Jona sudah menyadari tanda - tanda rambatan dari teknik yang digunakan oleh Horma. Hal itu membuatnya harus terus berpindah tempat untuk menghindari butiran embun tersebut.
“Aku ingin tahu sampai kapan kau dapat menghindari seranganku.”
“Uhuk…!” Tiba - tiba Jona menabrak dinding yang ada di belakangnya karena hanya berfokus kepada Horma membuat dia tidak memperhatikan langkahnya.
“Sialan kau sengaja memojokkanku ternyata.” Jona bingung hanya bergerak kemana sekelilingnya sudah terdapat butiran embun. Hawa dingin mengepung dari segala sisi.
“Apa kau pikir aku hanya menghabiskan kekuatan hanya untuk mengejarmu tanpa strategi.”
“Kau kira aku hanya akan membiarkanmu bertindak sesukanya.” Horsa sudah bersiap menyerang Horma dari belakang saat pandangannya kepada Jona.
“Hah…!” Horma sekilas menoleh kebelakang tapi sudah terlambat menangkal serangan tiba - tiba tersebut.
“Mengapa kau berpikir kami akan diam saja?” Marvin dan Nadine menangkis serangan Horsa dengan sekuat tenaga walau langsung membuat mereka berdua terdorong.
“Kalian kira sudah pantas untuk bertarung denganku anak - anak muda. Tapi aku terkesan karena kalian memiliki keberanian untuk itu.”
“Nadine! Marvin! Apakah kalian baik - baik saja? Maafkan aku menjadi lengah karena terlalu emosi melawan Jona.
“Anda tidak perlu memikirkannya. Cepat selesaikan pengkhianat Medallion sebelum bisa bergerak.”
“Terima kasih atas bantuan Horma. Akhirnya aku bisa terbebas dari teknik aneh itu.” Jona sudah berada di tempat lain dengan cara yang tidak diketahui.
“Bagaimana kau bisa melewati butiran embun itu tanpa aku ketahui?”
“Bukan dia tapi karena teknikmu memiliki kelemahan.” Horsa tersenyum.
“Kelemahan? Apa maksudmu?”
“Setiap teknik yang diciptakan pasti memiliki kelemahan meski kekuatan apapun itu. Kesalahan terbesar adalah kau tidak menyadari hal itu.”
Horma masih belum memahami kelemahan yang dikatakan oleh saudaranya. Tapi saat ini dia tidak mau terlalu memikirkan hal itu dulu.
“Aku akan memikirkannya nanti saja. Tapi sekarang yang terpenting aku harus mengalahkan kalian berdua terlebih dahulu.”
Dari tempatnya Jeremy memperhatikan pertarungan para Medallion tingkat tinggi tersebut dan menemukan kejanggalan dari teknik yang digunakan oleh Horma tadi. Dari cara Horsa dan Jona bergerak seperti mereka pun sudah mengetahui kelemahan dari teknik Butiran Embun itu.
“Jer, kayaknya mereka butuh bantuan deh. Lo bantu mereka aja deh.”
“Ya udah kalau gitu biar Jetro yang jaga lo dan Milia disini sampai pulih sempurna.”
“Tenang saja Jer. Lagipula kemampuanku masih kurang sekalipun aku pergi kesana.”
Saat itu Horma masih bertarung dengan kedua orang pengkhianat tersebut sewaktu Jeremy perlahan mendekat.
Horma semakin kehilangan kesabarannya karena tekniknya itu sekarang sudah tidak seampuh tadi terhadap lawan - lawannya.
“Sebelum berpisah kami akan menunjukkan kepada kalian kekuatan yang kami dapatkan dari kegelapan.”
“Apakah kau serius ingin melakukan itu di hadapan mereka Horsa? Aku kira kau menyimpan untuk bertarung melawan Henri nanti.”
“Sebenarnya aku ingin mengetahui respon mereka saat melihat seberapa besar perkembangan kita dengan kekuatan ini.”
Horsa menarik nafas panjang dan saat dia menghembuskannya jubah yang mereka pakai berubah menjadi logam berwarna hitam. Senjata bola airnya pun berubah menjadi sebuah lumpur yang sangat kental.
“Bagaimana para Medallion? Apakah kalian terkejut dengan kekuatan yang kumiliki sekarang?”
“Sungguh kekuatan yang besar.” Nadine terpengarah merasakan kekuatan besar yang mengalir dari Horsa sampai membuat detaknya jantungnya lebih cepat.
“Benarkah?” Horsa tersenyum puas melihat respon dari Nadine.
“Kalau kau menginginkan kemarilah dan dapatkan kekuatan yang lebih besar.” Horsa mengulurkan tangannya kepada para Medallion yang ada di depannya.
Nadine melihat kesempatan yang ada di depannya membuat dia menelan air liur dan matanya tidak lepas dari tangan yang telah terulur itu.
“Bayangkan kalian dapat melakukan apapun dengan kekuatan ini. Balas dendam, berkuasa, mengalahkan siapapun yang kau mau. Bahkan tidak akan ada yang merendahkanmu lagi. Bagaimana?”
“Tanpa dia sadari Nadine perlahan maju menyongsong tangan tersebut.”
“Nad…” Marvin berusaha mau menghentikan langkah Nadine.
Tapi Horma menghentikan niat Marvin dan membiarkan Nadine memilih jalan hidupnya. Pandangan Nadine tidak lepas dari tangan yang penuh dengan kekuatan dahsyat itu. Bagi seorang wanita yang sangat ingin menjadi kuat ternyata dorongan yang didapatnya pada saat ini begitu menggoda.
“Kemarilah anak manis. Jangan biarkan siapapun menghalangi keinginanmu untuk menjadi lebih kuat karena hanya dengan kekuatan yang besar kau dapat melakukan apa saja. Jangan lakukan hal bodoh seperti gurumu itu.”
Dalam momen sekejap tiba - tiba perkataan Horsa lah yang menyadarkannya.
“Guru?” Maka tersadarlah Nadine dan langsung melompat menjauh dari Horsa.
Nadine melihat Horma yang tersenyum memandangnya.
“Maafkan aku guru karena hampir tergoda dengan kekuatan itu.”
“Kau tidak perlu meminta maaf karena kita semua akan diperhadapkan pada apa yang paling kita inginkan. Tapi aku bangga kau dapat melewati semua kesia - siaan itu dengan sangat baik.”
“Guru dan murid sama saja bodohnya. Aku tidak akan memberikan kesempatan kedua kepada kalian.”
Sama seperti Horsa, kini wujud kekuatan Priest dari Jona pun berubah drastis. Terlihat dari jubah yang sebelumnya berwarna putih kini berubah menjadi lapisan tubuh seperti sisik yang sangat sangat keras. Bahkan kekuatan pertahanan dari lapisan ditubuhnya itu lebih kuat daripada logam apapun di bumi saat itu.
“Setelah kalian melihat semua ini apakah masih ada yang berani bertarung melawan kami sekarang?”
“Keberanian tidak ada hubungannya dengan kekuatan siapa yang paling besar. Tapi siapa yang memiliki tekad paling kuat.”
“Ternyata kau terkadang bisa berbicara seperti orang tua Marvin.”
“Diam kau Nadine!”
“Benar apa yang dikatakan oleh anak muda ini. Seharusnya kalianlah yang merasa malu karena telah meninggalkan kebenaran hanya karena kekuatan sia - sia seperti itu.”
“Horsa, biarkan aku saja yang menghadapi orang - orang ini sekalian mau mencoba kekuatan baru ini.” Jona berbicara dengan komunikasi pikiran agar tidak diketahui oleh musuh. Kemampuan ini sudah dimiliki seseorang Medallion tingkat tinggi.
“Terserah padamu saja. Tapi kalau bisa kau tidak perlu membunuh mereka.”
“Baiklah, lagipula sangat memalukan membunuh mereka dengan kekuatan yang maha dasyat ini.”
Horma mengeluarkan senjatanya yang tadinya berupa genderang kini berubah menjadi sepasang lempengan besi yang dapat menggetarkan apapun yang ada di depannya sampai hancur lebur.”
“Berhati - hatilah teman - teman. Aku merasakan kekuatan dengan daya penghancur yang besar senjata yang baru dimiliki oleh Jona itu.
“Hey apakah maksud kalian senjataku tidak kuat?” Horma sangat kesal mendengar kata - kata yang merendahkannya.
“Kalau kuat coba diadu saja dengan senjata orang itu.”
“Kau terlalu licik untuk menjadi seorang Medallion.”
“Begitu juga denganmu yang terlalu suci untuk menjadi bawahan kegelapan.”
“Maaf saja kalau aku bukan orang seperti kalian pasrah menerima jalan takdir. Aku lebih suka menentukan jalan hidupku sendiri dan melakukan apapun yang aku anggap luar biasa.”