Penjaga Dari Balik Layar

1117 Kata
Marvin pun menyimpan semua hal itu di dalam hatinya seraya iya bersiap untuk mengantisipasi akan orang berbahaya yang disebutkan oleh jiwa - jiwa kegelapan tersesat itu. Tak berapa lama akhirnya Elemen Kegelapan itu pun sudah tertutup oleh tanah. Henri menguburkannya jauh ke dalam bumi menggunakan kekuatannya. “Apakah begitu sudah cukup tuan?” tanya Marvin. “Ya sepertinya sudah. Sekarang aku harus membereskan semua kekacauan ini.” “Wah...wah...wah, seperti baru terjadi benda di tempat ini.” Mereka terkejut dengan kedatangan seseorang yang tak terduga. “Tuan Hur, dari mana saja anda selama ini?” “Aku mendapat informasi dari Horsa yang mengatakan ada benteng yang membutuhkan bantuanku. Tanpa pikir panjang aku pun bergegas pergi ke tempat ini. Ternyata saat aku sampai disana tidak ada masalah yang terjadi. Aku harus bertemu dengan Horsa dan menanyakan mengapa dia melakukan hal itu.” “Tidak perlu tuan.” Hur yang bingung pun kemudian mendapatkan penjelasan akan apa yang sudah terjadi di Benteng Galesia saat kepergiannya. “Aku tidak menyangka dia dapat dikendalikan oleh kegelapan. Tapi kejatuhan seorang Medallion akan lebih dalam dari seorang manusia biasa apabila tergoda oleh kegelapan. Oleh karena itu jangan percaya pada kegelapan dalam wujud apapun.” Marvin yang mendengarnya pura - pura mengiyakan peringatan tersebut karena dia menyimpan jiwa - jiwa tersesat di dalam dirinya. “Oya bagaimana dengan rencana untuk mencari elemen kegelapan?” Tanya Hur. “Bukankah seharusnya tuan Hur juga ikut dalam misi ini?” Sahut Marvin. Hur pun berpikir sejenak dengan raut wajah yang meragu. “Ada apa? Mengapa kau tidak menjadi pertanyaan Marvin?” Tanya Henri. “Setelah melihat apa yang terjadi, sepertinya kita tidak mungkin hanya berfokus pada hal itu saja.” “Apa yang anda katakan itu benar tuan. Kita juga harus mengantisipasi pergerakan kekuatan kegelapan juga.” “Kau memang bisa diandalkan Marvin.” “Aku hanya mempertimbangkan semua kemungkinan tuan.” “Kalau begitu terpaksa kita membagi tugas disini. Aku akan berkeliling ke semua benteng Medallion di seluruh dunia untuk memperingatkan mereka akan masalah yang sedang mengintai selain para Dokoon.” “Apa anda yakin akan melakukan itu seorang diri tuan Hur?”  “Tenang saja. Walau aku sudah tua, tapi tidak akan mudah ditaklukkan oleh beberapa Dokoon tingkat bencana. Kau sebaiknya pergi bersama dengan Nadine mengawal Jeremy dan yang lainnya dari balik layar. Untuk sementara kalian jangan muncul dulu ke permukaan untuk mengantisipasi musuh yang mengintai.” “Oho, berarti kami sekarang akan bertugas sebagai pengawal mereka. Aku suka ini. Sepertinya akan menyenangkan memperhatikan apa yang mereka lakukan dari jauh.” “Aku sudah dengan semangatmu Marvin. Tapi kau juga tidak boleh meremehkan kekuatan kegelapan. Ingatlah kalau mereka adalah bayangan itu sendiri. Kalau tidak begitu diperlukan sebaiknya kalian tidak menunjukkan kekuatan Medallion sekalipun di antara para Medallion sekalipun.” Ternyata untuk membicarakan semuanya membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Saat mereka sedang berdiskusi, tiba - tiba Nadine bangun setelah setengah dari kekuatannya pulih. Saat Nadine bangun dia langsung sigap mengambil posisi siaga tempur dengan memegang busurnya. “Hey tenanglah, musuhnya sudah tidak ada lagi.” Marvin menyadari Nadine yang sudah bangun. “Apa? Bagaimana itu bisa terjadi?” “Lihatlah di sekitarmu.” “Dia!” Nadine terkejut saat melihat Henri yang sedang berdiri di hadapannya. Dia masih trauma dengan apa yang dialaminya tadi. “Nadine, maafkan aku karena telah berlaku buruk padamu tadi. Aku benar - benar tidak sadar dengan apa yang telah terjadi. Makhluk itu menarik jiwaku ke dalam kegelapan sehingga aku tidak bisa mengendalikan diriku sendiri.” “Hah!” Nadine masih belum bisa menerima perkataan Henri tersebut. Anak panah masih terarah lurus kepada kedepan dan bersiap untuk menyerang. “Nadine, sudah aku bilang semua sudah berubah. Sekarang turunkan busurmu dan tenanglah. Semua akan baik - baik saja. Percayalah padaku.” “Benar apa yang dikatakan Marvin.” Nadine yang dipenuhi amarah tiba - tiba lemas saat pundaknya disentuh oleh Hur dari belakang. “Tuan Hur!” “Maaf karena aku baru sampai disaat kalian sudah mengalami semua hal buruk ini.” Maka Nadine membalikkan badan dan menangis karena tidak terpikirkan kalau akan selamat dari kematian. Marvin mendekatinya dan memberikan selembar kain untuk mengelap air matanya. “Aku tidak menyangka orang sepertimu dapat menangis juga.” “Apa maksudmu Marvin?” Sahut Nadine dengan suara keras. “Sudahlah kalau menangis aku tidak akan memberitahukan kepada para Warrior lainnya.” “Awas kalau kau mengingkari janjimu.” Nadine menatap Marvin dengan tajam. “Iya iya. Kami lebih menyebalkan daripada June.” “Marvin, Nadine, apakah kalian sudah siap dengan misi yang sudah dibicarakan?” “Sudah tuan Henri.” Sahut Marvin. “Misi apa yang kau anda maksud?” “Kita sudah tidak memiliki waktu untuk membahasnya lagi. Karena kau akan bertugas bersama dengan Marvin, maka dialah yang akan memberitahu kepadamu lengkapnya.” “Loh mengapa aku harus menjalankan misi bersama dengan orang ini?” Nadine menunjuk kepada Marvin. “Memang apa masalahnya wanita bawel?” “Aku tidak mau kau menjadi bebanku dalam melaksanakan tugas ini.” “Kau tidak perlu khawatir. Aku percaya Marvin adalah orang yang tepat untuk menjalankan misi itu.” “Baiklah tuan Henri. Lalu bagaimana dengan tuan Hur?” “Hehehe, aku juga memiliki misi sendiri yang lebih merepotkan daripada yang kalian kerjakan.” “Benarkah. Padahal aku kira dapat bertarung bersama dengan tuan Hur yang terkenal.” Setelah mendengar beberapa perkataan lagi dari kedua pemimpin benteng itu, Nadine pun pergi bersama Marvin keluar dari pintu lainnya. “Aku tidak percaya masalahnya akan begitu pelik. Tapi mendapatkan misi langsung dari dua orang pemimpin benteng mungkin akan membuat namaku dikenang dalam sejarah turun temurun. Sebaiknya kau tidak membebaniku!” “Bukankah seharusnya aku yang berkata seperti itu. Memangnya siapa yang pingsan saat bertarung tadi. Padahal hampir saja aku kagum dengan keberanianmu yang mau menjaga benteng ini. Tapi ternyata hanya wanita yang tidak bisa mengukur kemampuannya dan malah mempermalukan dirinya sendiri.” “Jaga mulutmu Marvin!” “Kalau saja aku tidak datang tadi pastilah kau sudah tinggal sejarah kosong saat ini.” “Apa maksudmu?” Nadine terkejut dengan perkataan Marvin tersebut. Marvin yang menyadari apa yang dikatakannya hampir membongkar rahasia dari kekuatannya terdiam dan mencari alasan untuk mengalihkan perhatian Nadine. “Oh tidak apa - apa? Aku hanya salah bicara saja.” “Tidak mungkin. Pasti kau sedang menyimpan rahasia dariku.” Nadine menghentikan langkahnya dan berbalik kepada Marvin. “Lagipula apakah kau percaya kalau kukatakan kalau aku yang mengalahkan makhluk itu?” “Hahaha, jangan bermimpi terlalu tinggi anak muda. Kau hanya Medallion pemula yang baru menguasai beberapa teknik tingkat menengah saja.” Marvin lega ternyata pemikiran Nadine yang remeh menyelamatkannya dari bahaya akan terbongkarnya rahasianya. “Ya sudah kalau begitu untuk apa aku menjelaskan semuanya.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN