Kembalinya Marvin dan Pertarungan Jeremy

2181 Kata
Sekembalinya Horma ke dalam benteng Galesia yang didapatinya hanya beberapa orang yang berjaga saja, sedang orang - orang diperintahkannya untuk melapor tadi tidak terlihat dimanapun. Maka dia pun langsung menghampiri seorang penjaga yang terdekat dengan posisi dia berdiri saat itu untuk menanyainya. “Penjaga, apakah kau melihat orang - orang yang tadi lewat sini?” “Kalau yang anda maksud adalah Jetro dan kedua wanita itu sepertinya mereka berlari menuju gerbang yang ada disana.” “Apa tiga orang? Bukannya tadi aku memerintahkan kepada Nadine dan Jetro saja,” kata Horma dalam pikirannya. “Baiklah kalau begitu. Aku akan memeriksa kesana dulu. Untukmu panggil para penjaga lain untuk memperketat penjagaan. Gerbang atas telah diserang orang para Dokoon. Semoga mereka tidak sampai kesini. Kalian harus menjaga tempat ini sampai aku kembali.” “Baiklah nona Horma. Kami pasti akan menjaga tempat ini dengan mempertaruhkan nyawa.” “Aku senang mendengarnya.” Maka pergilah Horma dengan tergesa - gesa ke arah yang ditunjukkan oleh penjaga tersebut. Saat dia bergerak seseorang tiba - tiba muncul dalam pandangan matanya. Orang itu adalah pemuda yang tadi diperintahkan olehnya untuk berlindung bersama yang lain. Tapi saat ini yang terlihat pemuda itu sudah dalam keadaan terluka parah dengan darah yang bercucuran pada kedua tangannya. Tanpa berpikir panjang Horma langsung bergegas mendekatinya. “Bukankah kau Marvin yang tadi berlatih bersama dengan Nadine?”  Marvin yang tidak menjawab pertanyaan dari wanita itu. Pandangannya matanya kosong seperti barunya mengalami peristiwa yang mengguncang mentalnya. “Apa yang terjadi padamu Marvin? Darimana kau mendapatkan luka - luka ini?” Horma curiga kalau beberapa musuh telah berhasil masuk secara diam - diam sebelum dia berhasil menghadangnya. Tapi betapa terkejutnya Horma melihat bentuk luka yang ada pada tangannya tidak seperti terkena serangan akibat suatu pertarungan. Dari tanda - tandanya Horma menyadari kalau luka itu seperti seseorang yang baru saja mengerahkan kekuatan terlarang. Suatu kekuatan yang dapat meningkatkan sistem kerja pikiran dan jiwa manusia sehingga berakibat membuat beberapa pembuluh darah pecah. “Kau sepertinya terlalu memaksakan diri anak muda. Sebagai Medallion yang baru saja dibangkitkan seharusnya kau dapat mundur apabila lawanmu berapa pada tingkatan yang lebih tinggi.” Horma merobek sebagian lapisan jubah bagian dalamnya untuk membalut luka - luka yang masih terbuka pada lengan Marvin. Tapi sayangnya pemuda itu tidak menunjukkan tanda - tanda kesadaran sama sekali. Kemungkinan dia bergerak hanya dengan menggunakan instingnya untuk bertahan hidup saja. “Astaga, kita tidak mempunyai cukup kain untuk membalut semua lukamu. Sepertinya kita aku harus membawamu ke ruang perawatan untuk mendapat tindakan pengobatan yang lebih baik.” Marvin pun dituntun yang berjalan dengan tertatih - tatih mengikuti Horma ke ruang pengobatan. “Entah apa yang kau alami sampai kau memaksakan diri begitu rupa. Tapi yang terluka bukan hanya tubuhmu melainkan juga jiwamu.” “Mati!” Kata itu keluar dari mulut Marvin dengan perlahan. “Apa yang kau katakan anak muda? Siapa yang yang mati?” Tanya Horma sambil menatapnya penuh perhatian. “Orang itu harus mati.” Mata Marvin pun langsung terbelalak oleh amarah yang terpicu oleh pertanyaan itu. “Aku tidak mengerti apa yang kau maksud anak muda. Tapi kau tenanglah karena dalam keadaan seperti sebaiknya kau tidak mengeluarkan emosi yang berlebihan.” Horma mendekapnya dengan lembut dan terus menuntunnya sambil mempercepat langkahnya. Sesampainya di ruangan perawatan hanya terdapat seorang Priest pemula yang sedang belajar seperti June. “Apa yang terjadi disini? Dimana Jona yang bertanggung jawab disini?” Horma sambil membaringkan Marvin pada sebuah tempat tidur. “Maafkan aku noma Horma. Tuan Johan pergi membantu orang - orang yang bertarung di benteng bawah tanah. “Apa?! Dibawah tanah? Ternyata benar orang itu telah mempersiapkan rencana penyerangannya jauh lebih besar yang kubayangkan.” “Aku tidak mengerti apa yang anda maksud nona Horma. Tuan Jona hanya memerintahkan menjaga ruangan ini sampai dia kembali lagi. Oya apakah anda bertemu dengan Priest pemula yang baru saja dibangkitkan beberapa waktu lagi di luar saja?” “Sepertinya orang yang kau maksud itu pergi menuju gerbang bawah tanah juga.” “Astaga. Mengapa orang seperti itu berani pergi menuju medan pertarungan yang sangat berbahaya.” “Kau tenang saja karena dia pergi bersama dengan dua orang Medallion senior yang bisa diandalkan. Saat ini sebaiknya kau rawat orang ini agar dia bisa pulih kembali.” “Astaga apa yang telah terjadi para tubuh orang ini? Aku tidak pernah melihat seorang Medallion mengalami luka yang begitu fatal sampai merusak pembuluh darahnya.” “Panjang ceritanya. Apa hal terbaik yang bisa kau lakukan saat ini?” Tanya Horma kepada Priest tersebut. “Dengan kemampuanku saat ini hanya bisa mengeluarkannya dari keadaan kritis saja. Tapi untuk mengembalikan keadaannya menjadi seperti semula sepertinya membutuhkan waktu beberapa hari. Bahkan aku kagum dia dapat bertahan dalam kondisi seperti ini. Kalau bukan karena tekadnya pasti dia sudah mati.” “Aku mengerti. Lakukan yang terbaik menurutmu saja.”  Priest tersebut langsung mengambil beberapa ramuan untuk membasahi tangannya lalu mengeluarkan cahaya berwarna hijau pada telapak tangannya. Dengan perlahan dia pun menyentuh kedua tangan Marvin secara bersama - sama. Semua luka yang terbuka tadi pun perlahan tertutup satu persatu sehingga menghentikan pendarahannya. Nafas Marvin yang tadi tidak teratur perlahan menjadi normal setelah mendapatkan tindakan pengobatan dari Priest tersebut. “Wah kau ternyata sudah dapat menggunakan teknik tingkat menengah dengan ramuan. Kalau bukan karena bakat pasti karena kerja keras setiap hari.” Horma kagum dengan kemampuan Priest wanita itu. “Suatu kehormatan mendapatkan pujian dari seorang Medallion kebanggan Benteng Galesia seperti anda.” Priest tersebut pun menundukkan kepalanya sebagai rasa hormat. “Mengapa aku tidak tahu kalau di benteng ini terdapat seorang Priest berbakat sepertimu. Jona sepertinya sengaja melakukan ini agar dapat lebih bersantai disini.” “Anda terlalu berlebihan menilai kemampuanku yang biasa - biasa saja ini. Sesungguhnya saya bukan apa - apa kalau dibandingkan dengan tuan Jona.” “Kau tidak perlu terlalu merendah seperti itu. Dengan kemampuan dan kerja keras kau pasti dapat melampaui orang itu. Katakan padaku siapa namamu!” “Namaku adalah Adela pewaris dari Medallion yang bernama Adian. Aku berharap dapat berguna seperti pendahuluku.” “Oh ternyata aku sedang berbicara dengan penerus keluarga Medallion terkenal. Aku sering mendengar cerita dari ayahku tentang jasa - jasa keluargamu di masa lalu.” “Terima kasih atas perhatian anda. Semua untuk perdamaian dunia.” Adela kini bahkan menundukkan badannya. Saat mereka sedang berbicara Marvin bangun dari tidurnya dan bangkit secara tiba - tiba di hadapan mereka. Karena terkejut mereka pun tersentak karena melihat sesuatu yang mustahil dengan luka seperti itu. “Apakah kau tidak apa - apa anak muda.” “Bagaimana mungkin aku tidur di hadapan dua wanita cantik.” Horma terkejut dengan perubahan sikap yang ditunjukkan oleh Marvin yang tadinya meledak - ledak kini sudah terlihat seperti pemuda yang ditemuinya saat latih tanding dengan Nadine. “Seharusnya kau tidak perlu memaksakan diri bangkit dari tempat tidur kalau belum mampu?” Adela pun memberikan bantal sebagai sandaran untuk Marvin. “Wah mengapa June tidak pernah mengatakan kepadaku disini terjadi malaikat cantik yang dapat mengalihkan dunia lelaki manapun.” Marvin tersenyum menatap Adela dalam ke matanya. “Wah sepertinya gangguan pada pikiranmu belum pulih sepenuhnya.” Adela memalingkan wajahnya dan pergi mengambil minuman untuk Marvin. “Adela kau akan terbiasa kalau sering bertemu dengannya.” “Nona Horma mengapa aku ada disini?”  “Malah aku yang harus bertanya kepadamu. Aku tadi menemukanmu dalam keadaan terluka parah di jalan. Sepertinya kau telah memaksakan diri sampai menggunakan teknik terlarang bagi seorang Medallion baru sepertimu.” “Apa? Aduh! Kepalaku sakit saat berusaha mengingat apa yang terjadi.” “Tenangkan dirimu dulu. Kau tidak perlu terlalu memaksa. Mungkin memang butuh waktu bagimu untuk pulih seutuhnya. Kau sebaiknya tinggal disini untuk sementara karena aku mau pergi ke tempat teman - temanmu.” Horma bangkit dari tempatnya hendak pergi. “Nona cantik, yang terakhir yang dapat aku ingat hanya kami tidak bisa masuk ke dalam ruangan tuan Henri karena terkunci oleh suatu kekuatan yang aneh. Apakah kau mengetahui hal itu?” “Terkunci? Semoga tidak terjadi seperti yang aku pikirkan.”  “Apa maksud anda?” Tanya Adela yang datang dengan membawa air hanya dengan campuran obat pemulihan untuk Marvin. “Apakah kau pernah mendengar pertahanan absolut dari ruangan tuan Henri?”  “Sepertinya aku pernah mendengar hal itu dari tuan Jona dulu. Tapi bukankah kekuatan itu hanya akan aktif apabila tuan Henri dalam keadaan berbahaya saja?” “Kau benar Adela. Tapi walau namanya adalah pertahanan absolute tetap saja memiliki kelemahan yang merepotkan. Tidak akan ada yang dapat membuka pintu dari luar walau apapun yang terjadi karena kekuatan absolutnya. Satu - satunya cara untuk membukanya harus dari dalam saja oleh tuan Henri.” “Tapi setelah kami memanggilnya tetap tidak mendapatkan respon dari tuan Henri.” “Kalau begitu pasti telah terjadi sesuatu pada tuan Henri saat ini. Tidak ada yang bisa kita lakukan saat ini sampai pintu itu terbuka dengan sendirinya. Yang menjadi masalah adalah penyerang tiba - tiba oleh bantuan pengkhianat di pintu gerbang atas.” “Aku tidak bisa hanya berbaring di tempat tidur dalam keadaan seperti ini.” Marvin pun berusaha untuk bangkit dari tempat tidurnya untuk mengikuti Horma. “Jangan bodoh! Memangnya apa yang bisa kau lakukan dalam keadaanmu yang seperti ini?” Horma berbicara dengan suara keras dan mengejutkan seisi ruangan. “Apa yang dikatakan oleh nona Horma itu benar adanya. Seharusnya kau yang paling mengerti keadaanmu saat ini. Sebagai seorang Medallion hal pertama yang kau pikirkan adalah keadaanmu dahulu sebelum menyelamatkan orang lain.” Adela pun berusaha menahan Marvin yang masih memaksa. “Jadi kalian mau mengatakan kalau keberadaanku hanya akan menjadi beban saja?” Marvin menunjukkan raut wajah yang sedih akibat mendengar larangan dari kedua wanita yang ada di hadapannya. “Apapun yang terjadi aku melarangmu keluar dari tempat ini.”  “Aku tidak peduli karena diluar sana ada terdapat sahabat - sahabatku yang sedang berjuang.” “Diamlah dahulu beberapa saat sampai tubuhmu pulih!” Adela pun menahan tubuh Marvin dengan kedua tangannya dari belakang. “Nona Horma, anda dapat menyerahkan orang itu kepadaku. Sebaiknya anda pergi dan lakukan yang terbaik saja.” “Aku mengandalkanmu Adela. Dia memang orang yang keras kepala.”  “Hey aku mau ikut. Kalian tidak bisa menahan aku di tempat ini.” Saat Marvin ingin bangkit tiba - tiba kekuatannya langsung melemah dengan begitu drastis begitu saja. “Apa yang terjadi padaku? Seharusnya aku masih mampu berdiri tadi.” Ternyata Adela menggunakan kekuatannya untuk melemahkan kesadaran dari Marvin dengan tekniknya. “Terpaksa aku melakukan hal ini demi kebaikanmu pria bodoh!”  “Kau! Apa yang kau lakukan padaku?” Dengan mata yang semakin mengantuk Marvin perlahan melemah dan terbaring di tempat tidurnya. “Apakah kau tidak tahu kalau tadi aku sudah memberikan kepadamu obat penenang karena pasti kau akan bersikeras seperti ini. Selebihnya aku tinggal memperkuat pengaruh dari obat itu dengan menggunakan kemampuan yang kumiliki.” “Kau memang Priest yang berbakat. Sepertinya aku pun harus berhati - hati kalau menerima minuman darimu suatu hari.” Horma tersenyum dan langsung pergi meninggalkan Adela dan Marvin di tempat itu. Saat sampai di depan ruangan pengobatan Horma melihat asap tebal yang membumbung tinggi dari atas gerbang bawah. “Astaga apa yang terjadi dengan anak - anak itu? Aku harus bergegas sebelum terlambat.” “Duar...duar...duar!” Terdengar ledakan yang bertubi - tubi dari arah yang sama.  Tiba - tiba Horma pun melihat dua orang yang mengenakan jubah berwarna merah terlempar di udara. Setelah dilihat lebih jelas dia langsung terkejut karena mengenali kedua orang itu. “Nadine! Jetro!” Dengan kekuatan bola airnya Horma pun membuat dinding air untuk menangkap mereka sebelum terhempas ke tanah. “Uhuk...uhuk...uhuk! Guru, apa yang kau lakukan disini? Maafkan kami karena tidak dapat melakukan apa yang perintahkan dan terpaksa pergi kesini.” Nadine berusaha bangkit dari setelah berhasil mendarat di tanah. “Nona Horma, aku akan menjelaskan alasannya nanti kepada anda. Saat ini biarkan aku memberi perhitungan kepada orang - orang yang telah melukai Milia itu!” Jetro bahkan langsung berlari kepada pertarungannya kembali. “Apa yang telah terjadi disini? Mengapa kalian bertindak tanpa pertimbangan terlebih dahulu.” Horma berteriak dengan suara keras. Tapi Nadine tidak begitu memperdulikan perkataan gurunya tersebut. Jubahnya langsung menyala seiring dengan semangat juangnya yang kembali membara. Nadine pun langsung mengambil anak panahnya kemudian menembakkan ke depan Jetro. Horma yang menyadari kalau kedua orang itu tidak memperdulikan perkataannya pun berlari menuju sumber keributan itu.  “Mengapa aku harus memiliki murid yang tidak bisa diatur seperti ini?” Dengan kesal Horma terus berlari menuju medan pertempuran. “Kau kan?” Horma terkejut saat melihat seseorang yang sedang bertarung dengan gagah di didepannya. Tapi orang itu tidak menyadari kehadiran Horma yang tiba - tiba bergabung.  “Maafkan aku Jeremy karena tadi sedikit lengah sehingga terlempar cukup jauh.” “Yang penting kau kembali dalam keadaan baik - baik saja.”  Jeremy saat ini menggunakan mode tempur dengan jubah ungu tua menggunakan tongkat Otora yang berubah menjadi sebuah palu besar di tangannya. Palu tersebut dapat menghancurkan Dokoon dalam jumlah banyak dalam sekali pukul. Setelah terkena pukulan itu mereka langsung hancur berkeping - keping bagaikan semangka yang terpecah oleh hantaman batu besar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN