Strategi Tak Terduga

1186 Kata
“Akhirnya kaulah yang terakhir keluar dari tempat itu Jer,” sapa Nadine yang sudah berdiri di depan pintu keluar. “Bukankah itu sudah pasti karena akulah yang terakhir kali masuk.” “Aku mengira seorang dari golongan King benar - benar tidak memerlukan latihan seperti ini lagi.” “Sebesar apapun kesombonganku tidak membuatku lupa akan posisiku bukan?” Sahut Jeremy. “Hahaha…!” Melihat Jeremy yang baru saja keluar membuat Marvin langsung menghampirinya. “Jer, kok lo bisa cepat banget keluar dari situ. Gue yang terhitung dua kali lebih cepat dari mereka aja masih kalah jauh sama elu.” “Masak sih? Kayaknya itu cuma perasaanmu aja. Padahal gue rasa sudah lama banget karena ada sedikit masalah yang merintangi” “Sedikit kau bilang? Apa aku tidak salah dengar?” Ujar Nadine dengan wajah terkejut. “Gue juga sependapat dengan Nadine. Perasaan ujian yang ada di dalam itu susah banget deh.” “Ini lagi pake takut - takutin gue,” jawab Jeremy. “Sudahlah percuma saja kalian berkata seperti itu kepada Jeremy. Dia tidak akan bisa membedakan ukuran seberapa besar bahaya itu.” Saat keluar dari tempat itu Jeremy sudah tidak menggunakan jubah lagi. Sementara itu dia juga menyembunyikan cincin yang berikan di dalam tadi di dalam jubah tersebut. “Ayo semuanya berkumpul! Aku akan memberitahu kepada kalian rencananya.” “Rencana apa? Bukankah kita hanya perlu menyerang mereka sekaligus?” Sahut Marvin dengan percaya diri. “Aku tahu kau sudah mendapatkan kekuatan baru di dalam sana. Tapi percayalah sebesar apapun kekuatan tanpa rencana pasti tidak ada gunanya.” “Benar apa yang dikatakan oleh guru. Kita tidak bisa memungkiri kalau yang kita hadapi adalah para petarung tingkat tinggi.” “Selain itu mereka semua pasti sudah mendapatkan kekuatan dari kegelapan juga,” sahut June dengan ekspresi serius. “Baiklah aku akan mendengarkan walau aku lebih suka menyerang langsung secara jantan. Benar begitu kan Jer?” “Mmm…!” Dengan wajah terpaksa dia menjawab pertanyaan Marvin. “Lelaki yang memahami perasaan lelaki.”  “Jadi bagaimana rencananya guru?” Setelah sekian lama akhirnya mereka pun menyelesaikan semua keperluan untuk melakukan strategi tersebut. Horma membagi kekuatan menjadi 2 tim untuk menyerang dengan cara yang berbeda. “Nadine, bagaimana kalau kau yang memimpin tim ini? Aku tidak suka dengan hal yang merepotkan seperti itu.” “Aneh sekali karena biasanya dimana - mana pria selalu ingin menjadi pemimpin. Tapi mengapa kau tidak menginginkan itu?” “Kau tidak perlu terkejut. Marvin adalah orang sangat sederhana atau dengan kata lain berpikiran sempit. Yang ada di dalam pikirannya adalah melakukan apapun dengan cara yang paling gampang tanpa mau berpikir.” “June, omongan lo kok terdengar agak nyakitin ya?” “Selain itu dia sebenarnya tidak suka diperintah oleh siapapun. Entah apa guna telinga yang ada di kepalanya.” “Hahaha, kalian masih sempat bercanda disaat seperti ini. Tapi aku suka semangat kalian.”  “Menurutmu apa yang membuat gurumu memilih satu tim dengan Jeremy?” “Apakah aku sehebat itu sampai bisa memahami pemikiran seorang Medallion tingkat tinggi sepertinya?” “Mana tahu kan seorang murid dapat memahami pemikiran gurunya. Padahal aku berharap banyak darimu.” “Helleh, bilang aja lo pengen tahu kenapa dia memilih Jeremy dan bukannya elo aja. Iya kan? Ngaku deh lu?” “Gak lah. Gue kan disini buat melindungi kalian dari musuh yang berat.” “Memangnya siapa yang butuh perlindunganmu. Kekuatanku sudah lebih dari cukup untuk melindungi diri sendiri.” “Sudahlah kalian berdua jangan bertengkar. Bukankah tugas kita disini untuk menarik perhatian musuh saja.” “June memang lebih enak diajak bicara dibanding kau Marvin.” “Semua wanita memang sama saja. Kekuatan yang besar tidak akan bisa mengubah tabiat kalian.” “Terserah lo deh. Gue gak mau berantem dalam keadaan seperti ini.” “Jadi gimana keadaan kita sekarang?”  “Kita sudah bisa bergerak ke gerbang atas sebentar lagi.” Demikianlah mereka bertiga bergerak dengan hati - hati menuju gerbang atas untuk memeriksa keadaan disana. Saat mendekati gerbang atas Marvin berlari lebih dahulu untuk menghadapi musuh disana. “Kalian terlalu lama! Aku sampai bosan melihat kalian berhenti setiap kali ada suara.” “Kita belum boleh membuat keributan disini,” sahut Nadine. Begitu sampai di dekat gerbang atas Jeremy langsung terkejut dengan pemandangan mengerikan disitu. “Siapa yang melakukan ini?” Nadine yang mendengar perkataan Marvin dari jauh langsung berlari untuk melihat keadaan tersebut. “Astaga tuan Suki!” “Apakah kau mengenal pak tua ini Nadine?” Tanya June yang baru saja tiba. “Tentu saja. Dia adalah salah satu dari Medallion tingkat tinggi yang ada di Benteng Galesia. Dia adalah rekan satu zaman dari orang yang kita lihat bersama dengan Horsa tadi. Mungkin dia berusaha menahan mereka setelah guruku pergi.” “Apa yang sudah mereka lakukan sampai menyebabkan kerusakan seperti ini?” Marvin masih belum bisa mempercayai apa yang dilihatnya. “Bahkan dengan seluruh kekuatan yang kumiliki sepertinya tidak akan bisa menghasilkan setengah dari semua ini.” “Kau tidak perlu rendah diri karena melihat semua yang telah terjadi Marvin. Aku saja belum pernah melihat pertarungan mereka secara langsung. Tapi yang aku dengar orang - orang yang ditetapkan untuk menjadi penjaga gerbang atas pastilah memiliki kekuatan yang hampir setara dengan seorang pemimpin benteng sekalipun.” “Kau gila! Mengapa orang - orang seperti ini hanya menjadi seorang penjaga gerbang saja?” “Medallion memiliki budaya yang diturunkan dari generasi ke generasi. Oleh karena itu kebanyakan Medallion tingkat tinggi pada usia tertentu akan berhenti melakukan misi di luar benteng agar para penerus mendapatkan kesempatan untuk berkembang.” “Bagiku itu sama saja menyia - nyiakan kekuatan tempur.” Saat mereka sedang berbicara ternyata Soka memperhatikan pergerakan mereka melalui mata seorang Dokoon yang bersembunyi di tempat itu. Bahkan dia bisa mendengar pembicaraan mereka melalui Dokoon tersebut. “Jona, pergilah ke gerbang atas dan hadapi anak - anak muda itu. Aku menginginkan pria itu dalam keadaan hidup dan selebihnya terserah padamu.” “Baiklah kebetulan sekali aku sudah lama tidak menyentuh wanita muda seperti itu.” “Dasar kau ini masih saja lemah akan hal itu.”  “Terserah apa katamu Horsa. Tapi kekuatan kegelapan yang ada padaku menguatkan nafsuku terhadap mereka.” “Aku berikan padamu waktu melakukan hal itu karena kekuatanmu sangat bergantung padanya. Tapi ingat kau tidak boleh menganggap remeh anak - anak itu. Aku merasakan firasat buruk dibalik kemunculan mereka.” “Apakah kau berpikir kalau mereka mau menjebak kita?” Tanya Jona. “Bisa saja bukan,” sahut Horsa. “Kalaupun benar. Paling mereka hanya digunakan sebagai umpan oleh Horma,” jawab Jona. Pergilah Jona bersama beberapa Dokoon dengan kemampuan sihir kegelapan untuk membantunya. “Tuan Soka, apakah kau yakin kalau Jona mampu menangani mereka. Aku merasakan peningkatan dari kekuatan mereka.” “Aku pun menyadari hal itu. Tapi kita hampir kehabisan waktu sampai orang itu kembali ke benteng ini begitu menyadari apa yang kau katakan kepadanya adalah kebohongan belaka.” “Tenang aku sudah mengirimnya ke benteng terjauh dari tempat ini. Sekuat apapun Hur, mustahil baginya untuk kembali sebelum kita keluar dari tempat ini.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN