Selain Marvin dan Jona semua orang yang ada disitu pun terkejut melihat kedatangan Horsa yang berkata seperti itu dengan santainya. Walau Jetro dan Nadine sudah mendengarnya dari Marvin tapi belum bisa mempercayainya karena tidak ada bukti. Namun sekarang semua sudah terpampang jelas di hadapannya suatu kebenaran yang tidak bisa disangkal lagi.Tetapi diantara mereka semua, Horma lah yang sangat susah mempercayai apa yang terjadi di hadapannya sekarang. Seorang yang menjadi panutan dan partnernya selama ini adalah pengkhianat.
“Akhirnya kau memperlihatkan wajahmu yang sebenarnya pengkhianat.” Marvin menatap Horsa dengan penuh amarah.
“Tutup mulutmu Marvin! Kakakku tidak mungkin melakukan hal sehina itu. Benarkan Horsa?” Horma meneteskan air mata menunggu jawaban dari pertanyaan yang sudah pasti.
“Maafkan aku nona Horma, tapi apa yang terjadi padaku tadi seharusnya sudah cukup menjadi jawaban atas pertanyaan itu.”
“Apa? Jadi yang menyebabkan kau terluka parah seperti itu adalah....”
“Hahaha…, mengapa kau selalu terlambat adikku yang manis? Seharusnya kau sudah mengetahui hal ini akan terjadi lebih cepat dibanding semuanya. Tapi kau berusaha menyangkal kebenarannya.”
“Kau bohong Horsa. Aku percaya kau tidak akan melakukan ini. Bukankah kita sudah berjanji bersama akan melindungi benteng ini dengan nyawa sampai akhir?”
“Selain Marvin dan Jona semua orang yang ada disitu pun terkejut melihat kedatangan Horsa yang berkata seperti itu dengan santainya. Walau Jetro dan Nadine sudah mendengarnya dari Marvin tapi belum bisa mempercayainya karena tidak ada bukti. Namun sekarang semua sudah terpampang jelas di hadapannya suatu kebenaran yang tidak bisa disangkal lagi.
Tetapi diantara mereka semua, Horma lah yang sangat susah mempercayai apa yang terjadi di hadapannya sekarang. Seorang yang menjadi panutan dan partnernya selama ini adalah pengkhianat.
“Akhirnya kau memperlihatkan wajahmu yang sebenarnya pengkhianat.” Marvin menatap Horsa dengan penuh amarah.
“Tutup mulutmu Marvin! Kakakku tidak mungkin melakukan hal sehina itu. Benarkan Horsa?” Horma meneteskan air mata menunggu jawaban dari pertanyaan yang sudah pasti.
“Maafkan aku nona Horma, tapi apa yang terjadi padaku tadi seharusnya sudah cukup menjadi jawaban atas pertanyaan itu.”
“Apa? Jadi yang menyebabkan kau terluka parah seperti itu adalah....”
“Hahaha…, mengapa kau selalu terlambat adikku yang manis? Seharusnya kau sudah mengetahui hal ini akan terjadi lebih cepat dibanding semuanya. Tapi kau berusaha menyangkal kebenarannya.”
“Kau bohong Horsa. Aku percaya kau tidak akan melakukan ini. Bukankah kita sudah berjanji bersama akan melindungi benteng ini dengan nyawa sampai akhir?”
“Mengapa kau tidak bisa mengerti Horma? Kita tidak bisa hidup di dalam mimpi masa kecil yang menggelikan itu. Sekarang waktunya untuk membuat perubahan untuk diri sendiri. Seringkali kita harus mengorbankan hal yang berharga untuk mencapai tujuan yang besar walau kelihatan tidak pasti sekalipun.”
“Nadine, lindungi gurumu karena sekarang dia sedang dalam keadaan terbuka untuk diserang.”
“Walau kau tidak mengatakannya pun aku pasti akan melakukannya.” Nadine mengambil posisi siaga di dekat gurunya.
“Kalian jangan khawatir karena aku tidak akan melukai siapapun yang ada disini selagi masih terkendali.”
“Horma aku tidak mau bertarung melawan saudara sendiri. Terlebih aku tidak punya masalah denganmu.”
“Apakah kau lupa dengan kode etik Medallion?” Horma bersiap dengan senjatanya sebagai pertanda akan bertarung.
“Tentu saja aku ingat karena akulah yang mengajarkannya kepadamu bukan?”
“Kalau begitu seharusnya kau tahu apa yang akan aku lakukan.”
“Sayang sekali kalau begitu berarti aku harus melakukan apa yang seharus tidak dilakukan seorang pria sekaligus kakak yaitu melawan adik perempuannya.”
“Munafik! Jangan seolah - olah kau memiliki harga diri karena hal seperti itu padahal kau telah mengesampingkan kehormatanmu sebagai seorang Medallion.”
“Benarkah? Lucu sekali mendengar orang sepertimu bisa menasehatiku yang sudah mengajarimu banyak hal.”
“Kalau begitu lebih baik kita selesaikan dengan cara lain saja.” Horma pun langsung menyerang Horsa dengan air yang berbentuk seperti cambuk.
Serangan seperti itu langsung dihindari oleh Horsa tanpa harus berpindah tempat sama sekali. Seolah - olah dia hanya bermain - main di tempat itu dengan sedikit gerakan yang lebih cepat. Dari cara Horsa menghindar sepertinya dia dapat membaca setiap serangan Horma selanjutnya.
“Ucapanmu tidak sesuai dengan serangan yang kau lakukan. Kalau kau tidak menyerangku dengan niat membunuh maka tidak akan ada yang berubah.”
“Sebagai orang yang mengajariku sepertinya kau sudah tidak sehebat waktu itu.”
“Tentu saja aku tidak menggunakan semua kemampuanku kalau hanya melawan wanita yang jauh lebih lemah dariku. Kalau aku melakukan itu akan mempermalukan diriku sendiri dihadapan di dunia ini.”
“Tanpa kau melakukannya pun kau telah mempermalukan dirimu sendiri dengan mengkhianati Medallion. Sekarang kau bukan lagi seorang Medallion yang dihormati, tapi Dokoon yang tidak tahu malu.”
“Terserah kau mau memanggilku dengan sebutan apa. Bagiku yang terpenting adalah kekuatan yang besar melebihi siapapun. Dan hanya Dokoon yang dapat memberikan itu kepadaku.”
“Kau tidak akan mencapai kekuatan tertinggi dengan cara seperti itu. Kekuatan yang besar hanya akan didapati dengan sikap hati yang mau menegakkan keadilan di dunia ini dan saat kita ingin melindungi sesuatu yang berharga.”
“Diluar itu semuanya akan menjadi kesia - sian belaka. Bukankah kau ingin mengatakan itu?”
“Ya karena kau jugalah yang meyakinkanku akan hal itu.”
“Hahaha, aku mengetahui hal itu dari buku yang menuliskan perjuangan seorang Medallion yang menjadi pahlawan pada masa lalu. Tapi setelah sekian lama aku menanti dan memikirkannya ternyata hal itu hanyalah omong kosong belaka. Sementara para Dokoon mendapatkan kekuatan yang besar dengan cara yang lebih mudah dari sumber yang bernama Kegelapan.”
“Bagaimana mungkin kau mempercayai Dokoon dan Kegelapan? Hanya kematian yang menantimu pada akhirnya.”
“Jangan bodoh Horma. Kematian akan datang pada setiap orang apapun yang terjadi.”
“Seharusnya kau tahu kematian apa yang kumaksudkan itu.”
“Kau terlalu banyak bicara Horma. Bagaimana kalau kau buktikan saja dengan kemampuan saja. Kita lihat sejauh mana kau sudah berkembang dengan cara yang kau yakini.”
“Baiklah aku akan menunjukkan kekuatan rahasia yang belum pernah aku tunjukkan padamu karena aku terlalu sibuk.”
“Menari. Lakukanlah!”
“Air adalah sumber kehidupan dan kehidupan adalah air.”
Bola air yang ada di tangan Horma tiba - tiba meledak sehingga lenyap dari pandangan. Namun semua air bukanlah lenyap begitu saja. Suasana tiba - tiba menjadi dingin karena air tersebut berubah menjadi embun halus.
Tanpa disadari oleh Horsa butiran - butiran air itu pun menyebar ke segala arah dan menempel pada permukaan kulitnya.
“Terus apa? Aku sedang menunggu serangan darimu Horma.” Horsa pun terus menyindir adiknya itu karena tidak menerima serangan yang jelas seperti yang dia inginkan.
“Apakah kau tidak melihatnya? Aku sudah menyerangmu dari tadi.”
“Konyol sekali. Apanya yang serangan? Kau hanya membuat udara disini menjadi lebih sejuk saja.”
“Mungkin dia sudah gila Horsa. Kita sudah membuang - buang waktu disini. Aku pergi ke tempat Tuan Soka seperti yang kau katakan.”
“Cetas...cetas...cetas!” Para Dokoon yang ada di dekat Marvin tiba - tiba meledak dan darahnya melebur dengan butiran embun tersebut.
“Apa yang terjadi?” Jona melihat kebelakang dan mendapati semua pengikutnya berubah menjadi butiran embun.
“Oh aku mengerti sekarang apa yang telah kau lakukan Horma. Tapi bukankah untuk melakukan itu dibutuhkan kekuatan yang besar dan konsentrasi yang tinggi?”
“Tidak perlu banyak bicara lagi. Bukankah kau yang memintaku menunjukkan seberapa jauh perkembangan saat ini?”
“Horsa, apa yang telah dia lakukan? Mengapa aku tidak bisa melihat apa - apa sama sekali?”
“Seorang Priest memang tidak bisa diandalkan dalam pertarungan sama sekali. Takdir yang sudah membuat kau menjadi lemah bodoh. Sekarang terimalah takdir yang menyedihkan itu.”
“Beraninya kau mengatakan hal serendah itu terhadap golongan Priest.” Adela berteriak karena merasa direndahkan.
“Kalian para Priest memang golongan yang paling lemah diantara semuanya. Hanya orang bodoh yang menghormati kalian melebihi yang lain.”
“Kau sudah kelewatan Horsa. Aku tidak peduli kalau kau menghianati Medallion. Tapi saat kau menghina seorang Priest berarti kau sudah tidak punya kesempatan lagi untuk kembali. Hanya kematian yang pantas diterima orang rendah sepertimu.”
“Hahaha, kau tertipu Horma.”
“Aku mau tertawa saat mereka berkata seperti itu.” Jona sekarang sudah berada di tempat yang jauh dari jangkauan butiran embun Horma.
“Sejak kapan kau berada disitu?” Horma terkejut dengan pergerakan Jona.
“Tentu saja saat kalian sedang membicarakan sesuatu yang menggelikan tentang Priest itu. Alasan aku mau bergabung dengan mereka tidak lain adalah karena takdir bodoh menjadikanku seorang Priest.”
“Apa? Kaulah yang paling hina. Aku tidak akan melepaskanmu.” Butiran embus langsung bergerak ke arah Jona.
Saat Jona menyadari tempat itu perlahan menjadi sejuk dia langsung menghindar ketempat yang lebih jauh.