Jetro yang berlari sangat tergesa - gesa diikuti oleh Nadine dari belakang sampai tidak memperhatikan lagi siapa yang ada disekitarnya. Di perjalanan mereka melihat seseorang yang dikenal sedang dalam kebingungan. Maka dia menyempatkan diri menghampiri orang itu.
“June, apa yang kau lakukan disini? Bukankah kau sudah diperintahkan untuk berlindung oleh nona Horma tadi?”
“Maaf tapi kami juga ingin membantu untuk membalas jasa - jasa kalian. Tapi sebelumnya aku ingin menyampaikan informasi. Bukankah kau tadi yang bersama dengan nona Horma?”
“Guru sedang menahan para Dokoon yang berhasil menerobos gerbang. Sementara kami diminta untuk melaporkan hal itu kepada tuan Henri.” Nadine menyela mereka yang sedang berbicara.
“Aku ada berita buruk.”
“Berita buruk apa June,” tanya Jetro.
“Tadi kami sudah pergi ke tempat tuan Henri. Tapi ternyata pintunya tidak dapat dibuka sekalipun kami sudah berteriak memanggil dari luar.”
“Apa? Bagaimana mungkin.” Jetro terkejut mendengar keterangan dari June.
“Memangnya apa yang telah terjadi Jetro?” Tanya Nadine dengan nada keras.
“Pintu itu tidak akan bisa terbuka kecuali tuan Henri yang membukanya dari dalam. Nah kalau dia tidak bisa mendengar suara dari luar berarti sistem pertahanan pintu itu sudah sampai pada tingkat yang lebih tinggi.”
“Kita harus segera memberitahukan hal ini kepada tuan Horsa.”
“Benar apa kata Nadine.”
“Itu masalah yang kedua. Tadi aku dan Marvin melihat tuan Horsa secara diam - diam berbicara dengan seorang Dokoon disana.”
“Yang benar? Pasti kau salah lihat June.”
“Jetro, aku mungkin salah lihat. Tapi aku adalah seorang priest yang dapat membedakan dengan benar aura seorang Medallion dan Dokoon.”
Jetro dan Nadine terdiam dengan ucapan June yang memang benar adanya.
“Apakah kau memiliki bukti untuk hal itu?” Tanya Nadine.
“Tidak, oleh karena itu sekarang Marvin sedang mengikuti tuan Horsa untuk mendapatkan bukti.”
“Kalian memang suka mencari masalah. Padahal kalau kau berlindung pasti tidak akan sampai begini.”
“Apa maksud perkataanmu Jetro?” Nadine membentak.
“Menurutmu apakah ada yang percaya dengan perkataan seperti itu? Yang ada dia malah akan dianggap pembohong. Oleh karena itu sebaiknya kau tidak memberitahukan hal itu kepada siapapun untuk kebaikanmu sendiri.”
Nadine menatap dalam kepada Jetro yang bersikap tidak seperti biasanya. Dia curiga kalau Jetro pasti mengetahui sesuatu tapi berusaha menyembunyikannya karena alasan tertentu.
“Duar...duar...duar!” Terdengar suara ledakan dari gerbang yang dituju oleh Jeremy.
“Jangan lagi!”Jetro terduduk karena bingung harus melakukan apa.
June yang mendapat firasat buruk tentang Jeremy pun langsung pergi menuju arah datangnya suara ledakan itu.
“June apa yang mau kau lakukan?” Jetro berteriak tapi tidak dipedulikan oleh June.
“Jetro, ayo kita ikut dia! Kita tidak mungkin membiarkan seorang Priest pergi menuju tempat berbahaya sendirian.”
Mendengar perkataan Nadine maka Jetro pun membulatkan tekadnya karena perkataannya adalah kode etik seorang Medallion yang tidak bisa dilanggar sama sekali. Belum lama berlari mereka pun melihat Jeremy yang sedang membawa seseorang yang sedang terluka dari jauh.
“Jetro, bukankah itu Milia yang sedang terluka?”
“Kau benar Nadine.” Jetro pun langsung mempercepat langkahnya karena kedekatannya dengan Milia.
Setelah mereka dekat di dapatilah Milia hampir tidak sadarkan diri lagi.
“Milia, apa yang terjadi padamu?”
“Tenangkan dirimu Jetro.” June menahan Jetro agar tidak menyentuh Milia yang sedang terluka parah.
“Apa yang terjadi padanya Jer?” Jetro kelabakan melihat sahabat dekatnya sudah bersimbah darah.
“Sepertinya dia bersama para Medallion lain tadi menahan para Dokoon yang berhasil menerobos gerbang bawah tanah. Aku hanya menemukan dia yang berhasil selamat dari p*********n itu.”
“Dasar Dokoon kurang ajar. Biar aku yang menghajar mereka.”
“Tenangkan dirimu Jetro! Kau tidak akan bisa menghadapi Dokoon dalam jumlah sebanyak itu.”
“Kau mudah mengatakannya Jeremy. Bayangkan bagaimana kalau yang mengalami hal itu June atau Marvin?” Jetro meneteskan air mata saat berkata kepada Jeremy.
“Aku mengerti perasaanmu Jetro. Tapi pertimbangkan juga perasaan Milia apabila kau juga menjadi korban di sana nanti. Oya dimana Marvin?”
“Tadi….” June terdiam saat Nadine menyentuhnya dengan lembut.
“Oh tadi kami terpaksa berpencar untuk mencari bantuan.”
“Jadi apakah mereka sudah mengetahui apa yang terjadi pada ruangan tuan Henri?”
“Kami sudah mendengar masalah itu dari June tadi Jer.”
“Baguslah. Tapi sepertinya kalian pun juga tidak bisa berbuat apa - apa untuk menyelesaikan masalah ini bukan?”
“Kau benar kalau dengan kekuatan kita tidak akan bisa. Dibutuhkan kekuatan yang besar untuk membatalkan sistem pertahanan pintu itu atau izin langsung dari tuan Henri sendiri.”
Saat mereka sedang berbicara tiba - tiba June dan Jeremy dikejutkan oleh kehadiran kekuatan kegelapan yang mendekat.
“Teman - teman, apakah kalian merasakannya?”
“Iya June, gue tahu apa yang lo maksud. Tapi gue gak nyangka kalau mereka dapat bergerak secepat ini.”
“Kalian ngomong apa sih Jer?” Nadine bingung dalam melihat sekitar tapi tidak mendapati apapun disitu.
“Nadine, kalah dalam keadaan terdesak apakah kami diijinkan untuk bertarung untuk membela diri?”
“Jetro?” Nadine melihat kepada Jetro.
“Mengapa kalian harus mempertanyakan sesuatu yang sudah pasti jawabannya. Bukankah kalian juga Medallion yang sudah dibangkitkan oleh ritual. Sebenarnya hanya masalah waktu sampai kalian dipaksa untuk bertarung demi kedamaian di dunia ini.”
“Baiklah sepertinya sudah diputuskan dan Jetrolah yang bertanggung jawab.”
“Apa maksudmu June? Mengapa kau menimpakan semua tanggung jawab kepadaku?”
“Bukankah sudah jelas jawabannya karena kau adalah seorang pria.”
“Hah?! Jetro pun tidak bisa berdalih atas jawaban Nadine tersebut.
“Akhirnya kalian tiba juga sampah dunia!” Jeremy pun berdiri dan menyerahkan Milia yang sedang terluka kepada June untuk disembuhkan.
“June, lakukan dengan cepat karena kita juga membutuhkan kekuatannya.”
“Tenang aja Jer. Lo bisa andalin gue kok.” June langsung membawa Milia ke tempat aman kemudian memulai teknik penyembuhan dengan menggunakan kekuatan harpa sucinya.
Para Dokoon pun langsung mengepung mereka dan bersiap melakukan serangan dengan senjata yang sudah basah oleh darah para Medallion sebelumnya.
“Akan aku buat kalian menyesal karena telah menginjakkan kaki kotor kalian di rumah kami.” Nadine mengambil panahnya dan bersiap menyerang dengan kekuatan apinya.
“Nadine, kendalikan dirimu dan hematlah tenaga karena kita tidak tahu seberapa banyak mereka yang telah masuk ke dalam benteng.”
“Kau tidak perlu mengajari aku Jetro. Yang penting sekarang aku sudah tidak bisa menahan apa atas apa yang mereka lakukan terhadap teman - teman kita.”
“Lakukanlah semaumu.” Jetro yang sudah berubah ke mode tempur langsung dengan senjata sarung tangan dengan ujung jari tajam seperti cakar binatang buas.
Tanpa menunggu aba - aba dia langsung menyerang dengan cepat. Tanpa ampun Jetro mencabik - cabik para Dokoon dari kepala sampai ke kaki menjadi potongan kecil.