Musuh Yang Datang Tiba - Tiba

1073 Kata
Horsa pun menjelaskan kepada muridnya akan misi yang akan dilakukan bersama dengan Jeremy untuk mengumpulkan tujuh elemen suci yang tersebar di seluruh dunia. Nadine sangat bersemangat karena ini adalah misi pertamanya setelah sekian lama berlatih sebagai Medallion di Galesia. “Guru, kapan kita berangkat karena aku sudah tidak sabar untuk mengerjakannya.” “Tidak perlu tergesa - gesa karena orang untuk mengerjakan misi ini kita memerlukan beberapa persiapan lagi. Untuk itu aku dan para pemimpin lain masih harus berdiskusi dari mana tepatnya harus memiliki pencarian. Sekarang kau lebih baik berlatih untuk meningkatkan ketajaman.” “Duarrr…!” Saat sedang berbincang tiba - tiba terdengar suara ledakan dari atas danau. Seorang Medallion Warrior berlari dengan tergesa - gesa datang menghampiri mereka. Dia adalah Jetro yang sudah siap dengan jubah mode tempur. “Nona Horma, bahaya…!”  “Kendalikan dirimu! Katakan padaku apa yang terjadi.” “Salah satu gerbang pertahanan kita yang terletak paling dekat dengan permukaan diketahui oleh para musuh.” “Apa maksudmu dengan musuh?” Tanya Horma dengan suara lantang. “Dokoon!” Jeremy menyela pembicaraan Horma dan Jetro. “Kau benar. Para penjaga sekarang memperkuat pertahanan di sana. Aku khawatir mereka tidak akan bisa menahan serangan dadakan dengan kekuatan yang begitu besar lebih lama lagi.” “Ini aneh. Bukankah tidak ada yang bisa membuka segel gerbang yang tercipta dari elemen air itu. Bagaimana mungkin pihak luar dapat mengetahui jalur yang sangat rahasia seperti itu.” “Kau tidak perlu sungkan Marvin.” “Maaf nona Horma. Tapi mengatakan hal itu sudah melanggar kode etik dalam bertamu di tempatku.” “Tidak usah bertele - tele! Katakan apa yang kau maksud?” Nadine memaksa Jeremy untuk mengungkapkan kecurigaannya. “Apakah kau berpikir ada orang dari dalam yang telah memberi panduan kepada para Dokoon untuk menemukan lokasi dari gerbang tersebut.” “Maaf aku tidak berani mengatakan hal itu di hadapan tuan rumah.” Marvin menundukkan kepalanya. Sangat normal bagi seorang yang berpikiran sangat objektif seperti Marvin untuk berkata seperti itu.  “Aku rasa hal itu sangat sudah dipercaya karena dari awal benteng ini berdiri belum pernah ada kasus yang disebabkan oleh pengkhianatan penghuninya.”  “Benar apa yang kau katakan Jetro. Tapi bukan berarti hal itu tidak bisa terjadi bukan?” Marvin berkeras pada pengamatannya. “Sudah kalian tidak perlu bertengkar akan sesuatu yang belum pasti. Lebih baik saat ini kita bergegas memberikan bantuan kepada penjaga gerbang disana. Nadine, aku perintahkan kau untuk pergi bersama dengan Jetro ke tempat itu secepat mungkin.” “Baiklah guru. Ayo Jetro kita pergi sekarang sebelum terlambat.” Maka pergilah Jetro dan Nadine untuk memberikan bantuan kepada orang yang sedang berjaga disana. “Duaar…!” Terdengar lagi suara ledakan dari arah yang berlawanan dari ledakan yang pertama. “Astaga sepertinya kita tidak bisa hanya berdiri dan menunggu serangan berikutnya terjadi Jer.” “Nona Horma, benar apa yang dikatakan oleh Marvin. Katakanlah apa yang dapat kami lagi untuk membantu kalian. Anggap saja sebagai balas budi karena telah menerima kami di tempat ini.” “Maaf aku belum bisa membiarkan kalian melakukan sesuatu yang berbahaya seperti berhadapan langsung dengan para Dokoon. Lagipula kita belum mengetahui penyebab terjadinya serangan digerbang yang harusnya rahasia bagi dunia.” Kedua orang itu pun tidak bisa berkutik atas apa yang disampaikan oleh Horma dikarenakan mereka baru saja dibangkitkan dan belum mampu menggunakan kekuatannya dengan baik.  “Apakah kalian tahu akan lebih berbahaya kalau secara sembarangan menggunakan kekuatan Medallion yang belum sempurna. Bahkan mungkin kalian akan menjadi beban nanti.” “Apa? Setelah aku latihan keras begitu lama ternyata belum cukup untuk melakukan pertarungan langsung dengan musuh yang sebenarnya.” “Kami juga bertanggung jawab kepada tuan Hur untuk tidak melibatkan kalian dalam masalah besar.”  “Baiklah nona Horma aku mengerti posisimu saat ini. Tapi setidaknya ada yang bisa kami lakukan daripada sekedar berdiri disini.” Marvin masih saja tidak terima dengan keputusan Horma yang terus meremehkan kekuatannya. “Kalian tunggu saja disini atau cari tempat yang aman untuk bertahan. Aku akan pergi ke gerbang lainnya tempat ledakan yang satu lagi.” Setelah Horma pergi untuk memimpin para Medallion yang sudah lebih senior ke gerbang Utara, asal suara ledakan kedua itu terjadi, dari kejauhan seseorang yang dikenal oleh Marvin dan Jeremy datang dengan jubah Medallion Priest yang berwarna putih sambil membawa senjata Harpanya. “June, darimana lo?” Marvin berteriak. “Ketika tadi akan sedang berlatih aku mendengar suara ledakan dari dua arah. Jadi satu - satunya tempat yang paling aman pastilah disini. Apa yang lo lakukan disini Jer? Bukankah gue dengar lo tidak  memiliki jadwal dan metode pelatihan yang pas dengan golongan King.” “Lo benar June. Gue sih awalnya hanya ingin melihat Marvin berlatih. Tapi tiba - tiba terdengar suara ledakan sehingga para Medallion yang lebih senior semua pergi meninggalkan kami disini.” “Terus apa yang harus kita lakukan sekarang? Masak iya kita diam saja sementara semua orang pergi menghadapi musuh.” “Tapi sayangnya gak segampang itu June. Tadi nona Horma memerintahkan kita untuk mencari tempat yang aman yang berlindung sampai semuanya kembali normal.” “Sudahlah Jer, mending kita lakukan aja apa yang diperintahkan. Lagian disini kan ada dua orang pemimpin Medallion. Jadi sangat kecil kemungkinan untuk kalah dari musuh.” “Nah loh baru gue ingat Vin, kok kita gak lihat kedua orang itu bertindak dari tadi. Kalau mereka bertindak kan harusnya kelihatan dari tempat ini.” “Sepertinya sudah terjadi sesuatu sama mereka deh Jer, gimana kalau sekarang kita pergi ke tempat mereka aja untuk memberitahu apa yang sedang terjadi.” “Ide bagus tuh Vin. Yang penting kita kan gak melanggar perintah.” “Jadi tunggu apa lagi teman - teman?” June mengajak kedua temannya pergi. “June, emangnya lo tahu dimana ruangan tuan Henri?” Tanya Marvin. “Gak juga sih. Terus?” Jawab June. “Tenang gue tahu kok karena kemarin diajak sama pak tua yang bernama Hur itu mengikuti pertemuan penting untuk membahas peristiwa yang terjadi di kota kita dan misi yang akan dikerjakan nanti.” “Wuiss, sekarang lo sudah jadi orang penting aja nih Jer.”  “Jangan banyak omong Vin, ayo kita bergegas karena perasaan aku semakin gak enak nih.” “Cie cie perasaan gak enak. Hahaha…!”  Maka pergilah mereka menuju ruangan Henri untuk memeriksa apa yang sebenarnya terjadi pada kedua pemimpin besar itu sehingga mereka tidak mengambil tindakan atas apa yang telah terjadi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN