Wanita Pemarah Yang Mengerikan

1100 Kata
Dalam pertemuan di ruangan tersebut di tetapkanlah pembagian tugas untuk menyelesaikan dua masalah sekaligus. Pasukan yang bertugas menggagalkan usaha Dokoon dalam mengumpulkan Elemen Kegelapan bersama dengan orang - orang yang dipilih langsung olehnya. Sementara itu pasukan lainnya akan dipimpin oleh Horsa untuk mencari Enam Elemen lainnya yang tersebar di seluruh penjuru dunia ini bersama dengan Jeremy dan orang - orang pilihan lainnya. “Sepertinya petualangan memburu para Dokoon ini akan sangat menyenangkan sementara kau duduk dengan santai di tempat ini Henri.” “Tutup mulutmu Hur! Aku tidak mengerti mengapa tidak melihat peristiwa menyesakkan ini kemarin.” “Hahaha, karena kau hanya melihat yang kau inginkan saja. Sementara untuk hal - hal yang kau benci tentu saja akan tersembunyi dari mata itu.” “Sial sekali. Lain kali aku akan membalasmu Hur. Gubrakk…!” Henri menggebrak meja karena amarah yang tidak tertahan lagi. Dia memang sudah terlalu lama mendekam di dalam benteng Galesia untuk mengerjakan tugas - tugas pemimpin yang membosankan tersebut. “Tuan Hur, apakah anda sudah memikirkan siapa yang akan anda ajak dalam pengejaran para Dokoon ini? Kalau belum maka saya memiliki daftar para Medallion terpilih yang ada di dalam benteng ini.” “Kau sangat baik Horma, tapi satu - satunya orang yang aku inginkan dalam tugas kali ini adalah Jeremy. Tapi sepertinya tugas mengumpulkan elemen suci adalah takdir yang harus dia emban.” “Aku mengerti maksud anda yang ingin melihat sendiri perkembangan darinya. Tapi sayang  kali ini aku agak memaksa untuk tercapainya keberhasilan tugas yang melibatkan seluruh dunia ini. Setidaknya anda membawa dua dari sepuluh Medallion terkuat yang ada pada daftar ini.” “Baiklah, berikan padaku seorang Hunter dan seorang Pillar terbaik di tempat ini.” “Anda memang orang yang unik tuan Hur. Dibanding mencari seorang Warrior anda malah menginginkan Medallion dengan kekuatan pendukung dalam tugas bahaya seperti ini.” “Horma, aku lebih suka mengatakannya sebagai berhati - hati . Dengan membawa kedua jenis golongan tersebut aku bisa melacak dan sekaligus bertahan dalam pengejaran nanti.” “Serahkan sisanya padaku tuan. Kalau begitu saya akan permisi sebentar untuk memanggil orang - orang itu dan memperkenalkannya kepada anda.” Horma bergegas pergi meninggalkan tempat itu. “Horsa, sebaiknya kau pun cepat mencari tenaga yang dibutuhkan untuk tugas tersebut.” “Baiklah tuan Henri, tugasku dalam misi kali ini sepertinya hanya berfokus sebagai pendukung saja. Tapi berbeda dengan tuan Hur, aku malah membutuhkan seorang Priest dan Warrior yang cakap dalam pertarungan jarak jauh.” “Aku mengerti Horsa, bagaimana kalau kau mengajak Nadine yang merupakan Warrior kuat di Galesia ini. Mengenai priest….” “Nona Horsa, apakah aku boleh mengajak June yang baru saja dibangkitkan sebagai Priest?” Horsa terkejut dengan perkataan dari Jeremy dan menatapnya dalam untuk mencari tahu apa maksud dari permintaannya yang tiba - tiba itu. “Apakah aku boleh tahu mengapa kau sangat ingin mengajak wanita itu? Walaupun dia memiliki potensi yang besar, tapi tetap saja dia baru saja dibangkitkan.” “Karena dia membutuhkan oleh yang sangat aku kenal untuk dapat bekerja sama dengan baik, sementara aku tidak begitu mengenal yang lain bukan?” “Apakah benar hanya itu alasannya Jeremy?” Horsa mendekatkan wajahnya dan membuat Jeremy gugup. “Apa apa apa? Benar nona Horsa, aku tidak memiliki lainnya.” Jeremy menjawabnya dengan terbata - bata. “Lucu sekali. Tapi kurasa tidak ada salahnya priest pemula dalam misi ini. Lagipula tugas seorang priest tidak harus terlibat langsung dalam pertarungan langsung.” “Terima kasih nona Horsa.” “Baiklah tuan dan nona kita sudah sepakat siapa saja yang akan berangkat dalam mengerjakan misi penting ini. Kapan kau mau berangkat Hur?” “Karena tidak bisa mengajak Jeremy dan misi ini, maka aku akan mengajak Marvin yang merupakan seorang Warrior. Untuk itu aku akan memberikan waktu satu minggu padanya berlatih di tempat ini demi menguasai cara menggunakan teknik - teknik dasar saja.” “Lakukan sesukamu Hur.” Henri membuang mukanya karena masih kesal. “Hehehe.” Hur gembira. Tiga hari kemudian saat di tempat pelatihan para Medallion Warrior, Marvin sedang bertarung dengan seorang wanita yang menggunakan senjata panah api. Jeremy yang tidak memiliki jadwal latihan pun kebetulan berada di tempat itu untuk memberi dukungan kepada temannya. Dalam pertarungan itu dari awal terlihat berat sebelah. Wanita yang bertarung dengan Marvin terlihat sangat kuat dan dapat mendominasi pertarungan tersebut. Marvin dibuat kewalahan walau dia belum menggunakan senjata panahnya. Padahal Marvin dari awal sudah mengeluarkan kekuatan yang besar dengan kedua belati yang didapatkan saat kebangkitan kemarin. “Apakah hanya segini kemampuanmu hey pemula?” Nadine mengolok Marvin yang nafasnya sudah terengah - engah. “Kau kira aku akan serius bertarung dengan seorang wanita sepertimu. Apa yang akan dikatakan oleh orang ada disana kalau aku mengalahkanmu saat ini.” Marvin menunjuk kepada Jeremy yang sedang duduk manis di antara para Medallion. “Jadi itu alasan yang kau buat atas ketidakmampuan dirimu dalam mengendalikan kekuatan api dari belati suci itu?” “Kau tidak perlu berkata seperti itu. Lagipula aku tidak mengenalmu bukan?” Wanita itu pergi mendekati Jeremy yang sedang duduk jauh darinya.  “Hey anak muda, apakah kau mengenal pria pengecut yang ada disana itu?” “Apakah yang kau maksud adalah Marvin? Tentu saja. Kami berasal dari tempat yang baru saja diserang oleh para Dokoon baru - baru ini.” “Oh ternyata kau juga adalah salah satu dari pemula yang baru saja dibangkitkan dalam ritual kemarin. Apakah kau akan mengejeknya apabila dia berhasil mengalahkanku?” “Hah? Apa maksud perkataanmu wanita galak? Kalian yang bertarung bukan? Lalu apa urusannya denganku?” Jeremy kesal karena dilibatkan dalam hal yang merepotkan seperti itu. “Wanita galak? Apa maksudnya itu?” “Jadi kau tidak mengerti artinya. Maksudku kau adalah wanita yang suka marah - marah.” “Kurang ajar! Bagaimana kalian berdua saja yang bertarung melawanku di arena?” “Hahaha, pantas saja Marvin tidak mau bertarung denganmu. Baru pertama kali bertemu saja aku langsung tidak memiliki minat untuk bertarung denganmu. Di tempat kami adalah sesuatu yang memalukan apabila bertarung dengan wanita galak.” “Diam kau! Rasakan ini!” Wanita itu langsung menyerang Jeremy yang sedang duduk. Namun Jeremy dengan tenang berhasil mengelak dari serangan cepat yang dilakukan wanita tersebut. Dalam pikirannya Jeremy terkejut karena dalam melihat serangan cepat itu dalam gerakan lambat sehingga dengan mudah dapat menghindarinya. “Kau kira bisa melarikan diri dari seranganku lagi!” Kali ini wanita menarik anak panah dari tabungnya dan bersiap menyerang Jeremy tanpa menggunakan kekuatan api. Kali ini Jeremy menjadi takut karena apabila terkena pasti akan terluka. Dia berlari sejauh mungkin agar keluar dari jarak serang wanita tersebut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN