June mempererat pegangan tangannya menunjukkan betapa rapuh dirinya yang tidak bisa menutupi rasa takut tak tertahan keluar dari dasar hatinya.
Jeremy yang menyadari apa yang terjadi pada June pun tidak tinggal diam. Dia pun memegang kuat tangan sahabatnya untuk membuat lebih tenang.
Semakin memasuki tempat itu mereka mendengar suara - suara aneh yang entah dari mana datangnya.
“Jer!” June semakin mendekatkan dirinya kepada Jeremy. Begitu tubuhnya mereka bersentuhan, June akhirnya mengetahui bukan hanya dia yang merasakan ketakutan tersebut. Tubuh Jeremy ternyata tidak bisa menyembunyikan rasa takut tersebut.
“Iya gue juga. Tapi kita harus bisa terus melangkah karena gue lebih takut karena keluarga kita menjadi b***k pada Dokoon itu.”
“Gitu ya.” June akhirnya tersadar akan tujuan mereka datang ke tempat ini yang sebenarnya.
Tiba - tiba cahaya terang keluar dari tubuh June. Cahaya itu mempunyai kekuatan untuk meniadakan kegelapan di sekitar mereka.
“June, cahaya itu menggambarkan isi hatimu yang sebenarnya. Sepertinya kau sudah menjadi semakin kuat dalam perjalanan ini. Aku jadi penasaran menjadi sekuat apa kalian setelah mencapai akhir dari perjalanan ini.”
“Terimakasih nona.”
Suasana yang tadi mencekam kini berubah menjadi lebih tenang akibat pancaran dari kekuatan June tersebut.
“Apakah perjalanan kita masih jauh nona Horma?” Tanya Jeremy.
“Kita sudah mencapai setengah dari perjalanan. Semoga kita beruntung tidak bertemu dengan Dokoon yang sedang melintas,” jawab Horma sambil mengelap keringatnya.
“Sepertinya kita memang sedang kehabisan stok keberuntungan akhir - akhir ini nona. Sebaiknya kita mempersiapkan diri apabila terjadi hal terburuk.”
“Aku benci mengakui kebenaran dari perkataanmu Jeremy. Tapi apa yang kau katakan itu lebih masuk akal daripada bergantung pada sesuatu yang abstrak seperti keberuntungan.” Horma mengeluarkan beberapa perlengkapan dari kantong ajaibnya sesuatu yang berbentuk seperti senjata.
“Mengapa anda membawa benda - benda ini nona? Bukankah anda memiliki kekuatan bola air yang sangat kuat?”
“Kau benar June. Tapi sayangnya bola tidak bisa digunakan di dalam lautan. Sebenarnya bukanlah tidak berfungsi. Apabila aku menggunakan kekuatanku disini maka perairan di sekitar sini akan bergejolak dan menyebabkan masalah yang lebih besar bagi umat manusia.”
“Wah aku baru mengetahui ada yang seperti itu!” Jeremy mengusap rambutnya karena terkejut dengan perkataan Horma.
“Akan sangat berbahaya kalau kita bertemu dengan Dokoon dari kalangan atas. Kekuatan mereka di luar nalar manusia. Kalau kita menghadapinya dengan kekuatan setengah - setengah maka akan membahayakan diri sendiri.”
Ketika mereka sedang menyusuri dasar laut dengan arus yang berubah - ubah tidak jarang bertemu dengan gundukan karang sehingga perlu jalan memutar agar tidak merusak keindahan tempat tersebut. Kode etik Medallion mengharuskan mereka menjaga keutuhan alam walau sangat mustahil orang melihat tempat itu.
Setelah melewati beberapa gundukan akhirnya mereka tiba di sebuah tempat yang tidak bisa dilupakan.
“Sebaiknya kalian mempersiapkan diri karena ini hanya akan terjadi sekali seumur hidup manusia.” Horma melihat keatas saat matahari berada pada puncaknya yaitu tengah hari. Cahayanya yang terang menembus dalamnya air laut di tempat mereka berada saat itu.
“Astaga, aku baru mengetahui kalau ada tempat seperti ini di dalam lautan seperti ini.” June terkagum dengan pemandangan terumbu karang yang tertata dengan alami oleh alam.
“Rasa lelahku terasa lenyap saat melihat keajaiban yang ada dihadapanku. Apakah alam benar - benar seindah ini?” Jeremy terpukau dengan pembiasan cahaya yang menghiasi dasar laut di tempat tersebut.
“Ini adalah sebagian kecil keindahan dari dunia yang kita jaga selama turun - temurun anak - anak. Ingatlah sampai terukir dalam hatimu semua keindahan ini. Semua belahan bumi akan menjadi indah apabila dijaga dengan hati dan perjuangan yang tulus.
“Jer, kita harus membebaskan kota kita dari kekuasaan para Dokoon dan membuatnya seindah ini.”
“Kau benar June. Kalau tempat ini bisa mencapai nilai yang begitu berharga, seharusnya rumah kita pun bisa.”
“Nah sudah saatnya kita melanjutkan perjalanan sebelum malam tiba.”
Maka kedua orang itu pun mengikuti Horma lewat jalan lain yang berseberangan dengan tempat indah itu.
Menempuh perjalanan beberapa jam kemudian mereka pun sudah dekat dengan palung laut terdalam tempat Elemen Suci tersebut tersembunyi.
Namun ketiga mereka melangkah melalui jalan dasar tiba - tiba June dan Jeremy terhenti oleh sesuatu yang mengusik hatinya.
“Nona Horma, apakah anda merasakannya?” Jeremy mendongakkan kepalanya melihat ke atas permukaan air.
“Mereka sudah dekat dengan kita.” June melihat sekeliling seperti sedang berjaga - jaga dari bahaya yang datang.
“Apa maksud kalian anak - anak?” Tanya Horma yang tidak bisa merasakan apa - apa dari tempat itu.
“Aku merasakan adanya bahaya yang mendekat,” jawab Jeremy.
“Seharusnya kita sudah menghindari lintasan yang biasa dilalui oleh para Dokoon itu. Bagaimana mereka bisa berada dekat sini.” Horma mengambil secarik kertas dari dalam kantong ajaibnya dan membuka di tengah mereka bertiga.
“Apakah itu peta dasar laut ini nona?” Tanya June.
“Bisa jadi. Tapi lebih tepatnya benda ini adalah peta ajaib yang dapat menggambarkan keadaan sekitarnya sekalian memperlihatkan makhluk yang hidup mesti dari jarak yang jauh. Tapi aneh sekali tadi aku tidak melihat adanya keberadaan para Dokoon itu.”
“Mungkin saja mereka baru saja tiba dan bergerak dengan cepat.”
“Apa?” Horma terkejut mendengar perkataan Jeremy.
“Soalnya aku merasakan pergerakan mereka mengarah ke tempat kita berada saat ini.” Horma menunjukkan arah datangnya para Dokoon tersebut.
“Apakah kau bisa mengukur seberapa kuat mereka yang mengejar kita Jeremy?”
“Kalau itu sebaiknya kau yang menjawabnya June? Karena kemampuan deteksi milikmu lebih akurat dan tajam dariku.”
“Aku tidak tahu ukuran kekuatan seperti apa yang dikatakan kalangan atas itu. Tapi aku bisa mengatakan kalau kekuatan mereka rata - rata setara dengan Jona yang mengkhianati benteng Galesia,” jawab June.
“Kita dalam bahaya karena yang bisa menghadapi mereka hanya aku. Tapi dari perkataanmu aku menangkap kalau yang memiliki kekuatan itu bukan hanya satu orang bukan?”
“Begitulah kenyataannya,” sahut June sambil menganggukan kepalanya perlahan.
“Tunggu dulu! Aku merasakan pergerakan mereka tiba - tiba terhenti oleh sesuatu.” Jeremy terkejut mencoba mencari tahu apa yang terjadi tapi dia memiliki batasan dalam deteksi.
“Mereka sepertinya bertemu dengan sekelompok orang dengan hawa seperti Medallion.” June memfokuskan kekuatan untuk merasakan siapa yang menghadang para Dokoon tersebut.
“Medallion katamu! Jangan mereka adalah para Medallion pengembara.” Horma merasa lega karena secara kebetulan datang bantuan sehingga meringankan beban mereka.
“Sepertinya dulu sebelum menjadi seorang Medallion aku pernah bertemu dengan beberapa Medallion pengembara.”
“Benarkah Jeremy? Kau beruntung dapat bertemu dengan mereka karena aku pun hanya bertemu mereka sekali seumur hidup,” Jawab Horma.