Priest Yang Terabaikan

1100 Kata
“Aku tidak mungkin kalah dengan orang - orang muda tidak berpengalaman seperti kalian.”  Amarah yang menguasainya membuat kekuatan kegelapan yang merasuki diri Jona meluap terus menerus. Dari matanya yang semakin memerah memperlihatkan kekuatan itu hampir menguasai jiwanya.  “Vin, hati - hati dengannya karena yang ada di hadapanmu bukan lagi sekolah manusia melainkan jelmaan dari makhluk dunia gelap.” “Seperti yang dikatakan oleh June tadi, aku yakin kau juga merasakan kekuatan seperti binatang buas mengamuk di dalam orang itu,” sahut Nadine. “Ini yang membuatku semakin bersemangat. Tapi sepertinya kita tidak bisa bertarung disini.” Marvin perlahan bergerak ke bagian tengah benteng Galesia untuk mengalihkan perhatian Jona. Untuk meyakinkannya Jona maka dia berlagak seperti orang yang telah kelelahan akibat menggunakan banyak kekuatan saat bertarung. “Mau kemana kau pengecut! Bukankah tadi kau berani menyindirku dengan kekuatanmu yang tidak seberapa itu?” Jona pun terpancing dan mengejar Marvin sambil terus meningkatkan kekuatannya. Ketika Marvin merasa sudah cukup jarak untuk menjamin keamanan teman - temannya, maka dia sekarang sudah bebas bertarung dengan segala kemampuan yang didapat dari dalam lorong tersebut. “Sekarang kau tidak bisa kemana - mana lagi. Aku tahu kau melakukan ini agar teman - temanmu tidak melihatmu mati. Tapi kau satu hal yang kau lupakan adalah mereka pun akan mengalami nasib yang sama denganmu. Ya setidaknya cara mereka mati tidak lebih menderita darimu.” “Hehehe, apa kau tidak salah bicara orang tua? Mengapa kau lama sekali untuk sekedar orang sepertiku. Oh ya alasanku pergi kesini tidak seperti yang kau pikirkan. Tapi karena aku tidak mau mereka terluka akibat teknikku yang belum sempurna.” “Aku tidak akan terkecoh lagi dengan gertakan bodoh seperti itu.” Akhirnya Jona mencapai batas dari peningkatan kekuatan yang dapat dipaksakannya. Kekuatan yang mampu membuat senjata menjadi satu dengan tubuhnya.  Dengan satu jentikan jari sudah bisa menciptakan suatu gelombang kejut yang dapat menghancurkan sebuah panggung latihan yang ada di tempat itu. “Aku yakin tubuhmu tidak bisa terlalu lama menahan kekuatan yang begitu besar. Disamping menjadi satu dengan senjata memang hal yang diluar kewajaran.” “Kau mungkin benar tapi waktu yang aku miliki sudah cukup untuk menghantarkan kalian semua ke dimensi kematian.” Marvin menyadari lawan yang ada di hadapannya lebih kuat daripada yang sebelumnya. Entah apa yang membuatnya yakin kalau dia dapat menang melawan musuh yang kekuatan seperti monster itu. Oleh karena itu dia menunggu sampai musuh menyerang lalu dapat menentukan bagaimana cara mengalahkannya. “Terimalah ajalmu bocah! Suara Kematian!” Jona mengadu kedua telapak tangannya sehingga menghasilkan gelombang bunyi yang cukup untuk menghancurkan gendang telinga dengan radius yang luas. Setelah menyadari serangan itu tidak bisa dihindari dengan cara melompat ke kiri maupun kanan, maka dia pun langsung melompat sejauh mungkin sambil menutup telinga nya. “Hampir saja aku mati oleh serangan aneh itu.”  “Jadi sejauh itu kau dapat menghindari serangan kecil itu. Berarti aku tinggal memperluaskan jangkauan serangan sampai kau tidak bisa menghindar lagi.” “Bahaya, aku sudah terpojok,” pikir Marvin. Kemudian dengan dua kali serangan beruntun membuat jangkauan serangan Jona melebar sampai jarang yang tidak bisa dihindari lagi. Begitu hampir mencapai dirinya Marvin bermaksud mengadu serangan Jona dengan teknik serangan jarak jauh miliknya. “Wuss...woong...wuss...woong!” Benturan kedua teknik itu membuat kekacauan yang besar akibat penggunaan kekuatan yang besar. “Pemikiran yang cermat untuk seorang pemula, tapi sayang sekali kekuatan seperti itu tidak cukup untuk menandingi teknik Suara Kematian.” Begitu tekniknya tidak berhasil mematahkan serangan Jona, Marvin langsung mengambil posisi bertahan dengan menyilangkan kedua belatinya. “Aku tidak takut pada apapun!”  “Kalau begitu pergilah ke dimensi kematian!”  “Cesshh…!” Uap air memenuhi tempat itu. “Sepertinya aku terlalu berlebihan,” ucap Jona. “Uhuk...uhuk...uhuk, aku jadi sulit bernapas.”  “Tidak mungkin! Seharusnya kau sudah hancur berkeping - keping akibat serangan telak tersebut.” “Maaf karena telah membuatmu kecewa pak tua. Tapi sepertinya takdir berkata lain.” Perlahan - lahan uap yang ada di tempat itu pun menghilang terbawa oleh angin yang berhembus. Kini Marvin sudah memegang sepasang sabit sepanjang dua kali jangkauan tangannya. Senjata itu mengeluarkan aura kegelapan yang berbeda dari yang miliki oleh Jona. “Senjata itu! Kekuatan itu! Darimana kau mendapatkannya?” Jona terkejut melihat perubahan yang terjadi pada Marvin. “Hah, kau benar, tapi aku juga baru menyadarinya setelah menerima seranganmu tadi. Sepertinya senjataku telah berubah menjadi kedua sabit kembar ini. Sepertinya kau terkejut dengan kekuatan ini ya.” Dalam diri Marvin terdengar suara.”Ini adalah wujud dari kekuatan kami yang menyatu dengan senjatamu. Jangan sampai para Medallion itu mengetahuinya. Kalau tidak maka kami akan dikembalikan ke tempat itu.” “Baiklah, aku mengakui kalau kekuatan kalian ternyata benar - benar berguna untukku. Padahal aku berpikir kalian hanya ingin menumpang gratis saja,” kata Marvin di dalam hatinya. “Jangan banyak bicara! Katakan darimana kau mendapatkan kekuatan itu?” “Dari mana ya? Bagaimana kalau aku mengatakan kalau ini rahasia?” “Kuberitahu padamu agar tidak menghabiskan kesabaranku lebih dari ini. Kami sudah berusaha mencari kekuatan itu di semua tempat dalam benteng Galesia. Tapi mengapa malah dirimu yang menemukan mereka” “Kalau itu bukan salahku kalau mereka ingin mengikuti. Mungkin memang bukan takdir kalian mendapatkan kekuatan ini. Kalian percaya kepada takdir bukan?” “Aku tidak bisa menerima kekuatan sebesar itu dimiliki oleh bocah lemah dan tidak berkepentingan sepertimu.” “Hehehe, gitu ya. Kalau gitu baiklah?” Suasana menjadi hening dan Jona begitu serius ingin mendengar jawaban dari Marvin. “RAHASIA!” Marvin mengatakannya dengan lembut tapi tegas dengan diikuti oleh senyum sinis. “Bocah busuk kubunuh kau sekarang juga!” Jona menyerang Marvin dengan teknik yang sama. Tapi dengan satu ayunan menggunakan satu sabit saja sudah cukup untuk mematahkan serangan berskala besar seperti itu.  Berapa kali pun dicoba tetap saja tidak mampu menandingi kedua sabit tersebut. “Nah sekarang giliran aku yang menyerangmu setelah sekian lama kau menyerangku seenaknya.” “Tidak! Kau tidak boleh melakukan itu! Aku adalah seorang Priest yang terhormat yang tidak boleh diserang.” Jona ketakutan karena sebentar lagi dia kehabisan waktu untuk menggunakan kekuatan kegelapan di dalam dirinya. “Apakah kau sudah kehabisan waktu pak tua? Tapi sayang sekali kau bukan lagi seorang Priest. Kau sendiri tahu kalau kekuatan kami tidak akan berpengaruh pada seorang Priest. Tapi nyata kekuatanku malah semakin menguat seperti ingin melahap dirimu.” “Kalau kau membunuhku maka kau akan mendapat malu. Apakah kau lupa dengan kode etik Medallion?” “Tidak, aku sudah lupa, benar - lupa. Bukankah aku adalah bocah lemah yang tidak berkepentingan. Jadi untuk apa aku harus memahami semua kode etik itu?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN