“Cepat teman - teman! Aku merasakan firasat buruk akan hal ini tapi entah apa itu.”
“Masih jauh gak tempatnya Jer?” June bertanya sambil berlari dengan nafas yang terengah - engah.
“Setelah belokan disana maka akan langsung tiba lorong yang mengantarkan kita ke ruangan tuan Henri.”
“Dari tadi lo ngomong gitu terus tapi kok gak sampai sampai sih.”
“Mana June, lo jangan kebanyakan ngeluh deh.”
“Apaan sih lo Vin. Berisik!”
Setelah berlama berlari maka sampailah mereka di depan pintu ruangan Henri.
“Lo gak salah Jer disini tempatnya kan?”
“Iya Vin. Memangnya kenapa?”
“Ah gak apa - apa. Rasanya kok kayak kurang meyakinkan gitu.”
“Gue juga waktu pertama kali kesini mikir gitu kok. Tapi kalau lo masuk ke dalam bakal lebih biasa lagi.”
“Woi, ngapain malah ngobrol disini? Ketuklah pintunya atau apa kek!”
“Iya iya, awww sakit!” Jeremy langsung melepaskan tangannya setelah mengetuk pintu ruangan tersebut.
“Kenapa Jer? Kok lo kayak kesakitan gitu?” Tanya Marvin.
“Coba aja sendiri!”
“Aduh…! Eh iya kok ada aliran listrik gitu ya?” Marvin pun mengalami hal yang sama dengan Jeremy.
“Nah baru gue mau ngomong gitu.” Jeremy tersenyum.
“Tuan Henri, apakah kalian ada di dalam sana?” Jeremy berteriak untuk memastikan keberadaan orang di dalam ruangan tersebut.
Setelah melakukannya beberapa kali tidak ada respon dari dalam ruangan itu. Tapi dengan kemampuan yang dimilikinya Jeremy dapat merasakan ada hawa kehidupan Henri di dalamnya.
“Aneh sekali aku hanya merasakan tuan Henri di dalam, sepertinya pak tua itu tidak ada.”
“Yang aneh mengapa tuan Henri tidak menjawab panggilanmu tadi?”
“Ya sih Vin. Sepertinya ada kekuatan yang menahan kita untuk masuk ke dalam sana.”
“Kalau gitu berarti kita perlu membuka pintu in dengan paksa.”
“Maksud lo kita dobrak gitu June?” Tanya Marvin.
“Iyalah! Memangnya kalian ada cara lain biar bisa masuk ke dalam?”
“Gak sih. Tapi lo liat sendiri tadi pintu ini gak bisa disentuh gitu.”
“Gue punya ide teman - teman. Gimana kalau kita pakai kekuatan Medallion aja. Siapa tahu bisa terbuka kan?”
“Ya udah gak ada salahnya dicoba kan. Soalnya kita sudah sampai sejauh ini.”
Dalam sekejap mereka sudah kembali ke mode tempur sambil memegang senjatanya masing - masing.
Marvin melakukan tebasan menggunakan kedua belatinya dengan membentuk silang kepada daun pintu namun serangan itu dapat menggoresnya sedikitpun.
“Vin, kenapa lo gak pakai kekuatan apa aja?”
“Ngomongnya gampang June, tapi menggunakan teknik seperti ini ditempat sempit seperti ini akan berbahaya.”
“Lo tenang aja Vin, gue bisa buat penahan biar apinya gak menyebar.”
“Ya udah kalau gitu.”
Maka Marvin pun melakukan apa yang diminta oleh June. Sekalipun baru seminggu berlatih menggunakan kekuatan tersebut, Marvin dapat menggunakan setengah dari kekuatan yang dimilikinya. Saat dia mengayunkannya panjang kedua belati itu pun bertambah dengan kekuatan yang lebih besar. Serangan yang tadi bertipe jarak dekat kini dapat digunakan dalam jarak yang lebih jauh dari biasanya.
Marvin pun memfokuskan serangannya pada salah satu daun pintu untuk mengurangi ketahanannya.
“Duarr…!” Serangannya belati api itu pun menghantam sasarannya.
“Gimana Vin?”
“Lo liat aja sendiri Jer. Hasilnya masih sama seperti sebelumnya. Cuma kelihatan sedikit bekas terbakar aja. Setelah itu pintunya pulih seperti semula. Aku merasa kalau pintu memiliki kekuatan pertahanan yang berguna untuk melindungi orang yang ada di dalamnya.”
“Lah kalau pintu itu memiliki kekuatan untuk melindungi seorang seperti tuan Henri, lo kira dengan kekuatan kita aja mampu gitu membukanya dengan paksa?”
“Iya siapa tahu kan Vin. Hehehe….” June tertawa malu.
“Otora, bagaimana pendapatmu?” Tanya Jeremy sambil mengangkat tongkat itu.
“Mmm…, sepertinya ada yang sudah mengacaukan kendali dari pintu ini. Tidak sembarang orang dapat membuka pintu ini. Pintu itu dibuat dari kayu yang sama sepertiku.”
“Benarkah? Berarti dengan kata lain pintu ini pun adalah suatu senjata suci bukan?”
“Ya bisa dibilang seperti itu. Tapi pintu itu dibuat jauh lebih lama daripada aku sehingga aku tidak akan mampu menandinginya.”
“Wah aku baru tahu ada senjata seperti itu.”
“Di dunia ini ada banyak benda suci dengan kekuatan yang merepotkan. Mungkin pintu itu adalah salah satunya.”
“Hey June apa yang lo lakukan?” Jeremy heran karena June dari tadi memperhatikan Otora dengan seksama.
“Ah gak apa - apa. Lucu aja liat tongkat kayu seperti ini bisa bicara seperti manusia.”
“Masak? Mungkin aku sudah terbiasa dengannya sehingga tidak merasa aneh sama sekali.”
“Teman - teman, dalam keadaan sepertinya kita juga tidak mengetahui dimana keberadaan dari tuan Hur. Mungkin sebaiknya kita harus mencari tuan Horsa agar mengetahui keadaan di tempat ini.”
“Apa yang dikatakan Marvin itu benar. Tapi sebaiknya kita berpencar untuk mencarinya.”
“Ide bagus. Jangan lupa untuk tidak terlibat dalam pertarungan sebisa mungkin.”
“Iya Vin. Tapi gue gak mau sendirian ya.” June memohon dengan muka memelas.
“Ya udah kalau gitu lo pergi sama Jeremy aja.”
“Gak mau. Gue maunya sama lo aja. Jeremy kan sudah sama Otora.”
“Benar kata June. Lebih baik kalian pergi berdua aja. Lagipula gue juga sekalian mau mencari pak tua itu. Aneh sekali dia tiba - tiba menghilang dalam keadaan genting seperti ini.”
“Kalau menurut lo itu yang terbaik gue ikut aja.”
Tidak berlama - lama ketiga orang itu pun berpencar untuk mencari Hur dan Horsa untuk meminta bantuan atas apa yang terjadi pada Henri.
Jeremy pergi ditengah perjalanan tiba - tiba tergerak untuk pergi ke gerbang tempat kedua terdengar suara ledakan tadi. Dia merasakan ada yang menariknya untuk datang ke tempat itu. Saat sedang berlari dia melihat seseorang yang dikenalnya dalam keadaan terluka dan darah mengalir pada pergelangannya.
“Milia, apa yang terjadi padamu?” Jeremy berlari sekuat tenaga untuk segera menolong wanita itu.
“Jeremy, cepat beritahu kepada tuan Henri disana para Dokoon telah berhasil masuk.” Milia menunjuk ke arah gerbang yang mau dituju oleh Jeremy.
“Aku akan segera kesana untuk menolong yang selamat.”
“Jangan Jer, kau tidak akan bisa menghadapi para Dokoon itu. Sebaiknya kau pergi mencari bantuan secepatnya. Aku akan menahan mereka selama mungkin.”
“Maaf Milia, tapi aku ada berita buruk.” Maka Jeremy memberitahu kepada Milia apa yang terjadi di ruangan Henri saat ini.
“Mengapa di saat seperti ini. Di benteng ini tidak ada yang bisa membuka pintu itu selain tuan Henri sendiri. Kalau pintu itu terkunci seperti itu, maka dia tidak akan bisa mendengar apapun yang terjadi di luar.”
“Apakah kau memiliki cara untuk berkomunikasi dengan tuan Henri yang ada di dalam sana?”
“Sayangnya tidak ada yang bisa kita lakukan untuk itu Jer.”