Bencana Disaat Yang Tidak Tepat

1057 Kata
“Jer, jangan - jangan?” Mereka langsung melihat ke atas gunung. “Astaga kenapa bisa terjadi secepat ini sih!” Jeremy menangkap debu yang beterbangan dengan tangannya.  Dengan cepat mereka turun ke lantai paling bawah untuk mendapatkan Horma. Tapi ketika mereka sampai Horma sudah siap dengan Mode tempur sambil memegang sebuah wadah tersebut dari kain. “Anak - anak, ayo kita pergi dari tempat ini sebelum terlambat!” Horma langsung membuka pintu gua yang tersegel oleh kekuatan kuno tersebut. Jeremy dan June tidak sempat berkata apa - apa kemudian langsung mengejar Horma yang berlari keluar dari gua. Syukurlah mereka berdua sudah mengenakan pakaian untuk berangkat sebelum bermaksud untuk tidur tadi. “Semoga istirahat kalian cukup karena kita harus merubah rencana akibat gunung yang meletus lebih cepat dari yang diperkirakan.” “Emangnya siapa yang memperkirakan?” Kata Jeremy dalam hatinya. “June, kali ini lo harusnya sudah bisa bergerak lebih leluasa kan?” “Iya iya, gue juga gak mau naik ke atas badan lo lagi seperti tadi.” “Baguslah kalau begitu. Soalnya lo berat banget sih.” Mereka berlari begitu cepat melewati semak dan pepohonan di dalam hutan tersebut. Sesekali Jeremy melompat lebih tinggi untuk melihat kondisi dari gunung sedang memuntahkan lahar panas itu. “Gimana keadaan disana Jer?” Tanya Horma. “Buruk, sangat buruk. Penyebaran asap vulkanis akan mencapai tempat bibir pantai dalam beberapa menit lagi.”  Padahal mereka masih berada jauh dari pantai dan jarak tempuh sekitar 30 menit lagi. Ditambah lagi gempa yang ditimbulkan oleh letusan gunung itu mempersulit mereka dalam berlari.  “Bagaimana ini?” June takut tapi tidak berani menoleh ke belakang sama sekali. “Kalau begitu sebaiknya kalian teruslah berlari biar aku yang menahan lahar tersebut.” Horma melompat ke belakang lalu membuat dinding air yang sangat tinggi dengan menarik semua sumber air yang ada di pulau tersebut. Tapi dinding air kali ini tercipta dari butiran embun beku yang mengambang di udara seperti saat dia melawan Jona tempo hari.  Semua benda panas yang terkena butiran embun tersebut otomatis membeku dengan cepat sehingga terciptalah suatu dinding air yang sangat kokoh. “Astaga, aku tidak mengira kalau seorang Medallion dapat melakukan hal itu?” Jeremy terkagum melihat apa yang dilakukan oleh Horma dengan kekuatan airnya. “Ayo Jer, gue sudah dapat mencium bau dari sini.” June menarik tangan Jeremy agar berlari lebih cepat lagi. “Iya gue juga sudah merasakannya,” sahut Jeremy. “Tapi apa yang akan kita lakukan setelah sampai di pantai?” Tanya June. “Nah loh gue juga kurang paham. Pokoknya kita lakukan saja seperti yang diperintahkan olehnya.” Demikianlah mereka pun akhirnya tiba di pinggir pantai dalam keadaan yang sudah terengah - engah akibat harus berlari di tengah malam manakala harusnya beristirahat setelah perjalanan seharian. Saat mereka sedang bingung akan apa yang harus dilakukan karena ketiadaan Horma di tempat itu tiba - tiba Otora yang merupakan tongkat kayu milih Jeremy menampakkan dirinya. “Jer, jangan khawatir! Sekarang gunakan aku untuk membuat jalan di air ini.” “Hah, memangnya ada yang seperti itu?”  “Sudahlah jangan banyak tanya!” Maka Jeremy tanpa pikir panjang melakukannya sesuai arahan dari Otora. Kemudian berjalan dengan Otora yang berada di depannya menuju air danau tersebut. “Lo mau ngapain Jer? Sudah bosan hidup ya?!” June terkejut melihat tingkah Jeremy yang agak aneh di matanya. “Jangan banyak tanya! Kalau mau selamat mending lo ikut gue aja sekarang!” Jeremy terus melangkah meski jalan belum terbuka baginya. Saat air sudah sampai lutut jalan belum juga terbuka seperti yang dikatakan oleh Otora. Tapi Jeremy sedikit pun tidak meragukan perintah itu sama sekali setelah semua yang mereka alami bersama selama ini dengan bantuan tongkat tersebut. “Jer, bentar lagi kita tenggelam loh ya. Lo bukan mau bunuh diri karena sudah putus asa kan?” June berkali mengeluh atas dasar ketakutannya yang sangat beralasan. Tapi saat ini tidak ada lagi yang bisa menggoyahkan tekad pria itu meski apapun yang diucapkan oleh orang lain. June melihat Jeremy yang berjalan beberapa langkah di depannya akan tenggelam apabila meneruskan 2 langkah lagi. Tangannya pun berusaha menjangkau Jeremy agar tidak melakukan hal itu tapi ternyata langkah Jeremy lebih cepat daripada tangannya. “Jer…!” Maka masuklah Jeremy ke dalam air danau tersebut dan hilang dari pandangannya. June yang panik langsung menyelam ke dalam air untuk melihat apa yang terjadi pada sahabatnya yang tersisa itu. June terkejut saat menyelam dan melihat Jeremy berjalan di dalam air dengan gelembung yang menutupinya sehingga dapat bernapas dengan normal. “Bagaimana bisa hal ini terjadi?” Pikir June yang sedang terkejut dengan keajaiban yang terjadi di hadapannya. Tiba - tiba Jeremy pun membalik badannya kepada June yang masih terdiam melihat apa yang terjadi pada dirinya lalu pria itu tersenyum seakan mengajak untuk terus melangkah dalam kemustahilan. Dengan mata yang saling bertatapan June meneruskan langkahnya untuk menggapai tangan Jeremy yang terulur kepada nya. Maka gelembung yang sama menutupi June begitu tangannya menggapai tangan Jeremy. Saat mereka berjalan tetap bergandengan tangannya tanpa mengucapkan sepatah katapun walau June masih sulit mempercayai apa yang dialami.  “Aku sedang berjalan di dalam air dan tetap bernafas,” pikir June. “Byurr…!” Tiba - tiba terdengar sesuatu terjatuh dengan kuat menghempas permukaan air yang berada di atas mereka. Ternyata yang terjatuh itu adalah Horma dengan gelembung yang mengitarinya sama seperti yang dimiliki oleh Jeremy dan June. “Aku sudah menduga kalian akan berhasil melewatinya. Tapi aku tidak mengira kalian memiliki keyakinan sekuat ini, terutama kau Jeremy. Aku mengakui tekadmu sebagai seorang Medallion. Sepertinya keyakinanlah yang menyelamatkan kalian berdua tadi.” Horma melihat keraguan yang terpancar dari raut muka June yang belum bisa berkata - kata. Perkataan itu terasa menempelak June yang ragu - ragu mengikuti Jeremy tadi. “Gunung itu memang sangat mengerikan. Tapi untunglah aku dapat menahanlah selama beberapa saat sampai kita bisa lolos darinya. Mulai sekarang perjalanan yang sesungguhnya akan dimulai. Kalian makan dulu buah ini untuk memulihkan tenaga kalian setelah berlari semalaman tanpa henti dan Jeremy yang menggunakan kekuatan roh yang sangat kuat ini.” Horma memberikan beberapa buah dengan kulit yang berbulu lalu membukanya di depan kedua orang itu. Mereka terkejut dengan bentuk buah yang sangat aneh belum pernah dilihatnya selama ini. “Tenang saja, kalian tidak perlu takut dengan wujudnya yang memang aneh. Buah ini tumbuh subur di pulau Legion dan memiliki kalian untuk mengembalikan tenaga kita.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN