Terlibat masalah dengan wanita yang tidak dikenalnya membuat kedua pemuda itu terpaksa harus menghindari pertikaian demi menghormati para Medallion yang ada disitu.
“Jer, untung saja kita gak kena serangan wanita gila itu.”
“Lo juga kenapa harus melayani dia Vin. Padahal kita kan hanya tamu di tempat ini. Bisa dapat makan aja syukur. Nah malah dapat masalah pula.”
“Jangan salah paham dulu Jer. Gue awalnya cuma latihan biasa kok tadi. Tapi malah dia yang terlalu menganggapnya serius. Iya kali gue serius menghadapi wanita.”
“Harusnya lo pura - pura aja dulu. Ngomong - ngomong lo sekarang jadi tambah kuat ya. Gak beban kayak biasanya.”
“Enak aja beban. Gue tuh cuma gak mau pamer aja kali.”
“Ya udah kalau gitu gimana kalau lo minta maaf aja sama dia. Siapa tahu dia berhenti menyerang kita lagi.”
“Gimana caranya? Kalau gue mendekat dalam keadaan dihujani panah gini yang ada sudah mati sebelum ngomong kan.”
“Iya sih.”
Setelah beberapa menghindari serangan wanita itu akhirnya mereka sekarang terpojok karena kehabisan tempat untuk menghindar sementara tidak ada satupun orang disitu mau menghentikannya.
“Kayaknya bukan cuma kita yang gak mau berurusan dengan wanita itu Vin. Lihat ada daritadi gak ada yang mau membantu ada berusaha menghentikan kemarahannya.”
“Lo gak usah ngomong juga gue paham Jer. Kan dari awal gue yang ada disitu berlatih sama mereka. Gue cuma kasihan aja makanya terpaksa ngajak dia latihan bareng. Bukannya diperlakukan dengan baik malah diserang habis - habisan dong.”
“Ya ampun ternyata ini karena lo yang mau sok pahlawan menolong wanita itu. Sekarang malah gue yang terbawa - bawa. Lain kali mikir dulu dong Vin, kalau gak ada yang mau berurusan dengan dia berarti emang gak boleh.”
“Iya ya gue yang salah. Tapi sudah terlanjur kali.”
Tiba - tiba wanita itu menarik tiga panah sekaligus untuk mengunci pergerakan mereka.
“Nah sekarang kalian berdua tidak akan bisa bergerak lagi dasar pengecut!”
“Awas Vin.” Jeremy mendorong Marvin yang berlari di depannya. Untuk kesekian kalinya dia bisa melihat pergerakan panah itu dalam gerakan lambat.
“Cih, ternyata masih bisa menghindar! Gimana kalau aku menggunakan ini saja.” Wanita itu menarik panah tapi kali ini dia menggunakan kekuatan api pada serangan berikutnya.
“Hey, apakah kau tidak tahu kalau dilarang menggunakan kekuatan sebesar itu saat latihan!” Marvin berteriak mengingatkannya.
“Latihan? Siapa yang bilang kita sedang latihan? Dalam setiap pertarungan kita harus mengerahkan semua kemampuan atau penyesalan yang akan diterima. Memangnya para Dokoon akan memberikanmu kesempatan untuk lengah?”
“Ternyata kau memang sudah gila. Lihat dong siapa yang ada dihadapanmu sekarang. Memangnya kami terlihat seperti Dokoon?”
“Aku tidak perduli. Bukankah kau yang terlebih dahulu menantangku tadi?”
“Gawat nih Vin, kalau kita gak menggunakan kekuatan bisa - bisa mati beneran.” Jeremy mengaktifkan mode bertarung dan menunjukkan kekuatan Medallion King.
“Menarik! Aku tidak pernah melihat Medallion dengan kekuatan seperti itu. Kita lihat apakah kau dapat menahan sekarangku ini.”
“Jangan main - main! Hentikan seranganmu!” Jeremy masih berusaha mengingatkan wanita tersebut.
“Terlambat!” Wanita itu melepaskan serangan panah dengan kekuatan elemen api yang besar ke arah Jeremy dan Marvin.
“Hentikan kebodohanmu Nadine!” Sebuah bola air dengan ukuran besar menghadang serangan api tersebut dan memadamkannya.
“Siapa yang berani - berani menghentikan seranganku?!” Wanita itu berteriak penuh amarah.
“Apa yang kau lakukan Nadine? Bukankah sudah dilarang untuk menggunakan kekuatan besar dalam latihan antara Medallion?” Horma berdiri diantara ketiga orang itu memegang bola air di tangannya dengan mode tempur.
“Guru?” Nadine terbata - bata dan langsung berlutut di hadapan Horma.
“Mengapa kau selalu melakukan hal yang berlebihan seperti ini? Bukankah sudah aku katakan untuk tidak mudah dikuasai oleh emosimu. Sekarang apa yang kau lakukan ini? Apakah kau tidak mengenal kedua orang itu?”
“Mereka adalah Medallion yang baru saja dibangkitkan. Saya hanya memberikan pengalaman bertarung sesungguhnya kepada mereka. Mereka saja yang terlalu lemah sehingga tidak bisa menahan serangan lemah seperti itu.”
“Dasar kau ini. Mereka adalah tamu istimewa kita dan kau terlalu mempermalukan budaya di benteng Galesia dengan berlaku buruk terhadap mereka. Sebagai gurumu aku tidak tahu harus berkata apa kepada tuan Henri.”
“Maaf guru. Mereka tidak mengatakan hal itu dari awal. Jadi aku rasa mereka lah yang bersalah.”
“Mereka tentu tidak akan melakukan hal itu. Oleh karena itu kaulah yang bersalah karena tidak bertanya terlebih dahulu kepada orang yang baru kau kenal.”
“Baiklah guru, aku akan meminta maaf kepada mereka.”
“Lakukan sekarang!” Horma berjalan menuju Jeremy yang sudah kembali ke mode normal.
“Maafkan atas perbuatanku tadi.” Nadine menundukkan kepalanya dihadapan Jeremy dan Marvin.
“Baiklah, setidaknya kami masih hidup saat ini.” Jawab Jeremy.
“Jeremy, perkenalkan dia adalah Nadine. Salah satu orang yang akan pergi mengerjakan misi.”
“Guru, apa maksud perkataan anda? Mengapa kita harus melakukan misi bersama para pemula seperti mereka? Bukankah bercanda juga ada batasnya?” Nadine dengan wajah kesal melihat Jeremy.
“Tutup mulutmu Nadine! Dalam misi ini tugas kita adalah sebagai pendukung Jeremy untuk menggenapi takdirnya. Seharusnya kau merasa terhormat karena apabila kita berhasil mengerjakannya maka namamu akan tertulis di dalam sejarah sampai akhir dunia.”
“Apa?” Dengan wajah tidak percaya Nadine terus memandang Jeremy yang berpenampilan tidak meyakinkan tersebut.
“Misi apa Jer?” Marvin menepuk pundak temannya itu.
“Apakah lo belum diberitahukan oleh pak tua itu?” Tanya Jeremy.
“Seperti dia belum berkata apa - apa kepadaku sampai saat ini.”
“Oh sebaiknya dia yang mengatakannya kepadamu. Yang penting semua ini berhubungan dengan keselamatan kota kita. Saranku agar kau semakin serius berlatih mengendalikan kekuatanmu.”
“Jangan sok misterius Jer. Gue paling gak bisa dibuat penasaran gini.”
“Hahaha, emang gitu peraturannya Vin. Sudah jangan banyak omong deh. Kalau gue bisa latihan juga bakal serius. Tapi mau gimana lagi gak ada latihan yang cocok untuk golongan seperti gue.”
“Masak sih. Baru tahu gue.”
“Namamu Marvin bukan?”Tanya Horma.
“Benar. Apakah ada yang bisa aku bantu nona cantik?” Marvin menjawab dengan tersenyum kepada Horma.
“Tutup mulutmu dasar kurang ajar! Apakah kau tidak tahu kalau guru adalah salah satu Medallion terkuat di benteng Galesia?”
“Tahu dong. Tapi dia kan emang cantik. Aku tidak salah dalam hal ini bukan.”
“Ternyata kau orang yang menarik Marvin. Aku salah sangka terhadapmu dari awal. Tapi sepertinya kau pun tidak menyadari kekuatan tersembunyi yang tersimpan di dalam dirimu.”
“Hah? Sepertinya kau tidak salah nona cantik. Aku memang pria dengan sejuta misteri. Hahahaha….”
“Aku suka dengan semangatmu. Semoga kau dapat akrab dengan muridku ini. Maafkan dia atas perbuatannya tadi. Tapi sebenarnya dia adalah orang yang bisa diandalkan.”
“Ya aku juga dapat mengetahuinya setelah bertarung dengannya.”
“Baguslah kalau begitu.”