“Uhuk...uhuk...uhuk! Aku tidak menyangka akan mati dengan cara seperti ini.” Suki tersungkur di tanah dan tongkatnya terlepas dari genggaman.
“Karena kau sudah bertarung dengan serius aku akan mengatakan kepadamu rahasia yang terdapat di dalam benteng ini. Kau pasti tidak menyangka kalau Benteng Galesia yang begitu terkenal seperti ini menyimpan sebuah benda langka yang dapat mengguncang dunia.”
Suki tidak bisa berkata apa - apa karena mulutnya terus mengeluarkan darah segar. Tapi tatapannya menuntut suatu penjelasan yang lebih lengkap lagi.
“Baiklah Suki. Apakah kau pernah mendengar tentang Elemen Kegelapan yang pernah digunakan oleh para Dokoon yang hampir mengubah tatanan dunia dunia pada masa lalu?”
Suki terkejut pun terkejut mendengar perkara tentang Elemen Kegelapan tersebut tapi apa mau dikata dia harus menahan diri agar dapat bertahan lebih lama lagi.
“Kau benar Suki. Kita pernah diperintahkan untuk menyelidiki keberadaan benda tersebut saat masih muda dulu. Setelah para Medallion sepakat untuk menghentikan penyelidikan berbahaya tersebut aku tidak mengikutinya. Secara diam - diam aku mengikuti perkembangan yang berkaitan dengan benda tersebut. Lucunya tidak sengaja aku menemukan suatu kebenaran yang seharusnya tersembunyi bagi para Medallion. Di dalam benteng ini tersegel bagian dari Elemen Kegelapan tersebut.”
Tapi kali ini Suki menatap Soka dengan kecurigaan karena sangat sulit mempercayai hal itu.
“Memang sangat sulit untuk dipercaya kalau kau tidak melihatnya secara langsung. Tapi tempat untuk menyegel benda tersebut hanya dapat dimasuki melalui ruangan Henri. Sekarang dia menutup gerbang ruangannya dengan pertahanan absolute sehingga orang luar tidak bisa masuk kedalamnya.”
Bagi seorang yang terlambat mengetahui kebenaran dibalik semua masalah ini membuat Suki sangat sedih karena tidak bisa berbuat lebih banyak lagi. Sekarang semua hanya tinggal harapan yang dapat ditinggalkan kepada para penerus berikutnya.
Seorang Medallion tingkat tinggi yang bangga dengan tugasnya sebagai penjaga Benteng Galesia pun akhirnya perlahan tapi pasti menutup matanya dengan melihat para Dokoon yang berlarian masuk menuju bagian dalam dari tempat tersebut.
“Soki, aku akan menunggumu di dimensi yang lebih tinggi. Aku berharap kau dapat kembali ke jalan yang benar sebelum hari terakhir dalam hidupmu tiba.”
“Terima kasih karena kau masih menganggapku sebagai teman setelah apa yang kuperbuat. Tapi harapan dan doamu itu tidak akan bisa menghentikan perjuanganku untuk mendapatkan apa yang kuinginkan.”
Demikianlah Suki menutup matanya dan jiwanya kembali kepada asalnya. Kekuatan cahaya keluar dari tubuhnya dan sirna begitu saja. Senjata yang tadi terbagi menjadi dua bagian kini sudah kembali bentuk awalnya yaitu sebuah tongkat yang terbuat dari batu.
Soka yang rela menunggu sampai sahabatnya pergi dari dunia itu pun langsung menyusul para Dokoon saat Suki mati.
Bagi seorang penjaga gerbang permanen seperti Soka dan Suki untuk melihat peradaban adalah hal yang susah. Mereka telah disumpah untuk tidak meninggalkan pos penjagaan untuk alasan yang begitu penting.
Soka sangat gembira karena sekarang dia sedang melihat bagian dalam dari Benteng Galesia yang selama ini dijaganya.
“Sudah lama sekali setelah aku diangkat menjaga seorang penjaga pintu masuk benteng ini akhirnya saat yang dinanti datang juga.”
Dengan langkah ringan dia pun menapaki lapangan tengah yang biasa digunakan oleh para Medallion untuk acara - acara besar. Sebagai penjaga pintu masuk Soka hampir tidak pernah dapat menikmati kegembiraan atau pun kehidupan layaknya Medallion. Dia hanya dapat mendengar hiruk pikuk Benteng Galesia dari kejauhan. Terkadang dia berusaha mengintip untuk sekedar sedikit menikmati kegembiraan yang dibicarakan orang - orang yang melintas di depannya. Tapi setiap ada orang yang memergoki perbuatannya pastilah timbul rasa bersalah dihatinya akibat citra yang melekat padanya. Mungkin hanya para Medallion tingkat tinggi saja yang mengetahui betapa tingginya kemampuan Soka kala itu. Bahkan seringkali Medallion tingkat menengah pun tidak mengenali siapa yang setiap hari berdiri di ambang pintu tersebut.
Saat air matanya jauh ke tanah menunjukkan rasa penyesalan yang tersisa dari kehormatan di masa lalu. Dengan membuang semua ingatan dan ikatan pada dunianya seolah - olah membuat pria ini harus mengorbankan hatinya lembut. Lucunya tidak ada pria yang memiliki hati selembut dirinya di antara semua Medallion pada masa sebelumnya.
“Aku sudah memutuskan semua ini demi melihat masa depan yang berbeda dengan para pendahuluku. Tidak ada yang bisa menghalangiku mencapai tujuan ini bahkan walau pemimpin benteng sekalipun.”
Saat para raksasa menghancurkan bangunan yang ada disitu mata muncullah para penjaga yang bertanggung jawab para bagian tersebut dengan jubah mode tempur dan senjatanya.
“Berhenti disitu pak tua! Apa yang kau lakukan disini penjaga gerbang atas?!” Seorang pemuda yang berjaga di tempat itu membentak Soka dengan tatapan yang merendahkan.
Sementara itu pemuda itu berbicara dengan Soka, para penjaga lainnya langsung menghadang para raksasa tersebut.
“Apakah kau penjaga disini?” Bagi Soka yang sudah terbiasa dengan tatapan seperti itu membuat dia tidak bisa menahan diri.
“Mengapa kau malah bertanya balik padaku pak tua? Apakah kau tidak mengerti posisimu yang berada di bawahku saat ini?”
“Aku sangat menyesalkan usiamu yang masih terlalu muda untuk mati dengan cara seperti ini. Tapi sebaiknya kau harus mati sebelum berakhir menjadi orang yang hidupnya hanya dipenuhi penyesalan karena harus menjadi penjaga sampai akhir. Lagipula kau terlalu angkuh untuk seorang anak muda.”
“Apa maksud perkataanmu penjaga gerbang? Kau terlalu congkak untuk seorang tidak bisa melakukan apa - apa? Aku akan menunjukkan kepadamu betapa jauhnya perbedaan kekuatan diantara kita.”
“Baiklah anak muda. Tapi sebelum itu sebaiknya kau lihat ke atas terlebih dahulu. Mungkin kau tidak ingin berdiri disitu lebih lama lagi.”
“Mungkin sebagai penjaga gerbang kau tidak mengetahui tempat apa ini. Tapi akan ku beritahu kalau ini adalah tempat dimana kami bertanding untuk menentukan level kekuatan masing - masing. Untuk itu marilah kesini dan kita tentukan siapa yang lebih kuat.”
“Jangan bilang aku tidak memperingatkanmu anak muda. Seringkali sebagai anak muda kau perlu mendengarkan perkataan orang yang lebih tua seperti itu untuk hanya sekedar menyenangkan hati kami.”
Soka berbalik dari padanya seolah menolak permintaan pemuda itu untuk bertarung.
“Tidaaa…!” Saat dia melihat ke atas tiba - tiba sebuah kaki besar tiba - tiba menginjaknya sampai hancur seperti telur yang dihempaskan dengan begitu kuatnya. Saat kaki itu terangkat tidak tersisa bagian tubuhnya karena tempat dia berpijak adalah tanah keras yang biasa digunakan untuk berlatih tanding.
“Padahal aku sudah memperingatkannya. Ah sudahlah! Lagipula tidak akan ada yang percaya dengan niat baikku tadi terhadap penjaga yang terhormat seperti dirinya.”
“Sepertinya semua sampah disini sudah dibersihkan. Tidak akan ada tikus - tikus yang akan mengganggu jalannya rencanaku lagi.”
“Hah...hah...hah! Sepertinya aku sudah mencapai batas sementara untuk menggunakan kekuatan ini kepada makhluk hidup. Sebaiknya aku menghentikannya dan menyimpang kekuatan untuk pertarungan berikutnya. Aku punya firasat akan berhadapan dengan orang yang jauh lebih kuat daripada nanti.”
Dengan menarik nafas panjang Soka menghentikan teknik perubahan ukuran ekstrim tersebut untuk menghemat tenaganya. Maka uap keluar dari tubuh para Dokoon yang telah kembali pada ukuran normal tersebut.
Saat Soka sedang berjalan tampak seseorang sedang berdiri di ujung lapangan memperhatikan apa yang diperbuat olehnya dari tadi. Dengan percaya diri dia pun menghampiri orang itu sambil tersenyum.
“Aku tidak mengira kalau waktunya akan tiba bagi kita untuk melakukan hal ini. Apakah kau sudah siap dengan rencana berikutnya?”
“Tentu saja tuan. Kali ini dia tidak akan lolos lagi.” Horsa yang tangannya berlumuran dengan darah berlutut di hadapan Soka.
“Apakah semua persiapan yang dibutuhkan sudah selesai?”
“Tinggal menunggu pasukan berikutnya yang akan masuk melalui gerakan bawah tanah. Tapi sebelumnya aku memiliki sedikit urusan untuk menyempurnakan semuanya.”
“Baiklah Horsa, aku percaya padamu karena semua ini tidak akan berhasil tanpa kerja sama darimu.”
“Terima kasih tuan tapi saya hanya melakukan apa yang seharusnya demi tercapai tujuan kita. Kalau begitu anda silahkan pergi menuju tempat itu dan biarkan saya mengurus sisanya.”
“Sebaiknya kau berhati - hati saat berkeliaran di benteng ini. Mungkin sekarang ada yang melihat kita disini dan menyadari posisimu yang sebenarnya dalam masalah ini.”
“Tenang saja. Saya juga akan menyingkirkan tikus - tikus itu.”
Horsa dan Soka berpisah untuk melakukan rencana mereka yang untuk mengambil Elemen Kegelapan.