Kebenaran dan Persahabatan

1098 Kata
Pertarungan antar Medallion tidak bisa dihindari lagi antara Horma dan Soka. Dalam hal jangkauan serangan sudah dipastikan kalau Horma sangat diuntungkan oleh kemampuannya yang dapat menyerang dari jauh. “Apakah kau yakin ingin bertarung dengan kemampuanmu itu?” Horma tersenyum. “Kau sebagai orang yang memiliki pengalaman dalam banyak misi dan pertarungan seharusnya tidak memandang kemampuan lawan seperti itu nona Horma.” “Kau tidak perlu mengajariku penghianat busuk!” “Aku heran mengapa orang - orang dengan cara pandang yang buruk seperti kalian lebih dipercaya dibanding kami. Pendahulumu pasti akan malu apabila mendengar perkataanmu.” “Tidak usah banyak omong sampai kau membawa - bawa para pendahuluku yang terhormat.” “Ya kau benar. Mereka adalah orang - orang terhormat dengan kekuatan yang tidak ada duanya. Aku mengetahuinya karena pada masa muda dulu beberapa kali bertarung bersama mereka. Tapi lihat penerusnya hanya seorang wanita dengan pemikiran sempit.” Amarah Horma yang terpicu oleh perkataan Soka pun tidak dapat mengendalikan dirinya lagi. Kemudian wanita itu pun mengerahkan kemampuannya dengan menyerang Soka menggunakan cambuk air yang keluar dari dinding di belakangnya. Soka yang tersenyum melihat serangan tersebut pun dengan mudah mengelakkannya. Bahkan saat bergerak Soka tidak bergerak jauh dari tempat dia berdiri sebelumnya. Sesekali dia hanya berputar - putar di tempat dia berdiri.  Hal itu pun semakin membuat Horma penasaran karena serangannya belum sekalipun menyentuh targetnya. Maka dia tidak tinggal diam dan meningkatkan kecepatannya dan berusaha mengunci pergerakan dari Soka. Tapi sayangnya walau sudah berusaha dengan segala cara tetap saja Soka dalam mengimbangi kecepatannya seolah - olah dapat menerka kemana serangan Horma selanjutnya. “Hahahaha, apakah hanya itu kemampuan seorang Medallion dari generasi ini. Seharusnya kau malu karena serangan itu bahkan tidak dapat menyentuhku yang sudah tua ini. Aku tidak bisa membayangkan seberapa lemah orang - orang yang ada dibawahmu.” “Lucu sekali! Padahal daritadi kau hanya menghindar dan hanya berlari kesana kemari tanpa memberikan serangan sama sekali.” “Menyerangmu? Apa kau bercanda? Kau kira sudah pantas untuk mendapatkan serangan dari petarung lemah sepertimu. Bahkan kalau aku berhasil mengalahkanmu pun masih terasa mempermalukan diriku sendiri.” “Jangan mulutmu orang tua! Serang aku kalau kau memang merasa mampu. Atau kau hanya mencari alasan karena tidak bisa mendekat.” Horma semakin terbakar oleh amarah oleh kebenaran yang diungkapkan oleh Soka. “Konyol sekali! Tapi baiklah aku akan membuktikan kepada kalian seberapa jauh perbedaan kekuatan diantara kita saat ini.” Soka menunduk dan mengambil setumpuk serpihan batuan seperti pasir yang ada disekitarnya.  “Aku kira kau mau melakukan apa orang tua. Kau kira dapat mengalahkanku menggunakan benda itu.” Soka pun tersenyum sinis mendengar perkataan Horma. “Sebaliknya aku penasaran bagaimana caramu menghadapi benda ini.” Soka melemparkan semua yang ada di dalam genggamannya ke arah Horma yang pertahananya sedang terbuka lebar. Semua serpihan batu itu pun berubah menjadi batu - batu besar yang melaju dengan kecepatan tinggi. Semakin jauh dari Soka maka batu - batu itu pun menjadi semakin besar. “Apa?! Ternyata kau sudah merencanakan semua ini dari awal karena mengetahui disini terdapat banyak pasir.” Walau Horma terkejut akan serangan di luar perkiraan itu. Dia masih berusaha berpikir dengan tenang untuk menghadapinya. Horma memajukan kedua tangannya ke depan sehingga dinding air yang tadi ada di belakangnya langsung bergerak dengan cepat melewatinya. Saat ini dinding air yang sangat kuat itu pun sudah berada di hadapannya untuk menahan batu - batu besar tersebut. Walau sudah memperkuatnya, tetap saja batu - batu itu masih terus bergerak maju untuk menerobosnya. “Kau memang wanita yang keras kepala nona Horma. Kalau wanita biasa pasti sudah menjadi daging cincang dari tadi.”  “Tidak perlu berkata yang tidak perlu. Aku akan membuktikan kepadamu kalau aku dan generasinya pantas untuk menjadi penerus para pendahulu kami.”  “Menarik sekali. Tapi sepertinya kau pun masih kewalahan menghadapi sepuluh persen dari kekuatanku itu. Kalau saja sekarang kita berada diluar pasti aku sudah mengubah ukuran batu - batu itu menjadi sebesar gunung dan langsung menimpamu.” Horma yang mulai terdesak akibat serangan Soka yang terus menekan pertahanannya. Akibat terlalu mengeluarkan banyak tenaga maka Horma pun mengeluarkan darah dari mulutnya.  “Sayang sekali kau memang harus mati di tempat ini anak manis. Tunggu! Apa yang terjadi?” Soka terkejut karena serangannya tiba - tiba terhenti di dalam dinding air tersebut. “Maaf nona Horma. Akulah yang bertanggung jawab menjaga gerbang disini.” “Mengapa kau bisa ada disini Suki?” “Sudah jelas karena aku akan menghentikan penghianat sepertimu.”  Suki yang baru saja tiba ternyata langsung menyentuh dinding air itu dan mengubah beratnya menjadi lebih berat sehingga batu - batu itu pun tidak mampu menerobosnya. “Tuan Suki, aku kira kau sudah dihabisi oleh orang itu. Uhuk...uhuk...uhuk!” Horma berbicara sambil menahan darah yang terus keluar dari mulutnya. “Dia mengira kalau aku sudah mati karena kehabisan tenaga dan meninggalkanku di dinding tadi. Aku pun tidak mengerti apa yang sudah terjadi tiba - tiba kekuatanku yang sudah hampir habis terpakai kembali seperti semula.” “Syukurlah kalau begitu. Sepertinya keberuntungan masih berpihak kepada kita sebelum benteng ini jatuh ke tangan musuh.” “Nona Horma, apakah kau sudah memberitahukan apa yang terjadi disini kepada tuan Henri?”  “Aku sudah memerintahkan dua orang Medallion untuk melakukan hal itu tapi sepertinya mereka mendapatkan masalah di perjalanan kalau perhitungan benar.” “Dibalik pemikiranmu yang sempit ternyata kau seorang yang tidak terlalu bodoh nona Horma. Tadi aku terlanjur mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya sehingga kau menyadarinya.” “Kau benar. Aku tersadar akan masalah yang terjadi di dalam benteng setelah mendengar perkataanmu tadi.” Horma berusaha memulihkan kekuatannya yang terpakai lebih dari setengah untuk menahan serangan Soka. “Tapi sayangnya apapun yang kalian lakukan saat ini tidak akan mengubah kenyataan kalau kami sudah menguasai benteng ini sebelum kalian mampu bertindak.” “Nona Horma, serahkan semua yang ada disini kepadaku. Kau sebaiknya kembali ke dalam benteng untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi. Aku rasa kehadiranmu akan lebih dibutuhkan disana.” “Apa kau yakin dapat menghadapi sahabatmu itu tuan Suki?”  “Tolong jangan katakan hal yang memalukan itu lagi. Sejak dia memutuskan untuk mengkhianati kita maka dia bukan lagi sahabatku.” “Maafkan aku tuan Suki. Aku serahkan sisanya kepadaku. Semoga kau diberi kemampuan untuk menentukan keputusan yang tepat apabila waktunya tiba.” “Sejak menjadi seorang Medallion aku sudah menempatkan kebenaran melebihi apapun termasuk perasaan sekalipun.” “Padahal aku sangat ingin melihat pertarungan seorang legenda sepertimu melawannya. Tapi untuk saat ini aku akan mengikuti saranmu saja.” Horma pun kembali ke dalam Benteng Galesia dengan langkah yang tertatih - tatih dan tenaga yang tersisa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN