Medallion Yang Mencurigakan

1132 Kata
Untuk mencari bala bantuan maka Marvin dan June berpisah dengan Jeremy ke arah arah yang berlawanan. Dengan pengetahuan yang terbatas akan tempat itu mereka tidak bisa bertanya kepada siapa pun karena orang - orang sedang bergerak ke arah gerbang yang pertama kali diserang tadi.  “June, kelihatannya telah terjadi masalah yang lebih besar di tempat yang dituju oleh nona Horma.” “Lo benar, tidak ada satupun orang yang bisa diajak berbicara dalam keadaan seperti ini. Kalau gitu berarti kita hanya bisa mengandalkan kekuatan sendiri untuk mencari bantuan.” “Ya udah Vin. Ngomong - ngomong kayaknya gue pernah lihat tuan Horsa sering bekerja dimana.” “Dimana tuh?” Marvin bertanya sambil berlari bersama June. “Gue gak tahu itu tempat apa. Tapi yang jelas terlihat banyak ukiran - ukiran aneh di dindingnya. Ikuti gue deh!” Mereka pun mempercepat langkahnya untuk memeriksa keberadaan Horsa di tempat yang dimaksud oleh June. “Nah abis belokan itu kita akan akan langsung sampai ke tempat itu.” “Lo kenapa jadi kayak Jeremy ngomongnya.” “Maksud lo apa Vin?” “Ah gak apa - apa. Gue cuma asal ngomong aja kok.”  “Masak, kayaknya tadi gue denger lo sebut nama Jeremy deh.” June berhenti dan menatap Marvin mata penuh curiga. “Iya beneran. Sekarang dimana tempat yang lo maksud tadi June?” Marvin membuang muka dan mencoba mengalihkan perhatian.  June ada orang yang paling tidak suka disindir. Terlebih kalau oleh yang menyindirnya adalah seorang pria. “Awas lo kalau gue denger ngomong yang aneh - aneh lagi! Tempatnya disitu.” “Tunggu dulu! Gue gak salah lihat kan June?” “Emangnya lo lihat apa?” June melihat ke arah pandangan Marvin dan terkejut karena melihat Horsa sedang berbicara dengan seseorang yang berpakaian serba hitam.  Mereka pun dengan cepat langsung bersembunyi di antara barang - barang yang menumpuk disitu. “Itu Dokoon kan Vin?” June terkejut karena dia pernah memiliki pengalaman diculik oleh para Dokoon dan sangat mengenal hawa keberadaan mereka. “Lo benar June. Tapi kenapa tuan Horsa malah berbicara dengan Dokoon itu? Lo gak memikirkan apa yang pikirkan?” “Belum tentu Vin. Kayaknya apa yang kita pikirin sama deh. Aku tidak percaya orang yang sangat dipercaya oleh tuan Henri dalam berbuat seperti itu.” “Iya nih. Pantesan aja para Dokoon itu bisa mengetahui keberadaan dari tempat yang sangat rahasia ini.” “Berarti kita sudah terjebak dalam rencana mereka nih Vin.” “Tapi kita tidak bisa menuduhnya tanpa bukti yang jelas dong.”  “Mau bukti apa lagi June. Mana ada seorang Medallion yang berbicara dengan seorang Dokoon begitu akrabnya.” “Terus kalau kita ngomong ke orang - orang memangnya mereka bakal percaya gitu?” “Kau benar June. Lalu apa yang dapat kita lakukan kalau sudah begitu?” “Awas Vin! Kayaknya tadi gue lihat dia menoleh ke arah kita untuk sementara deh.“ “Eh iya loh. Jangan - jangan dia sudah menyadari kehadiran kita disini. Gimana kalau kita pergi saja dari tempat ini sebelum terlambat. Lagipula kita tidak bisa bertarung dengan seorang Medallion kelas atas sepertinya.” “Lo tenang aja Vin. Gue udah buat pelindung yang dapat menyamarkan keberadaan kita disini kok. Selagi dia tidak melihat kita secara langsung berarti masih aman.” “Gue baru tahu kalau Golongan Priest ternyata punya banyak kemampuan yang sangat berguna dalam keadaan seperti ini.” “Maksud lo kemampuannya lainnya gak berguna gitu? Enak aja lo merendahkan golongan Priest di hadapan gue. Tanpa gue lo mungkin sudah mati dari tadi di tangan penghianat itu.” “Jaga omongan lo June. Kita belum punya bukti yang pasti loh.” “Oya iya. Padahal tadi gue yang ngomong gitu ya.” Saat mereka sedang berbicara tiba - tiba Horsa menghilang dari tempat itu. “Dia kemana Vin?” June melihat ke segala arah tapi tidak menemukan keberadaannya. “Eh kok hilang. Lo bisa merasakan keberadaan dari Dokoon yang ngomong sama dia tadi gak?” “Tunggu bentar.” June langsung meningkatkan kemampuan deteksinya yang merupakan salah satu teknik dasar seorang Priest. “Gimana June? Dimana dia?”  “Lenyap. Sama sekali hilang seperti ditelan bumi.” June menggelengkan kepalanya. “Kayaknya Horsa pergi ke arah sana deh. Kalau dia lewat sini pasti sudah terlihat sama kita kan?” “Oke. Sebelum itu gue minta lo untuk gak melepaskan tangan dari gue supaya keberadaan kita tidak disadari olehnya.” “Gandengan nih. Ya udah mau gimana lagi.” Dengan berat hati akhirnya pergilah Marvin dan June sambil bergandengan tangan mengikuti kemana perginya Horsa. Sesampainya di suatu lorong saat mengikuti jejak dari Horsa, mereka dibuat bingung karena di depannya terdapat banyak jalur yang terpisah.  “June, dia pasti melalui salah satu dari jalur ini. Apakah kau dapat merasakan hawa keberadaannya diantara semua jalur ini?” June pun mengarahkan tangannya ke semua jalur tersebut untuk mendeteksi jalur yang harus mereka tempuh berikutnya. “Orang ini memang hebat. Dia dapat menekan hawa keberadaannya hampir lenyap sehingga sulit bagiku merasakannya. Tapi sayangnya aku punya cara tersendiri untuk mengetahuinya.” “Apa maksudmu June? Memang ada cara lain?” Marvin bingung. “Tentu saja dari aroma tubuhnya. Semakin tinggi kekuatan seorang Medallion maka akan semakin tajam aroma tubuh mereka. Selama berada di tempat ini aku menyadari setiap Medallion memiliki ciri khas aroma masing - masing.” “Gila sih. Lo sampai belajar sejauh itu June. Kalau gue sih gak akan mau mencium bau tubuh orang cuma buat latihan.” “Iya mau gimana lagi. Dari awal golongan ini memang yang paling cocok untuk gue karena gak perlu mengalami pertarungan fisik seperti kalian.” “Gue kira alasannya apa. Tapi setiap orang punya alasannya masing - masing ya.” “Vin, gue yakin banget kalau dia pasti melewati jalur ini.” June menunjuk kepada jalur paling sempit yang berada paling ujung. “Astaga kalau bukan lo yang bilang pasti gue gak akan nyangka dia bakal lewat jalur ini.” “Siapa dulu Priestnya?” Jawab June dengan penuh rasa bangga. Saat hendak memasuki jalur yang sangat gelap itu mereka tiba - tiba berhenti bersama - sama di depannya. “Lo juga merasakannya kan Vin?”  “Siapapun tahu kalau ini adalah aroma tubuh manusia yang sudah membusuk. Apapun yang ada di dalam sana pastilah bukan sesuatu yang gue suka deh.” “Jadi gimana Vin? Kita tetap masuk atau pergi ke tempat nona Horma saja. Untuk saat ini hanya dia orang yang kita ketahui keberadaannya dan sangat bisa diandalkan.” “Ya udah, kalau gitu lo aja yang pergi ke tempat nona Horma.” “Lo gimana Vin? Masak gue pergi sendirian?” “Gue mau tetap meneruskan mengikuti orang itu untuk mendapatkan bukti yang nyata.” “Jangan Vin, gue punya firasat yang gak bagus tentang hal ini.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN