“Jetro, apa yang sebenarnya telah terjadi disana? Aku merasakan kegelapan yang bergerak dengan cepat mendekat dari arah depan. Sepertinya kita telah terlambat untuk menahan para Dokoon itu.”
“Tidak mungkin nona! Penjaga gerbang itu adalah dua orang dengan kekuatan yang luar biasa. Menurut perhitunganku seharusnya mereka bisa menahan musuh sampai kita tiba disana.”
“Jetro benar guru, mereka berdua adalah Medallion terpilih untuk menjaga gerbang.”
“Kalau begitu apa artinya semua itu?” Mereka tiba - tiba berhadapan dengan sekumpulan Dokoon yang berjubah hitam.
“Apa? Mereka hanya Dokoon tingkat menengah. Bagaimana mungkin para penjaga itu bisa dikalahkan oleh lawan seperti ini.”
“Jetro dan Nadine, cepat laporkan apa yang terjadi disini kepada tuan Henri dan Horsa agar segera datang kesini. Aku mendapatkan firasat buruk akan hal ini. Untuk sementara biar aku yang menahan mereka.”
“Tidak guru! Biarlah aku saja yang menghadapi sampah seperti mereka.” Nadine berubah ke mode tempur dan menarik anak panahnya.
Para Dokoon yang melihat Horma langsung menyadari kalau orang yang ada di depannya bukanlah lawan biasa karena jubah yang dikenakan dan senjata berkekuatan tinggi di tangannya.
“Kendalikan dirimu Nadine! Kita tidak bisa gegabah dalam keadaan seperti ini. Lagipula kita belum mengetahui penyebab mereka dapat menerobos gerbang air itu.”
“Maafkan aku guru. Tapi apabila kita berlama - lama disini mereka akan menjadi semakin banyak.”
“Aku tidak akan membiarkan mereka melangkah kaki lebih dari ini.” Horma mengubah bola air kecil di tangannya menjadi sebuah dinding air yang sangat tinggi dan tebal untuk menahan para Dokoon.
Bahkan Jetro dan Nadine pun langsung terdorong oleh kekuatan dari dinding air tersebut.
“Kami akan segera kembali secepatnya nona.” Jetro dan Nadine pun berpaling dan berlari sekuat tenaga menuju ruangan Hendri. Dia belum menyadari masalah lebih besar sedang menantinya disana.
Horsa menyentuh dinding air yang ada di belakangnya kemudian terbentuklah sebuah tombak dari air. Dengan sedikit ayunan dari tombak itu mengeluarkan sebuah bilah tebasan dari dinding air tersebut mengarah ke depan.
Sebutan ksatria danau ternyata bukanlah isapan jempol belaka. Bahkan serangan kecil seperti itu dapat menumbangkan setengah dari musuh yang berdiri paling depan.
“Berani sekali kalian makhluk kotor menginjakkan kaki di dalam benteng Galesia yang suci ini. Kalau begitu aku akan memberikan mayatkan kalian menjadi santapan ikan - ikan di danau ini.”
Tidak terima dengan perkataan Horma, seorang Dokoon memimpin satu barisannya untuk menyatukan kekuatan untuk menyerang. Barisan ini adalah para pengguna senjata gelap berbentuk tongkat terbuat dari tulang. Dengan satu kali serangan mereka dapat menciptakan ratusan bola kegelapan untuk menyerang Horma.
Horma yang melihat serangan besar itu pun tidak bergeming sama sekali. Dia hanya berdiri tempatnya dan menunggu serangan itu datang.
Saat bola - bola kegelapan itu hampir menyentuh Horma dinding air pun mengeluarkan perisai dan menahan semua serangan yang dilancarkan secara bertubi - tubi tersebut.
“Sudah kuduga kalian pasti melakukan sesuatu untuk menembus penghalang pada gerbang air. Tapi masih ada sesuatu yang janggal. Tidak mungkin kalian dapat melawan kedua orang itu.”
“Tentu saja nona Horma yang terhormat.”
“Tuan Soka, apa kau lakukan disana?” Horma terkejut dengan Soka yang muncul dari antara para Dokoon yang sedang bergerombol.
“Apakah kau tidak bisa menerka apa yang telah terjadi dari posisiku saat ini?”
“Mengapa kau melakukan hal ini? Apa terjadi pada tuan Suki?”
“Hahaha, lucu sekali kau bertanya sesuatu yang sudah pasti seperti itu.”
“Tidak, dia tidak akan mati dengan mudah. Kau lebih mengenalnya dibanding siapapun.”
“Terserah padamu kalau tidak mempercayainya.”
“Aku tidak mengira seorang Medallion terhormat sepertimu dapat melakukan hal hina seperti ini.”
“Apa maksudmu hina? Bagiku perlakukan kalian kepada kamilah yang merupakan penghinaan. Aku sudah menahan semua semua itu sekian lama sampai akhirnya aku dapat kesempatan untuk membalasnya.”
“Aku tidak mengerti maksudmu tuan Soka?”
Horma menyadari kalau keadaan semakin buruk sehingga secara diam - diam dia memperkuat dinding air tersebut.
“Jangan banyak tanya wanita bodoh! Apakah aku tidak mengetahui apa yang sedang kau lakukan saat ini. Aku sudah bisa menggunakan semua kekuatan Medallion sampai tingkat sempurna sebelum kau menggunakan jubah itu.”
Sekalipun Horma adalah orang kepercayaan dari Henri tapi dari segi kekuatan belum bisa dibandingkan dengan Soka yang lebih senior. Namun Horma bukanlah wanita biasa. Tekadnya melebihi seorang lelaki pada umumnya. Tak sedikitpun dia menunjukkan rasa gentar di hadapan Medallion tingkat tinggi seperti Soka.
“Aku peringatkan kepadamu dan kalian semua mundurlah agar tidak kehilangan nyawa sia - sia disini.” Horma menatap lawannya dengan tajam.
“Tidak seperti biasanya nona Horma. Setahuku para Medallion tidak pernah membiarkan seorang Dokoon melarikan diri. Apa kau takut karena tidak bisa melawan kami semua.”
“Sekali lagi aku perintahkan kepada kalian untuk pergi dari sini sebelum aku kehabisan kesabaran!” Horma menaikkan suaranya untuk menekan mental dari para Dokoon.
Apa yang dilakukannya tidaklah percuma. Beberapa Dokoon terpengaruh dan menunjukkan sedikit pergerakan mundur.
“Apakah kau melihat mereka? Kau telah membawa para pengecut kesini.”
Mendengar perkataan itu Soka berbalik dan melihat siapa saja para Dokoon yang bergerak mundur, bahkan yang hanya bergerak sedikit saja. Dia mengambil beberapa batu kecil dari tanah dan melemparkannya sehingga menghancurkan kepala mereka.
“Apabila masih ada yang mau mundur maka kematianlah yang menanti kalian.”
“Kurang ajar kau tuan Soka, ternyata kau lebih busuk daripada para Dokoon ini.”
“Jangan salah sangka nona Horma. Aku tidak akan membiarkan rencanaku digagalkan hanya karena kebodohan beberapa sampah seperti itu.”
Untuk pertama kalinya Horma melihat seseorang dengan niat jahat yang begitu besar di hadapannya. Jauh di dalam hatinya timbul rasa gentar yang tak terkatakan. Tapi sebagai seorang wanita yang menjunjung tinggi harga diri tinggi akhirnya dia pun berhasil menekan rasa takut itu.
“Kau memang wanita yang merepotkan. Sepertinya aku harus menghabisimu dengan tanganku sendiri.” Soka pun maju melebihi semua Dokoon yang ada disitu.
Pertarungan para Medallion adalah sesuatu yang langka, terlebih saat ini yang bertarung adalah Medallion tingkat tinggi. Tapi perang saudara satu benteng adalah perkara yang jauh lebih mengerikan bagi seorang Medallion.
“Kau benar pengkhianat. Seperti pertarungan tidak akan bisa dihindari lagi. Lagipula aku memang pernah berpikir untuk berlatih tanding dengan seorang penjaga gerbang legendaris sepertimu.”
“Berarti hari ini kau beruntung dapat bertarung bukan hanya latihan tapi mempertaruhkan hidup dan mati. Disamping itu kau juga mengalami kesialan karena akan menghentikan perjuangan sebagai Medallion dihari yang sama. Apakah kau serius akan bertarung sambil bertahan dengan dinding air itu.”
“Jangan mengecohku! Kau ingin para Dokoon itu masuk sementara kita sedang bertarung bukan?”
“Padahal aku hanya memberi saran agar kau tidak mati dengan cepat saja. Tapi kau terlihat sangat berhati - hati. Tenang saja, cepat atau lambat kami pasti akan menguasai tempat ini.”
“Tidak akan selama tuan Henri ada disini.”
“Sayangnya dia tidak akan bisa berbuat apa - apa saat ini.” Soka tersenyum dengan pandangan sinis.
“Apa maksudmu?” Horma terkejut dengan ucapan Soka.
“Beberapa waktu lagi kau akan tahu nona cantik.”