Di dekat gerbang bawah tanah pertarungan telah terjadi begitu lama tapi baru mengurangi sepertiga dari jumlah Dokoon yang masuk ke dalam Benteng Galesia.
June sudah berkali - kali melakukan penyembuhan terhadap para Medallion yang sedang bertarung sampai menyisakan sedikit tenaganya. Diantara para petarung ada seseorang yang masih bisa berdiri di tengah pertarungan tanpa undur sekalipun dan terus mendorong musuh walau teman - temannya sudah berkali - kali dijatuhkan. Padahal dia bertarung dengan senjata yang digunakannya berbentuk pengendali elemen tanah yang mana membutuhkan tenaga yang dua lebih besar dari yang lain.
“Jetro, apakah dari awal dia bertarung dengan cara seperti itu?”
“Anda tidak percaya kalau saya memberitahukan kebenaran yang lebih mencengangkan.”
“Kau pikir dengan banyak hal yang terjadi hari ini masih ada sesuatu yang dapat mengejutkanku? Memangnya apa yang membuatmu begitu percaya diri bertarung dengan jumlah segini di hadapan musuh yang begitu banyak?”
Jetro memandang kepada orang yang masih berdiri paling depan sejak tadi.
“Sejak dia mengubah senjatanya menjadi palu besar sudah membunuh musuh jauh lebih banyak daripada yang dapat kami lakukan. Bahkan mungkin jumlah musuh yang berhasil dikalahkannya 5 banding 1 dengan yang dapat kami kalahkan.”
“Darimana dia mendapatkan kekuatan yang begitu besar? Sekarang para Dokoon tersebut sudah menjaga jarak saat bertarung dengannya.”
“Anda benar nona Horma. Kami hanya bertarung dengan musuh yang melarikan diri dari serangan Jeremy.”
“Bukan hanya itu guru. Temannya wanitanya yang bernama June itu pun adalah seorang Priest yang tidak bisa diremehkan. Kalau tidak ada dia pastilah kami tidak dapat bertarung melawan musuh yang terus berdatangan.”
“Kalau bukan kalian yang mengatakannya pastilah aku tidak akan percaya. Tapi aku memang sudah merasakan keanehan dengan aura ketiga pemuda itu sejak mereka pertama kali menginjakkan kaki di Benteng Galesia ini.”
“Keanehan seperti apa yang anda maksud guru?”
“Mereka berbeda dengan kita yang menganggap status sebagai Medallion adalah tindakan mulia karena dapat menyelamatkan dunia. Tapi ketiga orang itu sepertinya tidak menganggap kehormatan itu sebagai sesuatu yang patut untuk dikejar. Mereka seperti memiliki banyak pilihan dalam setiap tindakannya.”
“Bukan itu tidak normal sebagai manusia normal?”
“Kau benar Jetro. Mungkin orang - orang yang hidup di permukaan memang seperti itu.”
“Kau salah paham Nadine. Orang - orang berada dipermukaan seharusnya hidup dalam ketakutan dan pengertian yang terbatas tidak seperti kita yang terlahir dengan kesadaran yang kuat akan keberadaan dimensi lain selain dunia tempat manusia dapat hidup saat ini.”
“Lalu apa yang membuat orang - orang ini begitu berbeda?”
“Seperti yang kalian tahu kalau kekuatan seorang Medallion bergantung pada cara orang itu berpikir dan merasa. Intinya cara orang itu memandang arti kehidupan sangat menentukan sebesar besar kekuatan yang dapat digunakannya.”
“Baiklah aku dapat mengerti kalau orang itu adalah June. Tapi sepertinya apa yang dimiliki oleh Jeremy berbeda dari apa yang anda katakan. Dia memiliki cara bertarung yang berbeda dengan kita. Walau kami tidak memiliki kesulitan untuk mengimbangi pergerakannya, tapi ada beberapa pola yang tidak bisa dikatakan sebagai teknik bertarung.”
“Aku sudah melihat bagaimana dia bertarung walau tidak selama kalian disini. Tapi aku sepenuh dapat mengerti pola gerakannya.”
“Lalu mengapa kami tidak bisa memahami hal itu guru?”
“Karena teknik yang dia gunakan merupakan teknik tingkat tinggi. Orang - orang yang berada pada tingkat tertentu bertarung tidak seperti Medallion biasanya. Mereka mengikuti alur pertarungan dan mengambil kesempatan pada setiap celah yang dibuat oleh musuhnya. Dengan cara bertarung seperti itu tak peduli berapapun jumlah musuhnya tidak akan menjadi masalah karena Dokoon bukan manusia. Melainkan suatu kesatuan di dalam pikiran yang sama.”
“Astaga aku baru mengetahui hal itu guru. Apakah Jeremy mendapatkan pengetahuan akan hal itu melalui latihan khusus atau semacamnya.”
“Nadine benar. Aku tidak pernah melihatnya berlatih dimanapun selama dia tinggal di tempat ini. Dia hanya berkeliling tanpa arah dan tujuan setiap harinya. Sesekali dia melihat June yang berlatih dan pada hari berikutnya dia bisa saja pergi menonton latihan Marvin bersama para petarung lainnya.”
“Itu karena dia tidak memiliki jadwal latihan. Dia tempat kita tidak ada Medallion dari golong King sepertinya. Aku juga sangat menyesal akan ketidakadilan yang dialaminya tapi kita tidak dapat berbuat apa - apa.”
“Nah kalau begitu dari mana dia belajar semua ini? Atau dia termasuk ke dalam orang - orang yang terlahir dengan kecerdasan diatas rata - rata manusia.”
“Aku pun tidak dapat memastikannya. Yang terpenting dia berada pada posisi yang benar sebagai Medallion dan bukan menjadi seorang Dokoon.”
“Padahal tadi aku sempat berpikir kalau dia adalah orang yang lemah karena menolak bertarung satu lawan satu denganku tadi. Sekarang aku menyesal karena berpikir seperti itu. Pasti akan sangat mengerikan apabila bertarung dengan musuh seperti Jeremy.”
“Nona Horma, sepertinya ada yang aneh dengan mereka. Apakah anda mengetahui sesuatu?” Jeremy berteriak memotong pembicaraan mereka.
Horma kembali kepada pertarungan untuk memeriksa apa yang dikatakan oleh Jeremy. Sekarang setiap perkataan Jeremy terasa menjadi lebih penting dari sebelumnya. Mereka tidak lagi menganggap dia sebagai pemula yang harus bersembunyi apabila terjadi pertarungan.
“Bagaimana nona Horma? Walau aku tidak dapat mengenali semua wajahnya. Tapi rasanya aku beberapa kali bertarung dengan orang yang sama sejak tadi. Apakah para Dokoon memiliki kemampuan seperti Priest?”
“Tentu saja tidak mungkin Jer. Dokoon adalah pengguna kekuatan kegelapan sehingga mereka memiliki kemampuan pemulihan yang luar biasa. Tapi seharusnya kemampuan pemulihan secepat apapun tidak akan berguna apabila tubuhnya sudah dihancurkan.”
Analisa yang disampai oleh Jeremy membuat Horma terkejut karena dia masih sempat memperhatikan hal sedalam itu saat sedang melakukan pertarungan yang begitu sengit.”
“Tapi kalau kita bertarung dengan cara seperti ini pastilah mereka akan menang saat kita kehabisan tenaga.” Mendengar Jeremy yang sudah bertarung begitu lama dapat berkata seperti itu berarti orang normal pasti akan kalah lebih cepat lagi.
Saat Horma menghancurkan beberapa musuh yang ada di depannya beberapa lama kemudian musuh dengan wajah yang serupa mendatanginya tepat seperti yang dikatakan oleh Jeremy.
Horma akhirnya menyadari kalau mereka sedang dalam masalah besar karena bertarung dengan musuh yang tak habis - habisnya.
“Awas!” Jeremy menahan serangan musuh yang menyerang Horma dari titik butanya.
“Terima kasih Jeremy. Aku berhutang padamu.”
“Tidak perlu dipikirkan. Sebaiknya kalian fokus saja bertarung dan biarkan aku yang berpikir.”
Mendengar seorang pemula seperti Jeremy mengambil tanggung jawabnya sebagai Medallion tingkat tinggi membuat Horma malu. Tapi dia tidak bisa menampik karena keadaannya berbeda dari apa yang biasanya dialaminya.
Tak lama kemudian Jeremy merasakan pola pergerakan kekuatan yang aneh mengalir di antara para Dokoon tersebut. Untuk memastikan apa yang dia rasakan Jeremy pun melakukan suatu percobaan dengan cara mengeliminasi musuh dalam jumlah besar dan melihat apa yang sebenarnya terjadi pada mereka.
“Otora apakah kau bisa membantuku?”
“Kau tidak perlu menanyakan hal itu. Masalahnya apakah kau masih mampu menggunakan teknik dengan kekuatan sebesar itu?”
“Mungkin masih bisa kalau hanya beberapa kali lagi.”
“Aku terkejut kau masih memiliki kekuatan.”
“Baiklah ayo kita mulai. Setidaknya kita harus menumbangkan setidaknya sepuluh musuh dalam waktu yang bersamaan.”
Otora pun berubah menjadi sebuah tombak kemudian langsung dilemparkan oleh Jeremy pada lintasan lurus sehingga dengan cepat menembus banyak musuh sekalipun.
“Kembalilah Otora!”
“Nah sekarang kita lihat apa yang sebenarnya terjadi dari tadi.”
Posisi musuh yang tadi dikalahkan oleh Jeremy langsung ditutup oleh teman - temannya. Sementara tubuh dari Dokoon yang sudah tidak berdaya itu menghilang dari tempatnya.
Pada saat itu Jeremy merasakan adanya campur tangan orang lain dalam pertarungan itu. Tak lama kemudian saat sedang bertarung Jeremy dapat memastikan kalau saat ini lawannya adalah Dokoon yang tadi dikalahkannya.
“Nona Horma, aku ingin menanyakan sesuatu tapi aku harap kau tidak tersinggung akan hal ini.”
“Tidak perlu sungkan. Katakanlah Jeremy!”
“Apakah kemampuan seorang Priest dapat memulihkan kekuatan seorang Dokoon?”
“Mengapa kau berkata seperti itu? Apakah kau tahu apa yang membuat seorang Priest dihormati melebihi golongan lainnya? Diantara semua alasan, tapi yang paling utama adalah karena Priest dapat menyembuhkan luka siapapun selagi tubuhnya masih seorang manusia. Tak peduli orang itu Medallion ataupun Dokoon.” Mendengar perkataan Jeremy langsung membuat Horma terkejut karena dia tidak berpikir sampai kesitu sebelumnya.
“Berarti kita harus menerobos pasukan yang besar ini untuk memaksa orang itu keluar. Seharusnya orang itu memprioritaskan membela benteng ini terlebih dahulu. Menyembuhkan para Dokoon dapat dilakukan dengan syarat didahului oleh pertanyaan menyerah saja.”
“Aku akan membuka jalan untuk anda karena pada posisiku saat ini belum pantas untuk menghakimi seorang Medallion.”
“Baiklah Jeremy. Sekalipun dia seorang Priest, apabila dia melangkah kode etik Medallion, maka seharusnya dia dihukum sebagaimana mestinya.”
“Aku hanya dapat melakukan ini satu kali saja.”
“Otora berputarlah dan serakkan semua musuhmu!”
Jeremy pun memutar senjatanya itu dan melemparkan kepada kerumunan para Dokoon tersebut.
Senjata yang terus berputar semakin cepat tersebut berhasil menghamburkan musuh dalam jumlah banyak. Sebagian terlempar ke segala arah akibat kuatnya senjata itu.
“Sekarang!” Jeremy memberikan tanda kepada Horma untuk maju.
Horma menggunakan senjatanya dan membuat gelombang air yang besar sehingga dapat mendorong Dokoon dengan sangat kuat.
Begitu semua Dokoon yang ada disitu terjatuh ke tanah, tampak seseorang yang masih berdiri walau sudah terkena serangan yang begitu kuat. Tidak salah lagi pasti dialah dalam dibalik kekuatan Dokoon yang terus bertambah itu.
“Ternyata kau yang ada balik semua ini. Tidak kusangka bukan hanya Soka yang mengkhianati keyakinannya. Bahkan seorang Priest dalam membelot dan membantu para Dokoon untuk masuk ke dalam benten Galesia.”
“Bukankah dia orang yang bersama dengan June diruang perawatan? Jadi benar kalau ada seorang Priest dibalik semua keanehan ini.”
“Jona, mengapa kau melakukan hal hina ini?”
“Horma, kau memang seorang yang penuh kejutan. Aku tidak menyangka kaulah yang akan membongkar penyamaranku.”
“Jangan terlalu menyombong diri. Orang yang mengetahui keterlibatan dirimu adalah pemuda yang ada disana.”
“Oh bukankah kau teman dari Medallion baru itu. Kalau tidak salah namanya adalah June bukan. Dia seorang Priest yang berbakat dengan potensi besar.”
“Kau benar dan orang yang kau maksud ada disana.”
“June, lihat deh kenal gak sama orang ini?”
“Tuan Jona, apa yang anda lakukan disini? Syukurlah anda dapat selamat?”
“Kau salah June! Dialah yang membuat para Dokoon itu terus bangkit walau sudah dikalahkan berkali - kali.”
“Apa?! Mengapa anda melakukan itu tuan Jona?” June sangat kecewa dengan perbuatan Jona yang sangat dikagumi tersebut.
“Kau tidak bisa berdalih lagi Jona. Apakah kau berhubungan Soka?”
“Jadi kau sudah bertemu dengan Orang tua itu ya. Tapi masih ada satu orang lagi yang terlibat dalam rencana ini. Kau tidak akan percaya kalau aku mengatakannya. Tapi kau seharusnya siapa orang yang kumaksudkan.”
“Tutup mulutmu Jona! Aku tidak akan membiarkan kamu menghinanya oleh pemikiranmu yang terlalu dangkal itu. Bahkan kami akan membawamu ke tempat tuan Henri untuk diadili.”
“Hahaha, apakah kau serius mengatakan hal itu Horma? Atau aku ganti pertanyaannya. Apakah kau mampu melakukan itu?”
“Aku tidak akan kalah melawan seorang Priest penghianat sepertimu.”
Saat mereka sedang berbicara maka bangkitlah Dokoon yang tadi dirobohkan oleh Horma. Jona secara diam - diam berhasil menyalurkan kekuatan pemulihan pada Dokoon yang posisinya berdekatan dengan posisi dia berdiri.
“Sebelum kau melakukan itu kepadaku terlebih dahulu kau harus mengalahkan mereka. Itu pun kalau kau masih mampu setelah mengeluarkan kekuatan besar seperti tadi.”
Saat ini Horma kembali terdesak oleh karena dia sudah terkepung oleh banyak Dokoon yang tadi dia kalahkan sementara kekuatan yang dia miliki sudah cenderung berkurang.
“Tenang saja nona Horma, aku akan melakukan sesuatu agar kekuatanmu pulih, setidaknya lebih dari setengahnya.”
“Terima kasih June. Aku sudah tidak bisa lagi melibatkan Jeremy dengan keadaan seperti ini.”
“Jer, apakah kau baik - baik saja?”
“Tidak apa - apa. Aku hanya membutuhkan istirahat sejenak barulah bisa bertarung seperti semula.”
“Sebenarnya kau ini makhluk seperti apa begitu cepat pulih.”
Dengan bantuan June akhirnya kekuatan Horma terisi kembali lebih dari setengahnya. Setelah itu June tersungkur dengan jantung yang semakin berdegup kencang.
Memulihkan kekuatan Horma yang berada pada level tingkat tinggi membuat June harus menggunakan kekuatan lebih besar daripada menggunakannya pada Medallion dibawahnya.
“Maaf lama nona Horma. Kekuatanku memang belum cukup kuat untuk mendukung pertarungan mu. Tapi aku akan membantumu dengan kekuatan yang ada.”
“Kau terlalu merendah. Apa yang kau lakukan sudah sangat membantuku untuk menyelesaikan masalah ini atau lebih tepatnya membereskan orang itu.”
Bola air yang merupakan senjata dari Horma kembali ke ukuran semula akibat kekuatannya yang bertambah. Horma pun mengubah bola air itu menjadi sebuah cambuk yang dapat digunakan untuk menyerang banyak musuh dalam jangkauan jarak dekat.
“Rasakan ini!”
Semua Dokoon yang terkena langsung terlempar ke tempat yang sangat jauh agar tidak dapat dijangkau oleh kekuatan penyembuh dari Jona.
Satu persatu musuh dari bagian depan berhasil dikurangi Horma. Saat menyadari posisinya yang mulai terdesak maka Jona pun perlahan undur diri dari pertarungan tersebut.