Liana dan Miguel memutuskan untuk melakukan hubungan seks secara rutin minimal 1 kali seminggu, Liana sering sekali mengambil waktu di hari sabtu dan beralasan kepada suaminya bahwa ia selalu sering bertemu klien di hari sabtu, padahal ia gunakan waktu itu bersama Miguel. Bahkan Liana mulai mengkonsumsi pil secara rutin untuk berjaga-jaga.
Seperti waktu itu Liana dan Miguel berkendara menuju sebuah hotel di kawasan Puncak,
Sesampainya dikamar Liana duduk saja di sofa yang ada disitu. Miguel duduk disebelahnya, tanpa basa-basi, langsung saja Miguel merengkuh tubuh Liana dan mengulum bibirnya. Liana hanya menggeliat dan membalas serbuan mulut Miguel di bibirnya. Bibir mereka b******u dengan penuh nafsu, lidah mereka bertautan
“Hhhmmmmhhh… hhmmmhhmmm…” Liana bergumam tidak jelas menikmati cumbuannya.
Tubuhnya menggelinjang saat tangan Miguel mulai meremas-remas payudaranya, yang kadang diselingi dengan pilinan dikedua putingnya. Meskipun masih terhalang oleh kain kemeja Liana sudah merasakan kenikmatan. Liana pun tak mau kalah, Liana mulai meraba-raba s**********n Miguel. Ia merasakan gundukan daging yang masih lembek, tapi terasa sangat besar dan panjang. Dengan tidak sabar sambil tetap meladeni ciumannya, Liana mulai melepaskan celananya. Seketika celananyapun meluncur turun ke bawah. Dia sekarang hanya berbalut CD, Liana yang sudah dipenuhi oleh nafsu segera mengeluarkan senjata Miguel yang masih tersembunyi di dibalik CDnya diremas-remas senjatanya, perlahan tapi pasti senjata Miguel mulai bangun.
Tanpa terasa kedua p******a Liana sudah tidak tertutup oleh sehelai benangpun, sementara roknya juga sudah terlepas dari tubuhnya. Keadaannya saat itu hanya tinggal mengenakan CD saja. Saat itu Miguel mulai menciumi p******a Liana, Liana melirik kearah batang besar Miguel yang sedang ia elus dan ia remas. Mata Liana terbelalak seketika melihat Batang besar Miguel yang sudah mulai berdiri tegak, panjangnya lebih dari panjang siku Liana, sangat menakjubkan, karena jempol dan jari tengah Liana tidak dapat bersentuhan waktu ia menggenggam. Liana pun semakin bersemangat mengocok batang besar itu agar lebih mengeras.
Miguel segera membalas aksi Liana dengan meraba s**********n Liana dari luar CDnya. Dia menggesek belahan bibir lubang kenikmatan Liana yang sudah basah. Kemudian dia menurunkan Cd Liana kebawah. tubuh Liana sudah tidak tertutup oleh sehelai benangpun. Dengan sedikit mengangkangan kaki, Liana menikmati permainan jari Miguel di lubang kenikmatan Liana.
Lubang kenikmatan Liana pun semakin basah, desahannya semakin terdengar. Jari tengah Miguel yang besar mulai menusuk lubang kenikmatan Liana. sementara jari jempolnya terus mengelus-elus bibir kelamin Liana
“Sssstthh aaahhh ooohhhh .aaaahhh "Liana mengerang menikmati permainan Miguel di lubang kenikmatannya dengan mulut menghisap p****g Liana. Lutut Liana gemetar, Miguel benar-benar ahli dalam memuaskan lawan mainnya. Liana dibuatnya mengejang menikmati permainan tangan Miguel.
“Oooohhh stop…aku sudah gak tahan lagi..aaaahhhh”
Mendenghar erangan Liana, Miguel bukannya berhenti, malah membuat aksinya makin gila. Jari tangannya semakin menekan-nekan, kulumannya di p****g Liana pun semakin menggila, Liana kelabakan dibuatnya, dan tidak lama kemudian Liana pun mengerang, mencapai puncak kenikmatan. Ssrrrrr…… srrrrr……ssssrrrrr…. ssssrrrrrrr…… sssrrrrrr…….
Oouuughhh aku keluaaaarrr aaahhhh….” erang Liana. Tubuhnya mengejang dan bergetar dengan hebat. Nafasnya terengah-engah menikmati orgasmeku, pantatnya terangkat, kedua kakinya menjepit tangan Miguel yang masih berada di lubang kenikmatannya. Dinding kelaminnya berkedut-kedut, dia rasakan seperti sedang meremas-remas jari Miguel. Mengetahui jika Liana sedang o*****e, Miguel menambahi dengan menekan-nekan jempolnya pada bibir kelamin Liana, yang memberikan sensasi yang luar biasa bagi Liana.
Tak berapa lama gejolak birahi Liana mereda seiring dengan keluarnya cairan kenikmatan, nafasnya mulai kembali normal, dengan mesranya Liana mencium Miguel. Liana masih belum merasa lengkap bila tidak merasakan Batang besar Miguel yang mempunyai ukuran luar biasa tersebut. Liana membayangkan bila batang besar itu menerobos masuk lubang kenikmatannya.
Liana meminta Miguel agar duduk di sofa, kemudian ia berlutut didepannya. Dengan penuh nafsu batang panjang itu mulai ia kulum dan ia jilati, Miguel mulai mendesah-desah keenakan merasakan kuluman dan jilatan mulut dan lidah Liana di Batang besarnya. Liana merasakan Batang Besar itu makin mengeras, mulutku tidak cukup untuk mengulum Batang yang besar dan panjang, hanya sepertiga dari batang besar Miguel yang bisa keluar masuk dalam mulutnya.
Setelah Batang besar itu mengeras Liana mulai mengangkangi Miguel, dan dengan perlahan kepala Batang besar Miguel dioles-oleskan di bibir Lubang kenikmatan Liana, mereka merinding kegelian. “Sleeepppp…. “Liana mulai menyelipkan Batang besar itu di lubang kenikmatannya. Liana merem melek dibuatnya saat lubang kenikmatannya mulai tersumbat oleh kepala batang besar itu, dengan perlahan ia dorong pantatnya ke bawah, batang besar itu mulai menyeruak masuk ke lubang kenikmatannya. Liana menjerit merasakan lubang kenikmatannya sedikit sakit akibat terlalu besarnya batang senjata Miguel yang sedang masuk.
“Sssthhh…ooouughhh…besar sekali senjatamu Pak…” rintih Liana menahan sakit dan keenakan.
“Ooohhh.. Damn your p***y is very tight,” bisik Miguel di telinga Liana.
Liana terdiam sejenak merasakan sakit dan perih di lubang kenikmatannya akibat sumbatan batang yang besar. Baru sekitar seperempat dari batang besar Miguel yang terbenam di lubang kenikmatannya. Miguel yang merasakan nikmat saat batang besarnya terjepit dengan ketat oleh Lubang kenikmatan Liana, merasa tidak sabar, kedua tangan Miguel mencengkram pinggang dan p****t Liana dan mulai menekankan p****t Liana, “Bleeessss…… ” perlahan Batang besar Miguel mulai menyeruak masuk ke dalam lubang kenikmatan Liana. Liana kembali menjerit kesakitan, Liana pun meronta dan mencoba untuk bangkit dari posisinya, tapi tangan Miguel menahan pinggangnya, sehingga ia tidak dapat melepaskan Batang besar itu dari lubang kenikmatan Liana.
“Bleeeeessss….” kembali tangan Miguel mendorong p****t Liana, setengah batang besarnya sudah terbenam dalam lubang kenikmatan Liana sehingga Liana pun semakin kesakitan.
Seiring Miguel terus memompa lubang kenikmatan Liana, batang besar itu mulai sedikit lancar keluar masuk, dengan menahan sakit dan perih Liana mulai bergoyang naik turun mengimbangi gerakan tangan Miguel di pinggangnya. Terlihat bibir kelaminnya membungkus ketat batang besar Miguel saat batang besar itu menekan masuk bibir kelamin Liana pun ikut masuk, dan saat batang besar itu di tarik keluar bibir kelamin Liana pun terlihat keluar juga. Liana merasakan lubang kenikmatannya betul-betul penuh oleh sumpalan batang besar Miguel, rasa sakit dan perih yang Liana rasakan mulai berkurang berganti dengan rasa nikmat. Rintihan kesakitannya mulai berganti dengan erangan keenakan, sedikit demi sedikit batang besar itu semakin melesak masuk kedalam lubang kenikmatannya.
Liana yang tadinya meronta-ronta berusaha menarik keluar batang besar Miguel, saat itu mulai bergerak naik turun menyambut sodokan batang besar itu. Liana merasakan batang besar Miguel semakin melesak dalam di lubang kenikmatannya. Tanpa memberitahu Liana dengan penuh nafsu Miguel menekan p****t Liana ke bawah, akibatnya batang besarnya hampir tertelan seluruhnya di lubang kenikmatan Liana. Liana mengerang dibuatnya, dinding kelaminnya menempel ketat di batang besar Miguel, Liana merasakan ujung dinding rahimnya diterjang dengan kuat oleh kepla batang besar itu.
“Aaahh.. Sayang... Batang kamu enak sekaliiii….” jerit Liana saat merasakan Batang besar Miguel menyentuh dinding rahimnya.
“Hhhhhmmmm Liana your p***y hhhmm… I love it…” desah Miguel. Miguel memang menyukai type body Liana yang berisi dan p****t yang tebal, Walaupun Liana sendiri merasa bahwa ia adalah wanita gendut.
Tiga perempat batang Miguel sudah terbenam di lubang kenikmatan Liana, dan tidak bisa lagi masuk lebih dalam karena sudah mentok. Dengan perlahan Miguel mulai memompa batang besarnya keluar masuk lubang kenikmatan Liana. Lama-lama sodokan batangnya semakin bertambah cepat, Liana pun semakin merintih kenikmatan dibuatnya. Lubang kenikmatan Liana semakin basah oleh cairan yang keluar, Batang besar itu semakin leluasa keluar masuk lubang kenikmatannya
“Sssstthhh ooohhh genjot terus sayang nikmat sekaliiii Saya puaaass aahhh…” erang Liana. Tanpa hentinya Liana merintih kenikmatan merasakan sodokan demi sodokan senjata Miguel di lubang kenikmatannya. Matanya merem melek, tubuhnya mulai mengejang-ngejang, Liana akan meraih puncak kenikmatanku kembali, gerakannya semakin liar, kepalanya bergorang ke kanan-ke kiri, nafasnya semakin memburu, dan “Sssssrrrrrr…sssrrrr…..ssssrrrr…..sssrrrrr…..ssrrrr rr…… ” Lubang kenikmatannya menyemburkan lahar kenikmatan, dinding kelaminnya berkedut-kedut seiring dengan semburan itu,
“Saya.. keluaaar sayang enak sekaliii ssnjatamu sunguh luar biasaaa ini 10 kali lebih nikmat dari milik suamiku” erangku menikmati orgasmenya.
Mendengar erangan Liana, Miguel semakin mempercepat genjotannya, sehingga tubuh Liana kelojotan menerima sodokan-sodokan tersebut, dan dengan sekali hentak dia berusaha menanamkan batang besarnya sedalam-dalamnya di lubang kenikmatan Liana, menyambut semburan lahar kenikmatan Liana. Miguel merasa kepala batangnya menjadi hangat, dan ia juga merasakan dinding kelamin Liana yang berkedut-kedut, seolah-olah batang besar itu sedang diremas-remas. Dengan memeluk erat tubuh Miguel dan nafas yang tersengal-sengal, Liana pun ambruk di atas tubuh Miguel. Liana merasakan bahwa lubang kenikmatannya sudah berhenti berkedut, sementara nafasnyapun sudah beranjak normal kembali.
Tanpa melepaskan batang besar itu dari jepitan lubang kenikmatan Liana, Miguel mengangkat tubuh Liana dan merebahkan tubuh Liana diatas sofa. Lalu Miguel mengambil bantal-bantal kecil yang ada di sofa diletakkannya bantal tersebut di lututnya. Kedua kaki Liana ditaruh dipundak Miguel, dan Miguel pun mulai menggenjot Lubang kenikmatan Liana. “Bleeesssss…..”
Batang beaar itu mulai menggenjot lubang kenikmatan Liana dengan perlahan, dengan posisi ini Miguel merasakan lubang kenikmatan Liana lebih sempit dari posisi sebelumnya, Liana pun mengerang merasakan sodokan-sodokan batang besar itu. Semakin lama genjotannya semakin bertambah cepat, tubuh Liana berguncang dengan dahsyat mengikuti irama sodokan Miguel yang semakin cepat.
“Ooohhh Liana you’re so beautiful oohh your p***y nice. mmm… ooohh. Damn, you’re so hhoooottt,” Miguel melenguh merasakan enaknya lubang kenikmatan Liana yang dengan ketatnya menjepit batang besarnya.
“Your d**k juga enak Pak.. aaaahhhh benar-benar nikmat aku puaaasss sekali kamu hajar aku, genjot terus sayang aaahhhh….” rancu Liana menikmati genjotan Miguel.
Miguel pun menggenjot senjatanya dengan cepat, sambil kedua tangannya meremas-remas p******a Liana, kadang-kadang kedua p****g liana dia pilin-pilin. Liana betul-betul kewalahan menghadapi serangan-serangannya, eranganpun semakin menjadi-jadi, lenguhan dan desahan Liana semakin kerap terdengar, matanya kadang-kadang melotot keatas sehingga hanya kelihatan putihnya saja, lubang kenikmatannya semakin banjir oleh cairan yang keluar.
Batang besar itu semakin gencar menyerang lubang kenikmatan Liana. Dari berlutut Miguel merubah posisinya jadi setengah berjongkok, sementara tubuhnya ia condongkan ke depan, kedua tangannya ia letakkan di samping kepala Liana menahan bobot tubuh Liana. Kaki Liana yang masih menempel di pundaknyapun menjadi terdorong ke arah tubuh Liana. p****t Liana sedikit terangkat, batang besar itu pun melesak lebih dalam akibat posisi ini. Kembali Miguel memompa senjatanya keluar masuk Lubang kenikmatan Liana dengan tanpa mengurangi ritme sodokannya. Liana merasakan posisi seks seperti ini memberikan kenikmatan yang luar biasa, entah karena senjata Miguel yang besar dan panjang, entah karena bibir kelamin Liana yang ikut terdorong keluar masuk saat batang besar itu keluar masuk di lubang kenikmatan Liana. Lianapun melenguh menikmati sodokan-sodokan batang Miguel.
“Oooouughhh… shit.. terus sayang…your dick.. aaahhh….” desah Liana histeris.
Liana yang saat pertama merasakan sakit dan perih akibat terjangan batang besar Miguel, saat itu malah minta Miguel untuk menekan senjatanya lebih dalam. Miguel semakin mempercepat senjatanya keluar masuk di lubang Liana, dan menekan lebih dalam lagi di lubang kenikmatan itu. Dengan ritme kecepatan yang dilakukan oleh Miguel membuat Liana merintih-rintih keenakan. Puncak kenikmatannya hampir di ambang pintu, nafasnya semakin memburu, tubuhnya mulai mengejang, pantatnya terangkat saat Miguel menekan senjatanya supaya bisa masuk lebi dalam lagi. Hari itu Liana betul-betul merasakan kenikmatan yang belum pernah ia rasakan selama ini, tubuhnya seperti mau rontok karena nikmatnya digenjot oleh Miguel.
“Ooooo aaarrgghhhh ssstthhh saya mau keluaaaarrrr lagiiii…..genjot lebih keraaass sayang aaahhhh….” Liana histeris merasakan kenikmatan yang sangat luar biasa, dan “Ssssrrrr…. ssrrrrr….. ssrrrr….. ssrrrrr….. sssrrrrr……” Lubang kenikmatannya mulai menyemprotkan cairan kenikmatan, membasahi kelaminnya dan senjata Miguel. Lubang Liana semakin banjir.
Miguel tidak menghentikan genjotannya saat Liana meraih puncak kenikmatan, Miguel juga merasakan hal yang sama, Miguel merasakan senjatanya berdenyut-denyut, dan akhirnya spermanya mendesak keluar dan “Crooottt…crooottt…crooott…” Senjatanya menyemburkan s****a ke dalam lubang Liana, hampir bersamaan dengan keluarnya cairan kenikmatan Liana.
Miguel menekan senjatanya lebih dalam saat menyemprotkan spermanya dan mendiamkan kan senjatanya di lubang Liana. Liana merasakan ledakan-ledakan hangat yang keluar dari senjata Miguel membasahi relung kelamin Liana. Liana merasakan terjangan s****a Miguel itu sangat kuat menerjang dinding rahimnya. tubuh mereka sama menggelepar saat mereka berdua meraih kepuasan. Tubuh Liana mengejang-ejang, Liana mengerang dan merintih.
Miguel melenguh keenakan saat senjatanya menyemprotkan s****a, tubuhnya juga menegang.
“Oooghhh….. Damn… I’m cooominggg…too. Your pussy..is very nice… I love your p***y… I love your body aaaagghhh ssssshhh.. Damn ”Miguel melenguh menikmati semburan spermanya yang keluar dari senjatanya.
mereka berpelukan dan berciuman sambil menikmati puncak kenikmatan, nafas mereka berdua masih memburu, tubuh mereka masih mengejang sampe gejolak birahi mereda dan saat batang senjatanya mulai hilang ketegangannya. Miguel menarik keluar senjatanya dan dari lubang Liana mengalir perlahan cairan putih yang bercampur dengan cairan kenikmatan Liana. Liana tidak khawatir hamil karena pada dasarnya Liana tidak mudah hamil, dan secara diam diam dari suaminya Liana rutin meminum Pil KB sejak Miguel sering menyetubuhinya.
Hari penuh kebohongan Liana itu ia nikmati bersama Miguel. Makan siang, berenang bersama, berendam air panas. Ia manfaatkan waktu sekali seminggu dengan semaksimal mungkin. karena ia merasa jiwanya, Romatismenya. Dan Kehidupan seksnya kembali bersinar dengan Miguel.
Hari itu pukul 9 malam Liana dan Miguel baru beranjak meninggalkan Puncak. Laju kemacetan jalur luar kota karena malam minggu seolah-olah tidak membuat mereka merasa lelah. Yang ada adalah rasa berat hati karena hari itu harus berlalu, Liana harus kembali ke rumah bertemu keluarga kecilnya, dan Miguel juga harus kembali ke kehidupan seperti biasanya.
Pukul 12 malam Liana baru saja tiba di rumahnya, suami dan anaknya telah terlelap tidur, hanya terlihat vivi yaitu baby sitter Noah yang sedang menonton televisi.
" Bapak udah tidur vi..?" tanya Liana kepada Vivi.
" Sudah bu sama dede dari tadi jam 9" Jawab Vivi.
" Oh ya sudah.. kamu kok tidak tidur" Tanya Liana sambil menaruh tasnya dan menjatuhkan diri duduk di sofa.
" Sebentar lagi bu setelah filmnya selesai" Jawab Vivi sambil tetap asyik menonton televisi.
Kemudian Liana meminta Vivi mengambilkan segelas air minum. Liana merogoh tasnya dan mengambil sebutir Pil KB dan meminumnya. Lalu ia segera keluar kembali untuk menyembunyikan Pil KB itu di mobilnya. Hari yang melelahkan dan menyenangkan bagi Liana dia akhiri dengan tidur pulas di ranjangnya bersama Noah dan Rian.
Pukul 3 pagi hari, mata Liana terbuka karena ia merasa seseorang membangunkannya, ternyata orang itu adalah Rian Suaminya.
" Li.. ayo.. li aku sedang ingin sekali" Kata Rian sambil duduk di samping Liana yang masih terbaring.
" Mas besok saja ya.. aku lelah sekali" Jawab Liana sambil menutup matanya kembali.
Rian tampak kesal dan meninggalkan kamar, Ia duduk di teras rumah sambil menyalakan sebatang rokok. Rian merasa kesal karena waktunya untuk bersama sama Liana semakin berkurang, begitu juga waktu Liana bersama Noah. Dalam benak Rian ia ingin menyampaikan pada Liana agar Liana lebih baik Resign dari pekerjaannya. Namun Rian berfikir Liana pasti akan sangat kecewa karrna sudah lama sekali Liana terus membujuk Rian agar mengijinkannya kembali bekerja.
Pagi itu hari Libur bagi keluarga Liana. Rencananya mereka akan pergi mengajak Noah berenang. Liana meminta Vivi menyiapkan semua kebutuhan berenang untuk Noah. Sedangkan Rian tampak sibuk membersihkan Mobil. Kebetulan Liana minta untuk memggunakan Mobil Liana saja, selain masih baru dan lebih mewah, Liana tampaknya sudah terbiasa dengan mobil itu. Namun tak terfikirkan oleh Liana akibat rencana menggunakan mobil itu Rian menemukan Pil yang sengaja Liana sembunyikan di dalam dasbor mobil.
" Li... maksud kamu apa sih? kamu tidak berunding dulu kalau kamu melakukan ini" Tanya Rian dengan wajah sangat marah.
" Mas ini kenapa sih tau-tau marah-marah?" Jawab Liana dengan kesal pula.
" Ini apa? " Tanya Rian sambil menunjukkan Pil KB yang telah terbuka sebagian, yang berarti telah digunakan.
Liana tampak sangat terkejut hingga ia bingung harus menjawab apa,
" E...e... iya mas itu aku e.. iya soalnya kan kita aja anak 1 masih repot, Noah juga masih kecil, jadi aku jaga-jaga supaya tidak hamil dulu mas" Jawab Liana sambil serba salah.
" Tapi kenapa kamu taruh di mobil, bukan di rumah? " Rian terus bertanya dengan rasa penasaran.
" Gini lho mas.. aku kan seringnya di luaran, kadang kalau tiba di rumah sudah lelah, jadi aku khawatir kalau-kalau aku lupa meminumnya, kan itu harus rutin mas" Jawab Liana yang tampaknya sudah naik level skill berbohongnya.
" Ya sudah sana taruh kamar, kamu tau kan obat-obatan tidak baik di taruh di dalam mobil" udaranya kan tidak bagus, kepanasan dan lain-lain" Kata Rian sambil memerintahkan Liana menyimpan Pil itu di dalam kamar.
Rian adalah sosok laki-laki yang selalu positif thinking, Maka dengan midahnya ia percaya begitu saja dengan alasan-alasan Liana
Akhirnya berangkat juga merek ke tempat dimana mereka berdua akan mengajak Noah berenang, Tempat itu adalah sebuah Hotel dengan kolam renang di bagian Rooftop. Sampai di tempat itu Noah dan Liana berenang, sedangkan Rian lebih memilih duduk santai di kursi sambil meminum jus jeruk dan merokok.
Bermain-mainlah antara Liana dan Noah di dalam air kolam yang biru.
Sedangkan Vivi menunggu sambil bersiaga di dekat kolam apabila Noah membutuhkan sesuatu.
Namun tidak lama kemudian konsentrasi Liana mulai pudar, ada sesosok laki-laki bule dengan perut berotot six pack yang berenang di kolam yang sama dengan Liana. Dan pria itu bukanlah pria asing bagi Liana, Liana mengenal Pria itu dengan baik. Ya.. ia adalah Steve entah kenapa Steve tidak menyapa Liana sama sekali, entah apakah tidak menyadari keberadaan Liana ataukah ada alasan Lain.
Dan tidak lama kemudian muncul juga seorang wanita berusia sekitar 26 tahun menghampiri Steve dan tampak mesra dengan Steve. Lianapun akhirnya menemukan jawabannya, Wanita itu pasti tunangan Steve yaitu Linda putri dari Bu Rosi.
Jujur saja Liana mengakui bahwa tunangan Steve bisa dibilang sebagai wanita yang cukup sempurna, tinggi, langsing, cantik, berkulit mulus, layaknya seorang model, Namun dalam hati Liana bertanya tanya lalu kenapa Steve malah mengejar dirinya, sedangkan Liana mengakui bahwa dirinya tidak proporsional tidak langsing, tidak mulus, hanya memang Liana memahami bahwa di dalam urusan ranjang Liana punya nilai lebih, Liana memiliki organ kewanitaan yang sempurna, bahkan cukup membuat pria ketagihan, tetapi pada kenyataannya Steve belum pernah berhubungan badan dengan Liana, maka tidaklah mungkin Steve mengetahui kelebihan Liana itu.
Karena merasa kurang nyaman, maka Liana berinisiatif menyudahi acara berenang dengan Noah itu. Liana berencana lebih baik ia mengajak Noah ke tempat lain seperti Mall atau lainnya.