan Soka di dalam ruangan tersebut.
Henri yang merasa terganggu dengan kehadiran Horma kini mengalihkan perhatiannya kepada wanita itu dan tersenyum.
“Oh Horma, ternyata kau ada disini? Apakah yang kau lakukan daritadi?” Henri mendekatkan wajahnya dengan tatapan yang misterius.
“Aku disini sedang bertarung melawan orang ini karena telah berkhianat kepada kita tuan.” Horma menjawab perlahan karena gugup dengan betapa dekatnya wajah mereka saat itu.
“Jadi apakah kau menang melawannya?” Kata - kata Henri sangat harus sampai seakan - akan terdengar mesra bagaikan berbicara dengan pasangan kekasih.
Horma yang merasa agar risih berusaha menghindari kontak mata langsung dengan Henri dengan melirik ke tempat lain tanpa menggerakkan kepalanya.
“Sebenarnya aku hampir mengalahkannya sebelum anda keluar.”
“Benarkah? Tapi mengapa yang aku lihat disini kaulah yang sedang terpojok olehnya. Jadi apakah kau benar - benar yakin dengan perkataanmu barusan?”
“Tentu saja saya sangat yakin. Saya tidak akan mengecewakan anda tuan Henri.”
“Kalau begitu berarti aku boleh menghabisinya di hadapanmu saat ini bukan?” Mata Henri sekarang kembali tertuju kepada Horsa yang menatapnya tajam.
“Kau kira aku takut. Sekalipun kau adalah seorang pemimpin Benteng Galesia, aku tidak akan gentar bertarung sampai titik darah penghabisan.” Horsa memberi semangat kepada dirinya sendiri walau sebenarnya hal itu sangat susah untuk diwujudkan.
“Pasti terjadi sesuatu kepada anda tuan. Anda bukan orang yang tega membunuh seorang manusia begitu saja.”
“Jangan pedulikan dia Henri, ayo hadapi aku dengan kemampuan terbaikmu.”
“Diam kau Horsa! Kau tidak memiliki kesempatan untuk menghadapi tuan Henri.”
“Kau terlalu meremehkanku. Selain itu dia pasti telah lelah setelah bertarung dengan orang seperti Soka.”
“Wah, sebenarnya kau yang meremehkanku bocah! Tapi entah kenapa aku semakin ingin melahapmu. Tapi mungkin lebih baik aku juga melenyapkan keberadaanmu.” Tangan Henri perlahan ingin menggapai Horsa yang berada dua langkah di sampingnya.
Saat Horsa ingin menepis tangan Henri, entah mengapa tiba - tiba dia malah mundur ke belakang seperti ingin menjauhkan diri tanpa alasan.
“Ada apa bocah pemberani? Bukankah kau tadi terlihat sangat berani ingin melawanku? Ayo majulah dan serang aku dengan nafsu membunuh yang kau miliku. Selain itu seharusnya kegelapan yang ada di dalam dirimu dapat memicu kekuatan yang lebih besar lagi.”
Horsa yang mendengarnya pun tidak menjawab dengan sepatah kata pun melainkan mulai curiga dengan perkiraan Horma tadi.
“Sepertinya penilaianku ada benarnya. Kau bukanlah orang yang sehebat itu bocah. Kau hanya orang dengan banyak ambisi. Tapi sayangnya ambisimu itu tidak dapat memicu kegelapan ke tingkat yang lebih tinggi lagi. Keragu - raguan itu kelak akan menjadi penyebab kematianmu sendiri.”
“Hah, kau berkata - kata seolah - olah pernah menggunakan kekuatan kegelapan. Padahal kau hanya kesatria suci yang lahir dengan kemampuan luar biasa. Kau tahu darimana betapa susahnya aku berlatih untuk menggunakan kekuatan kegelapan selama ini.”