Pagi itu pak widodo supir Miguel sudah menunggu tepat di depan rumah, Sedangkan Liana masih sibuk merias diri di depan cermin kamarnya.
" Li.. itu di depan rumah ada siapa? " Tanya Rian sambil meneguk kopinya.
" Oh itu pak Wid, Supir bossku, mulai sekarang aku diantar jemput jadi mas tidak perlu repot mikirin antar aku berangkat" Jawab Liana.
" Oh gitu.. tapi ingat pesanku Li.. urusan rumah jangan ditelantarkan" Kata Rian
" Tentu mas... mas jangan khawatir, Ya sudah aku berangkat ya.." Jawab Liana sembari mengecup pipi suaminya.
Lianapun beranjak menuju mobil Mercedez Benz berwarna Hitam yang mulai hari itu akan mengantar jemput dirinya setiap hari.
" Ayo pak Wid.., Kita berangkat, Pak Wid sudah sarapan belum? " Kata Liana sambil membuka pintu mobil itu.
" Sudah bu.., saya diperintahkan untuk segera membawa ibu ke Restaurant di daerah Kemang, Boss sudah berada disana bersama Kliennya" Jawab Pak widodo.
" Oh ya sudah ayo pak jalan" Kata Liana sambil segera masuk ke dalam mobil. Dalam perjalanan yang penuh dengan kemacetan Liana segera menelpon Miguel untuk memastikan dia sudah dalam perjalanan.
" I m on the way Pak.. please wait ya.." Ucap Liana di telepon. kemudian ia membuka tasnya dan mengambil sepotong roti yang ia bawa dari rumah untuk mengganjal rasa laparnya karena ia belum juga sempat untuk sarapan, Pukul 9 lebih 12 menit tibalah ia di restaurant yang dimaksud. Ia segera keluar dari mobil, dengan langkah cepat ia segera menuju ke dalam Restauran itu, Pelayan Restauran menyapanya tapi Liana mengabaikannya begitu saja karena Ia terburu-buru. Maka sampailah ia ke sebuah meja dimana Miguel dan Kliennya sedang duduk mengobrol, Tapi ada hal yang membuat Liana terkejut, Sang Klien itu wajahnya tidak asing bagi Liana, iya.. Liana sangat mengenal wajah itu.., Pria itu Steve pria yang pernah berkenalan dengannya di Aplikasi pertemanan. Liana mulai deg-deg an dan merasa malu sambil berharap Steve tidak mengenalinya dan mengingat percakapan yang pernah mereka lakukan lewat aplikasi pertemanan.
" Hey.. are you Henny right? " Sapa Steve sambil meneliti dan memandangi Liana dari atas hingga ke bawah. Liana sangat terkejut sekaligus malu dan tidak mampu berucap apa apa.
" No.. she is Liana my secretary.. " Kata Miguel menjelaskan kepada Steve.
" My name Liana Sir.. nice to meet you.." kata Liana sambil mengajak Steve berjabat tangan.
Akhirnya mereka berjabat tangan dan Liana duduk di samping Miguel dan menyiapkan alat tulis untuk mencatat segala yang menjadi topik pembahasan Miguel dengan Steve. Tapi pikirannya mulai linglung bercampur malu karena ternyata pria yang menjadi klien Miguel adalah Steve. Dan lebih mengejutkan lagi tiba-tiba ponsel Liana berdering, dan sebiah Nomor Asing yang belum terdaftar dalam kontaknya muncul, dan Steve melihatnya, Ya Steve lah yang melakukan panggilan itu untuk memastikan bahwa Liana yang ada di hadapannya adalah Henny wanita yang ia kenal lewat Aplikasi pertemanan. Liana pun melihat ke arah Steve yang sedang terlihat menelpon. Liana telah menyadari bahwa kedoknya telah terbongkar, Steve melihat ke arah Liana tetapi tidak memgatakan sesuatu apapun, Hanya melempar sebuah senyuman yang terlihat seperti senyuman mengejek kepada Liana. Liana hanya terdiam malu. Tetapi entah kenapa Steve tidak lagi membahas masalah itu seolah-olah membiarkan Liana dalam kebohongannya.
Steve hanya berdiri dari kursinya dan berpamitan untuk meninggalkan meja sejenak.
"execuse me, I should go to toilet" Kata Steve sambil berjalan menuju Toilet Restauran.
Liana pun hanya bisa terdiam masih dalam keadaan linglung dengan rasa malunya. hingga tiba-tiba sebuah sms masuk diterimanya. ternyata itu sms dari Steve.
" Aku tahu kamu adalah Henny.. hanya saja aku tidak ingin mempermalukan kamu di depan Boss mu" Isi sms Steve.
" Maafkan saya pak, saya hanya sekedar iseng-iseng saja di aplikasi itu" Balasan sms Liana.
" Aku akan berpura-pura tentang masalah ini, tapi aku berharap kita bisa berteman baik" Sms Steve
" Baik pak, bagaimana baiknya bapak saja" Balasan Liana.
Steve tampak kembali dari toilet dan beekumpul kembali di meja itu.
" Okay saya akan pelajari kembali proposal ini dan proyeksinya, untuk selanjutnya saya mungkin tidak dapat bertemu lagi seperti hari ini, Saya ingin Liana yang menjadi mediator urusan ini" Kata Steve.
" Deal.." Ucap Miguel sembari tersenyum gembira dan menjulurkan tangan mengajak Steve berjabat tangan.
Sedangkan Liana tetap saja terdiam sambil tersenyum senyum penuh keterpaksaan.
Akhirnya mereka semua berjabat tangan dan Steve pergi meninggalkan tempat itu. sedangkan Liana tampak tidak enak badan, mungkin ia merasa terpojok dan pikirannya sedang tidak karuan akibat seseorang mengetahui prilakunya di dunia Maya. Entah kenapa Liana merasa suntuk.
" Bapak tidak ingin beristirahat? " Ucapan Liana kepada bossnya yang sedang tampak asyik meneguk kopi.
Miguel pun tampak memandang Liana dengan pandangan buas. " Hmmm.. aku tidak ingin istirahat sendirian" Jawab Miguel.
" Bapak cukup berbaring saja, saya akan mengerjakan tugas-tugas saya di dekat Bapak" Jawab Liana. Seolah sudah mengetahui bahwa Bossnya setuju dengan ucapannya, Liana langsung beranjak dari tempat duduknya dan meminta Pak Widodo kembali ke kantor dan meninggalkan mereka berdua di tempat itu.
" Pak Bapak balik lagi ke kantor dan bantu kebutuhan armada di kantor jika dibutuhkan, saya akan telpon pak wid nanti kalau kita butuh dijemput" Kata Liana kepada pak widodo di parkiran mobil, sembari memberikan uang lembaran 100 ribu untuk tips pak Widodo.
" Baik bu, terima kasih" Jawab pak widodo sembari mengambil uang itu dari tangan Liana.
Entah apa yang terjadi pada Liana, Ia begitu merasa malu dengan kejadian yang baru saja terjadi ia merasa seperti wanita yang tidak berkelas dengan adanya kejadian Steve memergoki kebohongannya. Saat itu Liana ingin sekali melepas penat hatinya dengan memuaskan diri berhubungan seks, dan ia tau kalau Miguel tidaklah mungkin menolaknya, Ia kembali ke Meja dimana Miguel masih berada di tempat itu.
" Kita pergi dari sini sekarang pak? " Kata Liana pada Miguel.
" Mau kemana? " Jawab Miguel
" Kan Bapak ingin Istirahat, saya sebagai sekretaris yang baik sudah mempersiapkannya " Kata Liana.
" Hahahaha.. Liana kamu memang pengertian sekali, aku suka, aku jadi semakin b*******h melihat kamu, aku akan menghukum kamu atas prilaku non prosedural ini" Kata Miguel.
" Iya pak, kali ini bapak bebas mau memperlakukan saya seperti apapun " Jawab Liana dengan nada nakal.
" Ehmmm ya sudah kamu suruh Pak Wid siapkan mobil ke Lobby" Kata Miguel.
" Maaf pak, Pak wid saya suruh pulang ke kantor, kali ini kita akan menyewa mobil saja pak" Jawab Liana.
" Hmmm.. saya tau maksudmu, kamu tidak mau pak wid curiga" Kata Miguel
" Iya pak soalnya saya sudah Bookingkan Hotel" Jawab Liana.
Akhirnya mereka berdua menuju sebiah hotel bintang 5 di daerah Jakarta Pusat. Dalam perjalanan Liana kembali berfikir dengan apa yang telah ia lakukan. Ternyata jika sisi liarnya telah muncul ia begitu nakal. Tapi yang ada di dalam hatinya hanya ingin segera masuk ke dalam kamar hotel dan menikmati bercinta dengan bossnya itu.
Akhirnya sampai juga mereka berdua ke dalam sebuah kamar Hotel, tanpa basa basi Liana langsung mendorong Miguel hingga terbaring di ranjang, dan dengan buasnya Liana melucuti pakaian Miguel, Ia menciumi bidang d**a Miguel dengan begitu liarnya.
Hijabnya terlepas dengan sendirinya, Untaian Rambutnya terurai, kancing kemejanya sudah terbuka beberapa hingga belahan dadanya sudah tampak indah menggoda, membuat Miguel begitu b*******h dan tangannya berusaha meraba d**a Liana. Liana membuka celana dalam Miguel dan mengeluarkan sebatang kemaluan yang panjang dan besar telah mengeras. Dikulumnya dengan liar seolah seperti kelaparan. Miguel berusaha duduk tetapi Liana mendorongnya hingga jatuh terbaring kembali.
" Wah Liana.. Kamu tampak bernafsu sekali " Kata Miguel terheran heran.
" Udah bapak nikmati saja pelayanan saya " Jawab Liana sambil terus sibuk memainkan batang kemaluan Miguel.
Lianapun melepaskan Rok nya, dan kemudian diikuti celana dalamnya, tanpa basa basi Liana Naik dan menduduki kemaluan Miguel, berlahan ia mencoba memasukkannya ke dalam k*********a yang telah basah sejak tadi. dan masuklah dengan sempurna kemaluan Miguel walaupun tidak sepenuhnya karena terlalu panjang, Liana menggoyang pantatnya naik turun, matanya sesekali terpejam, kepalanya mendangak keatas, dan kedua tangannya bertumpu di d**a Miguel sambil sesekali jermarinya meremas, Miguel pun tak kalah liar tangannya membuka satu per satu kabcing kemeja Liana hingga dadanya yang dibalut bra warna coklat terlihat di depan matanya. diremaslah d**a Liana walaupun masih tertutup bra. Sedangkan Liana terus melakukan gerakan gerakan memompa naik turun. dan tak lama kemudian
" Achkk...Ackhmm... aku keluar pak.. banyak sekali.. oh..oh.." Kata Liana sambil menikmati klimaksnya.
Tak cukup dengan itu Liana terus melanjutkan gerakan itu hingga ia mencapai o*****e hingga beberapa kali.
Miguel merasa tidak terima karena Liana begitu dominan, akhirnya Miguel membalikkan tubuh Liana, dan memposisikan Liana menungging karena Miguel ingin melakukan gerakan doggy style. Mulailah dipompa tubuh Liana yang terus mengejang karena beberapa kali dorongan saja Liana langsung mendapatkan o*****e hal itu ia rasakan karena kelamin Miguel yang besar dan panjang membuatnya merasa penuh, Miguel terus memompa dengan sesekali menepuk keras p****t Liana.
" Ohck.. rasakan ini.. hukuman untuk karyawan bandel.. Oh.." Gumam Miguel sambil terus menggenjot tubuh Liana.
Di selah selah Liana sedang menikmati hujaman hujaman senjata batang besar milik Miguel ternyata ada hal yang mengganggunya, Ponsel yang ada tepat tidak jauh darinya terus berdering, dan saat ia memperhatikan layar ponsel itu, ternyata suaminya yaitu Rian yang menelpon. Liana memberi isyarat pada Miguel untuk menghentikan sebentar gerakan memompa doggy style itu. Akhirnya Miguel menurutinya ia masih menahan alat kelaminnya berada di dalam lubang kenikmatan Liana. sambil ia meraih botol air minum dan menenggaknya, sedangkan Liana memanfaatkan momen itu untuk mengangkat telepon dari Rian sambil sambil menaruh telunjuknya berdiri di depan hidungnya sebagai kode kepada Miguel agar tidak berisik karena suaminya sedang menelponnya.
" Ssttt.. diam dulu pak, suami saya telpon" Kata Liana sambil mulai menerima telpon itu.
" Halo.. mas.." Ucap Liana membuka pembicaraan di telepon.
" Li.. kamu pulang jam berapa? aku ada rencana ajak Noah belanja sambil jalan-jalan" Kata Rian.
" Ehmm boleh besok saja tidak mas? Hari ini mungkin aku terlambat pulang, ada urusan bertemu klien yang tidak bisa ditunda, dan itu setelah jam 7 malam" Jawab Liana.
Sedangkan Miguel tampak tidak sabar lagi berhenti mengguncang tubuh Liana. tanpa persetujuan Liana ia kembali memompa k*********a menghujam lubang kenikmatan Liana. dan Liana pun terkejut dan berupaya memberi kode pada Miguel agar berhenti.
" Achk.. egh..." Rintih Liana tak sengaja
" Kamu kenapa Li..?" Kata Rian di telepon.
" Tidak apa apa mas.. cuman otot pegel saja" Jawab Liana yang deg-deg an khawatir perbuatannya diketahui suaminya.
" Kamu dimana? " Tanya Rian.
" Ini mas.. aku kan nanti harus kerja lagi sampai larut malam, makanya sekarang mumpung senggang aku lagi ke tukang pijit untuk minta diurut mas.." Jawab Liana beralasan agar suaminya tidak curiga.
Sedangkan Miguel tidak peduli bahkan semakin cepat memompa lubang kenikmatan Liana.
"Ah...agh.. oh.. auw.." teriak Liana tidak mampu menahan kenikmatan hujaman senjata Miguel.
" Li.. kamu sedang apa sih? " Tanya Rian penasaran.
" Ah.. ah.. augh.i..i.Inn..ni.. mas egh..bagian otot dipijat sakit sekali" Jawab Liana sambil menahan Rintihannya.
" Oh ya sudah lanjutkan dulu, Kalau keletihan kamu cuti lah Li.." Kata Rian.
" Ah...uh..au... i.ii..iya.. mas ohh... shit.. tidak apa apa kok.. oghhj.. sss...ssudah dulu ogh.. ya .. mas.. sakit augh..." Jawab Liana sambil terus menahan rintihannya.
Akhirnya Rian menutup panggilan itu. Dan Riana menatap kesal kepada Miguel..
" Ah.. ah... shit.. au.. Pak.. bapak gila ya..? auh.. ahk.. tadi sss ..su.. au.. suami saya.. aughg.. telpon pak.. ah... auw.. " Kata liana sambil merintih rintih menikmati hujaman batang besar milik Miguel.
Miguel tampak acuh tidak memperdulikan ucapan Liana, Karena merasa gerah Miguelpun mengangkat tubuh Liana dan membawanya ke kamar mandi,
" Pak.. ah.. mau ngapain?.." Kata Liana saat Miguel menggendong tubuhnya.
Miguel menaruh tubuh Liana di bawah shower dan menyalakan Shower itu, kemudian kembali ia menusukkan batang besar k*********a ke lubang kenikmatan Liana dengan posisi dari belakang, di bawah siraman air shower Miguel memompa lubang kenikmatan Liana, sedangkan Liana semakin menikmatinya.
Hingga tibalah klimaks dimana Miguel sudah hampir mencapai orgasmenya. Ia melepas batang k*********a dan meminta Liana berjongkok di depan batang besar itu.
" Telan spermaku" Perintah Miguel sambil mengelus batangnya.
" Tidak.. " kata Liana sambil menggelengkan kepala.
" Telan...!!! buka mulutmu !!!!" Plakk..kk kata Miguel sambil menampar wajah Liana. Akhirnya Liana pun membuka mulutnya.
Dan mengalirlah s****a itu ke dalam mulut Liana dan Miguel menahan mulut Liana agar Liana tidak memuntahkannya..
" Oghrgg..rrrggg" bunyi mulut Liana yang dipenuhi s****a Miguel.
" Agh..ah.." akhirnya tertelan semua s****a itu.
" Hahahaha.. bagaimana enak kan rasanya? " kata Miguel tertawa lepas.
" Ah bapak ini jahat sekali " Kata Liana sambil membersihkan sisa sisa s****a di dagu dan bibirnya.
Akhirnya mereka berdua menuju bathup dan menyalakan krannya, Liana sudah masuk ke dalam Bathup untuk berendam, sedangkan Miguel sedang membeesihkan diri dibawah shower.
" Pak.. kemari temani saya berendam" Kata Liana dengan manja.
" Hmmm iya.." Jawab Miguel sambil masuk ke dalam bathup itu.
Ciuman ciuman bibir yang panas mereka lakukan sambil berendam, Liana begitu menikmatinya. Bahkan seperti biasa Liana sudah kembali mengelus elus batang besar milik Miguel, berharap benda itu kembali mengeras lagi.
" kamu masih ingin lagi? " Tanya Miguel
Liana merasa tidak perlu menjawabnya dan hanya cukup melakukannya saja. Dan Akhirnya Miguel kembali menyetubuhi Liana di bathup. Hari itu Liana merasa lubang kenikmatannya dimanjakan sepuas-puasnya. Seks dengan Miguel menjadi kebutuhan baru bagi Liana. Bagaimanapun juga Liana mengakui seks dengan Miguel jauh lebih nikmat dibanding dengan suaminya sendiri. Hari itu mereka bercinta sampai 5 kali hingga waktu menunjukkan pukul 11 malam. Liana mau tidak mau harus meninggalkan tempat itu untuk pulang. Sedangkan Miguel memutuskan untuk menginap karena mungkin ia telah kelelahan melayani nafsu Liar Liana.
Melangkah berlahan melewati ruang tengah yang tampak sudah gelap, Lampu sudah dimatikan. tapi TV masih menyala, tampaknya Rian tertidur pulas di sofa ruang tengah karena menunggu Liana. Liana pun berlalu dan menuju kamar untuk membersihkan diri dan mengganti pakaian. kemudian ia menghampiri suaminya yang tampak tertidur pulas di ruang tengah. Hatinya merasa penuh dosa, bahkan ia berkata kata pada dirinya sendiri " Dasar wanita jalang, p*****r" rasa penuh penyesalan menghantui dirinya karena telah mengkhianati suaminya. Namun apa daya nafsu birahi Liana jauh lebih tak tertahankan dibanding rasa bersalahnya. Ia pun duduk di sebelah suaminya dan menyandarkan kepalanya ke bahu suaminya. Rian menyadari dan membuka mata.
" Baru pulang Li..?" Tanya Rian.
" Sudah dari tadi mas, aku lihat mas tidur pulas disini makamya aku menyusul" jawab Liana.
" Iya aku menunggu kamu karena besok pagi aku harus terbang ke Bali, ada project baru disana dan ini kesempatanku menjalin hubungan dengan sebuah perusahaan besar, doakan aku ya Li.." Kata Rian.
" Iya mas.. memang mas berapa lama akan ada disana? " Tanya Liana.
" Mungkin 5 sampai 6 hari, tidak apa apa kan? " Kata Rian.
" Tidak apa apa asal jangan macam-macam ya.. banyak cewek bule disana" canda Liana sambil mencubit pipi suaminya itu.
Pagi haripun tiba saat itu pukul 6 pagi Liana telah selesai mempersiapkan perbekalan suaminya dalam sebuah koper.
" Sudah siap semuanya Li.." suara Rian dari luar kamar.
" Sudah mas.. tinggal uang belanja saja yang belum.." Jawab Liana dengan candaan.
" Kamu kalau pakai mobil pakai saja ya Li.. cuman hati-hati jangan ngebut" Pesan Rian yang selama ini jarang sekali membiarkan istrinya itu membawa mobil sendiri.
Taksi telah 10 menit menunggu di depan rumah dan siap mengantarkan Rian ke Airport. Liana memgantarkannya sampai ke depan rumah, Rian pun berpamitan dan mengecup kening Liana. " Aku jalan dulu ya.. titip Noah ya.. " Pesan Rian sebelum meninggalkan rumah.
Lianapun kembali masuk ke dalam rumah untuk bersiap siap berangkat bekerja. Ia memutuskan membawa mobil sendiri dan menolak jemputan dari Pak Wid karena hari itu Rian tidak membawa mobil karena ia berangkat ke Bali untuk beberapa hari.
Pagi itu di dalam Ruangan kerja Liana sibuk memeriksa jadwal Miguel hari itu. Tampaknya hari itu Miguel akan seharian berada di kantor karena tidak ada jadwal kemanapun.
Sampai jam 10 pagi Miguel tidak juga muncul di kantor. Karena jenuh Liana memutuskan untuk berjalan-jalan ke ruangan staf dimana dulu ia peetama kali bekerja di kantor itu.
" Eh.. mbak Ana.. sedang sibuk apa mbak? " Sapa Liana kepada Ana.
" Eh.. istri muda boss biasa lah kacung ya ada aja kerjaannya " Canda Ana membalas sapaan Liana.
" Hahaha.. mbak Ana masih melawak saja" Kata Liana sambil membuka toples makanan di meja Ana yang senang sekali menyimpan banyak makanan di mejanya.
" Eh..eh... ini istri bos main buka buka toples aja" celoteh ana sambil menepuk tangan Liana yang membuka toples coklatnya.
" Ah pelit sekali sih mbak sedikit saja" jawab Liana sambil mengunyah coklat yang diambilnya dari toples itu.
" Ini makanan rakyat jelata neng... makanan kamu beda sayang... kamu makan yang berkelas dong kan kamu sekretaris bos besar" Canda Ana kembali menggoda Liana terus menerus.
" Apaan sih mbak, lebih enak disini daripada di sana" Jawab Liana.
" Eh udah dengar belum kalau ada pemegang saham baru di perusahaan ini, Orangnya ganteng tinggi besar bule lagi cakep pokoknya" Kata Ana menggosip.
" Ah masa? siapa?" Tanya Liana penasaran.
" Namanya Steve, Hari ini finance sudah menerima Dana Investasi dari beliau, berarti resmi sudah dia membeli sebagian saham perusahaan ini, Lho kamu kan sekretaris pak Miguel kok malah kamu tidak tau sih?" Kata Ana.
Liana menjadi melamun karena ternyata Steve akhirnya memutuskan untuk berinvestasi di perusahaan itu. Ia menjadi teringat kejadian di restauran itu yang baginya adalah kejadian memalukan.
Akhirnya Miguel muncul mendekati kerumunan mereka.
" Eh.. ssttt boss datang boss datang" Kata Ana dengan lirih sambil mencubit tangan Liana.
" Eh Liana kamu disini? Ayo ke ruangan ada tugas buat kamu" Kata Miguel dari kejauhan memanggil Liana.
"Baik pak" Jawab Liana sambil berjalan mengikuti Miguel menuju Ruangannya.
Miguel pun duduk di kursinya sambil mengatakan
" Tolong kunci pintunya Li.." Perintah Miguel
" Baik pak" Jawab Liana.
" Duduklah, ada yang ingin saya sampaikan" kata Miguel.
Akhirnya Liana duduk dan serius bersiap mendengarkan miguel dengan menyiapkan kertas dan pulpen.
" Begini.. ada tugas rutin yang harus kamu lakukan setiap pagi hari setelah aku sampai di kantor" Kata Miguel.
" Baik pak, Kopi sudah siap di meja, jadwal bapak sudah saya siapkan juga" Jawab Liana sambil berfikir apa yang kurang atau belum ia lakukan.
Miguel mendorong mundur kursi dan berkata
" Kemarilah..." Sambil melambaikan tangan memintanya memdekat.
Lianapun mendekat berdiri di samping Miguel.
Miguel menarik Liana dan menjongkokkannya di bawah tempat duduknya sambil Miguel membuka resleting celananya. Miguel mengeluarkan batang besar itu dari dalam celananya.
" Lakukan Blowjob.." perintah Miguel
Liana pun menurutinya dan mengulum batang besar itu di mulutnya.
" Ini yang kumaksud tugas rutin setiap pagi" kata Miguel, Tak lama kemudian Miguel membimbing Liana menyandar ke mejanya, dan Miguel pun menurunkan rok Liana serta celana dalamnya. Dimasukkanlah batang besar itu ke lubang kenikmatan Liana dari belakang.
" Ugh.. ughm..seks pagi itu sehat sayang.. oh.." Kata Miguel sambil memompa lubang kenikmatan Liana.
" oh.. uh... pak.." rintih Liana
Miguel memompa lebih cepat dan lebih cepat lagi dan akhirnya menumpahkan spermanya di p****t Liana.
Akhirnya Miguel kembali duduk dan menutup kembali resleting celananya, sedangkan Liana mengambil tisue dan membersihkan sisa sisa s****a itu.
" Aku ada sesuatu untuk kamu cantik.." Kata Miguel.
" Apa itu pak? " Tanya Liana.
Ia memberikan sebuah kunci mobil pada Liana.
" Apa ini pak? " Tanya Liana penasaran.
" Itu mobil baru untuk kamu" Jawab Miguel
Liana terkejut dan tidak percaya, ia memperhatikan kunci mobil itu memiliki lambang lingkaran dengan tiga jeruji.
" Ini mercy pak?" Tanya Liana.
" Iya Liana masa aku memberi kamu metromini, hahahaha " Kata Miguel sambil tertawa.
" Ah bapak selalu menggodaku saja" ucap Liana sembari mencium bibir Miguel
" Terima kasih ya pak" Kata Liana dengan wajah yang berseri seri.
Hari itu Liana merasa sangat gembira dengan adanya Mobil baru itu maka langkahnya yang biasanya terbatasi menjadi leluasa, Ia bisa mengajak Noah berbelanja ataupun berpergian tanpa harus menunggu Rian pulang dari kantor, Karena merasa sangat senang Liana segera ingin membagi kabar gembira ini pada Rian. Diambilah ponselnya untuk segera menghubungi Rian yang sedang ada Di Bali.
" Halo.. mas ada kabar gembira" Kata Liana dengan semangatnya.
" Memangnya ada kabar apa sih Li.. kok sepertinya kamu semangat sekali" Jawab Rian dengan penasaran.
" Kita punya mobil baru mas.." Kata Liana
" Hah.. kamu beli mobil? Tapi kita kan janji tabungan itu buat persiapan biaya sekolah Noah nanti Li..." Kata Rian.
" Yah.. mas aku kan tidak mengatakan beli, tapiĺ aku mendapat hadiah mobil dari kantor" Jawab Liana.
" Hah.. kamu baru bekerja sebentar sudah dapat hadiah mobil? Yang benar saja kamu Li.." Kata Rian.
Liana jadi berfikir, karena terlalu gembira ia lupa bahwa hal ini bisa saja membuat suaminya curiga. Ia jadi bingung bagaimana menjelaskan ke Rian agar tampak masuk akal.
" Gini mas, aku tidak sengaja bertemu teman lamaku waktu kuliah dan dia memiliki jabatan tinggi di perusahaannya, lalu aku menawarkan agar mau bekerja sama dengan perusahaan tempatku bekerja dan ternyata goal, Karena ini sangat menguntungkan bagi perusahaan dan menghasilkan profit yang besar maka perusahaan menghadiahi aku mobil sebagai bentuk apresiasi" Kata Liana.
" Oh gitu.. baguslah.. selamat ya" Kata Rian.
Sore itu Liana dengan semangatnya mengendarai Mobil barunya, sedangkan ia meminta tolong Pak widodo untuk membawa pulang mobil lamanya, karena saat berangkat Liana mengendarai mobil Rian.
Garasi di rumahnya sekarang sudah penuh akibat 2 mobil terparkir berjejer. Liana masih terus asyik memandangi mobil barunya sebuah mercedez benz warna merah begitu cantik seperti dirinya, Miguel memang berselera tinggi karena mampu memilih warna yang tepat untuk Liana. Sambil bersantai di teras rumah tiba-tiba ponselnya berdering. Dilihatnya Steve yang menelpon.
