Kekecewaan Horma Kepada Horsa

1115 Kata
“Apakah kau benar - benar mengetahui jalan pintas ke tempat itu?” Marvin dan Adela melalui suatu lorong yang terletak di belakang ruangan perawatan tersebut. Setelah berjalan beberapa lama maka mereka tiba di tempat yang tidak asing baru Marvin, yaitu tempat yang pertama kali dia pijak saat datang ke benteng Galesia. “Hah! Apa yang terjadi disini?” Adela melihat para prajurit benteng Galesia tergeletak tak berdaya.  Tanpa berpikir panjang dia langsung melakukan tindakan pertolongan pertama pada mereka. “Marvin, apakah kau bisa ambil sebuah batu yang dapat digunakan untuk mengganjal kepalanya?” “Baiklah tunggu sebentar. Sepertinya kemarin aku melihat ada beberapa batu yang pas disana.” Marvin berlari melakukan apa yang diminta Adela dengan cepat. “Nah ini dia.”  “Coba kau periksa keadaan yang lain disana! Sepertinya masih ada yang selamat.” “Menurutku juga begitu. Tapi aneh sekali disini kita tidak menemukan satupun Dokoon. Aku tidak percaya dengan jumlah sebanyak tidak ada satupun Dokoon yang mereka kalahkan. Bukankah itu terlalu aneh?” “Kau benar.” “Aku periksa dulu yang lain. Semoga kita dapat menemukan petunjuk disini.” Setelah memeriksa ke semua tempat maka ditemukan 10 orang yang bisa bertahan dan langsung diselamatkan oleh Adela. “Bagaimana keadaan mereka? Aku sudah memeriksa semua tapi hanya menemukan mereka saja. Seperti dugaanku memang tidak ada satupun Dokoon yang dikalahkan.” “Aku mengenal para Medallion ini dan mereka memiliki kemampuan yang luar biasa. Bagaimana mungkin mereka bertarung tanpa mengalahkan satu musuh pun. Pasti telah terjadi sesuatu tadi.” “Oya bukankah kau tadi berkata kalau pemimpinmu juga pergi ke tempat ini? Maaf tapi apakah dia selamat?” “Mengapa aku bisa melupakannya? Tolong jaga orang - orang yang sudah menerima pengobatan dariku ini. Aku ingin mencari Tuan Jona.” Beberapa saat berlalu dan Adela kembali dengan wajah bingung. “Aneh sekali mengapa dia tidak ada di antara para Medallion.” “Mungkin dia berhasil selamat dan melarikan diri.” “Tidak mungkin. Sebagai Priest dia tidak mungkin meninggalkan orang - orang yang sedang terluka seperti ini.” “Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang Adela?” “Setelah memastikan keselamatan orang - orang ini aku akan naik untuk menolong nona Horma dan yang lainnya.” “Baiklah. Aku juga akan mengikutimu karena teman - temanku pasti ada disana juga. Saat mereka hampir selesai merawat orang - orang yang terluka dan menempatkan mereka di tempat yang aman, tibalah saat pergi ke tempat Jeremy dan yang lainnya berada. Di perjalanan terdengar suara pertarungan dari kejauhan sehingga membuat Marvin dan Adela bersiap dengan jubah mode tempurnya. “Sepertinya keputusan kita untuk datang kesini tepat. Aku merasakan keberadaan banyak orang di atas sana. Kita harus berhati - hati sebelum memasuki pertarungan karena belum mengetahui keadaan disana.” “Kau tidak perlu khawatir Adela. Aku pasti akan melindungimu yang merupakan Priest. Tidak akan kubiarkan para Dokoon busuk itu menyakitimu.” “Mengapa tiba - tiba kau menjadi baik kepadaku? Aneh sekali.” “Tidak perlu berpikir yang tidak - tidak. Aku melakukan itu karena kau adalah seorang Priest bukan?” “Apa hanya karena itu saja?” Adela menatap Marvin sambil tersenyum. “Aku tidak mengerti maksudmu. Ayo kita pergi sebelum terlambat lagi.” Saat sampai medan pertempuran mereka melihat barisan musuh yang sedang mengepung yang lain.  “Bukankah itu nona Horma? Dengan siapa dia bertarung saat ini?” “Aku tidak percaya akan apa yang kulihat saat ini. Dia adalah Tuan Jona yang merupakan pemimpin di ruangan perawatan. Pasti telah terjadi kesalahpahaman disini karena menurut kode etik sesama Medallion tidak boleh bertarung.” Adela yang penasaran dengan semuanya pun berlari mendapatkan Jona dan Horma untuk mendapatkan penjelasan. Tapi saat mendekati mereka dia langsung dihambat oleh June. “Mengapa kau menghalangiku June? Aku ingin mengetahui masalahnya.” “Aku mengerti perasaanmu tapi apabila kita ikut campur dalam pertarungan itu pasti akan membahayakan diri sendiri.” “Tuan Jona apa yang terjadi? Mengapa kau bertarung dengan nona Horma?” Adela memaksa dan berteriak sekuat tenaga. Jona terkejut dan merasakan kehadiran Adela disitu. Tapi karena di sedang bertarung dengan Horma, tidak banyak yang bisa dilakukannya. “June! Adela! Pergi dari sana! Lihat sekeliling kalian.” Tapi sebelum sempat menyadarinya sekumpulan Dokoon pun langsung menyerang mereka menggunakan senjata yang menggunakan kekuatan kegelapan. Marvin dengan cepat mengeluarkan kedua belati itu menghadang musuh yang hendak menyergap kedua Priest tersebut. “Kalian kira aku akan membiarkan Priest disentuh semudah itu.”  Marvin mendatangi musuh satu persatu dan menebas tubuh mereka dengan pergerakan yang sangat cepat. Setiap yang terkena serangannya otomatis terbakar oleh api sampai habis menjadi abu. Api yang keluar dari senjata Marvin tidak seperti api biasa. Begitu menyambar sesuatu langsung membakarnya pada suhu yang sangat tinggi hingga tulang belulang manusia pun terbakar layaknya kayu kering. “June! Bawa Adela pergi ke tempat yang aman. Gue tidak mengerti apa yang telah terjadi. Tapi yang pasti tidak dibenarkan keberadaan sampah - sampah ini di dalam Benteng Galesia.” “Yaudah kalau gitu. Hati - hati vin. Mereka kuat banget.” “Tenang aja. Lo gak perlu khawatirin gue deh.” “Baiklah sekarang saatnya membakar sampah - sampah busuk dunia.”  Marvin menyilangkan kedua belati tersebut lalu lalu meningkatkan kekuatannya dan membuat senjatanya terlihat memancang. Daripada belati mungkin lebih pantas disebut sebagai pedang. Marvin mengayun pedangnya dan menghasilkan tebasan dengan energi panas yang memadat. Saat terkena lawannya langsung membelah mereka dan terbakar hangus sama seperti terkena tebasan langsung. Jona yang melihat jumlah para Dokoon yang berkurang begitu drastis berusaha mencoba melakukan teknik penyembuhan Priest tapi sayangnya tidak berpengaruh bagi yang sudah terbakar oleh api dari senjata Marvin. “Kekuatan apa yang digunakan oleh Medallion itu? Mengapa teknik penyembuhanku tidak berfungsi?” “Dasar Jona kau terlalu lama tidak keluar dari ruangan itu sehingga ketinggalan zaman. Diantara para pengguna senjata yang berelemen api terdapat seorang pemuda yang saja dibangkitkan dengan elemen api abadi.” “Mana mungkin ada kekuatan seperti itu. Kau pasti sudah menggertak bukan?” “Sayang sekali aku bukan orang munafik yang tidak berpegang pada prinsip sepertimu. Kau seharusnya tidak mengurus sifat orang lain berlandaskan pada kekuranganmu sendiri.” “Sial, mengapa orang itu mengatakan kepadaku kalau di tempat ini terdapat kekuatan yang seperti ini?” “Apa orang yang kau maksud itu adalah Soka? Tentu saja dia tidak mengetahui hal itu.” “Bukan dia. Tapi…” “Mengapa kau begitu lama bermain - main di tempat ini Jona? Tuan Soka sudah menunggu untuk melanjutkan ke rencana berikutnya.” “Jangan - jangan…” Horma menoleh kebelakang dan didapatinya orang yang sedang berbicara kepada Jona adalah Horsa yang merupakan saudaranya sendiri. “Kau tidak perlu begitu terkejut nona Horma. Dialah orang yang aku maksud tadi.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN