Pulau Legion Ditengah Danau Seven

1151 Kata
Dalam keadaan yang masuk basah kuyup Jeremy menurunkan June untuk berjalan dengan kakinya sendiri. “Anda mau membawa kami kemana?” Tanya Jeremy. “Ke tempat persembunyian kami yang terletak jauh di dalam hutan ini. Kalian tidak perlu takut karena di hutan ini tidak terdapat binatang buas atau ancaman apapun.” Maka Jeremy pun kembali ke mode normal karena semua perlengkapan tempur yang aktif terus menguras tenaganya. “Aku tidak pernah tahu kau ditengah danau Seven terdapat pulau seperti ini.” “Benar apa kata Jeremy. Lagipula bagaimana mungkin tidak ada yang menyadari adanya pulau dengan gunung ini?” “Kalian tidak perlu heran karena pulau dikelilingi oleh penghalang agar manusia biasa tidak bisa melihatnya. Hanya kami penghuni benteng Galesia yang dapat masuk ke dalamnya.” “Oya nona, apakah itu gunung api?” Tanya June dengan wajah penasaran. “Aku terkejut kau mengetahuinya June. Padahal hanya beberapa orang saja di benteng Galesia yang mengetahui kalau gunung ini adalah gunung api.” “Mengapa bisa begitu nona?” Tanya Jeremy. “Karena gunung ini hanya meletus seribu tahun sekali. Tapi kalian tidak perlu tahun karena penghalang ini juga berfungsi menahan bahaya yang diakibatkan oleh gunung tersebut. Oya aku penasaran bagaimana kau dapat mengetahuinya June?” “Mudah saja nona. Karena gunung ini dalam keadaan aktif dan akan meletus dalam waktu dekat,” sahut Jeremy dengan nada biasa. “Apa?!” Horma terkejut mendengarnya. “Memang benar apa yang dikatakan oleh Jeremy.” June menatap ke arah puncak gunung tersebut. “Mengapa kalian tidak mengatakannya dari tadi?”  “Karena anda baru menanyakan bukan?” “Aku tidak tahu kalau kedatangan kita ke tempat ini adalah keputusan yang salah. Tidak, kita harus pergi dari pulau ini besok saat pagi hari tiba.” “Lalu bagaimana dengan pulau ini?” Tanya June. “Kalian tidak perlu memikirkan itu. Tempat ini memiliki pondasi yang cukup kuat untuk menahan goncangan selama ratusan tahun, jawab Horma. Di dalam hutan terdapat sebuah gua yang pintunya berukuran seperti pintu rumah pada umumnya. Di depannya terdapat tulisan - tulisan kuno yang hanya dapat dibaca oleh penghuni benteng Galesia untuk masuk ke dalamnya. “Sekarang aku percaya kalau Medallion sudah hidup sangat lama.”  “Memangnya apa yang membuatmu meragukan hal itu?” Horma terkejut dengan betapa kerasnya pemikiran Jeremy. “Ah bukan hal yang penting untuk dibicarakan.” Mereka pun masuk ke dalam gua tersebut satu persatu karena pintu tersebut hanya cukup untuk dimasuki satu orang saja. “Wah apakah aku sedang bermimpi melihat persediaan makan yang begitu melimpah disini. Lagipula bagaimana mungkin semua makanan ini masih terlihat segar walau sepertinya sudah disimpan sangat lama.” “Kau benar June. Aku rasa jumlah makanan yang sangat banyak ini dapat memberi makan seisi kota selama 100 tahun dan masih berlebih.” “Hahaha, kalian berlebihan. Kami para Medallion tidak menggunakan persediaan ini untuk diri sendiri. Tapi juga seringkali membagikannya ke beberapa daerah yang sangat sulit menemukan masakan. Beberapa Medallion seringkali mampir ke benteng untuk membawa sebagian untuk orang - orang dari seluruh dunia dengan menggunakan kantong ajaib.” “Kantong ajaib? Sepertinya aku pernah melihat benda seperti di televisi,”sahut Jeremy. “Lo kebanyakan nonton anime Jer.” “Dari lo yang kebanyakan nonton Drakor.” “Hey, apa yang kalian bicarakan?” Sanggah Horma. Mereka pun terkekeh karena ketidaktahuan Horma akan kedua hal tersebut. “Sebaiknya kalian mempersiapkan diri sebelum keberangkatan kita esok hari. Kalian pun dapat mengganti pakaian yang telah robek dengan ada di dalam ruangan itu. Pakailah sesuatu yang lebih ringan dan sederhana untuk dibawa perjalanan jauh.” “Memangnya kita mau kemana lagi nona?” Tanya June. “Kita akan menuju palung laut terdalam untuk mengambil salah satu dari tujuh elemen tersebut, garam suci yang mengendap di dalam laut selama ribuan tahun.” “Kalau begitu berarti kita akan menyelam untuk mendapatkan benda itu bukan?” “Kau benar Jer, tapi ada satu masalah yang tidak bisa dihiraukan begitu saja. Tempat itu sangat dekat dengan markas Dokoon yang terkenal sangat buas.” “Eh tunggu dulu, bukankah anda tadi mengatakan tentang palung laut?”  “Memangnya ada apa June?”  “Gini loh Jer, bukannya palung laut itu berada jauh di tengah samudera raya?” “Emangnya dimana lagi? Masak iya di dalam danau ini?” Sahut Jeremy. “Kalian sebagai anak muda ternyata memiliki pengetahuan yang luas. Tapi memang benar tempat ini berada di tengah samudera raya. Oleh karena itu kita tidak boleh membuat kesalahan, apabila kita gagal maka tidak akan ada cara untuk kembali.” “Sudah kuduga misi ini akan menjadi hal yang sangat mustahil untuk dilakukan dengan cara yang aman.” “Lagian lo aneh June. Mana ada benda sepenting itu disimpan sembarangan.” “Soalnya di benteng Galesia sudah terasa biasa melihat benda itu.” “Asal kalian tahu, sebenarnya leluhur kamilah yang mengambil benda itu dengan bantuan beberapa Medallion dari benteng lainnya.” “Hah, jadi anda pun tidak bisa memastikan tugas ini akan berjalan dengan lancar?” “Memangnya siapa yang pernah mengatakan hal itu? Kita melakukan tugas dengan pertaruhan nyawa untuk keselamatan umat manusia. Tapi jujur saja aku sangat bersemangat untuk melakukannya.” Setelah membicarakan beberapa hal lagi maka mereka pun melakukan apa yang diperintahkan oleh Horma. Sementara itu Homa mempersiapkan perbekalan yang dibutuhkan dalam perjalanan nanti. Pada malam hari sebelum tidur, Jeremy naik ke atas bumbungan gua dengan pemandangan yang terbuka untuk melihat sekeliling pulau Legion. “Astaga ternyata pulau ini benar - benar besar.” “Woi, lo ngapain naik kesini?” Kedatangan June tidak mengejutkan Jeremy karena dia sudah merasakan hawa kehadirannya. “Gue belum bisa tidur. Padahal baru kemarin kita masih bersantai di benten Galesia. Tapi sekarang sudah ada disini. Dan esok hari kita bakal pergi ke tempat yang sangat berbahaya. Pergi kesana dengan kapal aja gue belum tentu berani.” “Ah kenapa lo malah ngomong gini sekarang. Gue kira lo sudah siap dengan segala resikonya.” “Siap sih siap aja. Tapi kalau gagal kita gak akan bisa ketemu sama keluarga lagi loh.” “Apa yang lo katakan emang benar. Tapi apa yang dibilang sama nona Horma juga gak bisa dipungkiri. Mungkin memang sudah takdir kita untuk melakukan tuga sini pada zaman sekarang.” “Nah sekarang gaya bicara lo sudah kayak Medallion beneran.” “Enak aja. Memangnya dari kemarin gue Medallion tiruan?” June mendorong pundak Jeremy karena kesal. “Bukan gue yang ngomong loh ya,”sahut Jeremy. “Oya Jer, menurut lo apa Marvin dan Nadine sedang dalam keadaan baik - baik aja ya?” Tanya June dengan suara pelan. Tampaknya dia sangat mengkhawatirkan sahabatnya yang ditinggalkan di benteng Galesia. “Nah menurut perasaan lo gimana June?” Tanya Jeremy. “Gimana ya? Gue sebenarnya yakin kalau mereka dalam keadaan baik - baik saja.” “Duarr…!” Saat mereka sedang berbicara tiba - tiba terdengar ledakan yang sangat kuat sehingga menggetarkan tempat itu begitu kuat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN