“Jawabannya sederhana sekali karena pada dasarnya para manusia sangat menginginkan kekuatan untuk menguasai dunia ini. Sementara kalian akan terus berkurang karena sangat jarang orang - orang yang rela mengorbankan dirinya untuk menegakkan keadilan. Dokoon pada dasarnya adalah sekelompok manusia dengan pola pikir bebas tanpa mau dikekang oleh peraturan - peraturan kuno.”
“Aku sangat enggan mengakuinya walau apa yang katakan mungkin memang benar adanya. Tapi Dunia ini hanya membutuhkan sedikit Medallion dengan hati yang suci dan niat menjaga keseimbangan dunia dari makhluk - makhluk jahat seperti kalian ini.”
“Krak...krak...krak...duar!” Akhirnya semua serangan yang sudah berhimpun itu pun akhirnya dihancurkan oleh panah api milik Ben.
Dengan kecepatan yang sangat tinggi panah tersebut melesap kuat kepada Gor yang tidak sempat lagi mengelak sedikitpun. Semua kekuatan kegelapan yang telah berhimpun akibat serangan beruntun setelah serangan pertama pun ikut dilenyapkan karena begitu kuat panah api itu.
“Jleb…!” Panah itu langsung menembus jantung Gor yang dipenuhi oleh darah berwarna hidup akibat telah menjadi bagian dari Dokoon tersebut. Saat menancap panah itu langsung berputar semakin cepat sehingga dapat melubangi d**a Gor yang berteriak sangat kesakitan.
Begitu panah api menembus tubuhnya, langsung melesat tanpa henti kepada para Dokoon lainnya yang sedang dalam posisi belum siap akibat masih menyindir Gor daritadi.
Tapi serangan itu berhasil ditahan oleh salah satu diantara mereka dengan mengangkat air laut dalam jumlah banyak ke atas sehingga menjadi perisai. Sifat air yang pada hakekatnya berlawanan dengan api dapat memadamkan serangan panah api tersebut walau memiliki kekuatan roh. Sekuat apapun kekuatan elemen yang digunakan, tidak akan dapat mengingkari hukum alam itu sendiri.
“Ternyata ada orang yang dapat menggunakan otaknya disini.” Ben tersenyum dan bersiap dengan serangan berikutnya setelah menghabisi Gor yang sudah hancur oleh serangannya.
“Gor memang terlalu naif sebagai seorang Dokoon. Dia terlalu memandang enteng lawan - lawannya walau sudah diperingatkan berkali - kali. Mungkin ini sudah menjadi takdirnya untuk mati karena kebodohannya sendiri.”
“Katakan siapa namamu Dokoon!”
“Aku adalah Mor yang petarung sihir dari wilayah selatan.”
“Wah berarti kau mengenal orang yang bernama Serkan bukan?” Tanya Ben.
“Kau benar Medallion. Kami berasal dari kelompok yang sama. Apakah kau memiliki urusan dengan orang tua itu?”
“Mungkin, tapi tidak ada hubungannya dengan kalian.”
“Kalau begitu bagaimana kalau kita melanjutkan pertarungan ini karena kami memiliki keperluan yang sangat mendesak.”
“Memangnya tempat mana lagi yang mau kalian hancurkan?” Ben bertanya dengan sinis.
“Itu bukan urusanmu Medallion!”
“Oh ternyata kau lebih keras kepala dibanding orang yang sudah hangus itu.”
“Ya...aku tidak menyangkalnya kalau hal itu yang kau sebut sebagai keras kepala.” Mor mengangkat kedua tangan setinggi d**a pertanda dia mengakui hal itu.
“Aku merasa kalau pertarungan kali ini tidak akan sama seperti yang sebelumnya bukan?” Ben kembali menyalurkan kekuatan kepada senjatanya.
“Kau ternyata seorang yang sangat peka dengan usia yang masih sangat muda.”
“Apa maksudmu muda Dokoon?”
