Kedatangan Medallion Pengembaran

1090 Kata
“Siapa kalian? Mengapa kalian menghalangi kami?” Seorang Dokoon berjubah hitam pekat berteriak kepada orang - orang yang menghadang mereka. “Tenanglah Gor! Mereka hanya orang - orang yang kebetulan lewat saja.” Seorang Dokoon lain menenangkan temannya. “Hey Medallion, kami tidak ingin berurusan dengan kalian saat ini karena ada urusan yang lebih penting lagi.” “Setahuku urusan kalian pastilah untuk merusak atau menghancurkan saja. Sayangnya kami harus ikut campur kali ini. Sebaiknya katakan apa yang mau kalian lakukan disana? Kami melihat kalian begitu tergesa - gesa dari atas saja.” “Dasar penguntit! Memangnya dengan alasan apa kami harus menjawab pertanyaan bodoh itu?” Jawab seorang Dokoon yang berdiri paling belakang. “Apa yang dikatakan olehnya benar Ben? Menjawab atau tidak mereka tetap akan binasa di tempat ini bukan?” Salah seorang Medallion tersenyum dengan santainya. “Jangan sekali - kali kalian remehkan kami para Dokoon dari kalangan atas!”  “Memangnya kami peduli kalian Dokoon dari kalangan mana? Bagi kami sama saja saat kalian untuk menjadi makanan ikan di laut itu.” Mura menatap para Dokoon dengan tajam. “Mura, giliranmu sudah selesai pada pertarungan yang lalu untuk memulai. Sekarang giliranku untuk bermain - main dengan para sampah ini.” Ben berubah ke mode tempur dengan jubah merah menyala dengan panah api yang berkobar di tangannya. “Tenanglah Ben. Aku mengetahui hal itu.” Mura memalingkan wajahnya dari pada Dokoon itu. Kemudian pria dengan perawakan gagah maju melebihi para Medallion lainnya dengan menyandang busur panah pada pundaknya. “Ini adalah hari yang aku tunggu - tunggu setelah sekian lama tidak bisa beraksi dengan bebas. Mengembara dengan kelompok yang berjumlah banyak seperti ini membuatku harus lebih bersabar.” “Hey Medallion yang disana! Apakah kau yakin akan bertarung sendirian?” Tanya seorang Dokoon sambil tersenyum. “Memangnya kenapa Dokoon? Apakah kalian takut melawanku yang sendirian ini? Ayolah, aku tidak berpikir kalian akan bertarung dengan kehormatan seperti kami para Medallion.” “Apa yang katakan? Berani - beraninya anak kemarin sore berani berkata sembarangan dihadapan kekuatan mutlak.” “Benarkah? Kalau begitu aku menjadi semakin bersemangat bertarung melawan kalian. Buatlah aku terhibur lagi dengan kekuatan yang kalian banggakan itu.” Ben mengendorkan Busurnya dan menghasilkan percikan - percikan api di sekitarnya. Untuk menjawab tantangan dari Ben tersebut, seorang Dokoon yang dengan jubah hitam pun maju mewakili yang lainnya. “Mengapa kau yang maju Gor? Kita tidak punya waktu bermain - main dengan para bocah berjubah ini. Oleh karena itu kita harus bertarung bersama untuk menghemat waktu.” “Diam! Aku tidak akan mengizinkan siapapun mengganggu pertarunganku. Biar ku buktikan kepadanya kekuatan yang tidak dapat dilupakan sampai kapanpun sebagai peringatan kepada para Medallion agar tidak macam - macam dihadapan Dokoon.” “Sudahlah biarkan dia bertarung dengan Medallion itu. Lagipula dia belum pernah kalah dalam pertarungan sampai saat ini. Aku yakin dia akan menyelesaikan masalah ini dengan cepat seperti biasanya,” sahut seorang Dokoon yang memegang rantai. Suasana di tempat itu pun tiba - tiba berubah karena sebentar lagi akan terjadi pertarungan antara kekuatan cahaya dan kegelapan. Air laut semakin bergemuruh akibat kekuatan yang bertentangannya saling tekan sampai menyebabkan gelombang besar silih berganti berbalas - balasan. Langit yang tadi cerah pun berubah mendung dengan awan yang membentuk pusaran membuat cahaya matahari tertutup oleh ketebalannya. Kedua orang itu saling memamerkan kekuatan masing - masing untuk mengetahui seberapa kuat lawannya. Tidak ada satupun yang mau mengalah tanpa memperdulikan apa yang terjadi di tempat itu. Untungnya tidak ada satupun kapal manusia yang melintasi laut disitu. Hanya burung - burung yang terganggu akibat angin lingkungan yang sewaktu - waktu berubah drastis. “Ben, jangan biarkan lawanmu membuatmu kehilangan kendali diri.” Mura berteriak di tengah keadaan yang sangat berisik. Maka Ben pun menari nafasnya dan langsung menghempaskan semua kekacauan itu dengan satu kali hembusan nafas panjang dengan kekuatan api yang terang benderang seperti matahari. Begitu pula dengan Gor yang langsung mengayunkan tinjunya sekuat tenaga untuk menahan kekuatan api milik Ben sehingga keduanya bertabrakan di udara dan menyisakan kesunyian tanpa suara. Yang tidak berubah adalah pusaran awan dilangit yang merupakan gambaran dari kekuatan mereka yang masing bergesekan. Pada tingkatan tertentu kekuatan yang berasal dari dimensi lain akan terasa nyata dan mampu mengubah tatanan alam itu sendiri. “Aku terkejut diantara Medallion ada orang kuat sepertimu bocah. Katakan padaku bagaimana caramu mendapatkan kekuatan tersebut?”  “Pertanyaan Itu sangat aneh. Tentu saja kami sudah terlahir dengan kekuatan ini dari semula. Sang penciptalah yang mengaruniakan kepada kami takdir untuk menjaga keseimbangan didunia dari pada pengganggu seperti kalian.” “Pembohong! Mana konsep kekuatan seperti itu. Aku yakin kalian telah melakukan suatu ritual yang mengambil kekuatan dari dimensi lain untuk digunakan sama seperti yang lainnya.” “Sungguh konyol! Jangan sama ratakan semua orang seperti kalian yang mendapatkan kekuatan dari dimensi kegelapan yang menjijikkan itu. Kami para Medallion memiliki kekuatan suci yang berkembang mengikuti bertambah kuatnya persepsi jiwa akan segala sesuatu. Semakin tinggi tingkat penguasan diri kami maka akan semakin besar pula kekuatan yang dapat digunakan dalam pertarungan. Apakah pendahulumu tidak pernah mengatakan hal yang paling mendasar seperti itu?” “Apa maksudmu mereka pun mengetahui apa yang baru saja kau katakan?” Bor sangat marah karena tidak tahu  apa - apa akan kekuatan Medallion dan melihat kepada para Dokoon yang ada di belakang. Yang mengejutkan para Dokoon itu pun menghancurkan kepalanya sebagai pertanda apa yang dikatakan oleh Ben adalah benar adanya. “Jangan salahkan kami Gor! Kaulah yang tidak pernah mau mendengarkan perkataan para tetua karena lebih percaya pada kekuatanmu sendiri. Jangan bilang kau tidak mengingat hari - hari itu!” Gor tidak bisa membantah karena sifatnya yang begitu arogan sehingga sangat sedikit pengetahuannya. “Hahaha, sungguh menggelikan aku bertarung dengan orang yang memiliki otak kosong seperti itu. Hey kalian apakah ada yang menggantikanku dan bertarung melawan orang itu?” Para Medallion lain memalingkan wajahnya sebagai tanpa penolakan atas permintaan tersebut. Mereka terlihat bersyukur karena tidak bertarung dengan lawan ini. “Mengapa ketika giliranku harus mengalami hal seperti ini?” “Hey Medallion apa yang terjadi? Apakah kau takut bertarung melawanku. Kukatakan padamu kalau aku tidak pernah kalah dalam pertarungan sampai sekarang.” “Astaga, jangan - jangan kau bertarung dengan cara pandang seperti itu?” “Apa maksudmu? Tentu saja. Aku tidak memerlukan semua pengetahuan tidak berguna itu. dalam pertarungan yang dibutuhkan hanyalah kekuatan tempur saja karena yang menanglah yang akan memenangkan segalanya.” “Sungguh pemikiran yang naif. Tapi karena aku sudah terjebak dengan situasi ini terpaksa aku harus bertarung denganmu. Akan kukatakan padamu kalau tak ada kehormatan sekalipun aku memang melawanmu.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN