bc

Bule Hunter

book_age18+
510
IKUTI
5.2K
BACA
possessive
dominant
badgirl
powerful
bitch
drama
chubby
gorgeous
passionate
seductive
like
intro-logo
Uraian

Ini cerita 18+, Kisah wanita yang terobsesi dengan pria barat hingga membuatnya lupa diri bahwa ia telah bersuami dan telah memiliki seorang buah hati, Permainan n***u, Tipu Daya, Konflik Rumah Tangga

chap-preview
Pratinjau gratis
Liana.. kembali bekerja setelah sekian lama usai melahirkan putra pertamanya.
Liana seorang wanita berumur 35 tahun bersuami dengan satu orang anak yang masih berusia 5 tahun tinggal di sebuah Kota besar yaitu Jakarta , Suaminya bernama Rian berumur 41 tahun, Seorang Pengusaha yang sedang tekun merintis usahanya dengan segala kerja kerasnya, Terkadang hingga tubuhnya selalu letih saat menyentuh Liana karena tenaganya telah terkuras oleh hari-hari yang melelahkan, dan prilaku romatis telah terkikis oleh konsentrasinya merintis cita-citanya, Liana seorang wanita yang memiliki standart tinggi tentang kepuasan diatas ranjang, Namun pada kenyataannya ia memiliki pasangan yang biasa-biasa saja dalam urusan bercinta, Liana haus akan Romantisme, Ciuman yang panas, dan tentunya keperkasaan seorang pria diatas ranjang, pikiran-pikiran nakalnya terus bergelora, hingga tumbuhlah suatu hasrat dalam benaknya untuk bisa merasakan nikmatnya bercinta dengan seorang pria barat yang berkulit putih, bertubuh tinggi, dan memiliki alat vital yang cukup besar. 6 tahun ia menikah akhirnya hasrat itu tak terbendung lagi, Ia mulai mencoba coba berurusan dengan segala sesuatu yang dapat membawanya kepada pria barat yang ia idam-idamkan walau hanya untuk kesenangan saja, karena pada kenyataannya ia adalah seorang wanita bersuami. Dari mulai memilih pekerjaan di perusahaan PMA yang memungkinkannya akan berkenalan dengan atasan atau rekan kerja dari eropa atau amerika, Akhirnya keinginan itupun terwujud, tak lama kemudian ia mendapatkan pekerjaan yang memiliki atasan langsung seorang pria barat bernama Miguel, Namun semuanya tak sebaik harapannya, iya.. Liana mendapatkan pekerjaan itu, Tapi hanya pekerjaan saja karena ternyata tidak semua pria barat membuatnya tertarik, dan mungkin juga atasannyapun tidak tertarik kepadanya. Tapi tidak masalah baginya setidaknya ia beranggapan bekerja akan membuat wawasannya semakin baik dan ia merasa wanita berwawasan tampak lebih menarik di hapadan pria. Pagi itu hari pertama Liana bekerja, ia mengenakan kemeja warna putih bergaris merah muda yang membuatnya merasa berbeda karena sudah cukup lama ia berhenti bekerja di perusahaan lama setelah melahirkan Noah buah hatinya, Walaupun ia wanita berhijab tapi ia percaya bahwa berhijab tidak membuat daya tariknya berkurang sebagai seorang wanita, Seperti biasa pagi itu ia duduk di meja makan bersama Rian suaminya yang tampaknya sudah sibuk dengan Klien saling berbicara melalui telepon, sudah pukul 7.00 pagi Rian masih tampak belum berkurang kesibukannya dengan ponselnya, Liana sudah memesan ojek online seperti biasa, Ia berpamitan dan mencium tangan Rian, " Mas Aku berangkat duluan Ya, Mas tidak mengantarku kan?" Kata Liana " Maaf Lia kamu tidak masalah kan berangkat sendiri? Jawab Rian. " Tidak apa apa mas, mas sibuk ya sudah aku juga sudah pesan ojek online" Rian hanya mengacungkan jempolnya tanda dia menyetujuinya. Liana selalu terbiasa datang pagi ke kantor, sama halnya dengan pagi itu di hari pertamanya bekerja di tempat baru, Liana biasa menghilangkan suntuk dengan berlama-lama di dalam toilet karena di toilet ia terbiasa mengexplorasi diri dan meneliti kecantikannya yang tidak semua orang bisa menyaksikannya karena sebagian tertutup hijabnya, terkadang ia mengkoleksi foto-foto di depan kaca saat ia tanpa hijab, dan itu sering kali ia lakukan di dalam toilet, Saat itu sambil memperbaiki riasan makeup, Ia seolah berbicara pada dirimya sendiri " Masa sih pria tidak tertarik padaku" sambil memutar mutar tubuhnya dan memperhatikannya di depan cermin. Waktu bekerja telah tiba, hari itu banyak sekali urusan yang harus ia kerjakan sebagai asisten manager apalagi itu adalah hari pertamanya, mempersiapkan semua dokumen, memeriksa, berkoordinasi dengan klien, banyak sekali walaupun melelahkan namun bekerja adalah salah satu kesenangan baginya, jadi semuanya ia nikmati hingga jam kerja telah habis. Sampailah ia di rumah tepat pada pukul 17.35 anaknya noah telah menantinya begitu lama, segera ia melepaskan diri dari vivi yaitu suster yang mereka bayar untuk merawat anak mereka, Ia lihat Rian tampaknya belum pulang juga, kemudian ia mengambil ponselnya dan mencoba menghubunginya. " Halo... Mas sedang dimana? " Kata Liana " Sedang survey lokasi klien " jawabnya terdengar masih sibuk dengan suara suara Kliennya. " Oh ya sudah jangan lupa makan ya" " Iya Li.. udah dulu nanti sambung dirumah ya " Jawabnya bersamaan dengan ditutupnya panggilan telepon itu. Liana merasa sedikit suntuk sore itu, ia pun segera mengambil kembali ponselnya dan berfikir apa yang akan ia kerjakan agar ia terbebas dari rasa bosan. Akhirnya muncul ide di kepalanya, ia mencoba memasang sebuah aplikasi pertemanan dengan harapan ia mendapatkan teman baru yang mungkin dapat mengusir kebosanannya. Wajahnya tersenyum senyum karena pikirannya kembali ke beberapa tahun yang lalu saat ia masih lajang, Ia merasa jiwa mudanya kembali bergelora saat dia sudah mulai bermain main dengan sosial media tersebut. Hingga waktu tak terasa ia habiskan berlama lama di depan ponselnya. Dan entah kenapa Liana berfikiran untuk tidak menggunakan nama asli untuk aplikasi pertemanan itu, Ia memilih nama Henny dan satu hal yang tidak biasanya entah kenapa Liana berfikiran untuk memasang foto profil tanpa hijab, Ia merasa suaminya jarang sekali memuji kecantikannya, Ia juga merasa ingin sekali mengukur ketertarikan pria-pria di aplikasi pertemanan tersebut terhadap fisiknya. Sampai muncul sebuah banyak sekali notifikasi ketertarikan pria pria di dunia maya terhadap dirinya, namun tidak ada satupun yang membuatnya senang, ia hanya merasa mereka hanyalah pria-pria yang penuh modus mencari wanita untuk ditipu dan dikelabuhi. Hingga akhirnya ada satu chat yang membuatnya penasaran, ternyata ada seorang pria barat yang menulis chat padanya. Jantungnya merasa berdegup kencang, pikirannya dipenuhi rasa penasaran, apakah benar seorang pria barat ataukan hanya seseorang yang memasang foto profil palsu. Dia mencoba berfikir positif. " Hi.. How are you? " Ucap pria itu dalam chat " Hi... I m Fine " Jawab Liana. " My name is Steve.. whats your name? " Ternyata pria itu mengaku bernama steve. Tampaknya semua ini membuat Liana mulai lupa bahwa ia belum juga mandi ataupun membersihkan diri sepulang dari kantor, Ia hanya menemani putranya yang sibuk bermain sendiri sambil ia sendiri juga sibuk dengan ponselnya. " Hi.. my name Henny " ekspresi tersenyum menahan diri terhadap kebohongannya. " Baiklah.. Anda tampak cantik " Kata Steve. " Oh kamu bisa bahasa Indonesia? " Tanya Liana dengan rasa penasaran. " Benar.. saya tinggal di Jakarta " Jawab Steve. Saat itulah Liana baru mengetahui ternyata Steve adalah seorang expatriat berumur 40 tahun asal Balanda yang bekerja di sebuah perusahaan telekomunikasi di Indonesia. Entah apa yang terjadi setelah 1 jam berkomunikasi dengan Steve, Liana merasa berbunga-bunga karena Steve terus menerus memuji kecantikannya. Hingga tanpa sadar ia tidak mengetahui bahwa Rian sudah ada di hadapannya, " Eh mas kapan datang? " Tanya Liana terkejut menyaksikan suaminya sudah ada di hadapannya sambil ia segera menutup chat nya. " Sudah makan mas?" Tanya Liana sembari berdiri dari tempat duduknya " Belum lapar nanti saja Li.. aku mandi dulu" Kata Rian sambil berjalan menuju kamar mandi. Setelah Rian menghilang dari hadapan Liana, Liana pun kembali melihat ponselnya, ia membuka lagi aplikasi pertemanan yang tadi ia sedang asyik melakukan chat dengan steve, tetapi ternyata steve telah meninggalkan chat, mungkin karena Liana telah terlalu lama tidak menghiraukan chat nya Steve. Dalam hatinya ia menyesal belum meminta kontak secara pribadi untuk menghubungi steve. Hanya dipandanginya foto profile Steve di aplikasi pertemanan itu, seorang pria barat tinggi besar dengan bentuk tubuh yang sempurna dan proporsional. Matanya yang kebiruan, bekas cukuran di janggut yang tampak begitu seksi di mata Liana, semua yang ada di Steve adalah sesuatu yang ia impi-impikan. Walaupun itu hanya sekedar permainan saja baginya, memgingat ia adalah seorang Istri dengan 1 buah hati. Liana tidak kehilangan akal, hanya mengandalkan keberuntungan ia akhirnya mencoba meninggalkan kontaknya di chatnya dengan Steve di Aplikasi pertemanan itu, berharap jika Steve kembali aktif ia akan menyimpan kontaknya. Malam itu Liana berharap dapat berhubungan badan dengan Rian karena tampaknya sudah hampir seminggu ia tidak melakukan hubungan seks, sebagai seorang wanita yang menikah tentunya ia memiliki kebutuhan seks secara rutin. Maka malam itu ia merias diri setelah mandi dengan harapan Rian akan tergoda dan mengajaknya berhubungan badan. Namun saat ia melangkah mendekati ranjang, Ia dapati suaminya Rian telah tertidur dengan pulasnya dan tampak keletihan. Maka Ia pun mengurungkan niatnya untuk mengajak Rian berhubungan badan. Rian tidak biasanya tidur lebih awal, Hal ini membuat Liana merasa bosan dalam keadaan terjaga sendirian, Kakinya melangkah mendatangi dapur, dibuatnya secangkir kopi untuk menghilangkan rasa suntuknya. Duduklah ia di sofa ruang tengah, sebuah sofa berwarna biru tua dengan 2 buah bantal empuk, Liana menikmati kopinya sambil membuka lagi aplikasi pertemanan itu, Ternyata Steve belum juga membalas chatnya, Ia berfikir mungkin Steve hanya berbasa basi dan tidak serius untuk lebih dekat dengan Liana, walaupun banyak notifikasi ajakan memgobrol dari banyak pria di aplikasi itu, namun Liana tetap tidak menggubris, karena ia hanya tertarik pada seorang pria barat bernama Steve, Rasa penasaran menghantui pikirannya. Angan-angannya jauh melayang-layang tentang Pria tampan itu. Setiap beberapa jam ia senantiasa memeriksa chatnya di Aplikasi pertemanan itu. Beberapa hari berlalu seperti biasa, Liana melakukan aktifitasnya sebagai seorang Karyawan, seorang Istri, dan seorang Ibu, Siang itu di kantor ia berbincang-bincang dengan Ana salah satu rekan kerjanya. " Li.. Betah kamu kerja disini? " Tanya Ana sambil memakan cemilan di meja kerja. " Ya dibetah betahin lah mbak.. namanya juga kerja" Jawab Liana sambil tetap sibuk mengetik di laptopnya. " Yang sabar ya Li kalau ngadepin si bule (atasan mereka Miguel yang dimaksud) " kata Ana sambil tertawa lirih... " Memang kenapa? " Tanya Liana penasaran. " Iya kalau instruksi suka ga masuk akal, kadang-kadang nyuruh urus urusan pribadi yang tidak masuk job desk" Jawab Ana. " Misalnya apa? " Liana kembali bertanya dengan rasa penasaran. " Ya aku saja pernah disuruh urus pembantunya yang salah beli makanan anjingnya " Jawab Ana. " Hah... masa sampai segitu? " kata Liana terheran heran. " Iya Li.. buat apa aku bohong, Juga hati-hati ya, kadang-kadang suka genit orangnya" Jawab Ana sambil beranjak dari meja dan datang mendekat ke meja Liana. " Pokoknya hati-hati..." Kata Ana membisikkan ke telinga Liana. Setelah percakapan itu Liana menjadi berfikir apakah benar apa yang dikatakan Ana padanya, Tapi Liana tetap bersikap profesional tidak semata-mata mempercayai begitu saja apa yang dikatakan oleh Ana. Sampai akhirnya di suatu siang Miguel menelponnya. " Liana.. can you pickup some document in my Apartement? " Perbincangan di telepon itu tentang Miguel yang memerintahkan Liana mengambil dokumen di Apartement tempat Miguel tinggal, setidaknya Liana harus menempuh perjalanan selama 15 menit menuju tempat itu. Dalam perjalanan Liana kembali memikirkan apa yang pernah diucapkan oleh Ana. " Ternyata Ana tidak bohong" Ucap Liana dalam hati Sampailah ia di sebuah gedung tinggi 30 lantai, dihampirinya resepsionis di Lobby gedung itu untuk meminta ijin menemui bossnya yang merupakan penghuni apartement itu. setelah peebincangan dengan resepsionis itu selesai beranjaklah ia ke Lantai 9 nomor 906, alamat dimana Miguel tinggal. Didepan pintu Liana berlahan mengetuk.. dengan rasa berat hati, ia merasa tidak semestinya mendapatkan tugas seperti itu, ia merasa seharusnya dokumen bisa dikirim dengan kurir atau memerintahkan OB yang mengambilnya, Tapi karena ia merasa sebagai pegawai baru yang harus memperlihatkan kinerja yang maksimal, Ia pun merelakan tugas yang dianggapnya tidak profesional itu. Tidak lama kemudian seseorang membuka pintu itu, Seorang pria dengan tinggi badan 180 cm, dengan bercelana pendek ala pantai, dan menggunakan kaos dalam saja. " Hey.. Liana.. masuk.." Kata Miguel dengan bahasa Indonesia logat keinggris inggrisan. " Baik pak.." Jawab Liana. Berlahan kakinya melangkah memasuki sebuah apartement yang cukup mewah dan luas, dengan barang-barang dan furniture yang berkelas. " Silahkan duduk.." Kata Miguel mempersilahkan Liana. Liana pun duduk di sebuah sofa kulit berwarna coklat yang ada di bagian terdepan dari ruangan apartement itu. Matanya terus berkeliling mengunjungi setiap sudut ruangan tempat ia berdiam diri waktu itu. Sedangkan Miguel masuk ke dalam meninggalkan Liana sejenak. Liana saat itu mengenakan Blouse warna hitam dengan dalaman warna putih dan rok panjang tampilan standart seorang wanita karir yang berhijab, Tak lama kemudian Miguel datang menyadarkan Liana dari lamunannya. " Bagaimana Liana.. apakah kamu senang bekerja di perusahaan ini? " Tanya Miguel. " Ehmm.. masih penyesuaian Pak tapi so far so good lah" Jawab Liana. " Bapak tinggal dengan siapa disini? " Tanya Liana berbasa basi. " Oh aku sendiri saja, biasanya pagi hari pembantu datang untuk membersihkan tempat ini, tapi hanya sebentar kemudian mereka pulang " Jawab Miguel. " Oh.. ibu tidak tinggal disini pak? " Tanya Liana. " Oh istriku tinggal di Rumah kami di Bali dia tiadak senang tinggal di Jakarta " Jawab Miguel. " Jadi Saya memanggil kamu kesini karena ada yang ingin saya berikan kepada kamu secara pribadi, itulah sebabnya saya tidak membicarakannya di kantor " Miguel mulai serius membuka pembicaraan. " Apa ya pak maksudnya? " Tanya Liana mulai curiga dan penasaran. " Jujur saja saya tertarik dengan kamu, kamu sangat cantik " Kata Miguel Mendengar itu Liana merasa kebingungan serasa ada petir besar menyambar tidak tau harus menjawab atau mengatakan apa. Liana hanya terdiam dengan pandangan kosong seolah waktu berhenti berjalan pikirannya seolah tidak mampu lagi memikirkan sesuatu dalam keadaan itu, Tanpa Sadar Miguel telah duduk di sebelahnya dan wajahnya seolah telah sangat dekat dengan wajah Liana. Bahkan Liana tidak sadar bahwa Miguel telah mendaratkan bibirnya ke bibir Liana. setelah sadar Liana terkejut dan mencoba mendorong Miguel menjauh, Namun tenaga Liana tidak seberapa dan tidak mampu menggeser posisi Miguel sedikitpun. Pria barat berusia 48 tahun itu semakin dekat dan memeluk Liana denga kuat. Tangannya meraba ke arah d**a Liana yang terbalut kemeja, Jemari-jemari itu mulai meremas-remas d**a Liana dan bibirnya terus menghujam bibir Liana. Entah kenapa Liana mulai kehabisan tenaga untuk memberontak, dan ia pun mulai pasrah, dalam hatinya bertanya tanya apakah yang ia lakukan ini benar. apakah ia sedang bermimpi buruk atau ini mimpi yang menyenangkan. karena jujur Liana juga dalam keadaan yang butuh sentuhan laki-laki setelah lama Rian tidak menyentuhnya. tanpa ia percaya hujaman demi hujaman ciuman bibir Miguel mulai ia nikmati, bukan lagi berontak Liana mulai membalas cumbuan Miguel, Lidahnya membalas permainan lidah Miguel di bibir mereka berdua yang saling beradu, tanpa ragu lagi tangan Liana menelusup ke dalam celana Miguel dan menggenggam batang kemaluan Miguel yang mulai mengeras. " Oh.. besar sekali pak" Kata Liana. " Iya.. kamu mau coba? " Jawab Miguel sambil tersenyum. Liana melepaskan Blouse dan kemejanya hingga tampaklah gundukan kembar yang sempurna terbungkus bra warna biru tua kehijauan. Miguel tak kalah atraktif mulai melepas kaosnya hingga bertelanjang d**a, Dilihat Liana d**a seorang lelaki bule dengan sedikit rambut rambut halus dan perut kencang berotot membentuk 6 kotak. Gairah Liana memuncak karena ia pun sudah sekian lama melewatkan hubungan badan yang seharusnya menjadi rutinitasnya dengan Rian. Bibir Liana mulai menciumi menelusuri lekuk lekuk d**a hingga ke perut Miguel, sambil tangan kanannya mengelus-elus batang panjang dan besar di dalam celana Miguel. " Oh..shit... its nice" Celoteh Miguel menikmati perlakuan Liana, " Hhmmm... bapak mau saya hisap? " Tawaran Liana kepada Miguel. " Do your best bitch..!!!! " Kata kata kasar Miguel semakin membuat Liana semakin nakal dan lepas kendali, Dikeluarkannya Batang besar dan panjang itu dari celana Miguel, Matanya melotot terheran-heran melihatnya, Batang kemaluan berwarna kemerahan yang mengeras hampir sama dengan ukuran siku Liana. " Oh my.. god... Its Monster.." Ucap Liana sembari terkagum kagum. " Insert to your mouth..!!!!! " Perintah Miguel sambil menarik kepala Liana dan mengarahkan ke batang besar miliknya tersebut. " Oughppsrrpp...ppp Oughprsst.." Suara mulut Liana yang dimasuki batang besar tersebut hingga menyentuh kerongkongannya. Tangan Miguel meraih punggung Liana dan berusaha melepas pengait bra, Dan akhirnya lepas sudah bra yang membungkus buah d**a Liana. Jemari kekar Miguel pun meremas remas buah d**a Liana yang menggantung, sedangkan Liana masih terus dipaksa mengulum batang besar Miguel yang semakin lama semakin mengeras. " Ah..ah.. please start it Pak.. " Pinta Liana sembari melepaskan celana panjang dan celana dalamnya. " Hhmm.. beg to me.." Jawab kasar Miguel sembari mencengkram leher Liana.. " Please.. f**k me.. please.. " Jawab Liana memuruti perintah Miguel. Miguel mendorong Liana ke Sofa hingga membelakanginya dalam posisi menungging, Dilihat kemaluan Liana sudah basah, Diarahkannya batang besar itu mencoba memasuki kemaluan Liana. Awalnya sulit karena Batang kemaluan Miguel tampaknya terlalu besar, dan lubang kemaluan Liana mungkin belum terbiasa dengan Batang kemaluan sebesar itu, hingga Liana sesekali merintih kesakitan, namun Miguel mengabaikannya dan terus berusaha memdoromg masuk batang k*********a tersebut. Hingga akhirnya masuk juga batang besar itu ke dalam kemaluan Liana. " Ahhk... Pelan-pelan pak.. agak sakit.." Pinta Liana agar Miguel sedikit menahan diri. Miguel mulai memompa batang besarnya itu maju mundur berlahan-lahan dan ia merasakan Kemaluan Liana mulai membasah dan terbiasa dengan batang besar itu. " Hhmm... nice p***y bitch...!!! " ucap Miguel sembari terus memompa dan sesekali menepuk keras p****t Liana. " Oh... yeah... terus Pak... ini enak sekali... penuh sekali..." Kata Liana dalam keadaan menikmati perlakuan boss nya itu, matanya sesekali terpejam menikmati keperkasaan Miguel. Ia tidak peduli lagi tentang apa yang ia lakukan, pekerjaan, dan lain-lain semua seolah sirna begitu saja larut dalam kenikmatan seorang pria Bule yang notabene adalah bossnya sendiri, " Hmmm.. enak sekali Liana... kamu memang wanita sempurna.. oh.." Kata Miguel sambil terus memompa batang besarnya menghujam kemaluan Liana. Pergumuluan itu terus berlangsung hingga 2 jam berlalu, Berbagai gaya bercinta dilakukan Miguel dan Liana, dan satu hal yang terasa begitu berkesan bagi Liana, Dengan Rian suaminya, Ia tidak pernah mendapatkan sensasi pada saat melakukan doggy style, hal ini mungkin dikarenakan batang kelamin Rian tidak sebesar dan sepanjang milik Miguel, Bahkan Liana mendapatkan Klimaks berkali kali hingga ia merasa sangat puas dengan kejadian itu. Akhirnya mereka berdua tergeletak lemas di ruang tengah apartemen Miguel, Pakaian mereka berserakan, Liana merasa sangat senang dengan kejadian yang tidak sengaja terjadi itu. " Pak.. apakah bapak memperlakukan semua staff baru seperti ini..?" Tanya Liana sambil menyandarkan kepalanya ke d**a Miguel dan jemarinya bermain main membelai d**a pria itu. " Hhmmm mengapa kamu bertanya seperti itu? " Jawab Miguel yang tidak terlalu menanggapi pertanyaan Liana. " Apakah saya tidak boleh menanyakan hal itu pak?" Kata Liana. " Sejujurnya ada sebagian dari mereka yang pernah kubawa ke atas ranjang" Jawab Miguel dengan santai. " Apakah Ana salah satunya?" Tanya Liana kembali dengan rasa penasaran. " Iya...Ana salah satu yang paling sering kuajak bercinta.., Tapi aku harap kamu tidak menceritakan kejadian ini pada siapapun termasuk Ana" Jawab Miguel. " Lalu sesuatu yang akan bapak maksud akan diberikan kepada saya tadi apa sih pak? apakah ini ?" Tanya Liana. " Hahahaha... ini adalah bonusnya, sebenarnya aku berharap kamu ada di posisi sekretaris, karena aku merasa kamu sangat cekatan" Kata Miguel. Liana terdiam dan berfikir kembali, posisi jabatannya di kantor dirasa sudah membuatnya cukup nyaman. Namun ia pun merasa tidak menutup kemungkinan tertarik dengan tawaran Miguel. " Bagaimana dengan salarynya?" Tanya Liana " Kamu mau berapa? " kata Miguel " Apakah bapak serius dengan pertanyaan itu? " Kata Liana menanggapi ucapan Miguel. " Tentu saja" Jawab Liana. Liana sebenarnya tidak terlalu memikirkan jumlah gaji yang ia terima, Karena ia merasa Rian sudah cukup mapan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Bekerja hanyalah sebuah aktifitas yang disukai oleh Liana. Liana tidak lagi menanggapi soal gaji, Ia malah mulai kembali tertarik dengan batang besar dan panjang milik Miguel yang sedang beristirahat setelah memompa k*********a ber jam jam, dengan nakalnya tangan Liana kembali mengelus Batang besar itu, Miguelpun menatapnya dengan tanya. " Kamu mau lagi?" Tanya Miguel " Boleh Pak" Jawab Liana dengan senyum nakal. Tanpa berlama lama Liana kembali berusaha membangunkan batang besar milik Miguel dengan mengulumnya, dan terjadilah pergumulan mereka untuk yang kedua kalinya di hari itu. Hingga waktu sudah menunjukkan pukul 15.00 Liana harus kembali ke kantor walaupun sepertinya ia sudah kelelahan. Tapi apa daya ia memang harus kembali bekerja menyelesaikan tugas-tugasnya yang masih menumpuk di meja kerjanya. dan hari itu menjadi hari tak terlupakan bagi Liana. dalam perjalanan pikirannya terus dikuasai memori kejadian yang baru saja ia alami. Hatinya terasa campur aduk antara penyesalan, kepuasan, adrenalin semua bercampur menjadi satu sehingga ia tidak dapat menyimpulkan bahwa kejadian itu adalah keuntungan atau kerugian baginya. " Eh.. Li sudah beres sama si bule?" Tanya Ana saat Liana baru saja sampai di ruangan kantor. " Iya aku menunggu hingga lama sekali, dia sedang menerima tamu, jadi aku harus menunggu" Jawab Liana membohongi Ana karena ia tidak mau kejadian itu diketahui orang lain, selain karena profesionalisme ia juga dikenal sebagai wanita bersuami, jadi tidak mungkin ia akan menghancurkan martabatnya sendiri. Hari itu Liana kembali ke rumah dengan wajah yang lebih cerah dan berseri seri mungkin ada pengaruh dari kejadian yang tak terlupakan yang baru saja ia alami. Namun dalam hatinya ia berharap untuk dapat mengulangi kembali kejadian itu. Ia pun berfikir untuk mengambil tawaran Miguel untuk menjabat sebagai sekretaris. Karena dengan cara itu mungkin ia merasa kesempatan mengulangi kejadian itu menjadi lebih mudah. Namun ia juga memikirkan pendapat rekan-rekan sekantornya jika ia menjabat menjadi sekretaris swsangkan ia baru bekerja beberapa hari saja. Apakah semudah itu ia dipercaya mengurus pejabat tertinggi di perusahaan itu. Setiba di rumah, ia segera membersihkan diri dengan mengguyur tubuhnya dengan air hangat sambil ia memeeiksa seluruh lekuk tubuhnya yang baru saja dijamah Miguel agar ia dapat memastikan tidak ada jejak yang tertinggal yang akan membuat masalah bagi rumah tangganya. Entah kenapa ia mulai melupakan tentang keisengannya bermain aplikasi pertemanan, terutama rasa penasarannya terhadap Steve pria yang ia kenal lewat aplikasi itu. Dan ia pun merasa tidak tanggapan serius dari Steve maka saat itu juga ia memutuskan menghapus aplikasi itu dari ponselnya. Malam telah tiba, waktunya Liana berkumpul dengan keluarga kecilnya, Noah dan Rian tampak bersama sama bercanda di ruang tengah. Hingga pukul 21.00 tampaknya Noah telah tertidur, dan Rian tampak mendatangi Liana yang berbaring santai di ranjang. " Kita olahraga yuk..." Celoteh Rian " Malam malam olahraga apa? " Jawab Liana sambil tersenyum berpura pura tidak paham dengan maksud Rian. " Masa harus aku jelaskan sih Li.." Kata Rian tampak sedikit kesal. " Eh... marah nih?..., Ya sudah aku tidur saja kalau begitu" Kata Liana menggoda suaminya. " Eh jangan lah... iya iya siapa yang marah sih?" Kata Rian sambil memeluk Liana dari belakang. Maka malam itu mereka berdua berhubungan badan, Namun tidak tau mengapa saat itu Liana membayangkan yang menyetubuhinya adalah Miguel, Mungkin Liana belum bisa melupakan kejadian di siang itu, dan mungkin Liana merasa dengan membayangkan Miguel membuatnya lebih b*******h. " Tumben Li.. malam ini kamu buas sekali " Tanya Rian. " Iya lah.. mas lupa udah berapa lama aku tidak disentuh? " Jawab Liana berbohong karena sesungguhnya semua itu akibat ia sedang membayangkan Miguel yang menyetubuhinya. " Iya.. maaf ya aku sedang sibuk sekali dan kelelahan, Tapi terima kasih ya atas pelayanan kamu yang hebat malam ini " Kata Rian sambil mengecup kening istrinya itu. Mereka berdua pun membersihkan diri dengan mandi bersama dan kemudian beristirahat dengan lelap. Pagi itu seperti biasanya di kantor Liana memgerjakan segala tugas-tugasnya tetapi ada hal yang aneh baginya, pagi itu Ana rekan kerjanya tampak tidak muncul sama sekali di kantor. Ia pun bertanya tanya kemana Ana pagi itu. " Mbak Ana kok tidak kelihatan kemana ya? apakah dia cuti hari ini? " Tanya Liana kepada Ridwan salah satu rekan kerjanya di bagian HRD. " Oh biasa mbak... anak kesayangan si boss, berangkat atau tidak terserah dia, kalaupun dia tidak di kantor dan mengatakan sedang dipanggil big boss maka tidak ada satupun yang berani menanyakan, Bahkan HRD jiga tidak berani memganggapnya cuti" Kata Ridwan dengan wajah sedikit kesal. " Oh.. gitu" Jawab Liana dengan ekspresi penasaran. Dalam hatinya menduga-duga apakah Ana sedang menemui Miguel dan melakukan seperti kejadian yang ia alami di hari sebelumnya. Entah mengapa Liana merasa ada rasa cemburu dan curiga, Batinnya tidak rela kalau lelaki bule yang pernah bergumul dengannya itu menyentuh wanita lain terutama Ana. Tapi pikiran sehatnya kembali meredam perasaan itu. " Ah untuk apa aku merasa cemburu sedangkan aku tidak memiliki ikatan apa-apa selain meraih kenikmatan bersama Miguel" Kata hati Liana. Waktu terus berjalan Liana kembali meneruskan aktifitasnya sebagai seorang asisten manager. Hendra atasan langsungnya mendatangi Liana di meja kerjanya. " Li... boss besar bilang kamu dipromosikan untuk transfer jabatan menjadi sekretarisnya" Kata hendra sembari mengecek dokumen-dokumen yang ada di meja Liana. " Kok begitu pak? tugas saya di jabatan ini saja saya belum kuasai dengan baik, bagaimana saya harus mengurus urusan yang lebih rumit? " Jawab Liana dengan serius. " Ah.. Li.. pekerjaan sekretaris jauh lebih mudah daripada jabatanmu saat ini, kamu hanya perlu mengatur jadwal, mengingatkan, mendokumentasikan semua urusan Pak Miguel" Kata Hendra. " Apakah saya wajib mengambil pekerjaan ini ataukah saya diberi wewenang untuk menentukan pilihan? " Tanya Liana . " Disini tidak ada yang boleh menolak keputusan Boss Li.., kamu segera datang ke HRD untuk urus kontrak kerja yang baru, karena aku diperintahkan boss menyampaikan hal ini kepadamu" Jawab Hendra. " Baik pak, nanti setelah makan siang saya akan menghadap HRD" Kata Liana. " Ok.. selamat bertugas di jabatan baru ya Li.." Kata Hendra sambil mengajak Liana berjabat tangan. Dan setelah itu Hendra beranjak pergi dari meja kerja Liana. sedangkan Liana merasa bingung dengan situasi itu. Ia belum sepenuh hati menginginkan jabatan itu, namun apa yang dikatakan Hendra membuatnya menyadari bahwa ia tidak memiliki wewenang untuk menolak penugasan itu. " Mbak Lia setelah makan siang ke ruangan HRD ya.. kamu sudah tau informasinya kan? " kata Ridwan sambil berlalu hendak meninggalkan kantor untuk istirahat makan siang. " Baik pak.. nanti saya menghadap" jawab Liana singkat sambil pikirannya terus berkecamuk memikirkan situasi itu. Sempat terfikir di benak Liana untuk resign dari perusahaan itu namun ia khawatir kalau kalau nanti ia akan merasa bosan jika hanya diam dirumah saja sedangkan baginya bekerja merupakan salah satu hiburan dan kesenangan. Langkahnya berjalan menuju sebuah rumah makan yang berada tidak jauh dari gedung kantor tempat ia bekerja, Rasa lapar tampaknya sudah tidak begitu terasa lagi, pikirannya hanya dipenuhi rasa bingung menghadapi situasi itu. tapi akhirnya ia meredakan diri. " Ah untuk apa aku pusing memikirkan ini, ikuti saja alurnya seperti air mengalir" Kata hati Liana. Siang itu akhirnya kontrak jabatan baru telah ditanda tangani oleh Liana, Maka Bulan berikutnya Liana resmi berubah jabatan menjadi sekretaris Miguel. Setelah ia melakukan semua serah terima jabatan dan data kepada penggantinya yang telah dipersiapkan oleh HRD. Mau tidak mau Liana mulai bersiap menyesuaikan diri kembali di Lingkungan kerja yang asing baginya, Lingkungan para Direksi, walaupun rasa percaya dirinya masih belum sempurna, Liana berusaha untuk sebaik mungkin menyesuaikan diri. Dari merubah penampilannya menjadi lebih rapi dan elegan karena ia akan bekerja di lingkungan para boss besar. Ia menyempatkan diri untuk berbelanja pakaian dan perhiasan di selah-selah waktu luangnya. semua ia persiapkan dengan baik sebagai bentuk profesionalismenya. Rian pun telah mengetahui jabatan baru istrinya itu. " Li.. kira kira jabatan baru kamu akan menyulitkan kamu untuk membagi waktu tidak? " Tanya Rian. " Aku sih yakin tidak akan ada masalah mas, cuman aku minta pengertian mas jika sewaktu waktu aku sedang sibuk karena aku rasa waktuku tidak semudah biasanya." Jawab Liana dengan sedikit berat hati. " Apa tidak lebih baik kamu resign saja Li..?" saran Rian kepada Liana. " Mas... mohon pengertiannya kalau aku dirumah terus nanti aku bisa stres" Ujar Liana dengan sedikit meminta pengertian Rian. " Ya sudah Li.. tapi aku tidak mau nanti Noah ada masalah, aku minta tanggung jawab kamu sebagai mamanya" Kata Rian. " Pasti mas.. mas jangan khawatir aku akan selalu menjaga Noah, dan aku akan selalu cek ke vivi masalah Noah kalau aku sedang tidak dirumah" Jawab Liana. " Ya sudah tapi kalau sampai aku merasa kamu sudah keterlaluan mementingkan pekerjaan, maka aku akan perintahkan kamu untuk resign" Kata Rian sedikit mengancam. " Iya mas.. maafkan Liana ya mas..." Kata Liana merayu sambil memeluk suaminya itu, berharap Rian tidak mempersulitnya yang tetap ingin menjadi wanita yang bekerja. Setidaknya Rian sudah tidak mempermasalahkan jabatan baru Liana, Sedikit merasa lega Liana menjalani aktifitasnya seperti biasa di akhir-akhir jabatannya yang akan berubah, Desi staf baru yang akan menggantikan jabatan Liana sebagai asisten manager tampak cukup cerdas sehingga tidak menyulitkan Liana dalam serah terima pekerjaan. Desi wanita muda berumur 22 tahun, berambut sebahu berkulit putih, cukup cantik menurut Liana. wanita muda itu mulai dekat dengan Liana secara tidak langsing karena banyak berurusan dengan Liana dalam hal serah terima pekerjaan. Tapi dalam hati kecil Liana kembali bertanya, akankah desi menjadi mangsa baru bagi Miguel seperti dirinya dan Ana, "Ah.. apa apaan aku ini berfikiran kotor terus menerus" Kata Liana dalam hati sambil memandangi sosok Desi yang ada di hadapannya. " Baik mbak.. semuanya sudah saya terima, data-data dan dokumen semuanya sudah menjadi tanggung jawab saya, hanya saja saya minta tolong ya apabila ada yang terlewat ataupun saya tidak mengerti saya akan bertanya ke mbak Liana" Kata Desi. " Iya Des.. tenang aja nomor ponselku kamu sudah punya kan? " Tanya Liana. " Iya mbak.. sudah ada" Jawab Desi " Ya sudah asalkan aku sedang tidak sibuk kamu boleh bertanya tenyang hal yang kamu kurang paham, soalnya aku mungkin tidak setiap hari ada di kantor ini, aku akan sering berada di luaran tergantung boss Miguel sedang beraktifitas apa, kamu paham kan Des? " Ucap Liana. " Baik mbak.. terima kasih sebelumnya ya" Jawab Desi sambil mengarahkan tangan mengajak Liana berjabat tangan. Hari itu berakhir sudah Jabatan Liana sebagai asisten Manager, dan dimulainya jabatan baru sebagai Sekretaris Utama Miguel sang Chairman dari perusahaan tempat ia bekerja. Dengan berat hati sore itu Liana hanya memandangi meja kerjanya yang esok hari harus ia tinggalkan. Dengan fikiran-fikiran hal-hal baru yang akan dia temui dengan menjabat sebagai sekretaris utama Miguel. Ia tidak pernah membayangkan harus mendapatkan posisi itu, yang baginya bukanlah posisi yang sesuai dengan kemampuannya dan menjadi tantangannya dalam bekerja, Namun apapun itu ia sudah mengambil keputusan untuk menerima semua penugasan perusahaan. Maka ia hanya menunggu hari-hari barunya sebagai seoramg sekretaris boss besar di perusahaan itu. Dengan tugas baru, Penampilan baru, banyak hal yang akan berbeda dari hari-harinya dibanding biasanya. Biasanya setiap hari ia harus memesan ojek online untuk berangkat dan pulang kantor, maka mulai esok hari ia akan diantar jemput oleh supir pribadi Miguel. Dia hanya berharap semua akan lebih baik saja.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

SEXRETARY

read
2.3M
bc

HYPER!

read
625.2K
bc

Sak Wijining Dino

read
162.0K
bc

Hubungan Terlarang

read
513.2K
bc

I Love You Dad

read
293.5K
bc

The Naughty Girl

read
101.3K
bc

Call Girl Contract

read
339.0K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook