Sementara itu Jeremy dan lainnya sudah berjalan cukup jauh menuruni tangga. Tapi syukurnya Horma sudah dapat berjalan dengan normal setelah mendapatkan pertolongan dari June.
“Jer, kenapa Marvin dan Nadine belum juga menyusul kita ya?” June berkali - kali menoleh kebelakang.
Jeremy yang khawatir tidak bisa menunjukkan kecemasannya kepada June agar tidak menambah keresahan sahabatnya itu.
“Hey Jer, gue ngomong sama lo nih. Kok gak jawab sih?” June menatap Jeremy karena tidak mendapat jawaban yang diinginkannya.
Daripada menjawab pertanyaan June, Jeremy lebih memilih untuk mempercepat langkahnya mengejar Horma yang ada di depannya.
“Lo mau kemana Jer? Kalau terjadi apa - apa sama mereka gimana dong?”
“Ingat June, kita sekarang adalah seorang Medallion.” Horma memotong pembicaraan itu.
“Baiklah aku mengerti,” sahut June.
“Kau tenang saja June. Aku memiliki firasat kalau mereka baik - baik saja saat ini. Sebaiknya kita meneruskan perjalanan untuk mengerjakan misi yang sudah ditetapkan.”
“Misi?” June terkejut.
“Menjadi Elemen Cahaya yang tersebar di seluruh dunia untuk menyelamatkan dunia dari kehancuran seperti yang terjadi pada kota kalian. Dalam perjuangan pasti akan resiko adanya korban jiwa dari antara kita yang ada disini. Sebaiknya kalian mempersiapkan diri.”
June tidak mengira kalau bahayanya akan begitu nyata.
“Kau tenang saja June. Karena kau adalah seorang Priest, kami pasti akan melindungimu. Kalaupun ada korban jiwa, pastilah yang akan mati paling terakhir. Tapi sampai misi tercapai sebaiknya jangan berhenti berjuang.”
“Aku hanya khawatir tidak akan bertemu lagi dengan mereka.”
“June, kita hanya menjalani takdir yang sudah digariskan sejak semula. Pertemuan dan perpisahan adalah sesuatu yang biasa akan dialami oleh semua orang. Jangan pernah biarkan hatimu dipengaruhi oleh sesuatu yang tidak dapat diubah seperti itu. Karena sebesar apapun kekhawatiranmu tidak akan mengubah apa yang sudah dan harus terjadi.”
“Apa maksud anda nona Horma? Bukankah kita masih memiliki pilihan untuk memutuskan semuanya akan terjadi atau tidak?”
“Hahaha, begitulah cara berpikirku saat aku masih seusia denganmu dulu. Tapi berhentilah berpikir kalau kau dapat mengubah garis takdir anak muda. Kekuatan yang menetapkan takdir melebihi batas semua akal sehat.”
June terdiam mendengar perkataan Horma yang langsung mengubah pandangannya.
“Aku akan melakukan yang terbaik agar lebih siap menjalani apa yang akan terjadi berikutnya.”
“Kau lebih cepat belajar dibanding aku yang dahulu sangat keras kepala. Generasi ini memang sangat mengerikan. Kalian pasti akan Medallion yang jauh lebih baik dari generasiku.”
Saat mereka berjalan tiba - tiba merasakan sesuatu yang datang dari arah belakang dengan cepat.
“Apakah anda merasakannya nona Horma?” Jeremy membalikkan badannya dan bersiap dengan tongkat di tangan.
“Ya, sepertinya kita masuk ke tempat ini disaat yang tidak tepat. Ayo percepat langkah kalian kalau tidak mau tenggelam disini!”
Horma membuat penghalang dinding air di belakang kemudian berlari menyusul Jeremy dan June yang sudah berlari terlebih dahulu.
Jalan yang tadi kering kemudian berubah menjadi jalan berbatu yang licin oleh karena terdapat mata air di kanan dan kiri terowongan tersebut.
“Auu…!” June tiba - tiba terjatuh karena tergelincir saat berlari tidak memperhatikan langkahnya.
Jeremy berlari ke belakang dan langsung menolong sahabatnya yang pakaian sudah basah dan terkena lumpur.
“Maka lo lihat jalan dong June!” Jeremy menarik tangannya agar bangkit secepatnya.
“Jer, kok nona Horma belum nyusul juga sih?”
“Yaelah kenapa malah khawatir sama dia. Satu - satunya yang harus dikhawatirkan disini cuma lo kali. Nona Horma pasti sedang melakukan sesuatu untuk keselamatan kita.”
“Oh gitu ya.” Maka berlarinya June bersama dengan Jeremy yang terus memegang tangannya dengan erat.
Semakin kedepan jumlah air yang semakin bertambah. Saat ini mereka sudah berada di tempat air yang sudah menutupi mata kaki.
“Gila ni Jer! Bisa - bisa kita tenggelam disini.” June ketakutan dan menguatkan pegangannya.
“Makanya fokus aja ke depan. Jangan pikir yang aneh - aneh dulu!”
“Hey mengapa kalian baru sampai disini?” Kedatangan Horma yang tiba - tiba mengejutkan mereka yang sedang berlari.
“Apa boleh buat aku tidak bisa berlari terlebih dahulu karena harus mengimbangi kecepatan June.”
“Bahaya sebentar lagi terowongan ini akan dipenuhi oleh air danau. Pulau yang kita tuju masih lumayan jauh. Kalau begitu bagaimana kalau June naik ke atasku saja.”
“Jangan lakukan nona! Keadaan anda sedang tidak memungkinkan untuk mengangkatku. Nanti luka - luka anda akan terbuka lagi.”
“Kita sudah hampir kehabisan waktu sementara penghalang yang aku buat tidak bisa menahan air lebih lama lagi.”
“June, kali ini saja aku akan mengangkatmu. Apakah kau mau melakukannya?” Jeremy merendahkan pundaknya.
“Ap…?” Sebelum June menyelesaikan kata - katanya Horma langsung mengangkatnya naik ke atas pundak Jeremy.
“Kalian mengapa harus memperdebatkan hal yang tidak penting dalam keadaan seperti ini.”
“Maafkan aku.” June menundukkan kepalanya.
“Kalau begini aku dapat bergerak lebih leluasa walau memang terasa agak berat.”
“Apa maksudmu dengan berat?” June kesal dengan perkataan Jeremy.
“Ayo Jeremy!” Horma mempercepat gerakannya 10 kali lipat dari sebelumnya.
Maka Jeremy pun menyusul Horma dari belakang melewati genangan air yang semakin naik.
“Aku tidak mengira kau masih dapat bergerak begitu cepat dengan adanya genangan air ini ditambah lagi kau sedang mengangkat orang.” Horma melihat Jeremy yang berlari di belakangnya.
Sebenarnya Jeremy pun tidak menyadari apa yang dilakukannya. Yang ada di pikirannya hanya untuk mengejar Horma yang ada di depannya. Oleh karena itu dia hanya tersenyum merespon perkataan tersebut.
“Apakah perjalanan ini masih jauh?” Tanya Jeremy.
“Sudah dekat, tapi sepertinya kita harus bersiap menahan nafas untuk melewati sisa terowongan ini.”
“Hah…!” Tiba - tiba air danau menyeruak dari belakang dan bersiap menerjang mereka.
“Huuup!” Mereka pun menarik nafas panjang dan mereka langsung terbawa oleh air yang mengalir dengan cepat.
Aliran air itu membawa mereka kepada sebuah sumur kemudian naik ke permukaan dengan cepat dan terlempar ke udara.
“Aaa…!” Mereka berteriak saat berada di udara dan bersiap mendapat ke tanah.
“Selamat datang di pulau Legion. Tempat kami mendapatkan bahan makanan. Ayo kita masuk ke dalam hutan sebelum malam datang.” Horma mengajak mereka melalui suatu jalan setapak yang ditumbuhi rumput.