Marvin Sangat Ingin Menang

1112 Kata
“June, lo lihat keadaan sementara kami membereskan kerusakan disini.” Marvin menyingkirkan batu - batu yang berserakan disitu, sedangkan Nadine mengangkat tubuh Suki ke tempat yang aman agar tidak hancur akibat pertarungan yang akan terjadi.  Saat mengangkat Suki dia seperti merasakan detak jantung walau sangat pelan. “Ugh….” Nafasnya pun mulai berhembus. Saat sampai di tempat yang aman Nadine menurunkan pria tua itu pada sebuah plat batu. Dalam keadaan yang sangat lemah Suki perlahan membuka matanya dan menemukan yang ada di hadapannya bukan lagi Soka. “Anda tenang saja tuan. Kami akan menyelamatkan anda.” “June, aku membutuhkan bantuanmu.”  “Baiklah, tunggu sebentar.” “Tunggu dulu sepertinya aku mengenalmu. Bukankah kau adalah Warrior yang merupakan murid dari nona Horma?” “Anda benar tuan Suki. Saya adalah Nadine. Apa yang telah terjadi disini?” “Seperti yang kau lihat kalau aku telah gagal menjaga gerbang atas dengan kekuatanku. Aku tidak menyangka kalau hal ini akan terjadi.” “Yang paling membuatku terkejut adalah…” “Pasti karena teman baikmu berkhianat bukan?” “Bagaimana kau bisa mengetahui hal itu?” “Kami tadi sempat bertemu dengannya saat sedang bertarung dengan para pengkhianat lainnya.” “Sudah kuduga dia tidak sendirian melakukan hal ini.” “Aku tidak menyangka masih diberi kesempatan hidup untuk ketiga kalinya. Apakah kau melihat seseorang disini tadi?” “Tidak tuan, saat kami bertiga tiba disini yang ada hanya dirimu seorang diri saja.” “Apa? Sangat sulit dipercaya untuk kedua kalinya aku mengalami hal ini.” “Ya ampun bagaimana ini bisa terjadi? Aku kira anda sudah tidak bernyawa lagi.” “Tuan Suki perkenalkan dia adalah Priest yang baru saja dibangkitkan.” “Baiklah tapi aku sarankan lakukan saja pengobatan biasa. Jangan terlalu memaksakan diri lebih dari itu mengerahkan tenagamu.” “Aku akan mencoba melakukan yang terbaik tuan. Dalam sekejap June sudah berubah ke Priest Mode dan mengaktifkan Harpa miliknya untuk menggunakan kemampuan pemulihan atas luka - luka Suki. Begitu June memetik Harpa tersebut luka - luka langsung sembuh seketika. Suki yang melihat peristiwa itu sontak terkejut akan kemampuan dari June memainkan Harpa dengan aliran kekuatan yang sangat lembut. “Bagaimana aku tidak mengenal priest yang berbakat sepertimu nak? Caramu memainkan benda itu seperti para Priest pada masa lalu. Dari mana kau mempelajari semua itu?” “Aku tidak mengerti apa yang anda katakan. Saya hanya mengikuti nada yang muncul di hati saja.” Suki tersenyum melihat June yang merupakan seorang anak muda dapat memahami hal itu. “Begitulah seorang Priest seharusnya. Tapi seperti yang aku katakan tadi untuk tidak memaksakan diri lebih dari ini. Kemampuanmu tidak akan cukup untuk memulihkan luka dalam akibat terkena serangan tingkat tinggi dari orang itu.” “Anda jangan terlalu banyak bicara dulu. Aku akan melakukan sedikit hal lagi.” “Sayangnya kau tidak akan memiliki waktu banyak lagi. Pergilah dari tempat sekarang juga!” Saat sedang diobati oleh June pria tua itu merasakan bahaya mendekat ke tempat mereka sekarang. “Wah...wah...wah, ternyata orang tua itu masih bisa bernapas. Tuan Soka sepertinya terlalu menahan diri melawan sahabatnya sendiri. Kalau begitu sebagai gantinya biar aku yang menuntaskan kelemahan itu.” “Bukankah adalah seorang Priest yang terhormat? Mengapa seorang Priest sanggup berkhianat kepada Medallion?” “Mengapa tidak? Aku juga adalah seorang manusia biasa yang menginginkan segalanya.” “Jangan libatkan anak - anak ini!” Suki berusaha untuk berdiri demi menyelamatkan orang - orang yang telah membantunya. “Kau salah paham orang tua bodoh! Tujuan utamaku datang ke tempat ini bukan untukmu.” “Jadi apa yang kau inginkan? Jangan - jangan kau ….” “Benar tua Soka. Pasti kau diperintahkan datang untuk melawan kami bukan?” Jawab Nadine yang sudah menggunakan jubah Warriornya. “Anak pintar. Tapi kau terlalu berlebihan menggunakan kata ‘melawan’ antara aku dan kalian. Bagiku lebih tepatnya langsung menghabisi kalian tanpa perlawanan. Memangnya apa yang dapat kalian lakukan tanpa keberadaan Horma?” “Nadine, June, lindungi pak tua itu! Biar aku saja menutup mulut sampah ini.” “Serius lo Vin? Memangnya lo punya apa sampai segitu pedenya melawannya?” “Sudah ikuti saja apa yang aku katakan dan saksikan kekuatanku yang sebenarnya.” Marvin mengaktifkan Warrior Mode dan memunculkan kedua belati andalannya. “Baiklah kami akan mengikuti keinginanmu tapi dengan satu syarat. Kalau kau terlihat tidak mampu lagi maka aku akan langsung menggantikanmu.” “Terserah apa padamu saja.”  Marvin memulai pertarungan itu dengan serangan jarak jauh menggunakan tebasan menyilang menggunakan dua belati yang sudah dialiri kekuatan api. Serangan Marvin kali ini lebih padat karena terfokus sehingga terlihat seperti garis yang sangat tipis. Jona yang melihat serangan itu bermaksud menangkisnya dengan menggunakan gelombang kejut dari senjata barunya dari kekuatan kegelapan. Tapi sayangnya serangan gelombang kejut tersebut langsung terbelah begitu saja setelah bertabrakan dengan tebasan dari Marvin. “Apa!” Jona yang terkejut karena serangannya tidak dapat menandingi tekniknya Marvin langsung menghindar agar tidak kena juga. “Mengapa kau menghindari dasar sampah rendahan? Apakah hanya segitu kekuatan yang kau dapatkan dari kegelapan sampai menjual harga diri itu?” “Tutup mulutmu bocah busuk! Sepertinya aku terlalu meremehkanmu sehingga mengeluarkan sedikit dari kekuatanku. Jangan senang dulu hanya karena menandingi serangan lemah itu.” “Oh baiklah kalau begitu lakukan kemampuan terbaikmu. Aku akan melakukannya sekali lagi.” “Itu yang aku inginkan.” Jona tersenyum dan bersiap dengan serangan berikutnya. Tapi sebelum Marvin menyerang, Jona terlebih dahulu melayangkan serangan jarak jauh dengan maksud untuk menggagalkan pergerakan dari Marvin tersebut. “Sudah kuduga sampah sepertimu akan melakukan tindakan licik seperti ini. Untuk mereka mengenal teknik - teknik kotor seperti itu.” “Mereka? Siapa yang kau maksud?” Sahut Jona. “Kau tidak perlu tahu sampah busuk! Aku akan memberikannya kepadamu kalau kau berhasil mengalahkanku.” “Hey itu bukanlah sebuah tantangan tapi suatu kemudahan. Dasar anak zaman sekarang terlalu sombong dengan kekuatan mereka yang tidak seberapa itu.” Marvin bukannya menghindar tapi malah menatapnya dan bermaksud menerima serangan itu secara langsung menggunakan kedua belatinya sebagai perisai. “Bocah, jangankan manusia, bahkan batu saja akan hancur apabila menerima secara langsung serangan itu.” “Benarkah? Ayo kita buktikan siapa yang lebih kuat.” Dengan menyatukan kekuatan kedua belati itu ternyata menghasilkan dua kekuatan yang bergesekan terus - menerus. Begitu serangan Jona mengenai kedua belati itu langsung terpental dan hancur di udara tepat didepan Jona. “Aku percaya kau akan berkata kalau kemampuan yang kau gunakan baru setengahnya bukan?” “Jangan mengejekku! Kau dan semua orang yang ada disini akan menjadi pelampiasan dari kemarahanku yang sesungguhnya.” Kini kekuatan Jona menjadi dua kali lipat dari sebelumnya karena merespon kemarahannya setelah mendengar sindiran dari lawannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN