Begitu mereka memakannya awalnya agak aneh karena bagian dalamnya ternyata adalah biji yang terasa pahit seperti buah pada umumnya.
“Maaf aku lupa mengatakan kalau tidak semua bagian dalam adalah buahnya.”
Setelah memakan beberapa buah lagi akhirnya mereka mengerti cara menikmati buah tersebut.
“Buah ini sangat manis nona Horma. Pantesan khasiatnya dapat langsung memulihkan tenagaku yang terpakai.”
“Hahaha, kau memang sangat cerdas dapat mengerti kandungannya Jer.”
“Apa nama buah ini nona Horma?” Tanya June yang semakin menyukai rasa nya yang sangat manis.
“Oh kami menyebutnya Rambutan. Kau jangan terlalu cepat memakannya karena aku membawa sangat banyak di dalam kantong ajaib ini.”
Demikianlah mereka berjalan sambil memakan buah yang dibawa oleh Horma tersebut.
Setelah berjalan beberapa lama akhirnya mereka sampai ke anak sungai yang mengalirkan air ke dalam danau Seven dari laut.
“Disini arusnya akan terasa semakin deras anak - anak. Sebaiknya kalian memperkuat pijakan agar tidak terbawa oleh arus yang berubah sewaktu - waktu.”
“Nona Horma!” June tiba - tiba menarik tangan Horma karena terkejut melihat sesuatu.
“Diam!” Horma menutup mulut June yang melihat sekumpulan buaya yang melintas di dekat mereka.
Sepertinya binatang itu tidak menyadari kehadiran mereka apabila tidak mengeluarkan suara yang berisik.
Mereka pun terpaksa menahan nafas mereka beberapa saat sampai gerombolan buaya itu berlalu.
Untuk pertama kalinya dalam hidup mereka berdiri tepat di antara para buaya yang merupakan binatang pemangsa paling ganas di sungai tersebut.
Walau sudah berusaha meredam hawa keberadaan, tapi tidak ada yang bisa memungkiri jantung yang berdegup semakin cepat. Tidak ada kata yang lebih tepat daripada ketakutan itu sendiri.
Bagi Jeremy dan June yang sudah mendapat pelajaran tentang alam pastinya mengetahui seberapa berbahayanya apabila terkena gigitan buaya tersebut. Sangat sulit bagi mereka menutupi rasa takut yang meluap dari dasar hati sambil menahan nafasnya.
Buaya adalah binatang yang sangat peka dengan daerah kekuasaannya. Kalau seekor ikan kecil saja tidak dapat lolos dari perhatiannya, apalagi gerombolan manusia.
Tapi untungnya gelembung yang tercipta dari kekuatan Medallion tersebut dapat menyamarkan keberadaan dengan sempurna. Begitu para makhluk buat itu sudah berada pada jarak yang jauh barulah mereka bergerak perlahan untuk mengantisipasi adanya bahaya lain di tempat itu.
Horma memberikan isyarat agar mereka terus memperhatikan sekitar sampai melewati perairan yang sangat berbahaya tersebut.
Setelah melewati rentang waktu 5 jam akhirnya mereka pun sampai di akhir perjalanan mendebarkan tersebut. Waktu sudah menunjukkan pagi hari oleh karena cahaya matahari yang menembus permukaan air di tempat mereka berdiri. Di hadapan mereka saat ini adalah laut yang membentang dengan batu karang di pinggir - pinggirnya.
“Lo tau gak Jer? Tadi itu adalah perjalanan paling lama selama ini.”
“Hehehe, lo mah orangnya penakut June,” Sahut Jeremy.
“Penakut? Padahal gue ngerasain banget tanganku yang dingin di sepanjang perjalan tadi. Malah bilang gue dong yang takut.”
“Itu kan karena kita berada di tengah air jadi wajar saja kalau tangan gue jadi dingin.”
“Mana ada dasar ilmunya tangan lo bisa dingin kalau gak nyentuh air langsung. Ya udah ngaku aja lo.”
“Aku senang kalian masih dapat berbicara dengan santai setelah melewati bahaya tersebut. Padahal para Medallion pemula pada umumnya pasti akan terkencing - kencing.”
“Lalu sekarang kita mau kemana lagi nona Horma?” Tanya June sambil memakan sebuah rambutan yang tidak sempat di makannya di jalan tadi. Karena rasa manisnya membuat June menjadi lebih tenang.
“Kita akan berjalan lurus ke dalam samudera raya sampai mencapai titik terdalamnya.”
“Baiklah, setidaknya disana tidak ada bahaya seperti buaya tadi.”
“Lo gak salah ngomong June? Masak lo gak sadar kalau semakin besar perairannya akan semakin besar juga bahayanya.”
“Iya sih, tapi gue emang takut banget sama buaya.”
“Emang lo gak takut sama hiu gitu?”
“Hah, hiu? Eh iya deh. Di laut kan ada binatang yang seperti itu ya?”
“Yee, ya iyalah. Makanya jangan sok berani dulu. Gue lebih memilih melawan Medallion daripada hiu.”
“Apa yang dikatakan oleh Jeremy itu benar sekali. Kekuatan Medallion tidak berfungsi terhadap segala sesuatu yang lahir dari alam itu sendiri. Dengan kata lain dihadapan pada hewan kita sama seperti manusia biasa.”
“Masak gitu sih nona Horma?” Terus apa anda yakin kalau kita akan selamat di lautan sana?”
“Gue sudah tahu kok June. Lo kemana aja sampai gak sadar dengan pengetahuan dasar seperti itu.”
“Kenapa lo gak pernah kasih tahu gue Jer?”
“Nah lo juga gak tanya gue kan? Ya udah sih, kalau kita bisa selamat dari buaya, berarti kita juga akan selamat di tengah lautan. Mungkin ya.”
“Tuh kan lo juga ragu Jer,” kata June.
“Emangnya lo ada pilihan lain untuk selamatkan kota kita dan dunia ini ada bencana yang akan dibawa oleh Elemen Kegelapan?”
Maka berangkatlah mereka dari tempat itu menuju lautan lepas bermodalkan tekad semu yang dilapisi oleh sedikit motivasi untuk menguat dirinya menghadapi bahaya yang ada di perjalanan nanti.
Di dalam lautan bukanlah seperti sungai yang dipenuhi oleh lumpur dan menyusahkan dalam melintasinya, tapi karang besar dan tajam yang bisa saja melukai tubuh apabila tidak sengaja menyentuhnya.
“Auuu!” Jeremy berteriak karena terkena binatang laut yang mengakibatkan sensasi kejut dan menyakitkan.
“Hati - hati Jer,” kata Horma.”
Selama beberapa saat Jeremy pun agak tertatih - tatih dalam melangkah karena air laut yang menambah rasa perih pada bekas lukanya.
Akhirnya sampailah mereka di perairan yang sangat luas setelah menemukan penurunan yang curam seperti sebuah jurang tanpa dasar.
“Asli ini lebih menyeramkan dibanding sungai tadi.” June terkejut melihat kegelapan di dasar laut yang tidak dapat ditembus cahaya sedikit pun.
“Ayo kita terus bergerak karena akan sangat berbahaya saat malam tiba. Aku tidak bisa membayangkan betapa kelamnya tempat itu.”
“Apa yang anda katakan benar sekali nona. Ayo June kita harus bergerak lebih cepat lagi!” Jeremy pertama kali menuruni jurang tersebut bersama dengan June memegang tangannya.
“Gue gak pernah bakal melakukan ini Jer.” June pun satu kali lagi memberanikan dirinya mengikuti Jeremy yang ada di depan.
“Kalian memang orang - orang hebat karena dapat menekan rasa takut.” Horma menyusul kedua orang yang sudah mendahuluinya.
“Anda salah nona. Mungkin yang kami lakukan hanyalah sekedar pura - pura berani saja,” sahut Jeremy.
“Aku rasa itu sudah cukup untuk saat ini Jer,” jawab Horma sambil tersenyum mendengar jawaban Jeremy yang sangat menggelikan.
Langkah demi langkah berikutnya mereka memasuki kegelapan di dalam lautan itu dengan detak jantung yang semakin cepat.