Pertarungan Ben dan Gor

1067 Kata
“Terserah apa yang kau katakan tapi akan berbeda cerita kalau kau yang kalah bukan?” “Sayang sekali hal itu tidak akan terjadi Dokoon!” Ben menarik tali busurnya lalu muncullah sebuah anak panah yang tercipta dari api membara. Semakin kuat dia menariknya maka semakin tajam fokus panah api tersebut. Tatapan mata Ben berubah kepada lawannya. Matanya layaknya pemburu yang siap menghabisi mangsanya. Sementara itu Gor menarik tangannya kebelakang sambil mengumpulkan kekuatan kegelapan pada tangan kanan. Semakin lama dia berada pada posisi itu maka semakin padat pula kekuatan kegelapan yang terpusat pada kepalan tangannya. Udara di tempat itu pun mengikuti perubahan bentuk kekuatan yang terjadi pada kedua belah pihak. Seperti ada udara yang saling dorong dengan kepadatan yang membuat semua makhluk yang ada disitu menyingkir karena tidak ada udara untuk bernafas dengan lagi. “Bersyukur karena aku mengizinkan kamu merasakan kekuatanku dengan ukuran sebesar ini.” “Jangan mengatakan hal yang lucu Medallion! Kaulah yang seharusnya berbangga diri karena aku telah menggunakan kekuatan sampai tingkat ini. Semua lawan - lawanku sebelumnya tidak ada yang bertahan setelah merasakannya.” “Lawan yang mana maksudmu? Aku yakin kau hanya beruntung karena melawan orang - orang lemah saja.” “Daripada banyak bicara lebih baik lepaskan pukulanmu dan lihat kekuatan siapa yang lebih unggul.” Ben tersenyum dan menunggu serangan dari Gor. “Kalau itu yang kau inginkan maka aku tidak akan segan - segan lagi.” Gor menarik nafas panjang lalu melepaskan pukulan dengan kekuatan yang besar dengan kepalan tangannya mengarah lurus kepada Ben yang ada di hadapannya. Dalam jangkauan serangan sedekat ini Ben tidak akan sempat untuk menghindarinya terlebih dia sedang dalam posisi menahan kekuatan yang besar. “Kau terlalu sombong untuk seorang Medallion. Kekuatan dari seranganku ini tidak dapat dihindari dengan cara apapun.” Gor tersenyum sinis karena berhasil melancarkan serangan pamungkasnya. Ben menutup matanya lalu mencium busur panah tersebut kemudian dalam sekejap kekuatan panah api itu meningkat lagi. Saat serangan dari Gor sudah ada dihadapannya maka Ben langsung melepaskan panahnya. Kekuatan dari panah itu langsung mendorong serangan Gor sambil terus menusuk untuk menembusnya. “Memangnya apa yang bisa dilakukan oleh serangan kecil seperti itu?” Gor tetap pada posisi memukul untuk menahan serangannya. “Kekuatanmu memang terlihat besar Dokoon. Tapi ukuran bukanlah segalanya di dunia ini.” Ben menegakkan kembali badannya sambil menyaksikan benturan kekuatannya dengan kegelapan dari Gor. “Kalian para Medallion memang terlalu naif dalam bertarung. Hari ini aku akan mengajarkan kepada kalian bagaimana cara bertarung yang sesungguhnya. Pertarungan yang sesungguhnya adalah pertemuan antara dua orang dengan keinginan untuk membunuh tanpa henti sampai salah satu diantara dipastikan lenyap dari dunia ini.” Gor akhirnya berdiri sambil menarik nafasnya walau belum dipastikan siapa yang memenangkan pertarungan kekuatan saat ini. “Dasar kaum barbar! Kalian memang tidak akan bisa berubah sampai kapanpun. Bagaimana kalian menyebut hal itu sebagai pertarungan. Aku lebih suka menyebutnya sebagai perkelahian binatang saja.”  “Terserah apa pandanganmu, tapi aku tidak pernah menahan diri melawan siapapun. Demikian pula dengan hari ini.” Kekuatan serangan dari Gor tiba - tiba menyerap panah api tersebut. Senyuman pun menghilang dari wajah Ben mendengar perkataan dari Gor tersebut.  “Bagaimana Medallion? Apakah kau sudah menyadari betapa lemahnya kalian? Sebaiknya bersiaplah untuk bertahan bersama dengan orang - yang yang ada dibelakangmu karena sebentar lagi kekuatan itu akan langsung menyerang kalian.” Gor melihat para Dokoon yang lain dengan wajah sombongnya.  Sementara para Dokoon itu merasa kesal karena Gor selalu memandang rendah yang lain apabila memenangkan setiap pertarungannya. “Kraak…!” Terdengar suara retakan dari kekuatan kegelapan tersebut. “Kau kira aku sebodoh itu sampai tidak mengetahui apa yang akan terjadi.” Ben tersenyum menyindir Gor yang sedang menyombong diri. “Apa yang kau lakukan? Kau pasti melakukan kecurangan bukan? Aku tidak menyangka Medallion yang katanya bertarung dengan kehormatan mampu melakukan hal ini.” “Jangan berkata sembarangan Dokoon! Kau saja yang terlalu naif sampai tidak dapat mengukur kekuatan dari musuhmu saat bertarung. Bukankah sudah aku katakan sejak awal kalau tidak ada kehormatan walau dapat mengalahkanmu.” Gor melihat kepada para Dokoon yang lain dan berharap mendapatkan bantuan dan informasi yang belum diketahuinya. Tapi bukannya mendapat bantuan, mereka malah tersenyum melihatnya yang tidak mengetahui apapun dengan tatapan yang merendahkan. “Pasti kau hanya berbohong bukan? Mana pun kekuatan sebesar itu dapat dikalahkan dengan panah api yang hanya bisa membakar secarik kertas.” Gor mencoba untuk menampik keraguan yang muncul di dalam hatinya walau dengan cara terpaksa. “Aku sudah menduganya kalau kau akan berkata seperti itu. Tapi walau begitu aku tidak menyalahkanmu dengan pengalaman yang baru seumur jagung itu. Dari caramu bertarung aku dapat mengetahui seberapa besar kebodohan yang membuatmu merasa benar - benar percaya kalau kekuatan lemah itu adalah absolut. Untung saja kau hidup diantara para Dokoon yang isi kepalanya hanyalah tipu muslihat saja. Kalau kau ada diantara para Medallion pasti kau sudah mendapatkan cemooh akibat pemikiran bodoh itu.” “Aku tidak akan membiarkanmu menghinaku lebih lagi ini Medallion tidak tahu diri.” Gor pun melancarkan pukulan beruntung yang bermuatan kekuatan kegelapan untuk memperkuat serangan pertamanya. “Jadi kau memilih cara itu memperkuat serangan yang tidak berguna itu. Apakah kau tidak berpikir kalau serangan pertama tidak mempan, bagaimana mungkin serangan - serangan yang lebih kecil dapat mengatasinya.”  Tidak peduli berapa banyak serangan Gor yang diperkuat berkali - kali tersebut, tetap saja belum mampu mengubah keadaan yang sudah terlanjur berat sebelah. Walau kekuatan kegelapan sudah memadat tetapi panah api masih terus bergerak maju kepada Gor. Apabila Gor bergerak dan menonaktifkan kekuatannya maka serangan dari Ben akan langsung menghantamnya dengan telak tanpa bisa dihindari lagi. “Hey, kalian para Dokoon yang ada disana! Aku sebenarnya tidak merasa keberatan kalau kalian mau membantu cecunguk ini. Apakah kalian tidak merasa iba melihat betapa menyedihkan dirinya yang menunggu kematian menjemput sebentar lagi?” “Memangnya apa untung kami membantu si bodoh itu. Bukankah dia yang bermaksud maju seorang diri tanpa meminta bantuan sedikitpun. Jadi kami tidak memiliki alasan sedikitpun untuk membantunya. Kami para Dokoon tidak sebodoh Medallion yang mau mengorbankan diri untuk teman - temannya. Setidaknya kalau dia mati maka kekuatan kegelapan miliknya aku masuk kepada kami yang berada paling dekat dengannya.” “Aku hampir melupakan kalau kalian hidup dengan memangsa jiwa orang - orang kuat untuk menambah kekuatan termasuk para Dokoon itu sendiri.” “Kau benar Medallion. Begitu cara kami bertahan hidup selama ini.” “Lalu mengapa kalian tidak pernah habis dari dunia ini?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN