Pagi itu Liana tiba di kantor pukul 9 pagi. Hari iti akan ada peristiwa besar yaitu rapat pertanggung jawaban Miguel kepada pemegang saham perusahaan. Hal ini pasti akan membuat Liana cukup sibuk. Maka ia mempersiapkannya sedini mungkin sebelum rapat dimulai pukul 2 siang. Steve tampat sudah muncul di kantor dia duduk di Ruang tamu, karena memang Steve tidak memiliki ruangan di kantor itu. Mata Steve menatap tajam pada Liana saat Liana berlalu lalang di hadapannya. Seolah-olah seperti mahkluk buas yang siap memangsa Liana. Steve gagal membuat membuat Bu Rosi menarik Investasi di perusahaan itu. Tapi pria seperti Steve tampak bukan seperti pria yang mudah menyerah, segala upaya mu gkin saja akan ia lakukan untuk mewujudkan keinginannya. Tak lama berselang tampaknya Miguel datang dengan wajah serius karena hari itu adalah hari yang sangat serius bagi Miguel. Miguel mendatangi Steve sambil mengajak Steve berjabat tangan. Maka mereka berdua terlibat dalam perbincangan yang tidak begitu jelas terdengar oleh Liana. Liana tidak begitu memikirkan itu, ia lebih sibuk mengurus semua keperluan untuk rapat pertanggung jawaban.
" Li... jangan lupa kamu atur masalah konsumsi ya, pastikan jumlahnya sesuai dengan peserta rapat" Kata Miguel kepada Liana saat Liana berlalu di hadapannya.
" Baik pak.. sedang saya siapkan, ada lagi pak?" Jawab Liana sambil menulis Note di sebuah kertas yang dipegangnya.
" Sudah itu saja, yang lain kamu tolong pikirkan sendiri ya keperluannya" Kata Miguel.
"Baik pak" Jawab Liana.
Tak lama kemudian tampak datang seorang wanita cantik, tinggi, langsing, berkulit mulus, dengan setelan kerja wanita berwarna Abu-abu, dan bersepatu hak tinggi. Ia adalah Linda putri Bu Rosi yang juga tunangan Steve.
Linda menghampiri Steve dan Miguel yamg sedang berbincang-bincang kala itu. yang membuat Liana terkejut adalah munculnya Ana yang tidak tau darimana datangnya, dan Ana tampak begitu akrab dengan Steve. Ini adalah hal aneh bagi Liana. Sejak kapan Ana terlibat urusan pemegang saham. akhirnya Liana pun mencari tau, dan ternyata Steve meminta khusus kepada Miguel agar ia dibantu oleh Ana, dan Miguel pun mengabulkannya. Tampaknya akan ada persaingan wewenang antara Liana dan Ana akibat semua ini. Karena Liana merasa bahwa Ana masih menaruh dendam kepadanya, apakah Ana dan Steve membangun sebuah konspirasi untuk menjatuhkan Liana, Semua diluar prediksi Liana.
Tibalah Rapat Pemegang Saham Dimulai, dihadiri oleh beberapa Direksi dan Dewan komisaris. Miguel memimpin rapat itu. Tampaklah bagaimana Steve terus terusan memojokkan Miguel. Tetapi Miguel selalu dapat berargumen. Dan Rapat itupun berakhir, Semua dapat berjalan dengan lancar dengan hasil yang baik.
" Semuanya lancar.. bagaimana kalau malam ini kita rayakan" Miguel mengirim chat kepada Liana diselah-selah rapat yang akan berakhir.
" Terserah bapak saja, tapi saya tidak janji saya harus ijin suami dulu pak" Jawab Liana dalam chat.
" Usahakan kamu bisa menginap malam ini, aku ingin sekali memeluk kamu dalam tidurku" Kata Miguel kembali membalas chat Liana.
" Saya usahakan pak" Jawab singkat Liana.
Lianapun mencoba meminta ijin pada Rian. Liana beralasan kantor sedang menjamu Investor dan pagi-pagi sekali harus mengajak para Investor beemain golf. walaupu dengan berat hati akhirnya Rian pun mengijinkan Liana untuk menginap.
Dengan rasa gembira, hari itu Liana dan Miguel membuka malam panjang dengan menonton film di bioskop, sebuah Mall besar di kawasan Senayan City menjadi saksi kencan terlarang mereka. Dipilihlah sebuah film drama romantis, Dalam gelapnya bangku-bangku bioskop, tangan mereka berdua saling bergenggaman selayakmya pasangan mida mudi yang sedang dimabuk cinta. Liana pun mulai menyandarkan kepalanya di bahu Miguel. sungguh waktu yang sangat nyaman bagi Liana, Hingga ia sendiri tidak begitu memperhatikan film yang mereka tonton, yang ada hanya kenikmatan dalam kebersamaan bersama Miguel. sebungkus popcorn dan segelas minuman soda pun tiada ia sentuh sama sekali, karena tiada rasa lapar dan haus saat ia dimabuk asmara dengan sosok pria bule yang sejatinya adalah bossnya sendiri. Film yang diputarpun telah berakhir, mereka berdua menuju sebuah hotel bintang 5 di kawasan senayan. Rasa letih itu Liana lampiaskan dengan melemparkan tubuhnya ke kasur empuk ruangan hotel itu..
" Ah.. akhirnya tubuh ini bisa berbaring" Kata Liana dalam hati.
sedangkan Miguel tampak sedang sibuk mandi.
" Li.. kamu tidak mau makan? " Teriak Miguel dari kamar mandi.
" Saya tidak lapar pak, bapak mau dipesankan sesuatu? " Jawab Liana dengan berteriak pula, karena Miguel sedang ada di kamar mandi.
" Coba pesan kentang saja Li.. juga minuman dingin, aku tidak terlalu lapar" Kata Miguel.
Akhirnya Liana mengambil gagang telepon di meja sebelah ranjang dan memesan makanan yang diinginkan Miguel.
Miguel tampak keluar dari kamar mandi dengan menggunakan kimono.
" Kamu tidak mandi Li.. ? Tanya Miguel
" Iya sebentar lagi" Jawab Liana sambil beranjak dari tempat tidur dan menabrakkan diri di pelukan Miguel, Liana mengecup bibir Miguel, kemudian dia berjalan menuju kamar mandi.
" Pak.. Aku berendam dulu, bapak masih sabar menunggu kan? " Kata Liana sesampainya di depan pintu kamar mandi.
" Memangnya kita mau ngapain Li..? " Kata Miguel menggoda Liana.
" Hmmm.. tidak apa apa" jawab Liana dengan kesal manja.
Akhirnya 1/2 jam Liana berendam dan membersihkan diri di kamar mandi, hingga room service datang mengantarkan makanan.
Miguel tampak sedang asyik mengemil kentang sambil menonton televisi saat Liana keluar dari kamar mandi. Hanya berbalut handuk Lianapun menuju meja rias di ruangan itu tempat ia menaruh tasnya. Ia periksa ponselnya yang sejak lama ia dengar berdering, ternyata ada 10 panggilan tak terjawab dari Rian. Liana langsung menghubungi Rian.
" Iya mas.. tadi telpon?" Kata Liana dalam panggilan itu.
" Iya Li.. kok tidak diangkat angkat? " Tanya Rian.
" Iya maaf ya mas, Tadi aku sedang mandi" Jawab Liana.
"Kamu dimana sekarang? " Tanya Rian.
" Ya di hotel lah mas.. tempat yang sama dimana para Investor menginap, kan aku mengawal mereka sampai acara main golf besok pagi" Jawab Liana.
Miguel tampak tersenyum senyum melihat Liana berbohong pada suaminya.
" Ya sudah, kalau urusan sidah beres semua segera pulang ya, Noah menanyakan tentang kamu terus" Kata Rian.
" iya pasti mas.." Jawab Liana. saat mengakhiri panggilan itu.
Permainan kenikmatanpun dimulai, Miguel meraih tangan Liana dan Liana ditarik Miguel ke pelukannya. Miguel mencium cium bibirnya dengan penuh nafsu. Liana menikmati sekali ciuman itu, ketika bibir Miguel mendarat pas pada bibir Liana, Liana membalas ciumannya dengan tidak kalah nafsunya. “Pak.. Ah.. Ehh .. Ouhh,” Liana gelagapan membalas serangannya. Miguel melepaskan serangannya sebentar dan menatap Liana dengan tajam. Liana jadi jengah dan menghindari tatapan Miguel. Ketika mata mereka saling bertemu, Miguel memberi isyarat dengan menganggukkan kepalanya. Liana pun mengangguk malu dan menundukkan wajahnya, Miguel tersenyum sambil melirik pada belahan p******a Liana yang berbalut handuk.
Liana hanya tersenyum, kakinya ia taruh di atas paha Miguel, kemudian Liana membusungkan dadanya ke depan wajah Miguel. Tanpa diberi komando Miguel langsung meremas p******a Liana dengan penuh nafsu. Tangan Miguel kemudian membuka balutan handuk yang membungkus tubuh Liana. Miguel menciumi p******a Liana dan menghisap putingnya yang mulai mengeras. p******a sebelah kanan dihisap dan dikulum, sementara sebelah kirinya diremas dengan tangan kanannya. Tangan kiri Miguel mengusap-usap pipi Liana dengan lembut. Liana mengerang dan merintih ketika putingnya digigit kecil dan dijilat-jilat. “Ououououhh.. Nghgghh, pak.. Ouuhh..”
Payudara liana dikulum habis sampai semuanya masuk ke mulutnya. p******a Liana memang berukuran standart tidak terlalu besar, namun tubuhnya sekel montok, Tubuhnya terhitung tidak tinggi, dengan lengan yang berisi dan bidang d**a yang lebar, dengan perut sedikit berlemak, dan p****t yang berisi, itu semua adalah tipikal yang disukai Miguel. Miguel menggunakan jarinya untuk membelai daerah s**********n Liana. “Bapak, nafsu sekali sih? Padahal payudaraku kan tidak besar” Kata Liana
“Tapi lubang kamu tidak ada duanya" Kata Miguel. Liana menggesek-gesek senjata Miguel dibalik kimononya, terasa sudah tegak dan keras sekali. “Aah.. pak ss.. Enak.. Teruss.. pak.. Ahh”. Mendengar erangan Liana ketika putingnya dijilati, nafsu Miguel sudah tidak dapat ditahan lagi.
Miguel merebahkan diri sambil menciumi leher Liana dan naik ke bibir Liana. Miguel melepas ikatan kimononya dan terus menciumi Liana dengan penuh nafsu, ditindihnya tubuh Liana diatas spring bed yang empuk. Miguel melirik bayangan di kaca lemari. Badannya yang tinggi besar seolah-olah menenggelamkan badan Liana. Sambil mendesah Liana tertawa kegelian, “Ahh.. Nafsu sekali bapak sih..?” Miguel melepas celana dalam Liana. sedangkan Liana mengangkat pantatnya untuk mempermudah Miguel melepaskan cd nya “Akhh..” Mereka saling mengulum bibir dengan penuh nafsu, nafas mereka mulai tidak teratur. Kaki Liana menjepit pinggang Miguel. Miguel menciumi leher kemudian turun ke p******a Liana lalu diisapnya pitimg Liana.
Terus turun dan menjilati pusar Liana. Liana tidak tahan diperlakukan demikian, “Pak.. Akh.. Geli akh..” Miguel terus menciumi pusarnya lalu turun dan saat sampai di depan s**********n Liana, Miguel menurunkan kepalanya, menjilati paha Liana dan sesekali menggigitnya. Liana mengganjal kepalanya dengan bantal dan memperhatikannya. Napsu Liana sudah memuncak sampe ubun2. Ketika mulut Miguel akan menyapu lubang kenikmatannya. Liana menarik kepala Miguel ke atas dan menciuminya. Giliran Liana menjilati telinganya. Miguel pun terangsang hebat. Liana melepaskan diri dari pelukannya dan menjilati dan menciumi tubuh Miguel. Dari lehernya bibir Liana kemudian menyusuri dadanya, dan “.. Oukhh, Fuck... Yachh.. ” Miguel mengerang ketika lidah Liana menjilati dadanya.
Miguel menolak tubuh Liana karena tak tahan dengan rangsangan yang Liana berikan pada dan kemudian Liana digulingkan kesamping. Bibir Miguel menyambar bibir Liana. Miguel mendorong lidahnya menggelitik mulut Liana. Lidah Liana kemudian dihisap. Tangan Liana menjelajah ke s**********n Miguel dan kemudian mengocok senjatanya yang semakin tegang dan besar.
“Pak, masukan pak.. please,
Tapi tiba-tiba sesuatu mengganggu mereka, Ponsel Liana berbunyi, terpaksa permainan mereka hentikan sejenak karena ada panggilan masuk dari Rian. Liana harus mengangkatnya karena khawatir jika Rian tidak mendapatkan kabar tentangnya, Rian akan menyusul Liana ke tempat itu.
" Halo mas.. ada apa?" Kata Liana dalam panggilan itu.
" Kamu sedang apa Li.. ? " Tanya Rian
" Emm.. lagi nonton TV mas, kenapa? " Jawab Liana.
" Kamu tidak bisa pulang aja Li.. ? " Tanya Rian.
" Kan mas sudah tau aku ada acara" Jawab Liana sedikit kesal.
" Aku sedang ingin sekali berhubungan" Kata Rian.
" Ya terus gimana? " Tanya Liana.
" Video call saja yuk, aku ingin keluarkan supaya lega" Kata Rian.
Liana kebingungan karena Rian mengajaknya video call.
" Ya sudah sebentar ya, tutup dulu teleponnya, aku mau siap-siap dulu" Kata Liana.
Akhirnya Liana memdapatkan ide, dengan mengambil posisi menungging dan kamera ponselnya hanya diarahkan ke bagian perut keatas. sedangkan Liana tetap meminta Miguel menyodoknya dari belakang tanpa terlihat kamera.
" Pak doggy saja ya, tapi bapak jangan bersuara karena suami saya minta video call s*x pak" Kata Liana sambil mengatur posisinya menungging. dan mulai mengaktifkan video call ke Rian.
" Halo.. mas, ayo sudah ini.." kata Liana dalam video call.
" Iya li.. oh..." Rian pun mulai mengocok senjatanya sambil menatap Liana melalui video call"
Sedangkan Miguel mulai menusukkan senjatanya ke lubang kenikmatan dan menggenjotnya dengan posisi doggy style, dan kejadian itu tidak terlihat di camera karena Liana menempatkan kamera hanya separuh badannya.
" Oh.. oh... oh augh... " Liana merem melek merasakan senjata besar miguel maju mundur menggenjot lubang kenikmatannya.
" Oh.. li.. kamu seksi sekali" Kata Rian sambil terus mengocok senjatanya yang tegang.
" Oh.. oh.. oh.. terus.. esshh... ogh.." Kata Liana.
Rianpun semakin b*******h dan menegang senjatanya, terus dikocok senjatanya semakin cepat.
" Ogh... yes... terusshhh. ah... lebih cepat pak.." Kata Liana.
" Lho kok pak... kamu biasanya kan panggil mas.. oh...oh.." Kata Rian heran karena Liana menyebut pak, tanpa tau bahwa sebenarnya Liana memang sungguh sungguh sedang dihajar lubang kenikmatannya.
" Oh.. iya.. kali ini aku mau panggil pak aja.. boleh kan mas.. oh..oh..." Kata liana sambil terus menikmati genjotan senjata Miguel.
" Iya li... oh.. oh.. li aku keluar.. oh.. oh.." Rintih Rian karena telah mencapai o*****e.
" Oh... ya sudah mas sana bersih bersih.. aku mau tidur ya.. " Kata Liana dan akhirnya mengakhiri video call itu.
Tidak lama kemudian setelah Liana mengakhiri Video call, Liana melanjutkan permainannya dengan Miguel “Akhh.. Oukkhh” Liana mendongakkan kepala dan memberikan kesempatan kepada Migelul untuk menjilati leher dan punggung Liana, Liana melebarkan kakinya dan mengankat pantatnya lalu dengan tusukan keras akhirnya semua batang senjata Miguel bisa masuk lebih dalam.
Miguel meremas p******a Liana dan menjambak rambutnya, Liana merintih dan mengerang keras. “Sayang... Ouhh , saya mau sampai, Saya mau kelu.. Ar” “Sshh.. Shh” “Pak sekarang ouhh.. Sekarang” Liana memekik. ,Tubuh Liana mengejang,
Miguel merubah posisi berada diatas Liana, dan kembali dihajarlah lubang kenikmatan itu yang sudah banjir dengan cairan kenikmatan Liana.
Mulut Liana setengah terbuka sambil mendesis-desis. Miguel menggerakkan senjatanya dengan perlahan dan kadang dipercepat temponya. Senjata Miguel dijepit dan diremas-remas dengan kuat oleh otot Lubang Kenikmatan Liana. Dan hal ini membuat Miguel semakin tidak tahan, senjatanya sepertinya sudah hampir meledak. Miguel terus memompa senjatanya di Libang Liana dengan tempo yang bertambah cepat.
" shit... f**k this dick.. baby... yeah... ssst shit.." Erang Miguel menikmati luar biasanya Lubang kenikmatan Liana yang konon membuat setiap pria ketagihan. Itu yang dialami Liana saat Liana masih Liar dan belum menikah, setiap pria yang diajaknya berkencan selalu ketagihan akan Nikmatnya Lubang kenikmatannya itu.
Nafas Miguel mulai memburu. p******a Liana diremas dan dipencet sehingga putingnya bertambah menonjol. Dijilati oleh Miguel p****g Liana dan digigit-gigit dengan bibirnya. Miguel menghentak-hentakkan tubuh Liana ke ranjang dengan kasar saat Miguel sudah tidak dapat menahan ledakan penisnya, “Liana.. Akh.. Ouch.. Akh..”. Tubuh Liana juga mulai bergetar dan bergerak-gerak dengan irama yang liar. Matanya merem melek, bola mata Liama memutih. Kaki Liana menjepit pinggang Miguel. Tubuh Liana mengejang dan Miguel menekan tubuh Liana hingga tubuh mereka semakin merapat.
“Akh.. pak.. Nikmat sekali.. Sss.” “Yeah Li.. Akh. Kalau saja dari tadi.. Pasti aku..” “Akh.. Tekan yang cepat dan kuat.. Akh..”, mata Liana merem melek menikmati sodokan senjata Miguel. Miguel kemudian mengangkat kedua kaki Liana. Miguel dalam posisi setengah jongkok dengan tumpuan kedua lututnya. Tangannya memegang pinggang Liana dan senjatanya menekan dengan irama yang semakin cepat. Lubang kenikmatan Liana terasa basah dan becek, namun senjata Miguel tetap bagaikan dijepit kuat dengan tang. “Akgh pak.. Saya hampir.. Hampir keluarhh lagi..Ouchhggakhh.” Direbahkannya tubuh Miguel diatas tubuh Liana dan dipeluknya dengan rapat. Miguel menikmati ekspresi Liana saat Liana menunggu mencapai o*****e. Miguel mendiamkan sejenak gerakan senjatanya.
Liana memprotes dan tangannya memegang pinggang Miguel serta menggerakkannya naik turun. Liana mengehentakkan pantatnya naik turun dengan sedikit kasar. Keringat mereka berdua sudah mulai bercucuran. Tangan Liana meremas-remas p****t Miguel dan kadang menariknya seolah-oleh senjatanya ingin lebih dalam lagi masuk dalam lubang Liana. Saat Miguel merasakan hampir meledak dia melambatkan gerakannya dan mengatur nafasnya sambil menghisap p****g Liana, kemudian mulai bergerak lagi.
Tangan Liana meremas pundaknya dan dengan liar bibir Miguel mencari bibir Liana. Liana mendesah dan gerakannya sangat liar. “Yeah.. pak.. Akhh. Bapak belum mau keluar juga.. Akhh ouchh..” Liana mengejang dan mengangkat pantatnya menekan senjatanya sehingga rasanya sampai di dasar rahim, tubuh Liana melengkung dan tangan Liana mengusap pipi Miguel dengan kuat. Miguel menekan pantatnya perlahan namun penuh tenaga. Tubuh mereka menggelinjang dengan hebat, Mereka berteriak dan tidak perduli jika ada orang lain yang mendengarnya. “Akhh.. paaak.. Aakkhh..”.
“Liana kamu hebataunhh.. Akh.. Ouchhakhh.. Akh.. Ouch..” Mereka mengelepar menikmati kenikmatan yang mereka rasakan bersama. Miguel beranjak bangun dari tubuh Liana saat senjatanya sudah melunak, Tubuh Liana bergetar saat Miguel mencabut senjatanya. “Kamu luar biasa Li.. kamu senam ya?” pujinya. “hisapan lubang kamu terasa sekali” Liana hanya tersenyum saja dan menggayut di lengannya. Mereka tidur berpelukan dengan penuh rasa nikmat.
Pagi Hari yang cerah dengan segala kepuasan yang diraih Liana dan Miguel semalaman, Dengan wajah masih mengantuk Liana beranjak dari ranjang, tidak lupa ia mengecup Miguel yang tampak masih terlelap. Liana berinisiatif menyeduh Kopi yang telah disediakan di Hotel itu, Teko elektrikpun Ia panaskan, Tidak Lupa ia melihat menu makanan di daftar menu, Ia hebdak menyiapkan sarapan pagi untuk dirinya dan juga Miguel. Menu ringan Nasi goreng khas hotel dengan minuman jus buah alpukat telah ia pesan via telepon.
hari itu seharusnya Liana dan Miguel berangkat ke kantor, Namun mereka tampak masih malas, Liana akan menunggu Miguel untuk memutuskan masuk kerja atau tidak.
Liana terheran heran melihat senjatanya Miguel yang masih tegak dengan kerasnya. Liana meraba, mengusap serta memainkan senjatanya sehingga Miguel terbangun. “wow sarapan paginya nikmat banget Liana”. Liana terus memainkan senjatanya Miguel. “Masih subuh pak, saya ingin lagi”. “allright”. Miguel mencium Liana dengan lembut, beda sekali dengan semalam yang penuh nafsu berahi. Liana meremas senjatanya, Dalam posisi setengah jongkok Liana mulai mengulum senjata Miguel yang dah keras itu. Liana mengkombinasikan permainan dengan mengocok, menjilat, mengisap dan mengulum senjatanya Miguel. Miguel memegang erat kepala Liana dan digerakkan maju mundur sehingga mulut Liana bergerak mengulum senjatanya Miguel itu.
Liana menghisap batang besar itu dengan kuat, “Achk..” Rintih Miguel, Liana lepaskan senjata itu dari mulutnya.
tapi tetep ia remas, ia urut dan ia kocok. Mereka masih berciuman dan memagut leher. Mereka mulai terangsang dan tubuh mereka mulai hangat. Detak jantung mulai cepat dan napas menjadi berat. Miguel meremas p******a Liana, memilin putingnya. dan Miguel yang mulai menjilati dan memainkan bibir kemaluan Liana. Liana terguncang-guncang ketika bibir k*********a dijilat dan dijepit dengan kedua bibir Miguel. Beberapa saat mereka dalam posisi begitu. Tangan kiri Liana memegang kepala Miguel dan menekankan ke selangkangannya. Miguel melepaskan bibir kemaluan Liana kemudian naik lagi keatas, p****g Liana digigit-gigitnya, Liana mengerang. Tangan Liana mengocok batang besar Miguel lagi dan menggesekkannya pada k*********a.
Miguel memeluk Liana, menindih tubuh Liana dan meremas p****t Liana.
Sekejap kemudian mereka kembali bergumul untuk saling memberi dan menerima kenikmatan. Liana berada di atas tubuh Miguel. wajah Liana memciumi ke bawah, ke perut dan terus ke bawah. Liana menggigit senjata Miguel dengan gigitan kecil di sepanjang batangnya. Liana kembali mengisap-isap kepala batang itu dan menjilatinya. Tiba-tiba tubuh Miguel seperti kena sengatan listrik ketika lidah Liana menjilati lubang kencingnya. Liana dengan asyik menjilat, menghisap dan mengulum kepala batang besar Miguel. Liana tidak memasukkan seluruh batang besar itu ke dalam mulutnya, melainkan hanya kepala batangnya saja yang menjadi area permainan Liana. Ditariknya tubuh Liana dan kemudian Miguel menindihnya. Liana memeluk dan menciumi daun telinga Miguel. Miguel merinding. Dadanya yang kencang dan padat menekan d**a Liana. Diciumnya bibir Liana dan diremasnya p******a Liana.
“Pak.. Masukkan pak.. please” Pinta Liana. Tangan Liana meraih senjatanya Miguel dan mengarahkan ke lubang kenikmatan miliknya yang sudah basah. Miguel menurut saja dan tanpa kesulitan segera ditancapkannya senjatanya dalam l**************n Liana. “Pak. Enak sekali paak.. Oukhh” Liana memekik kecil, lalu ditekannya senjata Miguel sampai masuk setengah, memang senjata Miguel þidak akan bisa masuk 100% karena terlalu panjang untuk Lubang kenikmatan Liana. Tangan Liana mencengkeram punggung Miguel. Tidak terdengar suara apapun dalam kamar selain jeritan ranjang dan lenguhan mereka. Dicabut senjatanya, ditahan dan pelan-pelan dimasukkan kepalanya saja ke bibir kemaluan Liana. Liana terpejam menikmati permainannya pada bibir k*********a “.. Hggk.. “ Liana menjerit tertahan ketika tiba-tiba disodokkannya penisnya sampai mendobrak ke rahim Liana.
Miguel memaju mundurkan dengan pelan setengah batang sampai tujuh kali kemudian disodokkan dengan kuat sampai hampir 3/4 senjatanya amblas. Liana menggerakkan pinggulnya, memutar dan naik turun sehingga kenikmatan yang luar biasa sama-sama mereka rasakan. Dihisaplah p******a Liana sambil dimainkannya putimgnya dengan lidah Miguel. Liana seperti orang yang mau berteriak menahan sesuatu menikmati hubungan ini. Liama memukul-mukul d**a Miguel dengan histeris. “Auuhkhh.. Terus.. Teruskan.. paaak.. Enak sekali.. Ooh” Kini kaki Miguel menjepit kaki Liana. Lubang Kenikmatan Liana meskipun agak becek namun gerakan memutar seperti menghisap senjata Miguel. Miguel mulai menggenjot lagi.
Liana seperti seekor singa liar yang tidak terkendali. Keringat membanjiri tubuh mereka. Mereka saling meremas, memagut, dan mencium. Miguel membuka lagi kedua kaki Liana, kemudian betis Liana melilit di betis Miguel. Mata Liana merem melek. “Li.. aku mau keluar.. Sebentar lagi Li.. Aku mau.. “. “Kita sama-sama pak, Ouououhh.. “, Liana melenguh panjang. Mereka saling bergerak untuk mengimbangi permainan satu dengan lainnya. Miguel yang lebih banyak memegang peranan. Liana lebih banyak pasrah dan hanya mengimbangi saja. Miguel menusuk lubang Liana, crek.. crek..crek.. crek.. crokk .. Berulang kali. Liana hanya bisa mendesah sambil menarik rambutnya. Mereka saling bergoyang, hingga tempat tidur pun terasa mau runtuh dan berderit-derit. Setelah hampir setengah jam dari permainan mereka yang kedua kali, Liana mengejang dan lubangnya terasa lebih lembab dan hangat. Sejenak Miguel menghentikan genjotannya.
Miguel kembali menggenjot lubang Liana lagi. Mereka berdua bergulingan sambil saling berpelukan dalam keadaan merapat. Miguel memutar badan Liana sehingga Liana dalam posisi pegang kendali di atas. Kemudian Liana yang lebih banyak memainkan peranan. Akhirnya Miguel hampir mencapai puncak dari kenikmatan ini. “Li, sepertinya aku tidak tahan lagi, aku mau keluar”. Sesaat kemudian.., “Sekarang Li.. Ayo sekarang.. Ouuhh”, Miguel mengerang ketika spermanya menyemprot dengan derasnya menyirami Lubang kenikmatan Liana. “Paak.. Agghh..” kaki Liana menjepit kaki Miguel. Akhirnya tak lama kemudian mereka mencapai titik puncak kenikmatan.
" Li.. kamu sudah minum pil kan? " Tanya Miguel sambil terkapar.
" Sudah pak.. tenang saja, Bapak bisa dengan bebas menyetubuhi saya" Jawab Liana.
" Lebih enak mana dengan punya suami kamu Li..? Tanya Miguel menggoda Liana.
" Jauh sekali pak.. bapak jauh lebih nikmat, dan saya rela menjadi b***k seks bapak" Jawab Liana dengan nakal.
Mereka kembali terkapar berpelukan hingga room service datang membawa makanan yang dipesan.
Sejak hari itu kemaluan Liana setiap hari basah dan lembab seolah menginginkan batang besar menusuk nusuknya. Gairah Liana menjadi berkobar kobar seperti seorang wanita hypersex.