Steve malam itu duduk bersama Liana di satu meja kafe. Hidangan demi hidangan dipesan Steve walaupun Liana sesungguhnya tidak terlalu bersemangat untuk makan malam. Namun apa daya Steve kini telah berada di hadapannya. Yang membuat Liana tidak nyaman karena Steve juga memesan sebotol minuman keras. Red Label minuman favorit Steve.
" Kamu mau minum ini Liana? " Tawaran Steve sembari menunjukkan sebuah botol.
" Ah.. maaf saya tidak minum alkohol" Jawab Liana.
" Oh begitu baiklah.. tapi bolehlah sedikit saja, untuk menghormatiku saja" Kata Steve.
" Hmmm.. maaf pak saya tidak terbiasa" Kata Liana.
" Kenapa masih memanggilku pak? " Tanya Steve
" Oh iya.. maaf Steve" Jawab Liana.
Tampaknya Liana tidak begitu nyaman dan akhirnya ia memutuskan untuk berpamitan pulang.
Wajah Steve tampak tidak senang dengan perlakuan Liana.
Dalam perjalanan pulang hati Liana pun bergejolak, Steve yang awalnya menjadi idamannya kini ia rasa menjadi sosok pengganggu baginya. Sedangkan ia paham bahwa Steve memiliki pengaruh yang cukup kuat di perusahaan tempat ia bekerja. Bahkan Miguel berfikir 2 kali untuk bermasalah dengan Steve karena berpengaruh terhadap berjalannya investasi di perusahaan itu.
Liana hanya berfikir apa yang diinginkan Steve darinya. kenapa baru saat itu Steve mengejarnya. Diatas kemudinya ponselnya terus saja berdering, Nama Steve muncul di layar ponselnya, Tapi Liana membiarkannya, suatu tindakan yang cukup berani dari seorang Liana yang biasanya sangat berhati-hati berurusan dengan para pejabat perusahaan. Tapi malam itu mungkin rasa kesalnya lebih dominan ketimbang rasa hormatnya terhadap atasan.
Pagi harinya Liana merasa sangat malas berangkat ke kantor setelah begitu banyak kejadian tidak menyenangkan hatinya di hari sebelumnya. Ia pun memberi kabar kepada Miguel bahwa ia sedang tidak enak badan dan Miguel pun menyarankan ia ke dokter dan beristirahat.
Pagi itu ia mengajak Noah keluar rumah untuk sekedar berbelanja karena ia merasa sangat suntuk, kemudinya mengarah ke sebuah Mall yang tidak begitu jauh dari tempat tinggalnya. kebetulan hari itu ia juga berjanji menjemput Rian yang kembali dari Bali di sore hari. Seharian ia habiskan untuk bermain main dengan Noah hal yang jarang sekali ia lakukan semenjak ia kembali bekerja.
Waktupun menunjukkan pukul 14.00 waktunya ia menuju bandara untuk menjemput Rian.
Sesampainya di Bandara tidak lama Rian muncul dan menuju tempat dimana Liana memarkirkan mobilnya.
" Hai.. Li.. udah lama nunggu? " Sapa Rian sambil menaruh kopernya di bagasi belakang.
" Tidak mas.. baru saja aku sampai" Jawab Liana.
" Wah... keren juga mobil kamu Li.. mobil mahal ini.. tapi lebih enaknya lagi disupirin kamu, Ayo jalan Pir" Kata Rian bercanda sambil memasang sabuk pengaman.
" Eh.. enak aja panggil pir, aku turunin nih.." jawab Liana.
" Hahaha.. jangan ngambeg ah.." Kata Rian sambil mencubit pipi Liana.
Dan mereka berduapun menembus kemacetan menuju rumah.
Malam itu tampak Rian sangat kelelahan dan tertidur pulas. sedangkan Liana seperti biasa suntuk sendiri di ruang tengah sambil menonton TV. Ia kembali memeriksa ponselnya ada beberapa panggilan masuk dan kebanyakan adalah panggilan dari Steve. Entah ada keperluan apa hingga Steve terus saja menghubunginya. tapi ia tidak begitu memikirkan Steve, dia menganggap Steve hanya gangguan belaka. Dia malah merasa rindu kepada Miguel karena hari itu ia tidak bertemu akibat ia absen tidak berangkat bekerja. Liana Rindu sentuhan Miguel, rindu kuluman bibirnya, dan yang paling ia rindukan adalah keperkasaan Miguel di ranjang. Rasanya ia ingin segera hari itu berlalu agar dapat bertemu lagi dengan Miguel. Akhirnya ia memutuskan segera tidur agar esok harinya ia dapat segera berangkat ke kantor.
Pagi yang cerah, tubuh yang segar, fikiran yang sejuk setelah 1 hari terlepas dari segala urusan hiruk pikuk pekerjaan.
" Pagi Des... sarapan apa kamu?" sapa Liana kepada Desi saat melewati ruangan staf
" Eh mbak Liana, Makan bubur mbak.. ayo sini join" Kata Desi.
" Thanks.. aku udah sarapan.." Jawab Liana sambil matanya memeriksa ke arah meja Ana, Ana tidak ada di mejanya, dalam hatinya ia bertanya- tanya apakah akhir Miguel benar benar memecat Ana.
" Des.. mbak Ana kemana? kok belum datang? " Tanya Liana.
" Eh mbak.. jadi gini, sekarang mbak Ana dipindahkan ke bagian Logistik, bagian gudang gitu mbak.. kasihan ya.. dia kan akunting masa harus kerja di gudang yang panas gitu" Jawab Desi berbisik-bisik.
Dalam hati Liana merasa tidak tega dengan keputusan Miguel kepada Ana, tapi kadang ia juga merasa kesal karena semua ini akibat dari ulah Ana sendiri. Sambil berlalu menuju ruangan Miguel, Liana terus berfikir tentang nasib Ana saat itu. Ia berencana membujuk Miguel untuk mengembalikan Ana ke posisi sebelumnya. Tapi entah kenapa sampai pukul 10 Miguel belum juga datang, sambil menyelesaikan tugas-tugas yang tertunda akibat ia ijin tidak masuk sehari, Liana menciba menghubungi Miguel dari telepon kantor. sudah berkali-kali ia mencobanya namun tidak diterima, Liana berfikir apa yang sedang Miguel kerjakan hingga sulit sekali dihubungi. Lalu ia mencoba dengan chat via w******p, lama ditunggu tidak juga ada balasan. Tidak kehilangan akal maka ia menghubungi pak wid supir Miguel.
" Pak Wid lagi dimana? " ucap Liana dalam telpon.
" Di parkiran bu" jawab pak widodo
" Iya parkiran mana maksudnya?" Tanya Liana sedikit mendesak.
" Parkiran Apartemen lah bu, kan nunggu pak Miguel" Jawab Pak Widodo
" Pak Miguel sudah telpon pak wid? " Tanya Liana.
" Belum bu" Jawab Pak widodo.
" Coba pak widodo naik dan ketuk aja pintu Pak Miguel pak" Perintah Liana.
" Beneran bu? apa tidak nanti jadi masalah bu? " jawab pak widodo dengan tidak yakin.
" Udah tidak apa apa bilang saja saya yang minta" Jawab Liana.
Pak widodo memberikan kabar bahwa ia telah memgetuk pintu dan memencet bel berulang-ulang tapi Miguel tidak juga muncul, Maka Liana berinisiatif mencari kartu akses atau kunci apartement Miguel di laci meja Miguel, dan akhirnya ia menemukannya, Ia khawatir jika sesuatu terjadi pada boss nya itu. Segera ia menuju mobil dan beranjak ke arah Apartemen Miguel untuk mencari tau apa yamg sedang terjadi pada bossnya itu.
Sampailah ia di Apartemen Miguel sedangkan pak widodo masih berada di depan pintu menunggu.
" Bagaimana pak? Belum keluar juga? " Tanya Liana sambil merogoh tasnya mencari kartu akses apartemen Miguel.
" Belum bu.." Jawab Pak widodo.
Dibukalah Apartemen Miguel oleh Liana, segera ia masuk dan mencoba mencari tau apa yang sedang terjadi.
Tampaknya Miguel tidak ada di Apartemen itu, Ternyata Miguel sedang ada di luaran. Tetapi ia bertanya tanya kemana Miguel pergi hingga Pak widodo pun tidak mengetahuinya. Liana duduk di sofa tamu dan mengambil Ponselnya berusaha menghubungi Miguel kembali.
" ihh.. kemana sih kamu?" Kata Liana dalam hati"
Setelah sekian lama akhirnya telepon itu diangkat juga.
" Hey.. Li.. ada apa?" Kata Miguel
" Bapak ini bagaimana sih? pergi tidak memberi kabar, pak widodo juga sampai tidak tahu, maksud bapak ini apa sih? " Kata Liana dengan kesal, bahkan ia lupa bahwa ia sedang berbicara dengan bossnya yang seharusnya ia lebih sopan.
" Kok kamu marah-marah Li..." kata Miguel.
" Oh iya maaf pak kelepasan saya, soalnya saya khawatir" Jawab Liana dengan malu.
" Oh.. khawatir atau sayang? " kata Miguel menggoda
" Ya sudah pak, sekarang jadwal bapak apa? biar saya urus. dan bapak ada dimana? " Kata Liana mengalihkan pembicaraan.
" Jadwalku makan siang dengan kamu" Jawab Miguel.
" Bapak serius ah.." Jawab Liana.
" Aku serius Li..." kata Miguel
Miguel memberitahukan kepada Liana bahwa ia sedang berada di gym station tidak jauh dari apartemennya, karena sejak pagi Miguel dan ia memang tidak memberi kabar kepada siapapun karena ia ingin sejenak melepaskan diri dari urusan-urusan pekerjaan. Ia meminta Liana datang apabila ada yang perlu ia tanda tangani.
Liana pun sedikit merasa lega, Namun hatinya mulai bergejolak dan bertanya tanya mengapa ia sangat mengkhawatirkan Miguel, apakah ia sudah jatuh cinta kepada bossnya itu, ataukah hanya sebuah reaksi seorang sekretaris yang peduli terhadap bossnya. Ia pun segera kembali ke kantor untuk menyiapkan berkas-berkas yang harus ditanda tangani oleh Miguel. Ia memasuki kantor dan ternyata ia berpapasan dengan Ana yang saat itu hendak keluar untuk makan siang.
" Eh mbak.. mau kemana? " sapa Liana kepada Ana.
" Eh.. kamu.. aku mau makan dulu" jawaban singkat Ana seolah tidak senang disapa oleh Liana. Lalu Ana berlalu begitu saja dengan sikap dingin.
Liana pun berfikir bahwa Ana masih saja gidak suka padanya dan memusuhinya hanya bedanya Ana tidak lagi vulgar semenjak ia mengalami hampir dipecat dari kantor itu.
Liana membereskan semua berkas yang akan ia bawa kepada Miguel. Ia tampak sibuk di meja Miguel, dan tiba-tiba muncul Steve di belakangnya tanpa ia sadari, Dan Steve memeluk Liana dari belakang, Hingga Liana terkejut dan semua berkas jatuh berserakan.
" hah... Pak.. apa yang bapak lakukan?" Kata Liana sembari beeusaha melepaskan pelukan Steve.
" Kenapa kamu teeus berlari dariku Liana? huh..?" Kata Steve sambil memeluknya lebih erat lagi.
" Pak nanti ada yang lihat, tolong lepaskan saya.." Kata Liana sambil berusaha melepaskan diri dari pelukan Steve. dan akhirnya Liana berhasil melepaskan diri dan langsung menampar wajah Steve.. Plakkk...
" Bapak tidak pantas berbuat seperti ini, kata Liana sambil membereskan Berkas yang berserakan di Lantai.
" Kamu akan menerima akibatnya Liana, Aku akan membalas penghinaan ini" Kata Steve.
Liana tidak peduli dengan ucapan Steve dan ia berlalu membawa berkas itu menuju mobilnya. Tidak tau kenapa air matanya mengalir membasahi pipinya, sesekali Liana mengusapnya sambil mengemudi menuju tempat dimana Miguel berada. Liana merasa bahwa Steve tidak menghargainya sebagai wanita. Liana merasa dalam posisi dilecehkan, sebenarnya Liana ingin sekali menceritakan kejadian itu kepada Miguel, namun ia masih berusaha menyembunyikannya karena ia tau Miguel memerlukan Steve dalam urusan Investasi. Akhirnya ia hanya memendamnya sendiri dengan rasa sakit hati yang begitu dalam. Dan ia hanya memikirkan ancaman Steve kepadanya.
Walaupun hari itu berakhir buruk bagi Liana, namun Liana tetap berusaha menenangkan diri, menyembunyikan semuanya sendiri.
Sore itu dalam perjalanan ke rumah, Miguel menghubunginya, padahal Liana sedang mengemudikan Mobilnya, Ponselnya berdering dan panggilan itu dari Miguel bossnya.
" Iya pak.. ada yang bisa saya bantu?" Jawab Liana dalam telepon.
" Liana besok kamu temui aku di cafe saat kita pertama kali bertemu Steve, tampaknya ada sedikit masalah dengan Perusahaan yang berinvestasi ke Perusahaan kita, Tolong kamu note ya ini sangat penting" Kata Miguel dengan nada serius.
Liana tampak terkejut dan pikirannya melayamg layang tidak karuan, Ia bertanya tanya ada masalah apa sebenarnya, Apakah Steve berulah akibat peebuatan yang Liana lakukan kepada Steve siang itu? Apakah Steve serius dengan ancamannya? Liana mulai kebingungan. Ia tidak tahan untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi, maka pertama kalinya dalam hidupnya Ponselnya menghubungi nomor Steve.
" Halo pak.. ini Liana.. maaf mengganggu waktu bapak." Kata Liana.
" Oh kamu.. ada apa?" Jawab Steve
" Begini pak, saya ingin meminta maaf atas kejadian siang tadi, tidak sepantasnya saya menampar bapak" Kata Liana berharap agar Steve memaafkannya dan tidak berulah membuat masalah.
" Ehmm.. maaf aku sedang sibuk" tut..tut..tut... Steve menutup telepon dari Liana.
Pagi itu Liana terburu-buru dan segera memacu mobilnya menuju cafe dimana ia membuat janji dengan Miguel.
Kemudi ia pacu layaknya seorang pembalap. 45 menit perjalanan bertemu dengan kemacetan ibukota akhirnya sampailah ia ke tempat yang dituju.
Ia tidak menunggu lama langsung mencari Miguel di dalam cafe itu, karena ia sudah melihat Pak widodo ada di parkiran. Ia menduga pasti Miguel membuat janji dengan Steve di tempat itu. Tapi ternyata ia salah.. bukan Steve tapi seorang wanita berusia sekitar 60 tahun berwajah khas Jawa, dengan dandanan ala ibu ibu pejabat. Dengan rasa penasaran ia melangkahkan kaki menuju meja dimana mereka berdua duduk dan sedang berbincang-bincang.
" selamat pagi" sapa Liana kepada mereka berdua.
" Hey.. cantik.. mari duduk" Kata wanita itu mempersilahkan Liana duduk sambil teesenyum memandang Liana.
" Liana kenalkan ini adalah Bu Rosi atasan dari Steve dialah yang memiliki saham besar di perusahaan dimana Steve bekerja" kata Miguel.
" Saya Liana Bu" Kata Liana sambil mengajak Bu Rosi bersalaman.
" Iya.. Steve itu adalah calon menantu saya, makanya saya suruh berlatih dulu mengurus bisnis, karena Linda calon istri Steve adalah anak perempuan saya satu-satunya " kata Bu Rosi menjelaskan kepada Miguel dan Liana.
Setelah itu semua pembicaraan bisnispun dimulai, Bu Rosi menjelaskan bahwa berdasarkan laporan dari Steve prospek bisnis dari perusahaan milik Miguel menurun drastis secara analisa. Dan kontrak Investasi yang tadinya sudah disepakati bahkan dikucurkan dananya akan dibahas ulang kembali secara musyawarah kedua belah pihak. Karena secara kontrak investasi itu berlangsung selama 2 tahun. Sebelum jatuh tempo waktu yang ditentukan maka Investasi itu tidak dapat ditarik kembali. Tapi pihak Bu Rosi juga memahami dan tidak semata-mata memaksakan kehendaknya. Ia hanya ingin benar-benar mendapatkan informasi yang akurat masalah laporan yang diutarakan oleh Steve. Karena Ia juga memahami bahwa secara hukum kontrak itu telah terjadi dan disepakati. Miguel pun menjelaskan kembali secara presentatif bahwa kekhawatiran itu tidaklah perlu karena ia dapat memastikan secara profit perusahaan tidak mengalami penurunan sama sekali.
Sambil memberikan penjelasan dan menunjukkan berkas laporan keuangan Miguel tampak berhasil meyakinkan Bu Rosi.
Tetapi entah kenapa fikiran Liana tidak ada disitu, Liana hanya berfikir bahwa Steve sudah benar-benar membuat ulah. Untung saja Miguel adalah orang yang sangat cerdas dan cekatan dalam menjalin hubungan bisnis. Semua berjalan lancar dan Bu Rosi memgurungkan niatnya menarik investasi itu.
Liana semakin kagum melihat Miguel, ia sangat menyukai pria cerdas seperti Miguel, ia tampak melamun sambil memandangi wajah Miguel yang sedang sibuk berbicara pada Bu Rosi. sampai sampai iya tidak menyadari kalau Bu Rosi sesang berpamitan padanya..
" Eh... cantik... melamun terus memikirkan apa?" kata Bu Rosi membangunkan Liana dari lamunan terhadap Miguel.
" Eh .. iya.. tidak bu.. tidak apa apa" Jawab Liana dengan malu.
Akhirnya Bu Rosi meninggalkan tempat itu. dan tidak tau kenapa Liana ingin sekali mencumbu Miguel. Hatinya berbunga bunga melihat pria itu.
" Pak kita refreshing yuk.." Kata Liana setelah Bu Rosi pergi.
" Eh.. kamu ini, ini jam kerja" Jawab Miguel.
" Kalau bapak tidak mau ya sudah" Kata Liana manja menggoda Miguel.
" Kamu ini pandai sekali merayu, Hotel mana?" Kata Miguel.
" Terserah bapak saja" Jawab Liana sambil meneguk minumannya.
Tampaknya ini benar-benar terjadi, Liana tampak jatih cinta kepada Miguel, yang ada di fikirannya hanya pria bule yang sejatinya adalah bossnya sendiri.
Sampailah mereka berdua di dalam kamar hotel dan merekanterlibat hubungan seks tengah hari, Liana melampiaskan kekagumannya kepada Miguel dengan memberikan servis yang terbaik kepada Miguel, dalam beberapa jam mereka habiskan dengan bercinta hingga kelelahan.
Usai tubuhnya dinikmati habis habisan oleh Miguel Liana pun beranjak pulang dengan sebagian bada terasa pegal. Miguel memang memiliki stamina yang luar biasa dalam urusan Ranjang. Dan itu menjadi kebutuhan baru bagi Liana. Tanpa sengaja ia telah membuat hubungan segitiga dengan hatinya. Saat itu tidak ada kekhawatiran baginya yang ada hanya rasa ingin memuaskan nafsu birahinya yang menggebu.