“Tentu saja kau terlalu muda dibandingkan dengan kami yang sudah berumur ratusan tahun. Dalam hal pengalaman bertarung, kami tidak bisa dibandingkan dengan orang yang baru salah kau taklukkan itu.”
“Lalu apalagi yang perlu aku tahu Dokoon? Kau terlalu banyak bicara sehingga membuat kakiku lelah.”
“Kalian para Medallion akan merasakan kekuatan kegelapan yang jarang dilihat.” Mor langsung mengambil posisi di tengah para Dokoon lainnya.
Posisi itu berbentuk seperti segel sihir sambil mereka merapalkan suatu mantra dengan berbisik. Kekuatan semuanya tiba - tiba meningkat drastis dan berkumpul pada satu titik.
“Ben, apakah kau yakin bisa menghadapi mereka?” Mura bersiap mengeluarkan senjatanya.
“Aku pun tidak yakin kalau melihat keadaannya. Tapi aku akan menghadapinya dengan serius kali ini.”
“Sebaiknya kau tidak lengah sedikitpun karena aku merasakan kekuatan yang sangat besar dari titik pertemuan kekuatan mereka. Entah apa yang akan terjadi setelah ini.”
“Hey Medallion, kami tidak keberatan kalau kalian ingin bekerja sama dalam pertarungan ini. Lagipula aku merasa sangat menyayangkan kekuatan sebesar ini kalau hanya membunuh seorang Medallion saja. Jadi mungkin kalau dapat membunuh kalian sekaligus akan lebih baik.”
“Kau terlalu sombong untuk orang yang sudah sangat tua.”
“Terima kasih karena itu sudah mengalir di dalam darah kami. Hanya Dokoon yang pantas berkuasa di dunia ini. Kalian para Medallion sudah tidak diperlukan lagi.”
“Kalian para Dokoon salah mengira kalau keberadaan kami untuk berkuasa di dunia ini. Kami hanya ingin menghapuskan kalian dari dunia ini agar semua dapat berjalan dengan baik seperti dahulu kala.”
“Berhenti berbicara tentang masa lalu! Kalian para Medallion terlalu banyak ikut campur dalam urusan Dokoon di dunia ini. Menghabisi semua Medallion dimanapun adalah prioritas tertinggi kami ketika mendapatkan kekuatan kegelapan ini.”
“Wah tidakkah itu terlalu mengada - ada untuk pengguna kekuatan tak berwujud seperti kalian?” Sahut Ben sambil tersenyum.
“Kalau begitu kami akan menunjukkan kepada kalian wujud keputusasaan yang akan menjadi penentu akhir hidup kalian.” Kekuatan kegelapan tersebut membentuk suatu senjata berbentuk trisula besar dengan konsentrasi kekuatan yang sangat padat.
Senjata itu ternyata adalah gabungan dari senjata para Dokoon yang ada situ.
“Cobalah untuk bertahan kalau kalian mau hidup walau aku yakin kalian tidak akan mampu.”
Pada ujung senjata para Dokoon tersebut muncul suatu kekuatan dengan daya hancur yang sangat besar walau dengan ukuran sebesar batu kerikil. Dari dalam baru itu tiba - tiba keluar kekuatan dengan daya hisap yang sangat besar sehingga semua yang ada disitu mulai bergerak mendekatinya.
Air laut yang jauh ada dibawahnya pun mulai bergejolak dan perlahan mendaki naik mendekati senjata itu beserta dengan semua yang ada dan hidup didalamnya.
“Kalian memang makhluk yang tidak pantas dibiarkan hidup di dunia ini. Keberadaan kalian selalu merusak dimanapun.”
“Tidak usah banyak bicara! Sebaiknya kalian pikirkan cara bertahan dari kekuatan ini dahulu.”
Ben menembakkan anak panah api kepada Dokoon itu tapi gagal karena langsung terhisap oleh kekuatan dari senjata trisula tersebut.
Semakin lama mereka semakin terhisap kepada senjata itu.
“Sepertinya sekarang adalah saatnya kalian mengucapkan kata - kata terakhir sebelum terlempar kepada ketiadaan didalam senjata ini.”