Saat ketiga orang itu sedang menuju ruangan Henri, di gerbang yang paling dekat dengan permukaan para Medallion semakin terdesak akibat p*********n tiba - tiba oleh para Dokoon.
“Bagaimana ini? Apakah tuan Henri sudah mengetahui apa yang terjadi disini?”
Dua orang Medallion Warrior yang berada pada posisi paling depan sudah tidak bisa menahan kekuatan musuh.
“Seharusnya peringatan ini sudah sampai kepadanya. Tapi sepertinya digerbang lainnya juga mengalami masalah yang sama dengan disini.”
“Aku sudah tidak bisa menahan mereka. Kita tidak mungkin membiarkan musuh memasuki tempat ini.”
“Kau benar Suki, setelah sekian lama tempat ini tidak pernah diketahui oleh musuh karena sistem perubahan jalur yang kita lakukan membuat pintu masuknya mustahil dideteksi.”
“Dam...dam...dam!” Musuh terus menghantam gerbang air dengan kekuatan gabungan.
“Soka, aku akan menggunakan itu. Beri aku waktu untuk mempersiapkannya.”
“Apa?! Jangan kau akan menggunakan energi kehidupanmu. Astaga dimana bala bantuan? Mengapa lama sekali?”
Kekuatan seorang Medallion pada dasarnya berasal dari inti jiwa yang berisi tekad kuat. Tapi beberapa Medallion yang sudah melewati pertarungan antara hidup dan mati dapat menggunakan inti hidup mereka untuk mengeluarkan kekuatan yang berlipat ganda dalam waktu singkat. Suki yang merupakan pengguna senjata tongkat dapat mengubah berat menjadi berlipat ganda sehingga dapat menahan jalur masuk para Dokoon untuk sementara.
“Kita tidak punya waktu lagi Soka. Aku sebagai Medallion bertanggung jawab menjaga gerbang benteng Galesia sekalipun harus mengorbankan hidupku. Selain itu aku juga membutuhkan bantuanmu untuk mengubah ukuran tongkat ini sebesar mungkin.”
“Baiklah kalau itu yang kau mau. Serahkan padaku tapi aku harap kau tidak melakukannya dengan berlebihan.”
“Tergantung takdir teman.” Suki bersiap menggunakan kekuatan dari inti hidupnya dan memusatkan pada senjatanya.
Perlahan tongkat itu menjadi semakin berat sehingga Suki yang merupakan penggunanya tidak mampu mengangkat benda itu. Namun sebelum dia tidak mampu mengangkatnya sudah diletakkan pada jalur pintu masuk Benteng Galesia.
“Huh…! Aku sudah tidak mampu lebih dari ini. Sekarang giliranmu Soka.” Suki terjatuh ke lantai dengan tubuh yang tidak mampu bergerak lagi.
“Kau benar teman, sekarang giliranku.” Soka tersenyum penuh arti.
Dalam keadaan tidak bertenaga Suki tidak merasakan tongkatnya membesar. Tapi dalam pikirannya Suki berpikir mungkin temannya itu membutuhkan waktu untuk mengeluarkan kekuatannya. Tapi setelah menunggu lebih lama pun tidak terjadi perubahan ukuran pada tongkat itu. Suki dapat merasakannya karena tongkat itu terhubung dengan jiwanya secara langsung.
“Apa yang terjadi? Apa yang kau lakukan Soka?”
“Apa ini? Mengapa aku merasakan kekuatan gelap melewatiku begitu saja?”
Perlahan Suki membuka mata dan melihat gerombolan Dokoon memasuki jalur masuk Benteng Galesia tanpa penghalang.
“Oh ternyata kau sudah bangun Suki. Karena kita sudah berteman cukup lama untuk berbagi penghinaan sebagai penjaga pintu seperti ini walau memiliki kekuatan yang pantas untuk menjadi seorang pahlawan. Oleh karena itu aku akan membiarkanmu hidup untuk menyaksikan kehancuran benteng ini. Para Medallion sudah begitu sombong karena benteng ini tidak pernah diketahui oleh musuh. Tapi hari ini bukan hanya diketahui, tapi aku akan memastikan kalau benteng ini dihancurkan dan tenggelam ke dasar danau.”
Dengan sedikit tenaga yang mulai pulih Suki mengangkat kepalanya dan berpaling kepada Soka.
“Mengapa kau sampai melakukan hal hina seperti ini Soka? Padahal kita adalah pewaris kekuatan besar diantara semua Medallion di benteng ini, bahkan diantara semua Medallion yang ada. Oleh karena itu kita diberi kehormatan untuk menjaga pertahanan benteng Galesia.”
“Apa kau sudah gila teman? Bagaimana mungkin kau menganggap hal rendah seperti ini sebagai kehormatan. Para petinggi itu hanya tidak ingin tersaingi oleh keberadaan kita sehingga mereka menyingkirkan kita dengan cara membuat kita melakukan tugas bodoh seperti ini.”
“Astaga Soka, ternyata itu yang kau pikirkan selama ini. Mengapa kau tidak mengatakannya kepadaku. Aku kira kau menyukai tugas sebagai penjaga gerbang benten Galesia.”
“Maafkan aku teman. Aku telah menerima tawaran dari para Dokoon dengan imbalan yang sangat pantas. Kalau kau mau bekerjasama denganku nanti aku akan meminta tambahan kepada mereka.” Soka mengulurkan tangannya kepada Suki dengan harapan temannya itu menerima tawarannya untuk bekerjasama dengan Dokoon.
Tapi Suki malah memalingkan wajahnya sebagai isyarat penolakannya atas tawaran tersebut.
“Sayang sekali teman, aku kira kau mau menikmati hidup yang layak sebagai orang dengan kekuatan yang setara denganku.”
“Soka kau telah dibutakan oleh ketamakan. Aku sangat menyesali apa yang terjadi padamu dan kasihan akan keputusan apa yang kau ambil. Sebaiknya kau berubah pikiran dan hentikan para Dokoon itu sebelum terlambat. Aku berjanji tidak akan membocorkan apa yang sebenarnya telah terjadi kepada para petinggi.”
Soka kan menarik kembali tangannya yang telah terulur kepada Suki tadi.
“Apa kau pikir aku mau melepaskan sesuatu yang berharga untuk kembali menjadi pesuruh di benteng ini sampai akhir hidupku. Aku rasa kita sudah tidak memiliki pemikiran yang sama teman. Tapi sebagai bentuk penghormatan kepadamu aku tidak akan melukaimu. Kalau kau sudah mampu berdiri pergilah dari tempat ini agar nyawamu terselamatkan dari p*********n yang akan terjadi.”
“Kau terlalu percaya diri Soka. Apakah kau tidak tahu kalau di dalam benteng ini terdapat seorang yang sangat kuat?”
“Mmm, kalau orang yang kau maksud itu adalah Henri maka kau salah paham. Aku yakin saat ini dia tidak akan bisa berbuat apa - apa.”
“Apa maksudmu?” Suki terkejut karena Soka sebenarnya tahu alasan Henri tidak merespon sejak awal.
“Hahaha, Kau terlalu meremehkan rencana para Dokoon itu Suki. Mereka tidak mungkin berani menyerang benteng yang berisi seorang pemimpin besar seperti itu tanpa rencana yang matang.”
“Bisa - bisanya kau bertindak sejauh ini dasar pengkhianat!”
“Wah ternyata kau ku kenal sebagai orang paling tenang bisa marah seperti ini. Tapi sayang sekali kau sudah menggunakan sebagian besar kekuatanmu tadi. Saat ini kau sudah tidak berdaya dan hanya bisa terbaring di tempat ini.”
“Soka, kalau terjadi sesuatu pada benteng benteng Galesia, aku berjanji akan menimpakan semua pembalasan kepadamu.”
“Jadi kau yang ada satu - satunya temanku disini pun rela melakukan hal itu hanya untuk tempat busuk ini!” Soka memandang Suki dengan tatapan sinis.
“Sejak kau mengkhianati benteng Galesia dan membuat kehormatan sebagai seorang Galesia, aku tidak lagi menganggap dirimu sebagai teman melainkan musuh yang harus ditumpas. Pengkhianat lebih rendah daripada Dokoon sekalipun.”
“Tutup mulutmu Suki. Kalau bukan karena pertemanan kita pasti dari tadi kau sudah menjadi makanan ikan - ikan di dalam danau ini.”
“Jangan banyak bicara! Lakukanlah apa yang kau mau. Aku tidak sudi berhubungan dengan seorang penghianat sepertimu lagi.”
hingga mereka tidak mengambil tindakan atas apa yang telah terjadi.