Bagi Soka yang memiliki kemampuan mengubah ukuran langsung berlari kepada para Dokoon yang tersisa saat itu.
Melihat apa yang dilakukan olehnya membuat Suki memperkuat pertahanannya dengan kedua tongkat tersebut.
“Soka, apakah kau mengerti resiko apabila teknik itu dilakukan kepada benda hidup?”
“Tentu saja. Mereka pasti akan langsung kehilangan kendali atas kesadarannya. Tapi kali ini berbeda karena media yang digunakan oleh para Dokoon dengan tubuh lebih kuat dibanding makhluk hidup mana pun. Selain itu jiwa mereka tidak selemah manusia yang terlalu labil. Para Dokoon memiliki inti jiwa yang lebih padat daripada seorang manusia.”
Saat mencapai Dokoon yang sedang berdiri Soka langsung menyentuhnya dan menyalurkan kekuatannya.
Dalam sesaat ukuran Dokoon berubah menjadi lebih besar. Kira - kira lima kali tinggi manusia Bagi Soka yang memiliki kemampuan mengubah ukuran langsung berlari kepada para Dokoon yang tersisa saat itu.
Melihat apa yang dilakukan olehnya membuat Suki memperkuat pertahanannya dengan kedua tongkat tersebut.
“Soka, apakah kau mengerti resiko apabila teknik itu dilakukan kepada benda hidup?”
“Tentu saja. Mereka pasti akan langsung kehilangan kendali atas kesadarannya. Tapi kali ini berbeda karena media yang digunakan oleh para Dokoon dengan tubuh lebih kuat dibanding makhluk hidup mana pun. Selain itu jiwa mereka tidak selemah manusia yang terlalu labil. Para Dokoon memiliki inti jiwa yang lebih padat daripada seorang manusia.”
Saat mencapai Dokoon yang sedang berdiri Soka langsung menyentuhnya dan menyalurkan kekuatannya.
Dalam sesaat ukuran Dokoon berubah menjadi lebih besar. Kira - kira lima kali tinggi manusia biasa.Tanah Benteng Galesia yang cenderung lunak pada beberapa bagian pun perlahan turun karena menopang berat dari para Dokoon yang berdiri di atasnya setelah mengalami perubahan bentuk.
Dalam hatinya Suki menyadari kalau ukurannya ditambah lebih besar lagi pastinya mereka tidak memiliki kesempatan untuk menang sama sekali. Namun karena Benteng Galesia yang terdapat jauh di dasar danau membuat Soka tidak berani memaksakan diri atau dia akan mati tenggelam di dalamnya bersama dengan Suki di tempat itu.
Satu persatu dari Dokoon yang sudah menjadi raksasa itu maju menyongsong Suki yang sudah bersiap. Langkah mereka bukan hanya kuat tapi bisa mengguncang benteng tersebut.
Satu langkah saja meninggalkan jejak yang seukuran kolam yang biasa digunakan sebagai ritual kebangkita Medallion.
“Soka, sebenarnya apa yang diincar oleh mereka di tempat ini. Kalau mereka sampai berani membuat kontak denganmu pastilah adalah tujuan penting bukan?”
“Sebagai orang sudah tinggal di benteng ini dari lahir sangat disayangkan kau tidak mengetahui hal itu.” Soka menatap Suki dengan sorotan yang merendahkan.
“Katakan padaku apa yang kau maksud?” Suki membentak sambil memukul salah satu dari kaki raksasa tersebut.
“Kalau kau tidak mengetahuinya berarti sebenarnya kau mungkin belum pantas untuk itu kecuali kau dapat memaksaku dalam pertarungan ini. Nah sekarang hadapilah terlebih dahulu boneka - boneka terbaikku.”
Tidak terasa sudah puluhan Dokoon yang diubah oleh Soka menjadi raksasa tapi dia tidak menunjukkan tanda - tanda kelelahan sama sekali. Malahan dia dapat berdiri dengan tenang di belakang yang lain. Suki yang memperhatikan hal itu dari tadi semakin bingung dibuatnya. Tapi dia belum mengetahui rahasia apa yang masih disimpan oleh Soka di dalam dirinya dan memutuskan untuk menghadapi para Dokoon terlebih dahulu.
“Berbeda dengan para Dokoon yang biasa dihadapinya pada setiap misi, saat ini yang dilawan oleh Suki tidak memiliki kemampuan sihir sama sekali. Mereka hanya Dokoon petarung kelas menengah biasa. Tapi hal itu tidak mengubah kenyataan kalau mereka semakin kuat dengan ukuran yang jauh lebih besar.
Dengan ukuran seperti itu tampaknya tidak mengurangi kecepatan mereka sama sekali. Setiap serangan yang dilakukan oleh Suki memang berhasil melukai mereka tapi tidak begitu berpengaruh dengan ukuran seperti itu. Begitu Suki berpaling dia pun terkejut karena melihat luka - luka para Dokoon kembali pulih layaknya kulit baru.
“Ada apa Suki? Kemana rasa percaya dirimu yang tadi kau banggakan? Aku minta maaf karena terlalu serius melawanmu.”
“Jangan banyak bicara Soka! Mengapa bukan kau sayang mau dan kita bertarung satu lawan satu seperti lelaki sejati?”
“Hahaha, omong kosong dengan harga diri atau apapun itu selama aku bisa mendapatkan apapun yang kuinginkan.”
“Ternyata sudah begitu dalamnya kau terjadi dalam kegelapan sehingga tidak dapat diselamatkan lagi.”
“Diantara semua cara hidup aku hanya mengakui satu hal yaitu lakukan apapun dengan sepenuh sampai tidak ada jalan kembali agar ketika kau gagal pun tidak ada penyesalan. Seperti halnya dengan yang terjad hari ini. Aku telah memutuskan untuk terjun ke sisi lain dari dunia ini agar aku mendapatkan hasil yang mutlak.” Saat Soka berbicara tiba - tiba jubahnya yang tadi berwarna merah kini perlahan menjadi gelap dan diselimuti hawa kematian yang mengerikan.
“Pantas saja kau tidak kelelahan setelah menggunakan teknik ini. Ternyata yang menjadi satu dengan kegelapan bukan hanya dalam rencana saja melainkan juga seluruh keberadaanmu.”
“Sebagai orang mengenalku setelah sekian lama seharusnya kau mengetahui kalau aku tidak suka setengah - setengah dalam bertindak.”
“Baiklah kalau itu jalan kehidupan yang kau pilih.” Suki pun kembali mengerahkan teknik terlarang yang tadi digunakan untuk menyegel gerbang.
“Begitulah seharusnya caramu menghadapiku Suki. Kalau tidak bertarung dengan totalitas maka semua yang kau yakini akan menjadi sia - sia.”
Jubah Suki yang berwarna merah mengeluarkan ukiran - ukiran mengelilingi tubuh bahkan sampai menjalar ke senjata yang ada di tangannya.
“Aku tidak kalah dengan kegelapan dan siapapun yang adalah di dalamnya. Sebagai utusan cahaya para Medallion ditetapkan untuk menerangi dunia dan menyingkirkan kalian para Dokoon.”
“Dokoon ya? Baiklah kau sekarang dapat memanggilku dengan nama itu. Seperti tidak begitu buruk dengan semua yang kudapatkan darinya.” Soka mengerahkan semua raksasa yang mengikutinya menyerang Suki secara bersama - sama.
Di hadapan banyak musuh yang mengepungnya Suki langsung melemparkan salah satu tongkatnya ke udara kemudian langsung memukulnya dengan tongkat yang lain sehingga berbenturan dan menjadikan senjata pelontar jalan jauh.
Tongkat yang dipukul tadi pun melesat dengan cepat ke arah para Raksasa dan menghancurkan mereka dengan sangat hebat. Setengah badan raksasa yang sangat besar itu pun hancur tak bersisa sama sekali.
Beberapa kali Suki melakukan cara yang sama dan menyerang ke segala arah untuk menjaga jarak dari musuhnya.
“Hancurlah kalian bersama dengan kegelapan yang menutupi dunia ini!” Suki tidak berhenti sampai kira - kira tiga perempat dari musuh yang ada berhasil lenyap tanpa bisa pulih kembali.
Di tengah pertarungan itu Suki tersadar kalau hawa keberadaan Soka tiba - tiba menghilang begitu saja. Para serangan berikutnya dia sudah terlambat untuk menyadarinya tapi dia tidak bisa serangan itu karena berlangsung begitu cepat.
“Jleb!” Sebuah pisau tiba - tiba sudah bersarang di perutnya saat dia melihat segala arah.
Sosok Dokoon dengan ukuran kecil menikamnya tetap mengenai organ vital dan membuat dia tidak bisa bergerak.
“Selamat tinggal teman. Kau terlalu berhati - hati sampai kelabakan saat tidak menyadari kehadiranku. Tapi diantara semua para Raksasa aku juga sudah membuat penyusup yang siap menyerang secara diam - diam.”