" Halo.. pak.. ada yang bisa saya bantu? " Liana memgangkat telepon itu.
" Hey.. Liana apa kabar? " Sapa Steve dalam panggilan telepon.
" Baik pak.. bapak bagaimana kabarnya? " Jawab Liana
" Eh.. jangan panggil aku bapak, apakah aku terlihat sangat tua? " Kata Steve.
" Hmmm bukan pak, hanya saja secara profesional tidak sepantasnya saya memanggil dengan yang lain pak" Kata Liana.
" Profesional di jam kerja saja Liana, selain itu seperti biasa saja" Kata Steve.
" Baik pak..eh Steve.." Jawab Liana dengan canggung.
" Aku ingin mengajak kamu makan malam besok, apakah kamu ada waktu? " Tanya Steve.
" Hmmm begini pak saya e..e.. saya tidak bisa berjanji pak, Karena saya mungkin ada urusan di rumah" Jawab Liana.
" Baiklah kalau begitu, aku hanya ingin mengabarkan bahwa sekarang aku menjadi bagian pemilik saham di perusahaan tempatmu bekerja" Kata Steve.
" Iya pak saya sudah tau dari rekan rekan" Jawabnya.
" Artinya aku bisa saja memberi kamu perintah saat jam kerja" Kata Steve.
" Benar pak tapi harus seijin Pak Miguel" Jawab Liana.
" Miguel sekarang bukan pemilik saham terbesar Liana, Perusahaanku yang memiliki saham terbesar di perusahaan tempatmu bekerja" Steve mendebat jawaban Liana.
Sebenarnya Steve bukanlah orang yang sekaya Miguel hanya saja Steve dipercaya Perusahaannya untuk mewakili sebagai pemegang saham perusahaan. Karena sejatinya Steve hanyalah seorang pegawai dengan jabatan tinggi.
" Maaf pak bolehkah kita berbicara lagi esok hari? karena saya harus menidurkan anak saya" Kata Liana pada Steve untuk menghindari Steve menelponnya lebih lama.
" Okay no problem, see you tommorow" Kata Steve.
Liana mulai merasa terganggu dengan adanya Steve muncul di Lingkungan tempat ia bekerja. Walaupun jujur Liana sangat mengagumi ketampanan Steve namun Liana menganggap Steve kurang memiliki attitude yang membuat wanita nyaman. Steve terlihat lebih egois dan mementingkan diri sendiri. Hal itu terbukti bahwa Steve menghilang begitu saja di aplikasi pertemanan walaupun Liana telah meninggalkan kontaknya. Mungkin itu yang dimaksud dengan gengsi seorang wanita, Liana tidak mau lagi merasa membutuhkan, maka Steve yang tadinya ia idam-idamkan sudah tidak lagi menarik bagi Liana. Apalagi Miguel yang begitu perhatian pada Liana bahkan mau berkorban materi demi menyenangkan Liana.
Pagi itu Liana tampak sangat bersemangat berangkat ke kantor karena ia mengendarai mobil barunya. tanpa ia sadari ia telah memjadi buah bibir pembicaraan rekan-rekan kerjanya di kantor, Mungkin rekan-rekannya merasa iri atas hadiah yang diberikan Miguel pada Liana. Entah siapa yang menceritakan hal itu namun, itu sangat mengganggu bagi Liana. bahkan rekan kerja yang paling akrab dengannya yaitu Ana tampak acuh padanya.
" hey.. mbak.. segar sekali penampilannya hari ini" Sapa Liana pada Ana saat melewati ruangan staf.
" Ana sedikitpun tidak menjawab sapaan Liana, bahkan terilhat membuang muka dan berpura-pura sedang sibuk dengan pekerjaannya.
Dan hampir semua staf hari itu bersikap sama kepada Liana.
Liana akhirnya menyadari bahwa mungkin Miguel terlalu berlebihan dengan memberikan hadiah itu. Tapi apa daya semua telah terjadi dan Liana sendiri secara jujur menyukai hadiah itu dan tidak akan rela melepaskannya lagi.
Liana mulai tau diri dan tidak lagi menyapa siapapun di kantor itu kecuali Miguel. Bahkan Liana mulai menceritakan apa yang ia alami kepada Miguel.
" Sudahlah Li.. kamu tidak perlu memikirkan opini mereka" Saran Miguel kepada Liana.
Bagi Miguel semua tidak menjadi masalah, tapi bagi Liana ia mendapatkan masalah baru, setiap Liana meminta data-data yang harus ia ambil untuk Miguel rekan-rekannya tampak dengan sengaja mengulur-ulur waktu. Terutama Ana yang mengurus urusan Finance. Tampak sekali Ana sengaja mempersulit pekerjaan Liana. Sampai suatu hari
" Liana.. sudah berapa hari saya minta laporan keuangan di meja saya?, kenapa belum ada sampai hari ini? Apakah kamu sekarang menjadi pemalas? " kata Miguel dengan sedikit nada marah.
" Pak saya sudah memintanya saat bapak memerintahkan kepada saya, hanya saja mereka tidak juga memberikannya sampai hari ini" Jawab Liana dengan kesal karena bossnya itu tampak asal memvonisnya.
" Benarkah begitu? " Kata Miguel mereda
" Apa yang terjadi dengan mereka? " Tanya Miguel kepada Ana.
" Seperti yang saya sampaikan pak, mereka tidak menyukai saya semenjak bapak memberikan hadiah Mobil kepada saya" Jawab Liana.
" Begini saja.. Laporan keuangan ini penting, coba kamu minta pada Ana sekali lagi, Jika Ia tidak juga memberikannya, maka aku memberikan kamu wewenang untuk memecatnya" Kata Miguel.
Karena Liana pun juga merasa kesal pada Ana maka apa yang diperintahkan Miguel benar-benar Ia lakukan.
" Mbak.. mana laporan keuangan yang saya minta kemarin? " Tanya Liana dengan sedikit nada judes.
" Aku kan sudah bilang, Nanti ya nanti kamu tidak dengar apa? " Kata Ana dengan nada lebih tinggi.
" Baiklah.. mbak.. kamu saya pecat" Kata Liana sambil berjalan kembali menuju ruangan Miguel.
Semuanya diceritakan kepada Miguel, tanpa basa basi Miguel menulis memo untuk HRD dan hari itu juga Ana dipecat dari kantor itu.
HRD segera meminta Ana untuk membereskan barang barang pribadinya dan memintanya datang kembali esok hari untuk mengurus pesangonnya.
Sore itu tiba-tiba Ana mendatangi Liana dan memohon agar Liana membantunya agar tetap bisa bekerja di Kantor itu.
" Li... aku minta maaf, tolong Li.. jangan lakukan ini padaku, aku tau aku salah tapi please Li.. aku tulang punggung keluarga" Permohonan Ana pada Liana sambil menyentuh tangan Liana.
" Mbak aku kan tadi sudah bilang, aku sudah peringatkan, sekarang Pak Miguel yang sudah bertindak maka aku tidak punya wewenang lagi" Jawab Liana.
" Ijinkan aku bertemu pak Miguel" Kata Ana.
" Sebentar aku akan tanyakan dulu" Jawab Liana
Liana pun mendatangi Miguel dan menanyakan apakah Ana boleh bertemu, Miguel mengiyakannya.
"Ya sudah Li.. kamu pjlang saja ini sudah sore, biar saja Ana aku yang urus" Kata Miguel.
" Baik pak" Jawab singkat Liana sembari mulai beekemas untuk pulang.
Dan akhirnya Liana meninggalkan kantor dan Ana masih tetap berada di kantor menunggu Miguel memanggil.
Tapi hatinya sangat kesal karena Miguel masih saja mau menemui Ana yang sudah berbuat kesalahan besar dalam pekerjaan. Liana sangat tidak menyukai ketidak profesionalan. Ia tetap bekerja dengan baik walaupun ia memiliki hibingan khusus dengan Miguel. Tapi apalah yang mampu ia lakukan semuanya tergantung kepada keputusan Miguel. Tidak seperti biasanya Liana yang biasanya tidak pernah kemana mana sepulang kerja, Entah kenapa saat itu ia ingin berkunjung ke sebuah kafe hanya sekedar untuk menikmati suasana malam dengan secangkir kopi. Maka laju mobilnya diarahkan ke sebuah kafe di bilangan Jakarta Selatan.
Mejapun sudah ia pesan. Pelayan menyuguhkan daftar menu di hadapannya. Ia hanya memesan makanan ringan dan sebuah capucino dingin. Sambil matanya menikmati suasana kafe yang binar berwarna warni dengan alunan musik latin yang terdengar di telinganya. Lagi lagi ponselnya berdering dan Nama Steve muncul di layar Ponselnya.
Entah mengapa Liana merasa harus mengangkat telepon itu
" Halo.." ucapnya
" Kamu bilang sibuk tapi kamu dusuk di cafe apakah kamu terbiasa berbohong" Kata Steve
" Bagaimana kamu bisa tau?" Jawab Liana.
" Menolehlah ke belakang" Kata Steve
Ternyata Steve berada di tempat yang sama di Kafe itu.
Liana merasa malu untuk kedua kalinya, dan lebih gawat lagi Liana punya tabiat merasa harus berhubungan seks apabila dalam keadaan menahan rasa malu, sedangkan Rian masih berada Di Bali, dan Miguel tampaknya sedang sangat sibuk apalagi Miguel telah memerintahkannya untuk Pulang.