Setelah Horma pergi dari ruangan perawatan Marvin pun tertidur beberapa lama disitu dijaga oleh Adela. Dengan keadaan tangan dan kaki yang terikat membuat Marvin tidak bisa bergerak untuk melarikan diri lagi.
Saat sadar dia melihat keadaan yang hampir tidak bisa berkutik sama sekali. Diam - diam Marvin berusaha melepaskan diri saat Adela sedang tidak melihat ke arahnya.
“Percuma saja kau tidak akan bisa melepaskan diri dari simpul yang aku buat. Lagipula dirimu bukanlah orang pertama yang bertingkah seperti itu. Sebelumnya sudah ada yang melakukan lebih brutal lagi tapi perbuatan mereka sia - sia saja.”
“Apa? Simpul ini memang aneh tapi yang lebih aneh mengapa aku tidak bisa menggunakan kemampuan Medallion untuk melepaskan diri.”
“Kau terlalu naif untuk seorang Medallion pemula.”
“Jangan panggil aku dengan cara seperti itu karena namaku adalah Marvin. Memang apa yang kau lakukan pada simpul ini?”
Adela mendekati Marvin yang masih berusaha mencari tahu kelemahan dari simpul yang mengingat tubuhnya tersebut.
“Apakah kau lupa kalau aku adalah seorang Priest?” Adela tersenyum dan menyentuh tangan Marvin yang sesekali meronta - ronta sejak tadi.
Kekuatannya pun tiba - tiba melemah dan rasa kantuk perlahan menguasai kesadarannya. “Kekuatan apa ini?” Dengan suara pelan Marvin bertanya kepada Adela.
“Inilah kemampuan unik dari seorang Priest. Kami tidak membutuh kekuatan yang besar untuk menggunakannya. Dengan ini hampir semua kemampuan Medallion akan melemah dengan sendirinya. Kemampuan ini paling berpengaruh pada seorang Warrior sepertimu.”
“Lucu sekali ada kemampuan seperti itu. Bukankah itu terlalu curang karena kau pasti akan memenangkan semua pertarungan.”
“Kau salah paham Marvin. Kami para Priest bukan golongan yang memiliki kekuatan tempur besar seperti yang lainnya. Keberadaan kami hanya berfungsi sebagai pendukung dalam pertarungan saja seperti penyembuhan, deteksi aura, kamuflase keberadaan.”
“Sayang sekali padahal aku kira kemampuan akan berguna dalam pertarungan langsung.”
“Kau benar. Tapi keberhasilan seorang Priest tidak diukur dari seberapa banyak kemenangan yang didapatnya dalam pertarungan, tapi berapa banyak orang yang dapat diselamatkan untuk dibawa kembali.”
“Lalu bagaimana kau dapat bertahan dalam pertarungan besar seperti…”
“Pasti kau berbicara tentang peperangan bukan? Kami belajar bertahan hidup dengan cara menghindari pertarungan dan menyerahkannya kepada orang yang bertanggung jawab. Aku memang jarang bertemu dengan Priest yang memiliki kemampuan bertarung yang hebat.”
“Kalau begitu bukan berarti tidak ada ya?”
“Kau benar Marvin. Tapi aku selalu diajarkan oleh tuan Jona untuk tidak mempelajari sesuatu yang tidak bisa dimaksimalkan seperti itu. Lebih baik aku memperkuat kemampuan murni sebagai seorang Priest saja.”
“Aku sangat jarang bertemu dengan orang yang dapat merasa cukup dengan apa yang dia miliki. Oya apakah kau dapat melepaskan simpul ini sebentar saja.”
“Kau memang pandai bersilat lidah sebagai seorang Warrior. Kalau aku tidak melihatnya sendiri pastilah aku mengira kalau kau adalah seorang Hunter atau Judge. Biasanya seorang Warrior tidak terlalu banyak bicara sepertimu. Mereka hanya menghabiskan waktu untuk berlatih sampai mencapai titik maksimal dari potensinya.”
Dalam pikirannya Marvin merasa geli dengan perkataan Adela tersebut karena dari awalnya dia memang tidak berkeinginan menjadi seorang Medallion apalagi memikirkan tentang golongan.
“Apa yang kau pikirkan Marvin? Sebaiknya kau beristirahat seperti yang dikatakan oleh nona Horma tadi. Tenang saja aku akan menjagamu disini sampai benar - benar pulih.”
Marvin pun mengurungkan niatnya untuk pergi dari tempat itu untuk menyusul Jeremy dan June.
Saat Adela kembali duduk di kursinya tiba - tiba seseorang memasuki ruangan itu tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Sontak hal itu mengejutkan Marvin dan langsung membuatnya melihat ke arah pintu untuk memeriksa keadaan. Tentu saja dalam keadaan yang serba tidak menentu sangat mungkin ada bahaya yang mengintai. Terlebih setelah apa yang dialami olehnya tadi sangat membekas di dalam jiwanya walau agak susah diingat.
Yang lebih mengejutkan adalah Marvin tidak melihat siapapun disana. Saat dia hendak menoleh tiba - tiba sebuah tangan menahan dirinya agar tidak mengeluarkan suara.
Marvin tersentak saat melihat sosok yang langsung mengguncang pikirannya. Tapi karena masih dalam posisi terikat membuat dia hanya bisa meronta - ronta saja.
“Tuan Horsa, maaf karena saya tidak mengetahui kedatangan anda.” Adela menundukkan kepalanya seraya berpikir mengapa dia tidak bisa merasakan kehadiran Horsa yang tepat berada di hadapannya saat ini.
Hanya satu alasan seorang Priest apabila merasakan hawa keberadaan seseorang seperti ini. Orang itu pastilah memiliki kemampuan yang jauh diatas Priest tersebut atau yang terakhir yaitu menggunakan suatu alat untuk menyembunyikan hawa keberadaan tersebut.
“Bagaimana keadaan Marvin?” Horsa tersenyum dan menatap Adela dengan ramah seperti biasanya.
“Oh ternyata anda mengenalnya. Aku rasa dia akan pulih dalam beberapa hari kalau disiplin dalam perawatan.”
Adela mulai tenang karena Horsa memiliki kedekatan dengan Marvin.
“Aku percayakan pemulihannya kepadamu Adela.” Horsa yang mengenal Adela yang bukan orang penting membuatnya sangat gembira. Maka hilanglah keraguan yang tadi terlintas di pikirannya.
“Baik tuan Horsa. Tadi juga nona Horma mengatakan hal yang sama padaku saat mengantarkannya kesini.”
“Apa? Lalu apa yang dikatakan oleh Horsa saat mengantarkannya kesini Adela?”
“Seingatku dia tidak mengatakan apa - apa dan langsung pergi karena saat ini ada masalah digerbang bawah tanah.”
Padahal tadi Horsa sudah bersiap untuk melakukan suatu terhadap Adela walau dia seorang Priest.
“Oya mengapa aku dari tadi tidak melihat keberadaan Jona yang merupakan penanggung jawab disini?”
“Tuan Jona malah terlebih dahulu pergi menuju gerbang bawah tanah saat mendengar adalah penyerang disana untuk memulihkan para Medallion yang membutuhkan bantuan Priest.”
“Jadi dia susah pergi kesana terlebih dahulu ya? Baguslah kalau begitu.” Horsa berpaling dan menyembunyikan senyumannya dari Adela.
“Apakah anda ada keperluan dengan tuan Jona?”
“Benar sekali. Mungkin nanti kau dapat menyampaikan kedatanganku kepadanya kau dia sudah kembali.”
“Tidak masalah tuan.”
“Aaa…!” Marvin tiba - tiba berteriak dan berusaha melepaskan diri dari sentuhan Horsa.
“Ada apa Marvin? Mengapa kau tampaknya sangat terburu - buru begitu? Apakah kau ingin berbicara denganku seperti tadi?”
Marvin membalas perkataan itu dengan tatapan sinis dan penuh amarah.
“Apa yang kau lakukan disini? Aku tidak akan membiarkanmu bertindak sesukanya.” Marvin dengan berat amarahnya terhadap orang yang berdiri di sampingnya.
“Tentu saja aku ingin memeriksa keadaanmu. Memangnya apa lagi kalau datang ketempat ini?
“Aku tidak percaya orang sepertimu datang kesini untuk melakukan hal itu. Mungkin kau dapat membohongi wanita ini tapi tidak denganku.”
“Hey! Apa yang terjadi di antara kalian?” Adela terganggu karena Marvin berteriak dengan kuat.
“Oh tidak begitu penting. Tadi kami hanya berlatih tanding untuk mengukur kehebatannya tapi dia kalah telak saat itu.”
“Aku rasa itu sangat masuk akal dengan perbedaan kekuatan yang besar diantara kalian bukan?”
“Kau benar Adela. Tapi dalam pertarungan itu sepertinya Marvin pun mengeluarkan kemampuan diatas rata - rata Medallion tingkat menengah sekalipun. Terlepas dari semua itu aku sangat kagum dengan perkembangan anak muda zaman ini. Mungkin kalau kami tidak mengejarnya bisa - bisa kami akan tersusul oleh kalian yang terus berkembang setiap saat.”
“Anda terlalu berlebihan tuan Horsa. Mungkin benar apabila orang itu bukanlah anda. Soalnya sejauh ini belum pernah ada generasi kami yang berhasil melampaui anda bahkan dalam hal - hal anda. Anda adalah orang yang terlahir memang dikhususkan untuk menjadi seorang Medallion. Tidak seperti kami yang kebanyakan terpaksa akibat tidak memiliki pilihan lain ataupun motivasi lainnya.”
“Untuk seorang Priest berbakat aku rasa kau terlalu merendah. Prinsip hidup Jona sepertinya sangat berdampak padamu. Aku harus lebih berhati - hati berbicara dengannya.”
“Hahahaha.”
Karena pembicaraan yang cair seperti ini membuat rasa curiga Adela benar - benar sirna dan dapat mempercayai Horsa sepenuhnya.
Tak lama setelah pembicaraan itu bergulir di ruangan yang sunyi itu Marvin pun perlahan merasakan kekuatannya kembali. Setiap tarikan nafasnya semakin teratur bersama dengan detak jantungnya yang menjadi normal.
Karena Adela sedang berbicara dengan Horsa membuat perubahan yang dialami oleh Marvin terlepas dari pantauannya.
“Adela, apakah dapat melepaskan simpul ini?” Horma menatapnya dengan tulus karena hanya Adela yang dapat melepaskan simpul tersebut.
Walau Priest sangat minim kemampuan bertarung tapi kemampuan unik yang mereka miliki adalah mutlak. Mungkin itulah ganti kurangnya kemampuan bertarung mereka.
“Tentu saja apabila tuan Horsa yang memintanya akan saya lakukan dengan senang hati karena hal tersebut setara dengan perintah mandat nona Horma.”
“Aku berterima kasih atas pengertianmu.”
Marvin terkejut saat Horma meminta Adela melakukan hal itu. Sungguh diluar nalarnya setelah apa yang dialami tadi.
Hanya dengan menaruh telapak tangannya pada d**a Marvin sudah membuat simpul itu terlepas sepenuh. Kini Marvin dapat bergerak dengan bebas untuk menggunakan kemampuannya.
Begitu simpul itu terlepas Marvin langsung melompat dari tempat tidur dan menjauh dari Horma.
“Apa yang kau lakukan disini?” Marvin berteriak tanpa memperdulikan posisi Adela yang kini berada di ruangan itu.
“Mengapa kau berkata seperti itu kepadaku anak muda? Bukankah aku sudah membantumu untuk dapat bergerak bebas seperti yang kau inginkan?”
“Bukankah kau telah …”
“Sebaiknya kita tidak membahas sesuatu yang telah lalu bukan? Setidaknya saat ini kau masih berdiri di tempat ini. Menurutmu apa alasan semua itu bisa terjadi?”
Marvin terdiam mendengar Horsa yang berbicara dengan tenang sambil tersenyum.
“Tuan Horsa! Marvin! Apa maksud perkataan kalian?” Adela merasa seperti orang bodoh karena tidak mengetahui apa - apa.
“Ini bukan urusanmu! Sebaiknya kau pergi dari tempat ini sebelum terlambat.”
“Tidak akan! Aku diperintahkan oleh Tuan Jona untuk menjaga tempat ini sampai di kembali kesini lagi.”
“Adela kau begitu polos. Tapi aku beritahu satu fakta yang terjadi pada Tuanmu. Setelah mengikuti pertarungan di gerbang bawah tanah pasti dia tidak akan selamat.”
“Bagaimana anda bisa begitu yakin akan hal itu?”
“Tadi aku melihat asap yang sangat banyak disertai kobaran api dari arah itu.”
Wanita itu tertunduk mendengar perkataan dari Horsa akan keadaan dari Jona tersebut. Dia masih belum bisa mempercayainya walau penjelasan Horsa terdengar sangat masuk akal.
“Kalau kau tidak mempercayai hal itu silahkan saja tunggu sampai kapanpun. Tapi sebaiknya jangan pergi ke tempat itu untuk saat ini. Disana masih terjadi pertarungan sengit dengan para penyusup.”
“Para penyusup? Jangan membuatku tertawa dengan kata - kata busuk itu.”
“Hahaha, kau pun boleh pergi ke tempat itu dan menemui teman - temanmu. Kalau tidak salah namanya Jeremy dan June bukan?”
“Jangan lakukan itu Marvin! Apakah kau ingat apa yang dikatakan oleh nona Horma agar kau beristirahat terlebih dahulu.”
“Kau kira orang seperti Marvin akan menuruti perintah seperti itu. Kekuatan Warrior yang ada di dalam dirinya pasti haus akan pertarungan. Sangat mustahil baginya untuk bersantai di tempat ini sementara ada pertarungan yang menarik diluar sana.”
“Maaf kan Adela, tapi aku harus pergi ke tempat itu. Aku melakukan ini bukan karena alasan yang dikatakan olehnya tapi untuk membantu teman - temanku. Kami berjanji untuk pulang bersama - sama setelah mendapatkan cara untuk menyelamatkan kota itu.”
“Sepertinya hari ini akan menjadi semakin menarik. Baiklah anak - anak muda sekarang saatnya aku pergi dari tempat ini untuk mempersiapkan panggung bagi kalian. Semoga kalian dapat menikmati hari ini dengan cara senikmat - nikmatnya.” Horsa sambil tertawa berjalan keluar dari ruangan tersebut dengan wajah gembira.
“Apa yang mau kau lakukan? Mengapa kau menyelamatkanku dari tempat ini?”
“Kau terlalu banyak tanya anak muda. apakah kau pernah mendengar kalau hidup bukan untuk dipertanyakan karena sekalipun kau menemukan jawaban dari semua pertanyaanmu, tetap saja yang namanya takdir akan bergulir melewati celah yang penuh misteri.”
Marvin hanya bisa melihat Horsa berjalan melewatinya dan tiba - tiba sudah menghilang dari ruangan itu.
Tanpa berlama - lama lagi maka Marvin pun berubah menjadi mode tempur dengan jubah yang berwarna hitam. Dengan dua tangan dia langsung meraih senjatanya.
“Tunggu! Aku mau pergi untuk memastikan apakah perkataan dari tuan Horsa itu benar adanya.”
“Ya ampun mengapa kau harus terpengaruh oleh perkataan orang itu. Aku sarankan agar kau tidak terlalu mempercayai perkataan seorang lelaki sekalipun dia memiliki pengaruh dan nama besar seperti itu.”
“Kau salah Marvin. Apabila tuan Jona sudah mati berarti akulah satu - satunya Medallion dengan golongan Warrior yang sanggup menutupi celah tersebut.”
“Untuk seorang wanita cantik kau termasuk seorang pemberani. Katakan padaku apakah kau sudah memiliki pasangan?”
“Astaga akhirnya aku sudah mulai terbiasa dengan caramu bercanda.”
“Baguslah kalau begitu. Tapi bagaimana kalau aku serius mengatakannya?”
“Hahahaha, nah sekarang aku sudah terbiasa. Ikuti aku! Aku mengetahui jalan terdekat untuk pergi ke gerbang bawah tanah secepat mungkin.”
Marvin merasa kalau peran Adela akan sangat berguna kedepannya. Selain sangat handal dalam kemampuan unik Priest, dia juga memiliki pengetahuan yang dibutuhkan demi kelancaran tugas hari ini.