Soka Memisahkan Jona dan Horsa

1112 Kata
Perselisihan diantara kPerselisihan diantara kedua pengkhianat itu semakin memanas akibat tindakan Jeremy yang sengaja memantulkan serangan Jona kepada Horsa. Tapi sesuatu yang tidak bisa dipungkiri kalau kemampuan bertarung Horsa jauh diatas Jona dalam banyak hal. Walau hatinya dipenuhi amarah Jona sadar bahwa dia tidak akan mampu mengalahkan orang yang ada di hadapannya. “Apakah kau tidak menyadari posisimu?” Horsa menatap Jona dengan tajam. “Tentu saja. Aku memang tidak akan mampu kalau harus bertarung dengan yang merupakan seorang Warrior. Tapi satu hal yang harus kau tahu. Tanpa kemampuanku kalian tidak akan bisa melakukan hal itu. Kaulah yang harus tahu posisimu wahai tuan Horsa yang mulai.” “Kau benar - benar ingin menghabiskan kesabaranku.” Horsa mengepalkan tangannya bukti dia sedang menahan emosi. Namun karena perkataan Jona kini kemarahan Horsa sudah mencapai puncaknya.  Para Medallion yang ada disitu bingung dengan apa yang sedang terjadi karena tidak mengetahui apa yang sedang mereka bicarakan.  Saat kedua orang itu sudah bersiap untuk saling serang tiba - tiba muncullah aura kehadiran seseorang yang sangat kuat. “Apa yang kalian lakukan disini? Aku sudah menunggu kalian tapi tak kunjung datang juga.” Semua orang terkejut melihat seseorang dengan kekuatan tempur yang luar biasa berdiri di antara Jona dan Horsa yang hendak saling serang. “Tuan Soka!” Jona terkejut. Sementara itu Horsa langsung bersujud tanpa berkata apa - apa. “Ampuni kami karena telah membuat anda menunggu. Semua ini terjadi karena kesalahanku.” “Baiklah aku mengampuni kalian. Ayo kita lakukan itu karena sebentar lagi waktunya akan tiba.” Tidak ada hal lain yang terlintas dipikiran Horma selain keadaan Suki. “Apa yang terjadi pada tuan Suki?”  “Seharusnya kau tidak meninggalkan dia tadi. Kalian terlalu meremehkanku karena berani bertarung satu lawan satu. Hanya satu orang yang pantas untuk bertarung satu lawan satu denganku di tempat ini. Dia adalah Henri.” “Jangan - jangan tuan Suki….” “Hehehe, kau terlambat anak manis. Dia kembali kepada leluhurnya di alam sana.” ‘Kurang ajar! Aku berjanji tidak akan membiarkanmu mati dengan mudah.” “Apakah kau ingin melawanku dengan keadaan seperti itu?”  “Tuan Soka, sudah waktunya kita pergi dari tempat ini.” Horsa membuka jalan untuk Soka. Sayang sekali dengan keadaannya saat ini sangat mustahil menghentikan mereka bertiga. Selain itu Horma tidak mau membawa anak - anak muda itu kepada bahaya yang lebih besar lagi. Akhirnya dia membiarkan mereka pergi begitu saja tanpa bisa berbuat apa - apa. “Pilihan yang baik anak manis. Sekarang kalian pergilah dari tempat ini karena urusanku hanya dengan Henri saja.” Dalam sekejap ketiga orang itu pun menghilang dari pandangan mereka dan menyisakan kegentaran pada beberapa orang akibat melihat pancaran kekuatan dari Soka dan yang lainnya. “Apa yang akan kita lakukan sekarang guru?” Nadine kembali pada mode normal untuk mengurangi penggunaan kekuatan begitu juga dengan para Medallion yang lain. “Kalian semua pergilah dari tempat ini. Orang itu tidak akan bisa dihadapi dengan kemampuan kalian saat ini.” “Lalu apa yang akan anda lakukan nona Horma?” Tanya Adela yang langsung menggunakan kemampuan pemulihan pada yang terluka. “Aku harus menahan mereka karena sudah menjadi tugasku untuk mengawal tuan Henri. Kalian tidak perlu khawatir karena aku sudah punya rencana untuk itu.” “Maafkan aku nona Horma. Tapi sepertinya anda tidak akan mampu menghadapi monster seperti mereka bertiga seorang diri saja.” Milia yang sudah pulih tampil di hadapan Horma. “Apakah kau meremehkanku Medallion?” Horma menatap Milia dengan serius. “Tentu saja saya tidak berani melakukan itu.” Milia menundukkan kepalanya sebagai rasa hormat. “Sudahlah kalian tidak perlu membantahku. Selamatkan para Medallion yang tersisa dan pergi ke tempat persembunyian sesuai dengan peta ini.” Horma memberikan secarik kertas kepada Jetro dan Milia. “Apakah anda yakin dengan semua ini?” Jetro mengambil kertas tersebut dan membukanya. “Kita harus memprioritaskan keselamatan para Medallion yang terluka lebih dulu. Jangan sampai karena emosi kita malah mengorbankan orang lain yang tidak bersalah.” “Kami mengerti dan akan melakukan apa yang anda perintahkan.” Milia dan Jetro pun menundukkan kepalanya kemudian pergi bersama dengan Adela yang merupakan seorang Priest. “Sekarang tinggal kalian berempat yang tersisa.” “Anda tidak bisa memerintahkan kami untuk pergi begitu saja karena secara tidak langsung misi kami sudah dimulai sejak kita mengetahui dimana lokasi elemen kegelapan yang tersembunyi itu.”  “Apa yang dikatakan oleh Marvin itu benar. Selain itu kami juga ingin meminta penjelasan kepada tuan Henri karena menyembunyikan keberadaan benda berbahaya itu disini.” Mendengar perkataan mereka maka Horma pun tidak bisa berbuat apa - apa karena apa hal itu benar adanya. “Baiklah sebelum itu kami ingin menanyakan sesuatu kepada anda? Dimana keberadaan tuan Hur saat ini? Kami tidak melihatnya sejak p*********n tiba - tiba hari ini.” “Aku juga tidak mengetahui dimana dia berada saat ini. Mungkin dia memiliki keperluan di tempat lain yang tidak bisa ditunda lagi.” “Lalu bagaimana dengan tugas mencari elemen kegelapan itu. Bukankah dia yang bertugas memimpin kami.” “Tenangkan dirimu Marvin,” ucap Nadine. “Iya vin, lo tenang aja deh. Kan masih ada kami yang akan bantu lo mengerjakan misi itu sampai pak tua itu kembali.” Tiba - tiba Otora berubah bentuk kembali menjadi sebuah tongkat kayu. “Orang tua itu pasti sedang melakukan sesuatu yang tidak penting. Kalian jangan terlalu berharap banyak pada orang tua aneh seperti Hur. Aku telah mengenalnya selama bertahun - tahun.” “Kalau Otora berkata seperti itu berarti kita hanya bisa mengandalkan diri sendiri saat ini.” “Sebelum itu kita harus memulihkan semua luka ini terlebih dahulu sebelum pertarungan yang sesungguhnya. Aku juga mau mengajak kalian ke suatu tempat yang dapat meningkatkan kemampuan bertarung kalian ke tingkat berikutnya.” “Nona Horma, apakah itu juga berlaku untukku?” Tanya Jeremy dengan gembira karena selama ini dia tidak mengalami latihan sama sekali dan harus belajar sendirian. “Sayang sekali kau tidak termasuk dalam hal ini. Seorang King harus berkembang dengan sendirinya sampai mencapai kesempurnaan. “Apakah itu sangat tidak adil bagiku?”  “Lo beneran aneh deh Jer. Gue aja malas banget disuruh latihan karena sangat melelahkan. Nah malah elu yang pengen latihan pula.” “Iya gue sama lo kan beda.” “Sudah - sudah kalian tidak perlu bertengkar. Lagipula semua tanpa latihan Jeremy cukup bisa diandalkan bukan?”  “Anda berlebihan nona Horma. Aku malah merasa belum terlalu berguna dan tidak seperti yang lain dapat menyerang dengan sekuat tenaga. Kalau bukan karena Otora pastilah aku sudah mati dari tadi.” “Otora adalah senjata yang menyesuaikan diri dengan jiwa penggunanya. Jadi kemampuan Otora tadi begitu kuat karena kau yang menggunakannya.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN