Horsa dan Jona yang sudah berubah ke mode kegelapan mengejutkan para Medallion dengan pertunjukkan kekuatan yang sangat nyata dan tidak terbantahkan. Bahkan tanpa berubah ke wujud itu pun mereka masih susah untuk dikalahkan. Terlebih saat ini dengan kekuatan yang lebih dari 10 kali lipat.
Tapi Jeremy yang mengamati tindakan itu memahami kalau Horsa ingin menunjukkan kepada para Medallion untuk tidak bertarung lebih dari ini. Tapi apa yang menjadi tujuannya?
Begitu Horma menyerang dengan kekuatan Butiran Embun, Horsa langsung membentengi dirinya dengan lumpur pekat itu sehingga embun itu sirna di hadapannya.
Yang paling mengejutkan adalah kemampuan Jona yang tiba - tiba memiliki kekuatan tempur sehingga cukup dengan dua kali pukulan pada lempengan itu. Kedua lempengan besi itu apabila diadu akan menghasilkan gelombang suara yang dapat menggetarkan embun yang sangat kecil sekalipun.
“Semoga kalian dapat mengerti perbedaan kekuatan kita saat ini,” ucap Horsa.
Namun karena tidak mau dianggap kalah setelah menggunakan kekuatan barunya Horma pun memikirkan cara lain.
“Apa kau lupa dengan yang kau katakan tadi? Setiap teknik pasti memiliki kelemahan. Demikian juga kekuatanmu itu.”
“Kau benar Horma tapi aku rasa kalian tidak akan menemukan kelemahan dari teknik ini. Terlebih dalam keadaan seperti sekarang. Di tempat ini hanya kau yang perlu aku khawatirkan dan sekarang sudah jelas kau tidak bisa berbuat apa - apa bukan?”
“Sombong! Selama aku memiliki tekad untuk menegakkan keadilan pasti akan ada jalan.” Horma menarik kembali semua embun yang sudah menyebar.
“Api! Serang mereka dengan api!” Jeremy berseru dari jauh.
“Mengapa aku tidak menyadarinya. Kalau tidak elemen air tidak berhasil mungkin akan berhasil dengan elemen lainnya.”
“Dasar pengganggu!” Jona menyerang Jeremy dengan gelombang suara yang merambat di udara.
“Otora berubahlah!” Jeremy meminta senjatanya berubah menjadi pelantang dan membalik gelombang itu kepada Jona.
“Bagaimana bisa?” Jona terkejut dan melompat untuk menghindari gelombang yang berbalik kepadanya.
“Gue gak nyangka lo akan pakai benda seperti itu Jer. Gue jadi menyesal karena jarang ikut pelajaran ilmu fisika dasar waktu di sekolah.”
“Hehehe, gue juga gak nyangka ilmu dasar seperti itu akan berguna disaat seperti ini.”
“Kalian memang orang - orang yang mengejutkan.”
“Benar apa yang anda katakan Guru,” sahut Nadine.
“Nadine, sekarang giliran kita!” Seru Marvin.
“Serahkan padaku.” Nadine menembak panah api kepada perisai lumpurnya Horsa.
Kemudian disusul oleh tebasan dari Marvin yang melesat kuat membelah udara dan menghantam perisai tersebut.
“Kalian pikir serangan lemah seperti dapat menembus pertahanan absolute ini.”
“Kata siapa? Apakah kau tidak pernah mendengar apabila lumpur dipanaskan akan mengeras?” Marvin terus menyerang hingga mencapai suhu yang sangat tinggi dan menguapkan unsur air pada lumpur tersebut.
“Tidak mungkin! Bagaimana kalian melakukan itu?”
“Berapa kali harus aku ulangi kalau semua teknik pasti memiliki kelemahan tak peduli sekuat apapun. Bahkan pintu yang besar sekalipun dapat dibuka dengan kunci yang kecil bukan? Sekarang kau pasti menyesal karena telah memihak pada sisi yang salah.”
Horsa sangat marah mendengar perkataan dari adiknya itu.
“Krak...krak...krak!” Perisai yang tadi tidak tertembus itu pun retak akibat dihantam oleh kekuatan api terus menerus.
Tinggal beberapa kali serangan kali dipastikan perisai itu akan hancur berkeping - keping. Horsa menatap para Medallion dengan emosi yang meluap.
“Padahal aku sudah berusaha untuk menghindari pertarungan langsung dengan kalian. Tapi mengapa kalian memaksa aku melakukan ini.”
“Kau terlalu banyak bicara Horsa,” sahut Horma, “Mengapa kau begitu terburu - buru?”
“Sebenarnya aku sedang dikejar oleh waktu tapi sepertinya saat ini tidak ada pilihan lain. Aku harus menghadapi kalian para Medallion tidak tahu diri dengan serius.”
Dengan mengangkat satu tangan perisai yang sudah retak itu pun kembali ke tangannya.
“Berhati - hatilah kalian karena dia tidak akan bertahan lagi setelah ini. Horma yang aku kemampuan terbaiknya adalah penyerangan.”
“Apa? Aku mengira dia sudah mengeluarkan semua kemampuannya saat melawan kita dari tadi.”
“Kau salah Nadine. Kau tidak akan menyangka betapa kuatnya orang itu kalau serius. Sebaiknya kita benar - benar fokus kepada setiap gerak geriknya.”
“Aku terkejut kau dapat memahami tingkat kekuatannya dengan satu kali pertarungan. Kecepatan perubahan elemennya sangat tinggi dan sulit diimbangi dengan mata biasa. Kalian harus menggunakan insting agar tidak kehilangan nyawa di tempat ini.”
Kepercayaan diri Nadine langsung menurun mendengar gurunya berbicara begitu serius. Tidak tampak keraguan sama sekali pada raut wajahnya. Seperti dia sedang berhadapan dengan kematian itu sendiri.
“Tenang saja aku tidak akan membiarkan kalian mati di tempat ini karena masih banyak hal yang harus kalian kerjakan di dunia ini.”
“Kami juga tidak akan membiarkan anda mati guru.”
“Apakah kalian sudah selesai bicaranya atau aku harus menunggu lebih lama lagi ritual perpisahan itu sebelum kalian semua mati.”
“Tunggu! Apakah kau pikir hanya akan melawannya?” Jona bergerak mendekat dengan tangan yang sudah siap menggetarkan pertarungan itu.
“Biarkan mereka bertarung orang tua. Bukankah urusan kita belum selesai.” Jeremy menghadang langkah Jona.
“Cuih…!” Jona sangat kesal karena dihadang oleh Jeremy.
“Apakah kau takut seranganmu dikembalikan lagi seperti tadi?” Jeremy tersenyum tipis.
“Kalau begitu berarti kau duluan yang akan mati sebelum mereka.” Jona menyerang Jeremy dengan gelombang suara yang 5 kali lebih kuat dari sebelumnya.
Namun sama seperti tadi serangan itu dapat dipantulkan kembali oleh Jeremy kepada Jona.
“Keras kepala!” Jona mempercepat gerakannya sehingga membuat Jeremy mulai kewalahan menahan serangan beruntun tersebut.
Perlahan Jeremy mulai terdorong karena tenaganya tenaga yang semakin berkurang. Untuk melakukan teknik perubahan pada Otora memang membutuhkan kekuatan yang tidak sedikit.
“Bagaimana sekarang anak bodoh?” Jona tersenyum karena melihat lawannya sudah tidak kuat menahan serangan itu.
Di tengah pertarungan yang semakin berat sebelah itu Jeremy sekilas melihat kepada Horsa yang berhadapan dengan Medallion lainnya.
“Sepertinya aku dapat menggunakan cara ini,” gumam Jeremy.
“Terimalah kehancuranmu karena telah berani menggangguku!” Jona memukul genderang tersebut dengan kedua tangannya sehingga menghasilkan getaran yang lebih kuat dari biasanya.
“Bagaimana kalau begini saja.” Saat memperkuat pertahanannya untuk menerima serangan besar itu. Kemudian dengan sekuat tenaga memantulkannya kembali dan mengarahkan kepada Horsa yang sedang lengah.
“Apa ini?!” Horsa berteriak menerima serangan yang tidak kelihatan itu.
“Jona, mengapa kau menyerangku?”
“Aku tidak bermaksud melakukan itu tapi orang itulah yang memantulkan seranganku.”
“Astaga mengapa aku harus bekerjasama dengan orang bodoh sepertimu.”
“Mengapa kau berkata seperti itu setelah semua yang aku lakukan selama ini.” Jona tidak terima dan menatap Horsa dengan penuh amarah.
“Memangnya apa yang sudah kau lakukan. Kau hanya Priest yang tidak berguna. Bahkan untuk membuka gerbang saja sampai menyebabkan masalah besar.”