Teknik Yang Dirahasiakan Dari Soka

1061 Kata
Dua orang sahabat yang dibesarkan dengan mimpi yang sama yaitu meneruskan kehormatan keluarga dengan garis keturunan para pahlawan besar di dalamnya. Berlatih bersama dengan perlakuan yang sangat keras oleh orang tuanya. Mereka hampir tidak diperbolehkan mengerjakan misi Medallion sampai mencapai tingkat menengah pada zaman yang dipenuhi oleh orang - orang kuat. Walau seringkali dipasangkan saat mengerjakan misi - misi sebagai seorang Medallion, tapi mereka sebenarnya memiliki kemampuan yang seimbang apabila berlatih tanding yang tak terhitung jumlahnya. Sampai akhirnya hanya mereka yang tersisa dari antara semua orang terbaik zaman tersebut. Di tengah perjuangan itu keduanya pun memilih jalan yang berbeda untuk mencapai tujuannya. Soka secara diam - diam membuat rencana untuk mengangkat namanya yang sudah terbenam oleh generasi berikutnya. Sementara Suki terus mempertahankan kehormatannya sebagai Medallion walau hanya sebagai penjaga gerbang atas Benteng Galesia. Namun Soka tidak memberitahukan rencananya itu kepada orang yang sudah seperti saudara selama berpuluh tahun lamanya. Dia hanya memendam rasa sakit akan penghinaan di dalam hatinya sampai mendapatkan kesempatan untuk membalikkan kenyataan dan memberitahu kepada dunia akan keberadaannya. Hari ini kedua orang yang sudah berbagi suka dan duka selama bertahun - tahun itu pun dipaksa oleh takhir dengan pilihan yang tidak terelakkan bahkan untuk Medallion tingkat tinggi sekalipun. Entah kutukan apa yang mereka warisi sehingga hidup dan mati harus ditentukan oleh orang yang sangat berharga baginya. “Suki, mengapa kau begitu keras kepala?” Soka bersiap untuk pertarungan yang tak terhindarkan. Dia pun bersiap dengan kekuatan yang tersisa setelah berhadapan dengan Horma tadi. Saat dia menoleh ke belakang hatinya menjadi gusar akibat jumlah Dokoon yang berkurang drastis dari yang berhasil masuk. “Kau tidak perlu melihat kebelakang Soka. Aku pastikan padamu tidak akan ada lagi Dokoon yang bisa masuk ke tempat ini.” “Sudah kuduga membiarkanmu hidup adalah pilihan yang salah. Tidak seharusnya aku meragu saat punya kesempatan seperti tadi.” Soka menatap orang yang dihadapannya dengan penuh amarah. “Lucu sekali karena aku tiba - tiba punya kekuatan yang cukup untuk menutup kembali gerbang tersebut. Bahkan para sampah yang tersisa di pintu masuk sudah aku bersihkan walau membutuhkan sedikit waktu. Tapi untungnya aku sempat datang ke tempat ini untuk melihat wajahmu yang telah gagal itu.” “Masih terlalu cepat untuk menyimpulkan hal itu teman. Kau seharusnya mengenalku setelah apa yang sudah kita lewati. Bagaimana caraku membuat rencana untuk setiap misi yang kita kerjakan sehingga menghasilkan keberhasilan.” Suki terdiam sesaat setelah mendengar perkataan Soka tersebut.  Kekuatan sebenarnya seorang Soka bukanlah terletak pada kekuatan bertarungnya, melainkan kecerdasannya dalam menyusun strategi tempur. “Huh, aku akan membuktikan kepadamu kalau apa yang kau yakini itu adalah suatu kekeliruan saja.” Suki mengangkat tangannya untuk memanggil senjata yang masih tergeletak di pintu masuk. “Hentikan senjata itu sebelum sampai ke tangannya!” Soka berteriak kepada para Dokoon yang ada di belakangnya. Tongkat itu pun melayang dengan cepat ke arah Suki dari kejauhan. Tas...tas...tas! Tongkat itu pun langsung menghancurkan semua yang menghalanginya. “Soka, apakah kau sudah lupa kalau aku sudah membuat tongkat ini menjadi jauh lebih berat daripada biasanya.” Tongkat itu sebenarnya sudah memilih berat yang luar biasa. Namun Suki yang dapat mengubah berat benda dengan mudah mengangkat tongkat itu. “Tap!” Kini tongkat itu sudah berada di tangan pemiliknya. “Maaf karena aku tadi meninggalkanmu disana tongkat tua.” Suki berbisik kepada senjatanya. Kedua tangannya langsung memegang ujung - ujung dari senjata tersebut lalu memutarnya berlawanan arah. Maka benda yang terbuat dari batu tersebut terpisah dengan titik tengah sebagai porosnya. “Sudah lama sekali ini tidak melakukan hal ini setelah misi terakhir kita.” Suki tersenyum dan mengecup senjatanya. “Suki Sang Tongkat Kembar, aku khawatir apakah kau benar - benar masih memiliki kekuatan untuk menggunakan teknik itu. Tapi kau pasti sadar saat menggunakannya kalau aku mengetahui setiap teknik yang kau miliki. Jadi aku tidak terkejut apabila kau menggunakan teknik ini.” Dengan memisahkan kedua tongkat tersebut bukan berarti membagi kekuatannya menjadi dua tapi setiap bagian tetap memiliki kekuatan yang sama dengan bentuk normalnya. Untuk melakukan teknik Suki harus menyalurkan kekuatannya sendiri kepada keduanya sampai titik terkuat. “Hehehe, sebagai orang tua kau terlalu sombong Soka. Ayahku pernah berpesan untuk menyisakan satu teknik untuk dirahasiakan dan tidak dipakai di hadapan siapapun, bahkan sahabat terdekat sekalipun agar aku memiliki kesempatan saat bertarung dengan seorang pengkhianat. Aku tidak menyangka pesan itu sangat berguna pada saat - saat terakhir di dalam hidupku.” “Kau pasti hanya menggertakku Suki. Orang banyak bicara sepertimu tidak mungkin dapat menyimpan rahasia dari siapapun terlebih aku yang setiap saat berada disisimu.” “Benarkah? Kalau begitu kau harus bersiap untuk terkejut sekarang. Pesan kedua ayahku setiap orang yang melihat teknik rahasia ini harus mati agar rahasia tetap tersembunyi atau aku yang mati.” “Apa?” Soka terkejut saat melihat kedua senjata Suki mengeluarkan cahaya berwarna jingga.  “Hehehe, padahal aku baru saja memperingatkan dirimu tapi kau langsung terkejut.” Suki tersenyum sinis. Dengan cepat Suki pun melempar salah satu dari tongkat tersenyum ke arah Soka. Namun dengan kecepatan seperti bukan perkara sulit bagi Soka untuk menghindarinya. “Aku kira apa. Ternyata kau hanya melemparnya seperti mainan anak - anak.” Soka tersenyum kemudian berbalik kepada lawannya. “Tas...tas...tas! Tongkat tersebut pun langsung menghancurkan sebagian besar Dokoon yang berdiri di belakang Soka. “Kurang ajar!” Soka sangat marah melihat pengikutnya telah berkurang lagi. “Siapa bilang aku berniat menyerangmu dengan kecepatan seperti tu. Apabila kau mengetahui kekuatanku, demikian pula aku yang sudah terbiasa dengan teknik dan kecepatan yang kau miliki.” “Cih! Aku tidak menyangka kau akan menggunakan tipuan murah seperti itu.” “Aku lebih suka menyebutnya sebagai strategi dalam bertarung. Tidak kebersamaan kita selama ini sehingga membuatku sedikit belajar darimu.” Soka yang sudah dikuasai oleh amarah pun menyerang Suki dengan cara yang sama dengan waktu melawan Horma. Kini banyak batu - batu yang semakin besar melayang kepada Suki dengan kecepatan yang terus bertambah. “Walau ukurannya berubah tidak akan mengubah kenyataan kalau berat dari tongkatku masih jauh diatasnya.” Suki dengan mudah menghancurkan semua batu - batu besar tersebut. Tongkat - tongkat itu dilemparkan ke dua arah berlawan dan berputar menghantam semua batu tersebut. Setelah sampai pada jarak tertentu maka tongkat itu pun kembali lagi kepada Suki dengan berat yang mampu diangkat manusia biasa. “Soka, kita dapat melakukan hal itu sampai esok hari kalau kau terus menggunakan teknik membosankan. Masalahnya apakah kau cukup kekuatan untuk melakukannya.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN