Setelah mengetahui rahasia dari tujuh elemen suci dan tujuh elemen kejahatan yang tercipta, Jeremy menemukan titik terang dalam masalah yang dihadapinya.
“Berarti para Dokoon itu telah berhasil mengumpulkan ketujuh elemen kejahatan tersebut dan menggunakannya untuk membangkitkan kejahatan murni lagi.”
“Apa tidak bisa memastikannya Jeremy. Tapi apabila ketujuh elemen tersebut benar - benar berhasil ditemukan maka kita seharusnya tidak punya kesempatan lagi untuk melawan mereka.”
“Mengapa anda begitu yakin dengan hal itu tuan Henri? Apakah memang begitu kuatnya elemen kegelapan sampai dapat membuat kita tidak bisa berbuat apa - apa.”
“Aku tidak ingin mematahkan semangat kalian. Tapi kekuatan dari ketujuh elemen kegelapan apabila disatukan maka mereka akan sanggup membuka gerbang dimensi kegelapan yang membuat para Dokoon dapat menggunakan kekuatan terbesarnya.”
Jeremy terkejut karena kebodohan yang dilakukannya telah membuat dunia berada diambang kehancuran saat ini. Terlebih saat membayangkan keluarganya yang akan menjadi korban para Dokoon tersebut membuatnya semakin tidak bisa memaafkan dirinya sendiri.
“Maafkan aku Jeremy, tapi sepertinya kau harus merelakan apa telah terjadi dan hilang. Kami mengerti kehilangan yang kau alami.” Horsa memegang pundak Jeremy yang sudah meneteskan air mata untuk menenangkannya.
“Apa maksudmu?! Bagaimana mungkin kau berkata dapat memahami keadaanku saat ini. Keluarga sedang ditahan oleh para Dokoon dan menanti maut yang tak terelakkan sementara aku tidak bisa berbuat apa - apa. Apakah kau masih bisa berkata dapat memahaminya?”
“Tentu saja. Kita semua pasti akan mengalami kehilangan terbesar dalam hidup ini. Tapi kalau kita tidak berusaha merelakannya maka tidak akan ada masa depan.”
“Aku tidak butuh masa depan! Kalaupun aku harus hidup di masa lalu, asal bisa bersama dengan mereka, itu bukan masalah.”
“Sudahlah Horsa. Biarkan Jeremy tenang dulu.”
“Harusnya aku tidak melakukan hal bodoh itu. Tapi aku juga tidak mungkin membiarkan June dalam bahaya. Apakah ini yang dinamakan takdir?” Jeremy semakin frustasi dengan kenyataan yang harus dia hadapi.
“Henri, apakah hanya itu yang dapat kau katakan dalam keadaan seperti ini. Tidak seperti seorang Judge terbaik yang pernah kukenal.”
“Apa maksud perkataan anda tuan Hur?”
“Kalian sebagai sebagai kesatria yang terdekat dengannya apakah tidak mengetahui cara kerja deduksi seorang Judge sepertinya?”
“Hah?” Horsa dan Horma terkejut.
“Kau pun masih sama seperti biasanya Hur, tidak pernah berubah. Bahkan kalau aku adalah seorang pemimpin Medallion disini, apakah kau kira bisa menuntut kemustahilan dariku?”
“Memangnya tidak bisa ya?” Hur tersenyum.
“Tentu saja bisa. Kalau tidak jangan panggil aku Judge terhebat zaman ini.”
Jeremy terkejut dan menegakkan kepalanya setelah mendengarkan perkataan Henri tersebut. Dengan begitu berarti kemungkinan Henri memiliki cara yang mengatasi masalah ini. Tatapan Jeremy dengan mata yang sudah basah penuh harapan kepada Henri membuat seisi ruangan menunggu solusi.
“Baiklah, aku sebenarnya sudah merasakan sesuatu yang janggal dari perkataanmu Jeremy. Kalau benar semua elemen kegelapan dikumpulkan seharusnya bukan hanya kota itu saja yang terdampak, tapi seluruh dunia pasti sudah berubah menjadi kegelapan abadi.”
“Berarti kemungkinan besar para Dokoon itu belum mengumpulkan ketujuh elemen kegelapan tersebut.”
“Kau benar Jeremy. Aku memang belum melihat seberapa besar kerusakan yang terjadi disana. Tapi untuk ukuran sebuah kota seharusnya mereka hanya membutuhkan dua atau tiga buah elemen saja.”
“Jadi apabila kita bisa mengumpulkan ketujuh elemen suci berarti kekacauan besar itu bisa dihindari tepat pada waktunya.”
“Nah itulah masalahnya. Seperti elemen kegelapan yang tersembunyi pada tempat yang paling rahasia, elemen suci pun disembunyikan pada tempat yang paling aman oleh para Medallion. Untuk mendapatkan lokasi semua elemen itu kau harus membuktikan tekadmu kepada mereka.”
“Tuan Henri, apakah tidak cukup dengan pernyataan kalian berdua yang merupakan seorang pemimpin benteng Medallion saja?” Tanya Horsa.
“Sayang sekali apabila kau mengenal para pemimpin itu, seperti kami berdua, mereka memiliki pemikiran yang cenderung berbeda satu sama lain. Aku bisa dekat dengan Hur karena kami dahulu pernah bekerja sama dalam suatu peperangan yang sama. Tapi para pemimpin lain pasti tidak semudah itu melepaskan elemen suci yang mereka jaga.”
“Kalau begitu bagaimana kalau kita mencari tahu sendiri lokasinya sendiri tanpa sepengetahuan mereka.” Perkataan Jeremy memecahkan suasana yang semakin pelik.
“Tidak semudah itu anak muda. Bahkan dengan kekuatan aku dan Hur tidak akan bisa mencapai salah satu dari tempat persembunyian elemen suci tersebut karena terlalu berbahaya.”
“Benarkah begitukah pak tua?” Jeremy menatap Hur.
“Begitulah kenyataannya anak muda. Bahkan kalau kau mengetahui jalan masuknya, belum tentu kau bisa mendapatkan benda itu. Oleh karena itu dibutuhkan tekad yang kuat untuk mengambil elemen suci dari tempatnya.”
“Air suci yang kau lihat pada ritual kebangkitan tadi seharusnya berada pada palung laut terdalam di dunia ini. Aku yang merupakan penjaganya saja harus mengerahkan semua kemampuan untuk mengambilnya bersama dengan para petinggi lainnya. Jadi sebaiknya kau lupakan saja untuk mengambilnya dengan sembunyi - sembunyi.”
“Jadi satu - satunya jalan aku harus mendatangi setiap benteng Medallion dan membuat mereka yakin bukan?”
“Kau benar Jeremy, atau setidaknya kau harus membuat mereka berhutang budi padamu. Maka mereka akan membantumu mengambil benda tersebut. Tapi ada masalah kedua.”
“Apa?! Mengapa kau tidak mengatakan lebih awal tuan?” Tanya Horma.
“Tentu saja aku tidak mau mematahkan semangat kalian. Masalahnya adalah kita tidak mengetahui seberapa cepat para Dokoon itu mendapatkan semua elemen kegelapan yang tersebar di seluruh dunia.
“Aku punya ide tuan Henri, kalau boleh aku akan menyampaikan kepada kalian?”
“Tentu saja Horma. Aku pun sudah melihat kau akan berkata seperti ini.” Henri mengambil kembali gelasnya untuk minum kopi.
“Kau memang orang penuh kejutan Henri. Untuk orang seusiaku pasti akan jantungan kalau tidak mengenalmu lebih dahulu.”
“Aku anggap itu sebagai pujian.” Henri meminum kopinya.
“Tuan - tuan, saranku bagaimana kalau kita bagi kelompok untuk mengatasi dua masalah tersebut secara bersama - sama.”
“Baiklah aku siap dengan petualangan baru.”
“Maaf tuan, saya tidak bermaksud mematahkan semangat anda. Tapi anda sudah memiliki banyak tugas di tempat ini.”
“Apa maksudmu Horsa?” Henri terlihat kesal dengan perkataan bawahannya itu.
“Bukankah sudah jelas Henri, kau adalah pemimpin benteng Galesia yang megah ini. Terlalu berbahaya seorang pemimpin meninggalkan bentengnya.”
“Jangan bercanda Hur, lalu bagaimana mungkin kau dapat melakukan hal itu?”
“Itulah mengapa aku menempatkan bentengku di dimensi yang berbeda agar tidak bisa dijangkau oleh siapapun. Selain apa yang dikatakan oleh Horma tadi tertuju kepadaku bukan?”
“Horma, kau tidak bermaksud begitu kan?”
“Maaf tuan Henri, apa yang dikatakan oleh tuan Hur benar adanya.”
“Tidak mungkin, bagaimana bisa aku membiarkan orang tua ini berpetualang dan menikmati semua ini sendiri.”
“Hahaha, itulah takdir yang ditetapkan diantara kita. Benar begitu kan?” Hur tersenyum menyadarkan ketidakmampuan Henri untuk meninggalkan bentengnya.